Saat Kau Merasa Lupa Asal Mulamu

Kau tahu capung, saat kakiku masih terlihat menjijikan melahap puluhan daun hijau. 



foto source google
Kau mencemooh, katamu aku tak bisa terbang. Setiap aku menyapamu, wajahmu melengos--menari dengan udara tak melihatku di antara tumpukan kelopak seruni.
Aku sedih, kalut, mataku sembab. Kulihat diriku di atas bening danau. Aku sangat buruk. Tubuhku lebih menyeramkan darimu. Pantas saja, engkau menghindar dan abai saat aku ingin berteman denganmu.
Aku malu, lantas membungkus diriku dengan pintalan benang. Aku akui, hanya butuh tempat sendiri. Bersembunyi, dalam liang kapas putih yang menggantung pada lengan ranting. 
Membiarkan tubuhku tak melahap satu jenis daun terlezat di dunia. Aku abai. Kupejamkan mata. Orang bilang aku sedang tertidur lelap berhari-hari. 
Kata si beruang, itu hibernasi. Entahlah, aku betah dalam kegelapan. Saat aku sendiri, setidaknya aku ingin memperbaiki diri. Aku juga ingin punya sayap. 
Embun mengetuk selimutku. Membebaskan hari-hariku yang kelam. Mataku berbinar melihat sekeliling dipenuhi bunga mawar dan matahari. Aku takjub!
Sial. Aku terpeleset, mataku terpejam. Kurasa tubuhku terasa ringan di udara. Sedikit membuka mata. Kyaaaa ... 
 Aku bisa terbang!

Tapi, apakah capung akan menjadi temanku? 
081117

Aiq

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts