Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.

Thursday, October 26, 2017

​Tangga Waktu [A poetry Baiq]

Tangga Waktu
Ada kecamuk di palung hati.

Tentang sebuah rasa, tertinggal dan terlambat.

Jika rasa bisa hilang dengan Anestesi.

Tertinggal bisa melangkah lebih cepat.

Namun tidak untuk terlambat.

Terlambat tak bisa menarik waktu kembali.
Ada hal yang mereka inginkan dariku.

Aku tak pernah memilikinya.

Aku pun sebaliknya. 

Angan? Mimpi? 

Terlambat sudah!
Satu kata yang dibenci banyak orang.

Satu kata yang membuat jiwa melayang.

Satu kata yang memisahkan antara sekarang dan kemarin.

Tahukah rasanya terlambat?
Terlambat 'tuk percaya aku masih sendiri. 
Situbondo, 26 Oktober 2016
#Poetry

#BaiqCynthia

Tuesday, October 24, 2017

Dia yang Bertahan

Kamu melihat lahan tandus. Tanpa ada tanaman yang hidup. Hanya sebatang kaktus yang penuh duri.



Sumber gambar
~*~ 

Berkaca padanya yang tak begitu mempermasalahkan di mana tempatnya untuk bertahan. Tanpa setetes air saat mentari enggan pindah. 
Kamu merasa sendiri, tertancap banyak duri di tubuhmu. Kamu bertahan hidup. Mampu melindungi bunga yang hanya sekali tumbuh selama beberapa masa. Kamu bukan tak peduli mereka terluka.
Itu karena mereka mengusik hidupmu yang luka. Wahai kaktus?
Engkau mampu berdiri di atas tanah yang merekah, retak dan berapi. Tapi kamu terlalu baik, menjadi tempat perlindungan beberapa hewan di dalam tanah. Penghasil oksigen meski tak seberapa. 
Ini hanya masalah waktu. Biarlah begitu. Jika kamu dipaksa pindah di tempat yang subur dan berlumpur. Riwayatmu pun berakhir. Membusuk .
Takaran dari PenciptaMu tak akan kurang dan berlebihan. Cukup. 
Hai kaktus? Aku salut ๐Ÿ˜Š 
#Aiq
#Celoteh2016

Wednesday, October 18, 2017

Cinta Bilik Hati ~ Baiq Cynthia

Diterbitkan di Takanta.id

Orang bilang cinta itu hadir karena tatapan mata turun ke hati. Tapi, bagiku cinta itu aneh. Cukup mendengar namanya desiran halus muncul sebilik hati.



Sumber gambar : Tumbler

Tak pernah melihat sebelumnya. Hanya sekedar nama. Tak tahu rupa, tutur kata, cara menatapnya. Bagiku sudah cukup meski hadir sebuah nama. Semua nama yang hadir tak ada sedikit yang memahami. 
Apa mungkin karena terlalu dalam aku mengenalnya. Pernahkan kita berjumpa sebelumnya? Tapi, dalam bentuk yang berbeda. Mungkin kita sepasang merpati yang telah melewati ribuan pulau. Menari bersama di layar langit. Saling mengikat janji setia. Tak akan melepaskan. Kau menyusupkan cincin tak bermata pada pergelangan tangan.

Oleh :Baiq Cynthia

Tapi, aku tak ingin menjadi merpati. Sendiri dalam sangkar. Melihat dari kejauhan. Setelah malam itu engkau memilih pergi. Berakhir sudah masa bisa bercengkrama. Aku cemburu pada sepasang bunga aster. Teduh namun selalu beriringan. Mungkin kita sudah terbiasa berjauhan. Kau di sana dan aku di sini menatap purnama yang sama. Tak bersua sepanjang masa penantianku.

Kemarin aku menemukanmu. Aku mendengar namamu disebut, mata kita bertaut pada keheningan. Aku merasa kepakan kupu-kupu dalam perut. Aku tak tahu apakah engkau merasakan debaran itu? Lalu aku diam-diam mencuri senyumanmu. 

Kau yang mampu membawa tawaku mengucur. Tanpa harus bisa mengajakmu bicara. Padahal dalam benakku, ada banyak yang ingin kuutarakan. Entah itu tentang musim hujan yang tak datang. Tapi, kehadiranmu mengajak bercanda langit hingga tertawa berderai. Ratusan kepingan air mendarat di tepat pada rambutku. Kau berlari cepat menepi, senyum tipis terbit saat itu. Kumenadah wajah pada langit. Kubiarkan ratusan peluru hujan jatuh, muka telah siap menadah.

Sesaat kemudian, kulihat dari kejauhan. Engkau tengah menerima telepon penting. Aku pikir dari seseorang yang engkau kagumi. Tetapi, samar-samar kudengar kau menyebut wanita yang telah hadirkan kau untukku. Senyum renyahmu terekam cepat. Aku tak akan melewatkan kedipan mata saat kaumengerjap. Berpikir tentang hujan yang memasung kita. Aku turut bahagia saat bisa bersama meski aku tak sendiri saat itu. Tahukah? Aku merasa potongan puzzle telah lengkap.

Gambar waru di hatimu bertemu dengan jantungku. Merekat seakan tak akan pernah lepas lagi. Bagiku, kekosongan yang selama ini melekat. Pergi berganti terisi. Sesuatu yang bernama hati datang menghampiri. Mengaku bahwa ada yang tertinggal dengan hatinya. Tak ada pilihan yang baru, ucapnya penuh penegasan.

Purnama menjadi saksi saat sentuhan ucapannya menyatakan hal yang kutunggu. Sayang sekali. Aku sadar kita berbeda dimensi. Terlalu banyak yang berbeda. Kau pemilik kastil di tengah laut. Aku hanya penjaga kerang di dasar laut. Kau memanggul lingkaran rubbi di atas rambutmu. Selendang merah tanda kebesaran menggelayut di belakang bahumu. Dalam anganku, aku bisa bersembunyi dalam selendang itu.

Aku salah duga, kedatangan puteri bermata biru dengan bibir merah muda memanggilmu dengan sebutan kekasih. Aku mengurungkan kaki untuk melangkah masuk. Badanku bersembunyi dibalik pintu. Mendengarkan percakapanmu dengannya. Katanya dia diminta datang oleh orangtuamu. Dia jodoh yang diberikan langit kepadamu. Maka tak bisa mengelaklah engkau. Malah engkau menyatakan akan mengikat dia dengan janji suci kepada Tuhan.

Getaran dari langit terasa menelusup mencari gambar daun waru yang pernah melekat pada hatiku. Aku membiarkan lepas. Biarkan hatiku kembali tak utuh. Meski engkau sudah benar-benar akan melupakan. Menjadikan pertemuan itu hanya sebuah kebetulan. Hingga hatiku terlanjur tertaut. Biarkan saja.

Bagiku, cinta bagaikan meniupkan udara pada angin. Menyatu dan akan terus begitu. Biarkan hatiku kini menjadi berbekas hatimu. Padahal aku tak pernah bersua sama sekali. Kau cukup berdiri di sana. Tak perlu menampakkan diri.

Aku tahu, kita berbeda. Kamu tak akan pernah mengerti, kemauanku.

Meski begitu, aku ingin bersamamu.

Bersama menjalani rangkaian hari yang menyenangkan.

Hatiku bergetar lagi, saat mengingat namamu.
Situbondo, 16 Okt. 17

 

Monday, October 16, 2017

Hampa Tak Masalah

Saat hampa mulai menyelimuti. Berhenti berpikir. Keadaan titik jenuh akan membunuhmu, secara perlahan dalam jangka tak tertentu.


Sumber Gambar : google

Aktivitas, olahraga, silaturahmi dan kembali kepada-Nya. Bisa membuat jiwa yang semula hampa, sirna. 
Semakin menyibukkan diri, semakin kecil titik hampa menyemai, begitu pula dengan menjalin persahabatan, berdamai dengan diri sendiri.
Bersyukur dan mengingat keindahan ciptaan-Nya. Menyelami luasnya alam penuh pesona. Itu dibutuhkan untuk menyegarkan pikiran dan membuka wawasan.
Setiap detik ada saja yang menghilangkan titik fokusmu. Tetap berjalan lurus beraturan di atas kebajikan. Temukan keindahan di setiap kesulitan.
Hidupmu terlalu berharga untuk merasa sendiri--merasa hampa. Kamu tak sendiri,  berinteraksi dengan saudara yang dekat maupun yang jauh. Mengelilingi kota yang penuh hal baru. Membahagiakan mereka yang kurang bahagia.
Bersyukur, Allah selalu menjaga setiap pijakan langkah kakimu. Cause life is journey from Allah to Allah. ๐Ÿ˜Š☺
Ruang hampa~~ di ruang angkasa. ๐Ÿ˜ฎ
Lapangkan hatimu, bersyukur maka hampa akan musnah. ๐Ÿ˜Š
#happyweekend 

#Aiq

#hampa

Sunday, October 15, 2017

Masa Lalu Sejarah Paling Indah

Setiap orang memiliki masa lalu. Indah, pilu, suka, duka, bahagia, sedih, asam, manis, pahit. :)



Sumber gambar: Google

Masa lalu bukan membuatmu lelah dan berhenti. Terus menapaki kehidupan yang kadang berangin, berawan, hujan, cerah. ๐Ÿ˜ถ
Ketika waktu mengubahmu lebih mendewasa. Usia menua itu mutlak dan dewasa itu pilihan. :)
Bukan lagi zaman menyakiti diri, ini zaman endorself. Brandingself--katanya tapi kenyataannya masih tipis yang lolos. 
Nikmati setiap detik saat sehat, karena akan merasa menyesal saat sakit.
Bukan masalah kejayaan yang membuatmu abadi, namun sebuah nama yang terukir di hati setiap orang yang terus abadi. Kebaikan hati, ketulusan cakap pribadi. 
Hal buruk mudah saja diingat, tapi kebaikan akan selalu bersemi tanpa dibatasi oleh waktu.
Masa lalumu biarkan tenang di sana. Cukup hari ini lebih sempurnakan. Esok lebih baik dari sekarang. Hari ini akan menjadi kemarin. Lupakan hal yang tak menyenangkan. Renungi--perbaiki. 
Bukan seberapa sering terjatuh, seberapa kuat kaubangun.
Bangun dari masa lalu yang kelam. Akan ada kemilau yang indah di masa mendatang.
Syukuri kehadiran mereka yang membuat harimu lebih bermakna. 
Mereka datang bukan tanpa alasan. Jangan menyesali masa lalu. Kini senja mulai meredup. Hari ini pun menjadi masa lalu. 
Bernostalgia sewajarnya. ❤๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š☺
Masa lalumu itu indah. ๐Ÿ‘ช๐Ÿ‘ญ๐Ÿ‘ฌ

Masa lalumu, masa laluku. ๐Ÿ‘ฅ
#Aiq

#Masalalu

Friday, October 13, 2017

Seruni (bukan) Bunga Kertas-Baiq Cynthia

"Jangan pernah merasa kecil (terkucilkan)."

Mungkin sekarang kamu bingung tentang tujuan hidupmu.



Sumber : Google

Allah maha mendengar suara hati kecilmu. Tapi, ujian ini semata-mata untuk membuatmu lebih kuat suatu saat nanti.
Ini hanya masalah waktu. Yakinlah buah kesabaran itu manis rasanya. Sabar disertai upaya dan do'a. 
Kau-tak harus dengarkan celotehan negatif orang lain. Ini hidupmu, ini jalanmu. Dengarkan saran yang membuatmu bertambah kuat.
Boleh jadi kamu kehilangan anak tangga untuk mendaki langit. Tapi, kamu bisa membuat menara sendiri. 
Kehidupan itu fana. Kau-tahu itu. Kemudian apa yang perlu dibuktikan? 
Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan-- Itu tertera di dalam musyaf. 
Perlu waktu untuk memahaminya. Hei! Kamu sudah 1/5 abad. Ayolah. Lebih realistik. 
Jangan tergiur manisnya dunia yang membutakan akhiratmu.
Walau mata mereka terbuka, mereka tak melihat. Walau bibir mereka bisa bicara, tapi tak bisa menasihati. Walau tangan mereka utuh, tapi tak ingin berbagi. Mata batinnya telah lenyap. Kuharap itu bukan kamu, dia atau kalian.
You know ... it's dangerous of life.
#Renungan

#KeepCalm

#Aiq

#13Oktober2016

[Review Buku] ISTIGHFAR CINTA ~ Novel Pewaras Hati (Mulyanto)

Penulis memaparkan dalam Iftitah novel manis yang sarat pendidikan ini merupakan hasil tadaburnya pada Al Quran surat At-Taubah ayat 74: "Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi."



Buku berjudul Istighfar Cinta sebuah novel Pewaras Hati karya Mulyanto benar-benar memberikan inspirasi jiwa untuk senantiasa menggantungan diri kepada yang Maha Memiliki juga Maha Menerima Taubat.

Ria Melisa si teller bank swasta, sebagai wanita karier--hobi shopping sudah menjadi bagiannya. Menghabiskan waktu untuk hura-hura. Tak terkecuali mendekati lubang lumpur yang sangat dilarang—berpacaran berujung zina. 
Allah menitipkan janin di rahim Ria. Tetapi, saat itu hidayah juga datang. Kasih sayang Rabb yang mengucur pada hambahnya. Termasuk jodoh untuk Ria.
Bagai bunga seruni, tersenyum merekah bersenandung pada kumbang untuk mendekatinya. 

Tak ada bayangan untuk membunuh segumpal darah yang tak berdosa. Ria terus mendekatkan diri, memperbaiki hati. Hingga si cabang bayi akan memiliki seorang Ayah. Meski bukan ayah kandungnya. 
Ini bukan akhir segalanya, justeru menjadi tantangan awal untuk seseorang yang menyatakan cinta kepada Ilahi.

 




Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu [ร‚li ‘Imrรขn/3: 186]



Petik hikmah dalam buku yang penuh hikmah. Sedikit berkaca manik mata saya, seusai membaca kisah penuh inspirasi. Membaca novel ini laksana menonton sebuah film fenomenal. Saya sangat setuju jika buku ini kelak difilmkan. Meski nantinya akan ada perbaikan di beberapa bagian. 

Selama membaca novel yang sederhana, sangat memikat karena ukurannya yang tidak terlalu tebal. Sekali mendaras akan tandas. Bisa menjadi teman saat perjalanan. 

Novel ini benar-benar mengedepankan nilai-nilai agama. Maka tak salah judulnya Istigfar Cinta. Setiap halaman mengajak pembaca untuk merenungi arti hidup. Hidup yang tak hanya tentang hakikat duniawi tetapi juga ukhrawi. 

Berisi juga tentang parenting, bagaimana mendidik anak secara tak langsung saya mendapatkan ilmu. Setiap bayi terlahir seperti kertas kosong. Hanya orangtua yang menentukan akhlak dan agamanya.
Sangat menyayangkan, plot yang terkesan cepat. Alternatifnya, hati ikut membaca selain pikiran yang mengolah. Saya menyukainya! Sangat rekomended bagi yang ingin berhijrah namun masih belum percaya diri. Bahwa Allah menerima hambah-Nya yang bertaubat. 
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri (QS Al-Baqarah [2] : 222)

Salam ukhwuah. 

Situbondo, 

Jumat, 13 Oktober 2017

Pereview : Baiq Cynthia

Judul : Istigfar Cinta, Novel Pewaras Hati

Penulis : Mulyanto

Penerbit : Kota Tua

Cetakan  : Pertama, Maret 2017

ISBN : 978-602-61136-6-5

Thursday, October 12, 2017

Mawar yang Mengutuk Kupu-Kupu

Pada akhirnya bunga yang kau berikan layu. Dipanggang udara. Sudah hampir dua puluh lima purnama. Engkau datang sebagai Dewa. Mencoba menjadi sayap untuk bidadari pujaanmu. 


Sumber : Pinterest.co.uk

Kedatanganmu membius setiap jengkal langkaku. Bahkan pujangga tak menandingi. Mata elang yang terus menerawang. Mencari permata yang hilang. Dengan erat engkau mencengkeram batu rubi bermata biru.

Menancapkan pada ujung kehormatanmu. Sekarang engkau tampak seperti maharaja. Kristal-kristal anggun memesona setiap bidadari yang melihat. 
Tutur katamu bagai tiupan angin. Sejuk menenangkan setiap hati yang sendu. Penuh bijaksana dengan tongkat kebesaranmu. Memasangkan sepatu kaca kepada bidadari yang kautuju.
Seperti badai yang datang tanpa aling-aling meminta waktu. Kau menunjukkan dua tanduk merah yang tersembunyi lekat mahkota. 
Dengan rakus, menggerogoti serpihan daging yang sudah lama membiru. Menandaskan urat-urat kecoklatan. Hingga perutmu lebih berbobot dari otakmu. Belatung!
Selamanya ... belatung tak akan pernah menjadi kupu-kupu. Kau biarkan tubuh bidadari belumur dosa. Dirampas kesuciannya. Dilempar dari istana langit. Kau tertawa disertai seringai. Tawamu mampu menggoncang dunia yang meranggas.
Aku pindah pada wujud mawar. Merekah pada musim semi. Gugur dengan sekali hempasan angin. Balas dendam belum tertunaikan. Sengaja cairan nektar kucampur racun. Saat kau menjelma menjadi kupu-kupu. Aku pastikan sayapmu runtuh. 

Maka kau akan menjadi belatung lagi. Kau yang terkutuk oleh ribuan bidadari. Tak akan pernah bisa terbang lagi.
Aku? Aku tetap menjadi mawar yang beracun. 

Situbondo, 12 Oktober 2017

Tuesday, October 3, 2017

Saat Sakit tak Melihat

(Dokter part 2) 
Beliau langsung tergopoh dengan stetoskop. Lima garis keringat siap meluncur--tapi menggantung di kening.



Dia langsung menyuruh, berbaring tempatku pemeriksaan. Alat tensi darah, sudah mulai direkatkan pada lenganku.
Dia berujar, "Kurus kok normal." 
Aku bilang sebelumnya, 100/70 saat di Surabaya. Sekarang udah baik. 
"Jangan sampai kosong," katanya lagi setelah mendengar suara sendawa. Tepukan pada perut mirip suara gendang.

Padahal sebelum berangkat sudah terisi. Meski makan sekitar 3 sendok.
Dia pun mengisyaratkan untuk tengkurap. Seperti biasa cairan dalam jarum, yang khas untuk pasien. Tidak kudapatkan di salah satu layanan kesehatan di Surabaya. 

Lagi, kutunjukkan. Beberapa tablet yang selama ini dikonsumsi. Mulai dari vitamin, pereda mual, hingga penghilang nyeri. Satu lagi pil milik sepupu yang racikan khusus, dokter ternama di kota sebelah Situbondo. Tidak mempan.
Aku kembali pada timbangan. Aneh, padahal saat sakit turun drastis 5 kg. Kini, naik lagi. Kupastikan timbangan saat sakit pertama itu rusak. Karena titik nol saat menimbang melenceng ke minus.
Saat ini aku yakinkan timbangan akurat. Masih utuh dengan plastiknya. Juga penurunan tidak begitu drastis. Sekitar turun dua kilogram.aa
Meski nama obatnya sama, bentuk dan warnanya berbeda. Yang satu hijaunya terlihat pudar. Satunya masih terlihat segar dan berlabel. 
Obat yang sebelumnya, diminta untuk disingkirkan. Pesannya. Makan rutin tiap 4 jam sekali. Hindari pedas dan kecut. 
Dia pun berkata sudah 6 hari rawat inap karena masalah penyakit yang sama denganku. Dia pun menunjukkan bekas jarum infus di kedua pergelangan tangannya yang berjumlah 4. 

Hal sepele. Seperti salah makan. Bisa berujung rumah sakit atau maut. :') 
Jaga kesehatan, ya! Setahun lalu aku sakit begini. 2 tahun yang sama juga sakit ini. Sepertinya selalu begitu. Pola makan yang salah sangat berbahaya. 
Makan rutin meski sedikit dan aktivitas banyak. Daripada sakit. Sehat selalu dokter. *Eh, jadinya dokter sama pasien saling sharing penyakit yang sama. 
Makasih ya, Dokter. 
#curcolmalam