#Tentang Belajar Privat

👩 "Iq, di rumah kamu ada anak kecil?"

(Kaget, ditanya macam itu. Masih stay Single.)

👱 "Adanya cuma anak tetangga? Emang kenapa?"

👩 "Iya, itu maksudku!"

~*~

Kalau ingat sama anak tetangga, aku jadi ingat beberapa tahun lalu jadi guru les buat mereka. Pulang kerja masih sisakan waktu buat memenuhi permintaan satu anak tetangga. Dia mau ujian kelulusan kelas 6. 
Tak disangka, semakin hari makin bertambah yang main ke rumah. 😍 Seru! Bisa sharing. Tanya cita-cita mereka dan ngadepin beberapa karakter. 



Hanya saja, mereka yang sama-sama teman main. Lupa, ada tugas penting setiap malam. Belajar. 
Kadang harus teriak-teriak. Untuk mendominasi suara minorku. Emang dari dasarnya beda. Beda anak, beda karakter. 
Yang satu usil, menganggu temannya yang belajar. Ada yang gantikan posisi aku. Karena yang satu dari SD A sudah mendapatkan materi lebih dulu. Tapi, yang SD B ... merasa terganggu dengan penjelasan si anak dari sekolah A. 
Ricuh. 💃💃💃 Aku tak terbiasa seperti guruku yang memukul meja untuk menenangkan. Jadi, aku diamkan beberapa saat.
Tantangan paling sulit lagi. Mereka rata-rata tidak pernah belajar di siang hari. Ditambah daya ingat terbatas. 
Bersyukur dari 7 yang diajari ada 2 yang tanggap. Langsung paham saat diajari. Sisanya ... mudah bosan. Menyerah, dsg. 
👻👻👻👻

Unjuk rasa sering terjadi saat proses belajar. Kadang masalah pinjam alat tulis yang tak dikembalikan menjadi ribut. Memang yang meminjamkan punya sifat yang kurang murah hati. 
Ayahku tak suka dengan belajar yang 'ricuh'. Terlalu sering, ada yang menangis dalam proses belajar. Sehingga, dia tak izinkan aku memberi bimbingan belajar kepadanya. 
Dalihnya, Aku pulang kerja menjelang magrib. Belum sempat istirahat sejenak. Pukul 18.00 mereka sudah mengetok pintu. 😸
Dilema jadinya. Sampai orangtua si Murid merajuk, akan memberikan Fee untukku. Karena menurutnya. Hasil belajarnya lebih baik. Aku tak sedang mencari penghasilan lebih. Kecuali aku menerima uang buat jajan dari bos ku. Anaknya juga les di rumahku.
Tapi, Aku sudah membulatkan tekad. Tidak mencari ribut sama Babe. 😂 Les pun ditutup. Meski banyak yang kecewa. Aku pun kecewa. Belum bisa berbagi kepada mereka. 
Kasian banget. Di satu sisi, mereka kurang kepedulian orangtua. Orangtua di lingkunganku sibuk bekerja. 
Aku bersyukur, punya Umi. Beliau yang buat aku sebesar ini. Meski Beliau tak bisa baca tulis. Setiap pulang sekolah selalu mengingatkan tentang PR. 
Maka, masa kecilku hanya berkutat dengan buku, buku gambar, dan radio. Kecuali saat ada sepupu datang dan saudara. Hari-hari lebih menyenangkan.
Apalah arti dari memori masa kecil tak akan kembali lagi. Satu lagi, yang membuatku suka dengan dunia membaca dan menulis. Aku ingin menceritakan kisah-kisah sejarah lebih banyak lagi kepada Beliau. 

👩"Iq, kamu belum membalas pesanku!"

👱 "Oh, iya. Akan aku bantu kabarkan pada semuanya." 
#TorehanAiq

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts