Bahkan Ucapan Bisa Menyengat

Pernah suatu ketika, aku menyapa salah satu orang yang pernah membantu ketika kritis di sana. Beliau yang bersedia menemani bertemu dengan mereka-mereka yang duduk di kursi spesial. 

Meja kerjanya penuh sesak dengan berkas-berkas penting. Di belakang tubuhnya ada schedule harian. Lemari kayu dekat ruang kerjanya. Mungkin berisi laporan dan buku-buku penting. Rambutnya menipis dimakan usia. 
Aku duduk menghadap Pak Tua ditemani beliau. 
Melupakan berarti menghilangkan rekam jejak hariku. Hingga media memudahkan untuk berkomunikasi. 
Aku menyapa beliau tempo hari. Rasanya tak ada yang berubah dengan 2 tahun lalu. Tetap rendah hati, bijaksana dan memotivasi. 
Dia berujar kata-kata yang sedikit menyengat tubuhku. Padahal kata-kata hanya ungkapan. Ungkapan bukan sebuah benda semacam perhiasan. 
Namun, ungkapan itu jelas-jelas menghapus satu memori kepiluan. Di mana aku pernah terjerembab pada jurang tanpa penghuni. 

Aku sadar. Ucapan itu sebagian dari doa. Semoga saja itu pertanda yang baik.
Ya ... tak perlu tahu beliau itu siapa. Karena yang saya tahu setiap kesuksesan tak semulus melaju di tol. Bebas hambatan. 

Kesuksesan hanya buah. Benih dari sukses; usaha keras, relasi, doa, tawakkal. 
Karenanya dia mengucap satu kalimat yang membuatku ternganga. Aku pun akan meyakini kalimat itu akan terjadi satu atau dua dekade di depan. 
"Baiq, saya yakin kamu pasti menjadi orang besar," kata beliau yang pernah menjabat menjadi Presma. 

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts