Curahan Tengah Malam

Jelas-jelas tadi sore sudah habis kuotaku. Setelah dicoba buka beberapa aplikasi yang memang terhubung dengan internet, sebut saja medsos burung biru. Aku langsung senang luar biasa. Tapi, mataku terhenti pada postingan aplikasi perpustakaan digital. Secepat itu pula kembali membuka akun lama yang penuh laba-laba. Terakhir buka dua minggu lalu.


Ada tanda notifikasi, bahwa salah satu kumpulan cerpen bisa diakses. 

Meski signal putus-putus. Aku teguhkan menunggu. 
Terunduhlah satu naskah kumcer yang begitu asing namanya. Karena buku tersebut terbit bertepatan mengenyam bangku SD. 
Halaman daftar isi sedikit. Tak seperti kumcer yang pernah kusentuh. Tak buang waktu, aku membaca judulnya. 
Kayu Naga. Sekilas nampak seperti cerita anak. Hewan naga kan hanya pada serial masa kecilku. Tontonan favorit, jika tidak di serial laga maka di salah satu kartun. 
Tapi, makin dibaca bukan kisah anak kecil yang diceritakan di sana. Tetapi, ekspor salah satu pedalaman di Kalimantan. 
Well ... ini menarik, beberapa bagian paragraf membuatku tercekat. Harus mengulang membacanya. Bukan karena tidak bisa membaca. Beberapa kosakata baru nyaris aku tak kenal. Setelah di cek di KBBI itu ada. 
Membaca dua cerpen membuat satu jam melayang. Bukankah cerpen itu cerita pendek. Itu artinya 30 menit aku merampungkan membaca 1 cerita.
 Aku pun penasaran. Siapa sastrawan tersebut. Jelas, gaya penulisannya klasik. Lugas namun berbobot. Hampir semacam Budi Dharma. Tetapi, jelas berbeda keduanya. Aku pun bingung menjabarkan letak perbedaannya.
Praktis, sekarang bisa langsung surfing di internet. Hanya mengetik kata kunci, semua bisa dalam genggaman. 
Terlambat. Bahkan aku tidak tahu-menahu, sastrawan angkatan 70-an sudah berpulang dua tahun silam. Ulang tahunnya bertepatan Dirgahayu Kemerdekaan RI. 
Beliau pencetus buku Sastrawan Angkatan 2000 terbitan GPU. Penerima penghargaan sayembara mengarang Roman DKJ 1976 & 1998. 
~*~

Aku benar-benar tersentuh dengan kisah cerpen "EMPANA". Menelisik kisah yang berhubungan dengan pembakaran sawit. Dan pernah terjadi lagi beberapa tahun lalu. 
Sepertinya, semakin hari aku semakin bodoh. Lantas 24 apa saja yang aku habiskan. 
Semoga tenang di sana pak Korrie Layun Rampan. 
#tulisanrenungan

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

2 comments

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan sempatkan memberikan komentar. Saya akan memberikan umpan balik dan berkujung kembali pada blog Anda.

Popular Posts