Kepadamu, yang Terbang Bersama Dandelion

Pada akhirnya aku tahu, siapa yang bersungguh-sungguh siapa yang ingin mencicipi manisnya cinta. 

Aku tak sedang bercanda pada dunia. Meski banyak orang abai akan sebuah impian. 



Sumber Google
Sudah setengah dekade, kau pun tak kunjung datang. Penantianku terasa terhenti. 

Denyut nadi bergerak tak pasti. Inikah perasaan yang dulu menggebu. Menghasut semua yang pernah menetap.

Kapan terakhir, engkau memetik dandelion? Jangan kau sebut kata itu. Jika mencabut satu saja tak mampu.

Lelaki yang kutunggu saat ini? Jangan tanya soal itu. Aku tidak pernah memimpikan lagi. Bahkan aku sendiri tak pernah ingin menatapnya lagi. 

Aku tak ingin bermimpi, pun tak ingin dimimpikan. 
Aku bukan pujangga waktu, yang pandai bercanda setiap detik. 
Kau boleh pergi sesuka hatimu. Kau boleh datang mengetuk hatiku bila kau siap. Aku pun tak akan pernah meminta kau hadir. Pun tak melarang kau pergi.
Bukan tentang sebuah janji. Tapi, ucapan janji yang kau-torehkan? Ah, sudahlah. Kuanggap kau daun kering, perlahan menyusup dalam tanah. 
Pergilah sesuka hatimu.
Jumat, 10 November 2017

21 Shafar 1439 H

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts