Cerita Seru TAT S4 dan UNSAM 2018 (Part 1)

Alhamdulillah, Usaha tidak pernah menghianati `hasil. Orang-orang yang berada di sampingmu, sejatinya adalah guru terbaik. Meski kadang banyak yang membencimu dari bagian yang paling dekat denganmu. Itu karena mereka tak mampu, mereka terlalu mudah terbawa oleh suasana.



TAT S4 merupakan salah satu bagian dari tantangan Penerbit Arsha Teen. Sistem dalam menerbitkan buku dengan cara tantangan menyelesaikan menulis sebuah novel berbatas waktu. Ada banyak perubahan pola dalam tantangan ini, mulai dari ABTN sampai TAT S4. Untuk yang tantangan TAT S1 hingga TAT S3 tantangannya berupa membuat novel dengan genre yang paling dihindari, sementara waktu mereka menulis novel hanya satu bulan.


Saya sudah mencoba mengajukan seleksi untuk bisa mengikuti tantangan ini. Sering kali gagal, tapi saya tak menyerah. Saat ada pengumuman pemilihan calon TAT S4 saya mengirimkan cerpen sebagai sampel tulisan, cerpen tersebut merupakan cerpen yang pernah gagal di sebuah lomba. Saat itu pikiran saya juga tengah terpecah dengan ikut mencalonkan diri sebagai peserta UNSAM 2018. Ajang Miss dan Mister Penulis yang diselenggarakan oleh grup Untuk Sahabat.


Saat yang sama saya sedang berada di luar kota tepatnya di Denpasar, Bali. (Tidak membawa buku maupun laptop, terjebak hampir dua minggu di luar kota) dihabiskan dengan jalan-jalan. Persaingan kembali ketat, ternyata saya terpilih masuk 10 nominasi UNSAM 2018. Seperti mimpi di siang bolong, karena saya masih baru di mata mereka. Juga, saya hanya mengandalkan apa yang telah dipelajari dari tulisan-tulisan penulis yang luar biasa menginspirasi.



Tugas pertama UNSAM membuat cerita mini dengan tema rengginang. Saya hampir frustrasi, mengingat tidak ada sarana, akhirnya saya menulis menggunakan ponsel. Dari situ saya beranikan diri mengirim tugas dalam jangka waktu 45 menit dari pengumuman tugas disampaikan. Mengingat ada point khusus bagi yang mengumpulkan paling cepat. Saya hanya menggantungkan diri kepada Allah. Tugas saya hanya mencoba, berusaha dan berdoa.



Selang beberapa hari tugas demi tugas pun membawa saya menuju 8 besar, hampir bersamaan saya pulang dari luar pulau, luar provinsi. Bukan main, tugas ke-2 harus mencari rekan duet. Sedikit signal di perjalanan yang curam, baterai yang kritis dan pengumuman itu malam hari. Beruntung mendapatkan kesempatan bisa berduet dengan seseorang yang sangat ramah, baik dan saling membantu.
Perjalanan sampai larut, itu pun kepala dibayang-bayangi dengan tugas UNSAM. Sebelum tidur (tepat dini hari) saya coba searching materi yang akan dibuat sebuah tugas, tugas kami saat itu adalah esai.



Maka esoknya saya langsung bangun dan berjaga di depan laptop, meski rintangan menulis ada saja--yang akan mengganggu mood. Hari yang sama akan mendekati waktu mulai tantangan menulis dari TAT S4. Bahkan saya belum sempat membaca novel versi asli.



Menyelesaikan tugas UNSAM secara duet, tidak mudah. Naskah harus bolak-balik dilempar, direvisi bergantian, meminta pendapat kepada teman dan lainnya. Hingga waktu istirahat terkuras, bahkan sering kali lupa makan. Meminta tolong adikku untuk mencari materi, saat paket-an sudah benar-benar kritis. Pokoknya seru banget mengerjakan tugas essai dengan deadline 3 hari. Bekali-kali naskah dirombak, dipotong, hingga diubah demi mencari titik kepuasan.



Kembali pada cerita TAT S4, saya masih berusaha untuk menyukai genre yang paling dibenci. Ya! Benar banget. Kata teman duet di UNSA genre yang saya dapatkan malahan paling mudah. Tapi, membayangkan saja saya tak bisa, hingga bertanya di FB semacam riset. “Kenangan masa putih abu-abu berupa?”




YAP! Genre Teenlit. Itu sangat menyebalkan, bahkan masa SMA tak ada yang menyenangkan. Hanya bisa membuat kepala cenat-cenut. Memikirkan yang tidak pasti, masa-masa labil dan sangat membuat hati jadi sering gegana tak pasti.
Tantangannya sangat sulit bagi ambivert yang pemalas rapuh dan payah. Apalagi dalam tantangan ini diwajibkan membayar 2 JT jika tidak bisa menyelesaikan dalam waktu yang ditentukan. Tambah galau jadinya, makin sering down diberi gertakan oleh Ibu Kos dalam status ‘omelannya’. Tiap malam mimpi yang harusnya tenang berubah dengan mimpi REMAKE NOVEL SEPTEMBER WISH.



Waktu untuk eksekusi sudah dimulai, beberapa dari mereka banyak yang mencuri start. Tapi, Baiq mencoba konsisten menulis setelah tanggal 11 November 2017 benar-benar menjadi tanggal bersejarah. Pokoknya tanggal yang sama saya baru membaca novel tersebut dalam waktu dua jam 15 menit. Karena harus menulis plot penting, nama tokoh, setting, konflik. Meski saya bisa mengerjakan tanpa outline. Tetapi, khawatir akan lupa dengan apa yang sudah dikonsep. Mengingat tugas remake tidak boleh terlampau jauh dari novel versi asli.





Kesulitannya dalam menulis novel remaja, harus memosisikan sebagai tokoh utama. Mengikuti alur cerita yang sudah dibuat oleh penulis asli—Ariny NH. Mengubah gaya penceritaan dan semuanya tanpa menghilangkan ide utama. Pusing—dan benar-benar menegangkan.





Memang benar, menulis itu tidak semudah berbicara. Karena berbicara tidak butuh mengetikkan informasi pada lembaran atau PC. Menulis menyatukan raga, pikiran dan kegiatan output dari pikiran yang sudah diolah.





Hari-demi hari terlewat, bukannya makin mudah. Malah mendapatkan banyak masalah. Seperti tugas UNSAM berikutnya, membuat cerpen komedi. HAH? Jujur ini kembali menjadi rumit. Apalagi sudah terbiasa menulis naskah serius seperti karya kumpulan cerita yang berjudul DARAH. Tulisnya pun berdarah-darah. Pasrah sudah dengan keadaan, ternyata saya terhenti di babak tersebut. Tersisih di TOP 7. Banyak pengalaman berharga yang didapatkan. Tidak hanya tentang tugas-tugas yang menantang. Tetapi pada setiap proses yang dihasilkan.





Menulis melalui proses yang dibilang cukup rumit, melalui proses kontemplasi, menangkap ide, menuangkan ide, menjabarkan dalam cerita, membangun karakter cerita dan hal-hal lain yang lebih detail. Maka, kegagalan saya di UNSAM 2018 menjadi pecut untuk lebih cepat lagi berproses.





Apalagi konsepnya berubah-ubah setiap tantangan, butuh teknik yang cepat dalam memanajemen waktu. Tapi, simply.
Kegagalan adalah proses yang tertunda. Bahkan banyak yang memberikan dukungan menulis untuk lebih giat. Mungkin ini yang bernama takdir. Diberikan gagal di satu, diharuskan bangkit di lain kesempatan.

Tiba-tiba ada pesan motivasi yang masuk di kontak WA setelah saya mengumumkan kegagalan di kontes yang super bergengsi.






“Jangan terlalu terpengaruh dengan penilaian orang. Terus berkarya dengan yang kamu yakini dan senangi. Istiqomah di situ. InshaAllah ... proses tidak akan mengkhianati hasil. Tetap semangat yaa ... semoga makin sukses ke depannya.”





To Be Continue ....

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

1 comment

  1. […] Lanjutan TAT S4 Cerita seru dibalik proses pembuatan TAT S4. Selain galau dengan kisah cerita Septian yang harus jadi penjual bakso.  What? Iya! Dia cowok keren, naas takdir membuatnya harus berganti profesi. Tapi, apakah hanya karena sekolah sambil kerja masalahnya. Enggak! Ini masalah Sephia. […]

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan sempatkan memberikan komentar. Saya akan memberikan umpan balik dan berkujung kembali pada blog Anda.

Popular Posts