#Tentang Menulis (Menulis Membuatmu Ada)

Punya lappy (nama laptop), baru empat bulan. Itu pun sering aku tinggal di rumah. Lebih sering ada acara ke luar kota dan luar Jawa. Total jalan-jalan hampir separuh waktu dari usia laptop. 



Pagi ini, aku sengaja membuka buku note tebal yang khusus menulis ide, bahkan selipan curahan hati. 

Tertanggal ... Juni'16, ada bukti pengiriman pos pertama. Beserta penjelasannya. Aku mengirim naskah lomba. Aku sedikit tak percaya. Karena saat itu ponsel pintar sudah raib, pun saat diberi ponsel lagi dengan seseorang. Sebut saja BB yang fiturnya terbatas pada medsos
Jadi, menulis naskah saat itu di buku. Di buku. Saat yang sama aku bekerja di salah satu CV proyek. Bukan main rasa lelahnya. Mengingat tugasnya, berhubungan dengan bangunan. Salah input data, sedikit. Fatal. 
Bulan Juni bertepatan dengan Ramadhan. Usai Subuh meski mata benar-benar kantuk. Mencari warnet dengan Babe. Hampir beberapa warnet yang didatangi tutup. 

Akhirnya, kami temukan yang buka. Pagi itu kota Santri dingin. Menjelang musim giling tebu. Tiba di warnet, aku langsung keluarkan catatan. Berhubung pagi, ada banyak komputer yang 'nganggur'. 
Sungguh, menulis saat itu benar-benar perjuangan. Melawan kantuk, waktu sewa warnet, waktu persiapan nanti nge-print dan kirim ke pos. Waktu kerja. Bulan Ramadhan masuk pukul 9.00 teng. 
Aku kembali membaca, antara yakin dan enggak. Menyalin satu cerpen delapan lembar tidak cukup 1 jam. Pukul setengah tujuh. Sudah ketar-ketir. Mengingat belum koreksi ejaan. Pun rasanya ingin menangis. 
Finish tepat pukul 7. Tapi, harus balik ke rumah. Persiapan kerja. Juga menyatukan dengan file lainnya yang perlu dibawa. 

You know? Kebetulan printer di warnet pun rusak. Jadi, sebelum kerja aku dan Babe mampir di tempat fotokopi. Penuh, karena lokasi tepat depan sekolah. Sudah hampir pukul setengah sembilan. Aku mempercepat memasukan dua map. Meski dalam kondisi acak-acak Babe tetap sabar menunggu. 
Berangkat langsung ke tempat kerja. Hampir telat. Tapi, bosku naik. :) Dia sangat pengertian. Bahkan, sering membiarkan waktu istirahat setelah makan. Meminjamkan fasilitas kantor untuk menulis. 
Tapi, aku sadar diri usai istirahat kembali pada tugas. Otakku pun meninggalkan dunia 'fantasy'.

Maka, kini ... jika aku tak sanggup menulis. Sungguh, memalukan. 😿😭




Menulis bukan tentang batas waktu, menulis bukan mengejar target. Menulis merupakan jalanku. Pelarianku dari dunia yang telah menghukum impian-impian yang tak terwujud. 








#SalamLiterasi

#Aiq

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts