Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.

Friday, December 29, 2017

Tahun Baru Ala Ambivert (Coret-coret Akhir Tahun)

Merayakan Tahun Baru Ala Ambivert.
Dari dulu sama sekali belum tahu rupa dari tahun yang baru. Perayaan tahun baru itu apa? Menyambut tahun yang baru? Nungguin detik-detik jam 00.00? Ngapain? Lihat kembang api? Abis itu dingin-dingin pulang ke rumah? Macet? OMG!

Kalau dihitung beberapa tahun silam kurang lebih yang bekesan tentang malam tahun baru adalah ... bunyi petasan yang menggelegar. Dentumannya mengusik alam bawah sadar, ya begitulah. Ingar-bingar di jalanan, tak jarang ada pesta miras. Kalimat barusan itu sudah sering kita dengar. Begitu yang disodorkan oleh acara televisi di beberapa stasiun. Selalu ada masalah. Tapi, ambivert punya cerita unik tentang Pengalaman Tahun baru di beberapa kota.

Tahun pergantian 2014 menuju 2015 (Denpasar, Bali). 

Rekan kerja sudah menyiapkan jadwal untuk party di Kuta yang notabene kota yang tidak pernah tidur. Tapi, tempat kerja saya yang ownernya Muslim meminta kami menghadiri salah satu agenda rutin tahunan. Rukyah dan muhasabah diri. Bertempat di kediaman Big Boss. Acara dimulai seusai sholat Isya’.

Semua peserta rukyah harus duduk tenang dengan mata terpejam. Mengikuti apa yang dikatakan oleh pembimbing rukyah. Doa-doa khusus digemakan dalam ruangan tersebut. Kami pun mulai khidmat. Baru berjalan beberapa menit, dari ujung sudah terdengar teriakan. Ya! Ada peserta yang kesurupan.

Lantas semua formasi berubah menepi, menjauh dari sosok yang kemasukan jin. Sedikit ngeri, karena yang kami lihat mata nyalang ingin menerkam. Suara yang lebih nyaring dan saya tidak bisa menceritakan kejadian itu.

Intinya setelah rukyah, kami mendapatkan pelajaran. Bahwa jiwa kami pun butuh untuk selalu diberi tameg untuk terhindar dari lubang-lubang masuknya setan. Pukul 10.30 pm WITA kami disuruh langsung pulang ke rumah masing-masing. 
Berhubung jalan yang saya tempuh rawan macet, juga posisi banyaknya pengguna miras. Saya tidak ikut pulang ke rumah, saya memilih pulang dengan mbak V. Dia baik banget, ternyata kami pulang berenam. Saya, mbak V, Mbak I, dan satu lagi teman kami dari beda Showroom, ikut mengantar.

Jalan mulai sepi di area rumah Big Boss, mengingat jauh dari kompleks dan pertokoan. Tapi, kami berusaha untuk tidak gentar. Udara sudah dingin malam itu Rabu malam Kamis. Untung bukan malam Jumat. Lantas Aku, Mbak V dan Mbak I bertamu di rumah mbak I, kebetulan rumah mbak V tidak jauh dari mbak I. Sembari menunggu malam pergantian tahun. Mata sudah mengantuk sejak tadi. Tapi ditahan.

Tibalah saatnya malam itu berakhir, kami segera naik ke lantai dua rumah mbak I, untuk melihat taburan langit yang penuh dengan kembang api. Beragam yang timbul di langit, seketika aku merindukan rumah. Hanya selang beberapa menit, malam itu sudah berakhir.

Jadi, malam tahun baru hanya begitu saja?
Akhirnya kami ngobrol di ruang tengah kediaman mbak I, karena penghuni rumah sudah terlelap semua. Makanya mirip maling bisik-bisik. Mata kami sudah lima watt, ditambah keesokan hari, kami tetap masuk kerja. Akhirnya disudahi acara kami, aku dan mbak V pulang ke rumah mbak V. Kami pun melanjutkan acara menonton TV. Hihihi, bisa dibilang master begadang. Tapi, tak sampai pukul 2 dini hari sudah usai acara kita. Esoknya malah tepar.

Jadi kesimpulannya? Malam tahun baru membuat mata makin hitam. Efek begadang. Tubuh kurang fit karena dipaksa untuk terjaga.
Beda lagi pergantian tahun 2015 menuju 2016 (Malang, Jawa Timur).

Cepat sekali waktu bergulir, yang sebelumnya masih berstatus karyawan sekarang sudah berstatus mahasiswa. Malam tahun baru, bisa dibilang tugas yang menumpuk. Karena masih sore kami masih mengerjakan tugas di ITC. 
Bayangkan saja, itu hal yang menyebalkan. Walhasil aku pulang ke kontrakan. Bunda angkatku mengizinkan aku tahun baru bersama temanku. Tapi, aku gak suka. Karena kota Malang yang padat akan membuat jalanan macet.

Sedangkan temanku memaksa mengajak. Akhirnya aku ikutin saja, tapi sebelum itu kami mencari makan. Mencari makan. Jam 22.00 WIB mencari makan? Ada? Setelah keliling hampir sampai ke perbatasan Batu. Kami menemukan di salah satu warung. Membeli sate ayam. Bisa dibilang Mahasiswa itu kere, makan saja pas-pasan. Muka udah belepotan.

Usai mengisi perut, kami pun pergi melihat pertandingan basket di kampus, semacam latihan. Tapi, aku sudah merengek kepada temanku untuk pulang lebih awal. Entahlah aku merasa kalut, takut dan macam-macam. Tidak ada malam tahun baru selain ditraktir makan gratis. Tidur nyenyak sampai pagi.

Malam Tahun Baru 2016 menuju 2017 (Situbondo)

Kalau sudah di kota sendiri maka menjadi Rapunzell, di rumah. Eh tapi kebetulan kemarin itu masih sempat sibuk. Ngapain? Akhir tahun menyelesaikan bacaan. Buku Tentang Kamu-Tere liye dalam sehari semalam. Kebetulan bukunya dikasih oleh seseorang yang dermawan. Hihi, kemudian aku menulis resensinya.

Bisa baca resensinya di sini.

Punya waktu sendiri, membaca buku tuntas membaca sampai jam 20.00 WIB lantas langsung ngebut menulis. WAHHHH! Gak menyangka buku setebal 500 halaman bisa selesai dalam sehari. Xixixi. Itu karena selain bukunya memikat, juga isi ceritanya bagus. Bahkan tak jarang malah menangis sendiri. Terharu dengan perjuangannya yang super sabar , menghadapi segala cobaan.

Tetangga sudah ramai dengan acara bakar-bakar jagung dan ikan, aku hanya bisa diam mencium aromanya. Tak sampai pukul sepuluh, sudah memilih tepar. Tidur! Tiada masalah walaupun tak ikut melihat kembang api.

Tahun 2017 menuju 2018

Perkiraan ambivert sepertinya tidak akan jauh-jauh dari yang kemarin. Kalau enggak membaca buku, ya menulis atau mengedit saja. Toh, tidak ada manfaatnya melihat kembang api di tengah malam, berdesak-desakan dan menyebalkan saja kalau momentumnya hanya untuk melihat kembang api.

Sedih juga sih, akhir bulan kan sama aja dengan akhir tahun. Sama-sama tinggal dikit uangnya. Mending di rumah atau tidur, daripada begadang hingga kesehatan terganggu. Apalagi sekarang udah musim sakit, batuk dan macam-macam.

Saran Ambivert buat yang jomlo gak punya teman. Tahun baru tetap happy asal kita kreatif saja menjadikan momen yang baru. Misalnya nih, yang suka banget nonton film. Bisa tuh nonton film bareng keluarga, atau sahabat.

Buat yang suka baca kayak saya, nah- tantang dirinya untuk terus membaca. Selama masih diberikan kesempatan untuk membaca. Pilih buku-buku yang ringan dan pembahasan yang tidak begitu memeras otak, misalnya buku fiksi atau komik.

Bagi yang hobinya melukis atau menggambar, bisa banget memanfaatkan waktu untuk kreatifitas seninya.
Intinya, apa pun profesinya tetap untuk terus berproduktivitas. Demi masa depan lebih cerah. Tahun baru hanya sebuah bergantinya hari. Tidak otomatis dirimu berganti juga. Memanfaatkan resolusi tahun lalu yang belum direalisasikan agar segera tercapai.

Tahun baru ala ambivert itu berposes. ☺😊
Kalau ada yang bingung kenapa sampul postingan gak ada gambar kembang api(?) Kok malah hanya tiga koin dan stiker bekas kegiatan literasi. Karena akhir tahun baru hanya itu yang tersisa. 😂 

Realisasinya masih jauh dari resolusi. 

Terima kasih sudah mampir. :)

Selamat liburan! 😄🙏

Thursday, December 28, 2017

Kisah-kisah Unik Pembuatan Naskah September Wish (Part 2)

Lanjutan TAT S4
Cerita seru dibalik proses pembuatan TAT S4. Selain galau dengan kisah cerita Septian yang harus jadi penjual bakso. 
What? Iya! Dia cowok keren, naas takdir membuatnya harus berganti profesi. Tapi, apakah hanya karena sekolah sambil kerja masalahnya. Enggak! Ini masalah Sephia.

Loh? Mereka kembar? Sepertinya sih begitu. Nama mereka sama-sama berarti September. Mereka lahir di bulan September. Lantas apa hubungannya? 
Mangkanya kita baca bareng-bareng buku September Wish. Masih open Pre Order sampai tanggal 10 Januari 2018.
Mau lihat tampilan kovernya. Nih boleh deh dilihat gratis! :D



Tahu gak sih? Di balik kover yang keren itu. Ada banyak cerita lucu. Tapi akan saya ceritakan nanti di part terakhir.
Perbedaan di kover lama dan baru jelas terlihat, yang baru lebih manis. Mirip wajah Amzon yang kasih surprise. Hihihi.
Kebanyakan bercanda deh! Lanjut ceritanya.

Pembuatan bab satu sedikit rumit, karena saya harus membuka awalan dengan sedikit misterius, berbeda dengan pada umumnya. Tanpa meninggalkan karakter asli tokoh utama Septian dan Sephia. Mau enggak mau, suka tidak suka. Harus bisa terjun. Mengingat hari semakin mendekati DL. Hanya diberi batas waktu 23 hari?!! Hari pertama, kedua, ketiga saya sibukkan dengan riset. Ibu Kos (Ariny NH) marah-marah saat tahu perkembangan peserta AT di hari ke sekian masih menunjukkan progres yang minim. Apalagi novel versi asli yang dikirim e-book sudah diserahkan dua minggu sebelum tantangan AT.

Ambivert sama sekali tidak membuka isinya, hanya membaca blurb di internet. Sepertinya akan sangat membosankan. Apalagi harus bercerita nuansa remaja yang benar-benar labil, penuh emosi dan tingkah konyol lainnya. Entahlah. Membaca novel asli membuat mata sedikit mengantuk.

Selain pembawaan yang flat—karena gaya bercerita benar-benar (R+13) juga menggunakan POV 3. Sedangkan akhir-akhir ini asupan bacaan saya tentang novel berat, ‘serius’ dan jelas jauh dibandingkan dengan genre teenlit. Teenlit lebih mengarah pada pop, sedangkan bacaan saya lebih mengarah pada ‘serius’. Memang apa yang kita baca akan sangat berpengaruh pada gaya tulisan.

Misalnya kegagalan di TOP 7 UNSAM 2018. Saya terlalu banyak mengonsumsi tulisan cerpen serius, puisi-puisi yang sedikit berat, bacaan mencekam hingga sulit menulis sebuah cerpen komedi yang diberi batasan karakter harus 800 kata. Padahal normal cerpen itu 1000 cws. Ditambah waktu pengumpulan hanya 54 jam. Itu benar-benar membuat kepala ingin membenturkan pada besi.

Berikut komentar dari juri undangan. Oh, iya! Juri UNSAM pun undangan. Jadi saya sulit menentukan tingkat ‘humoris’ juri.



Hingga harus masuk ke bottom 2. 



Lantas setelah saya gagal UNSAM apakah saya kecewa? TIDAK! Kenapa? Karena waktu akan terbuang sia-sia. Tinggal 18 hari saya belum selesai menulis. Menurut penuturan Ibu Kos, naskah minimal yang dikumpulkan berjumlah 100 halaman. Jika peserta TAT S4 tiap hari menulis 5 lembar maka hari ke-23 sudah selesai 115 halaman. OMG! Sedangkan saya sudah absen menulis beberapa hari. Terpotong dengan riset dan membaca novelnya. Juga mengatasi move on dari kegagalan UNSAM 2018.

Ambivert harus semangat! Meski gagal ya, harus terus semangat. Begitu kata-kata yang sering saya katakan kepada diri sendiri. Saat saya baru memulai menulis beberapa halaman. Peserta lain sudah ada yang menulis bab ke-6. Sekitar 30 halaman. GILA!

Persaingan begitu ketat. Gimana gak ketat, peserta yang paling baik akan mendapatkan sebutan winner juga akan diberikan reward. Saya lupa mengenai reward tersebut. Dalam pikiran saya hanya terbayang-bayang 2 JT. Uang siapa yang akan digunakan, jika meleset dari deadline satu detik saja.

Pernah suatu ketika saya menawarkan berkenaan dengan genre yang diganti. Kata ibu kos harus siap melayang uang 500 ribu. Kembali menelan air liur. Ya Ela, paket-an saja yang 50 ribu lama kalau mau beli lagi. Benar, saat itu saya tidak punya paket-an hanya mengadalkan gratisan dari operator kesayangan. Hanya bisa dihubungi melalui WA. Saat yang sama tugas Pre Order Kumpulan Cerpen DARAH 2 masih berlangsung.

Rasanya kepala saya sudah akan meledak. Tapi, saya mencoba menjernihkan pikiran. Mencoba meyakinkan diri—bisa melewati tantangan AT. Ekspektasi satu hari 10 lembar jadi sepuluh hari bisa 100 lembar.
Kenyataannya?

Satu hari baru nulis 3 lembar sudah mengantuk. Rasanya laptop ingin dijadikan bantal. Kembali saya melakukan chatting. Karena saat yang sama Laptop sudah menunjukkan gejala sakit. Saya hanya bisa mengabaikan. Bagaimana caranya mengetik tidak tidur. Saya mematikan ponsel dan terus mengetik. Ditambah suntikan motivasi dari sahabat pena.

Seperti orang gila—mengerjakan tugas TAT S4; jarang makan, jarang mandi dan tidur pun jarang. Tapi, nyatanya saya malah tidak mengerjakan. Chatting, dengan adik-adik yang unyu. Mereka menjadikan inspirasi baru bagi saya.

Sebisa mungkin saya menjaga mood, meski kenyataannya saat itu bertepatan dengan masa PMS. Mudah baper dan mudah galau. Malah lebih sering waktu saya gunakan untuk memasak, bersih-bersih dan mencuci. Otot tangan sudah lelah, pikiran stuck. Semua orang malah berlagak menjadi ibu kos. Lebih parah lagi, setiap online bentar saja. Diomelin. 

Saya mencoba membaca buku sejenis September Wish, mulai dari buku Matahari untuk Jingga, Friend Zonk dan lainnya. Dari sana saya mulai mempelajari teknik menulisnya genre pop. Berbeda dengan tulisan Kak Ariny yang santai, bisa dibilang humoris tapi bagi saya masih flat. Gitu-gitu saja. Timbul ide baru yang muncul di otak saya.

Masih bab awal tapi gak mau bergerak maju, maka saya yakinkan diri untuk memasukkan karakter tokoh kesayangan saya—Marsyah. Teman dekat saya yang membaca karya cerpen di blog lawas pasti akan tahu, siapa Marsyah.

Mengikuti jejak kak Reyhan yang juga pernah menjadi teman duet di ajang UNSAM 2018. Dia memberikan bocoran, bahwa menulis novel teenlit merupakan genre yang paling mudah. Maka saya akan membaca sekali lagi novel September Wish. Berusaha menjadi pembaca awam, tidak tahu apa-apa. Karena sebelumnya--membaca seolah mengoreksi kesalahan tanda baca. Membaca yang kedua kali lebih cepat, karena ada beberapa plot yang sudah saya hafal. 

Ternyata ini novel bukan flat yang saya kira sebelumnya. Penulis begitu telaten menjadi dua sosok yang unyu-unyu. Mendalami karakter, karakternya bisa dibilang sangat kuat dan bikin baper.

Bergegas menulis, sudah semangat di awal. Eh, malah mati lampu. Ini namanya penulis tangguh (Cie ela puji sendiri). Biasanya saya paling tidak suka jamu buatan Nenek. Sejak mengerjakan naskah yang bikin ngantuk, segelas diembat tanpa bernapas. Bahkan sampai tetes terakhir, enggak peduli endapan jamu juga turut diminum.

Hari semakin mendekati deadline. Ada saja ujian yang mengganggu. Itu berkenaan masalah keluarga dan tidak mungkin ambivert share di sini. Pokoknya membuat galau dan gak bisa melanjutkan naskah seharian. Otomatis terpotong waktu menulisnya. Giliran sudah semangat untuk menulis. Pas malam itu!

Tuuutttttttttt ... suara dari lappy. Dia benar-benar bernada sumbang, seakan sekarat. Benar saja berkali-kali dicoba untuk hidup dia tak mau. Kesal bukan main. Maka saya tidur lebih cepat malam itu. Membiarkan naskah yang gak sampai 30 persen. Saya mencoba menulis melalui ponsel, yang ada malah tertidur. Iya! Ponselnya malah liatin saya ngorok. (Mungkin).



Esoknya pas Subuh sudah kembali menghubungi teman saya yang katanya akan ada hunting, dia meminta saya untuk berangkat lebih awal. JAM TUJUH. Itu jam-jam masih enak mendekam di kamar atau minum secangkir teh plus roti. Eh, tidak ada santai-santai. Semuanya gelap!

Langit pun gelap, semuanya terlihat sangat buram. Atau mata saya yang berkaca-kaca.
File belum sempat dipindah ke flash disk atau ponsel, sementara lappy saya divonis stadium 4. Dia memang sudah tua. Intel atom keluaran 2007, sepuluh tahun yang lalu. Dibeli bekas, baru sampai di rumah pun sudah berbunyi bib panjang. Ternyata ada kerusakan di bagian keyboard diakibatkan oleh debu. Begitu penuturan teman saya.

Sudah hampir satu jam berkelut dengan program yang akan di-install. Windows-nya yang membuat tercengang. Raib. Kok bisa ada system yang tereset otomatis hanya karena blue screen? Tak ingin berpikir macam-macam, saya meminta untuk menyelamatkan data saja. 

Nasar baik sekali, ia menyuguhkan segelas kopi. Biasanya saya anti sama kopi, sejak panik karena lappy mati. Maka saya putuskan untuk menandaskan. Untung saja saya tidak bisa online, setidaknya bisa terbebas dari status bully-an. Tapi, jangan salah! Saya punya agen FBI untuk mengetahui status yang di-posting oleh Ibu Kos.

Tiba-tiba dia buat status yang bikin geger peserta TAT S4. “Gimana kalau ide cerita diganti?” Kalau gak salah itu yang saya ingat. Entahlah apa pun itu, yang namanya diganti pasti akan merombak lagi.
Apalagi waktu semakin mepet. Tersisa beberapa hari lagi.

Bagaimana nasib lappy ambivert???

To be continue ....

Cerita Seru TAT S4 dan UNSAM 2018 (Part 1)

Alhamdulillah, Usaha tidak pernah menghianati `hasil. Orang-orang yang berada di sampingmu, sejatinya adalah guru terbaik. Meski kadang banyak yang membencimu dari bagian yang paling dekat denganmu. Itu karena mereka tak mampu, mereka terlalu mudah terbawa oleh suasana.


Wednesday, December 27, 2017



Thursday, December 14, 2017

#Tentang Sebuah PESAN

Tentang sebuah pesan. Dulu engkau tak akan pernah melewatkan satu pesan yang aku kirim, bahkan enggan untuk menghentikan sebuah pesan. Tapi, kini. Engkau malah melupakan pesan yang kubingkis untukmu. Bahkan terkadang, seolah melupakan ada pesan yang masuk dalam kotak masuk di ponselmu.
Itu tak mengapa, anggap saja itu sebuah perubahan cuaca. Pada saat hujan turun menumbuhkan rumput-rumput di halamanmu. Tapi, kebalikannya. Kemarau menyapa rumput hijau tadi menjadi mengering bahkan tiada sisa.

Siapa yang bisa mengetahui kadar perasaan? Tidak ada yang bisa menebak, bahkan orang terdekatmu tidak akan bisa mengetahui. Hanya Sang Pemilik Hati yang bisa mengetahui isi hati yang terlalu sering kita prioritaskan. DIA juga yang akan mencondongkan perasaan kepada perasaan lainnya.

Terlalu naif jika karena perasaan tak terbalas hingga menutup perasaan yang kita punya. Mengunci perasaan dan menjauhi. Memang sulit jika kita sudah dalam kondisi mengagumi tapi tak ada respon yang baik. Jangan bersedih karena kita bukan menjadi prioritas.

Entahlah ada cara paling mukhtakhir untuk mengurangi rasa kecewa saat pesan kita sudah tidak seperti dulu yang selalu cepat dibalas dan paling cepat dibaca.
Tetap tenang
Hanya dengan menenangkan pikiran, kita bisa berpikir jernih. Mengambil keputusan dan menyikapi dengan perasaan tidak gusar.
Menunggu dengan sabar
Barangkali tidak direspon cepat, karena ada kepentingan yang luar biasa hingga tidak bisa membalas begitu pesan sudah masuk. Biasanya, ada kepentingan yang harus didahulukan dari kita.


 Memberikan kesempatan di lain hari

Barangkali pesan kita sedang tertumpuk di paling bawah, hingga lupa untuk membalas. Itu wajar, mengingat tak hanya menerima pesan darimu. Mungkin dari grup dan pesan-pesan lainnya. Cobalah kembali membalas di kemudian hari, pastikan isi pesan bermanfaat atau urgent.

 Jika ternyata sudah berbulan-bulan tak dibalas

Tak perlu berkecil hati, tetap berpikir positif. Barangkali memang tidak cocok saat berinteraksi denganmu. Kamu yang cerewet, atau dia tak ingin mengusik hidupmu lagi. Dia lebih nyaman tanpa interupsi pesanmu yang kurang begitu penting.
Mencoba menghubungkan koneksi lagi
Sangat perlu, mencoba mencairkan suasa, memberikan kesan baru dan tidak monoton. Atau bertanya hal yang tidak menyinggung perasaannya. Boleh kepo, tapi usahakan tidak mengorek masalah pribadi. Sangat fatal akibatnya.
Berikan regangan
Sama seperti pasir yang terlalu erat digenggam. Ia akan menyelinap di sela-sela jari, melepaskan diri dari belenggu bernama ‘ketat’.
Cuek itu perlu
Untuk memberikan kabar bahwa dia baik-baik saja, maka cuek itu perlu. Membuat dia akan bertanya-tanya. Mengapa sikapnya berubah. Cuek di sini tak hanya tentang balasan yang dibalas begitu lama. Tetapi, lebih sering cuek menambah rasa penasaran dia.
Hindari mengumbar pesan yang pernah dia kirimkan
Jika tidak ada tujuan yang bermanfaat, maka hindari dengan menutup diri. Tidak lebay dan terlalu alay.
Itu beberapa tips pesan yang bisa mewakili perasaan pesan yang hanya di read tapi enggak dibalas. Misteri perasaan, yang terkadang lebih runyam dari roda yang berputar, atau gerakan awan di atas langit yang bernari-nari dengan segala motivasi yang diberikan.

No galau! No Pain!


Baiq Cynthia

13 Desember 2017

Bahasa Kalbu--C.I.N.T.A

Jika 'pasand' itu beda dengan 'pyar' sama dengan kulit mangga beda dengan kulit manggis. 



Meski sama-sama penutup. Meski manggis selalu sering diidentikkan dengan manis. Tapi, mangga selalu diidentikkan dengan kecut. 



Mereka sama-sama manis jika matang. *ini gak nyambung* 


Okay, ganti analogi. :v Sedikit rada bingung apa yang mau dijadikan analogi saat pikiran berkecamuk. 


✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒

Satu menit kemudian. 


Satu menit satu detik ....

Tarik napas. 

Ya mungkin saya akan share tentang sebuah kisah yang barangkali ada yang sama. Atau pernah mendengar. 

Kisah apa?
Cinta. Akan banyak yang merasa alergi sama kata itu. Namun, selalu sukses beredar di mana-mana. 

Cinta bagi anak labil diidentikkan dengan pacaran. Kisah kasih di sekolah. Cinta monyet. Ah, bahasa alay-nya begitu. 
Tapi, seperti yang saya bahas. Cinta itu datang tak diundang. Hilang tak diinginkan. Ya memang begitulah cinta.

Ada banyak hikayat cinta, Cinderella, Romeo-Juliet, Mumtaz-Shajahan, Laila Majnun, AADC. 
😂

Mungkin saya tidak terlalu familiar sama yang terakhir, entah kenapa muncul saja di pikiran. 

Singkatnya cinta itu tidak melulu identik dengan suka. You know what? 😂😂😂

Zaman dulu dijodohkan, mereka gak siap, tapi karena kasih sayang dan hormat kepada kedua orangtua. Atau salah satunya, atau lain sebabnya. Mereka menikah. Lucu, ya? 

Mereka akur. Mereka saling memahami. Aku kok tahu? Ya, aku melihat dari mereka yang mengalami dan menceritakan kepadaku. 'Mereka'. Jadi, bukan satu orang saja. 😊

Hubungan mereka awet, meski cinta datang terlambat. Cinta hadir karena sering bertemu. 

Lah, kalau gak ketemu namanya apa? *jawab sendiri* 😊

Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata, aku bukan orang yang membidani tentang cinta. Namun, aku hanya pendengar, penyimak tentang cinta yang hadir tiap waktu. Aku pernah merasakan? 

Saya yakin semua pasti pernah. Entah cinta sama buku, sama film, musik dsg. Cinta sama ibu. 😊

"Saat dia berkata tidak, aku akan melakukan hal itu," kata seseorang yang hobinya makan masakan ibu. 

Setelah muter-muter gak jelas. Saya ingin menshare lebih tepatnya. :) Pengalaman mereka. Ya mereka yang pernah bertemu dengan saya.

Bagi mereka cinta itu indah, sekali mengenalnya maka tak akan bisa tidur maupun makan kecuali berharap pada yang namanya cinta. 

~*~

Seolah cinta disudutkan. Menjadi sebab semua masalah. Cinta pada anak misalnya. Anaknya jika diganggu (diusik) oleh orang lain. Bisa-bisa malapetaka yang muncul dari isi kepalanya. 

Bagiku cinta sederhana. Cinta itu tak bisa diucapkan tapi dimengerti. Mulut bisa saja bilang tidak atau iya. Tapi, sorot matamu tak akan bohong.

Ach! Sekarang .... 

Aku paham siapa yang benar-benar dicintai atau hanya disukai.
Itu ada dalam hati. Jadi, serumit apa pun kisah cintamu. Cobalah belajar mencintai dirimu lebih dulu. 

Waktu bisa membuatnya 'sadar' saat cinta sudah hilang.

"Kenapa kamu menyukai orang yang tak menyukaimu?" 

Itulah cinta. Pyar. 
Cukup .... "Dikatakan atau tidak itu tetap cinta", kata Tere Liye.

✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏
Samjha. 💭
~~~

Tulisan ini ditulis tepat setahun lalu. 14 Desember 2016. Hanya belum diposting.
~Baiq Cynthia~

Thursday, December 7, 2017

Akankah Masa Lalu Kembali?

Masa lalu merupakan dua kata yang membuat perasaan nano-nano. Perasaan yang tak mampu diucapkan lagi saat kita mengingat dua kata pertama yang saya tuturkan. Masa lalu adalah hari kemarin, yang sudah dilewati. Termasuk satu detik yang berlalu. Seiringnya waktu, masa lalu terkadang membuat ‘runyam’ pikiran.


Hanya sedikit keliru, jika beranggapan masa lalu identik dengan hal buruk. Lebih ektrim lagi menjauhi masa lalu, dianggap musuh bahkan hingga ada yang meratapi. Kenangan-kenangan rapi yang menjalar itu juga masa lalu. Pengalaman berharga yang pernah dicapai, juga masa lalu. Beberapa pandangan masa lalu dari teman facebook saya yang mendukung munculnya artike ini.

1. Sesuatu yang sudah terlupakan namun haram untuk dilupakan. (Ghufron Seiha) Mungkin kategori ini sangat berat. Mengingat masa lalu baginya sesuatu yang pantang untuk dilupakan. Memang benar, sekecil apa pun memori yang sudah dilupakan. Akan segera hadir lagi, saat ada yang mengingatkan lintasan kecil tersebut. Menurutnya,masa lalu merupakan sesuatu yang sangat penting dari yang paling penting. Sedikit aneh saja, jika mereka malah melupakan. 
Seolah tidak terjadi apa pun. Padahal bisa jadi yang terlupakan adalah tujuan yang gagal kita upayakan. Saya menanggapi, masa lalu terlupakan karena ada fungsi ‘lupa’. Setiap perjalanan yang ditempuh, pasti menemukan manfaat yang luar biasa. Selama berusaha belajar dari masa lalu.
2. Masa lalu terkadang perlu dikenang, tetapi butuh untuk tidak perlu diingat. (Syaidinil Aksa Ahmad). Saya mencoba menguraikan jawaban ini, ada kategori masa lalu yang positif, juga negatif. Masa lalu yang positif akan membutuhkan porsi diingat daripada masa lalu negatif. Selama hal-hal yang dikenang merupakan pelecut semangat untuk masa nanti.

3. Tak akan pernah terlupakan. (Iftihana Ana). Menurutnya, masa lalu mengajarkan arti sebuah kesetiaan, termasuk dalam hal cinta. Mencintai tak harus memiliki, maupun menjadikan yang berharap cintanya berharga pada orang yang dicintainya. Mungkin benar, karena ada yang tidak benar-benar melupakan masa lalu. Meskipun telah berlalu. Masa lalu menjadi aset berhaga untuk tumpuan masa depan.
4. Masa lalu adalah waktu terindah yang akan tetap dikenang di masa depan. (Sovi Karamel), menjadi terindah karena memiliki banyak rasa. Kalau boleh saya menyimpulkan, apa yang terjadi di masa lalu beragam. Suka, duka, nestapa, bahagia, bergulat dalam sanubari pada waktu yang lebih cepat pergi. Hanya saja, waktu-waktu yang dilewati menjadi sejarah yang bisa menjadi terindah. Saat hati kita melepaskan untuk ikhlas, menerima kekalahan pada masa lalu, misalnya. Sama seperti (Devi Eka), mengikhlashkan yang telah berlalu. Tujuannya, agar fokus masa depan tidak buram karena masa lalu.
5. Beberapa pendapat menggelitik tentang masa lalu;
masa lalu adalah rasa, nano-nano. Sebuah rasa yang sulit diungkapkan (Ayu Citra Milania).

masa lalu adalah masa yang telah lalu.Itu (Aris Rahman Purnama Putra). 

masa lalu adalah sebuah lagu, masa lalu biarlah masa lalu. Jangan kau ungkit, jangan ingatkan aku. *jreng *jreng.

jika kita percaya pada kelak, maka hari ini adalah masa lalu. (Anfa Lah Mulia).

Respon yang luar biasa untuk ‘masa lalu’, bagi kita masa lalu akan tetap abadi. Meskipun ada banyak cara untuk menghapus jejak masa lalu. Tanpa sebuah masa lalu, kita tak akan bisa belajar untuk menyiapkan masa depan yang lebih berbahagia. Masa depan yang lebih menerima kondisi dengan hati yang lapang. Dengan adanya masa lalu, bisa merefleksi diri agar mengupayakan keburukan di masa lalu tidak terulang kembali di masa depan. 
Penulis : Baiq Cynthia 

Situbondo