Cerpen Komedi - Baiq Cynthia Satu Detik Saja (Story Club)

#Pemenang_Cerpen_Komedi

#StoryClub2014
Judul : Satu Detik Saja

Penulis :Baiq Cynthia
Hari ini cuaca sedang galau, akhirnya awan nangis deh hingga air tangisannya membuat banjir sampai mata kaki. Beberapa saat kemudian hujan segera reda, moment penting ini tak terlewatkan bagi Sharma untuk pergi shopping.



"Ma, kamu mau kemana. Hujan ajah baru kelar?" terdengar sebuah suara dari dalam rumah ketika Sharma baru membuka pintu pagar. 
"Bentar cuma Mom, aku butuh refreshing. Sumpek dalam kurungan seperti ini," Sharma melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Suara gemerincing gelang kaki mendekati Sharma. Terlihat wanita paruh baya yang mengenakan sari kuning yang melilit tubuhnya. Dia adalah Mom Sharma, namanya Anuskah.
"Nak, ayo masuk saja urungkan niatmu yang hobinya keluyuran gak jelas. 

Sekarang jalanan becek, gak ada ojek. Rempong pake banget!" tangannya berkacak pinggang laksana peragawati yang memamerkan busananya.
"Haduh, Mom! Please cuma sebentar kok," Sharma mengendus kesal.
"Bilangnya bentar, tapi suka amnesia balik ke rumah. Udah! Nurut saja, dua minggu lagi kamu bakalan nikah. Nurut kenapa!"
"Iya ... iya," kembali masuk ke rumah sambil menurukan bahu, mirip nenek-nenek panti jompo yang bungkuk.
"Paling malas di rumah, seperti di sel penjara zaman penjajahan Inggris," Sharma tak henti-hentinya berceloteh seperti kakak tua kehilangan bulu.
Sepekan setelah kejadian itu, semua tetangga Anuskah datang berbondong-bondong ke rumah Anuskah sambil membawa pisau. Eits! Bukan untuk memotong badan paus yang terdampar. Tetapi membantu memasak untuk persiapan pernikahan putri Anuskah satu-satunya.
"Ma, dari sekarang kamu harus sering luluran biar lebih bersih kulitnya!" tampak Ibu Sharma membawa perlengkapan 'medy care' ke kamar Sharma.
"Emang kulitku kotor seperti babi tak mandi sehari?" 
"Bukan, biar lebih putih Nak."
"Iya, asalkan lulurannya enggak pake pemutih ya, Mom!"
"Hehe, kamu ini malah bercanda." Anuskah meletakkan sekotak bahan rempah untuk perawatan putrinya.
"Mom, mau masak atau lulurin aku?" 
"Diam ajah!" Anuskah kesal kepada anaknya yang terkadang 'Oon-nya' muncul.
Anuskah mulai meracik beberapa rempah ke dalam lesung kecil, beberapa menit kemudian jadilah adonan lulur.
Anuskah mulai memanggil para relawan untuk meluluri anaknya. Mereka berusia sebaya dengan putrinya yang kini berumur 21 tahun. Maklum, Sharma jarang bergaul dengan orang lain. Dia lebih suka jalan-jalan dan belanja.
(Keesokan harinya).
"Ma, ayo bangun! Hari ini adalah ritual membersihkan bulu!" Anuskah menggoyang-goyangkan tubuh putrinya yang masih terlelap.
"Apa?!"
"Iya, liat ajah nih!" tangan Anuskah yang usil mulai menarik sehelai bulu rambut.
"Au!" Sharma terhentak dan bangun.
"Haha, daripada guyur kamu pakai air gak berhasil ini lebih praktis," Anuskah terkekeh.
***
Setelah ritual selesai dijalankan kini tiba menggunduli bulu-bulu Sharma yang menggerogoti tubuhnya, terutama di kakinya. Rata-rata bangsa India memiliki bulu yang panjang seperti kucing Anggora. 
"Ma, tenang saja. Ini hanya sedetik saja. Rasanya itu enggak sakit kok. Cuma bulu," suara Anuskah melantun ke telinga Sharma.
Beberapa orang di sekitar Sharma telah siap dengan lakban hitam yang besar. Bukan untuk memplaster mulut Sharma.

Namun lebih tepatnya, "Krek!" 
"Auuuu!" suara auman Sharma lebih parah daripada Srigala yang kelaparan.
"Ma, gimana rasanya? Hanya sedetik saja," suara salah satu gadis yang tengah mengoprasi bulu Sharma.
"Iya, hanya sedetik tapi berkali-kali ... Auuu!" 
"Hehe, ini belum seberapa dibanding dengan ...."
"Krek ... Krek ... Krek!"
"Nona, tahan ya! Karena ini ritual gundul bulu, jadi hanya boleh dengan lakban atau perekat. Kalau pake alat cukur namanya pangkas bulu. Nikmati sensasi hilangnya bulumu tiap detik," salah seorang lagi di samping Sharma menimpali.
"Iya, cukup sedetik untuk berkali-kali itu iklan kartu perdana ... Auuuu sakit banget!!!" 
~End~
#Lets Like, guys...

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts