Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.

Thursday, August 24, 2017

Sepatah Kata Untukmu.

Mungkin ini ya, namanya perjuangan.. Bahkan saat aku cerita sama umikku tersayang. Beliau baru mengerti setelah saya jelaskan lagi. :') 


"Alhamdulillah, semoga barokah ya, Nduk. Setidaknya Umi gak sia-sia merawatmu sejak kecil. Meski umi gak bisa baca tulis, tapi Umi selalu mendoakanmu." 
Umi memang tak mengeluarkanku dari rahimnya. Tapi, wanita hebat itu. Mampu mengeluarkan aku dari kegelapan. Membimbing dengan yang dia bisa. Selain baca dan menulis aksara. 
Usianya kini akan menginjak 80 tahun. Kuharap, beliau bisa tersenyum. Selalu sehat, dan diberi umur panjang.
Mamaku yang jauh di sana. Terima kasih restunya. Kau wanita tegar yang kutahu. :') Tetaplah tertawa...
Abah ... aku tak akan mengecewakanmu. Meski aku tak sempat sekolah lagi. Pun tak bisa bekerja seperti yang kauharapkan. Aku akan buktikan bisa berkarya. 

Babe... meski pun engkau tak begitu merespon keberhasilanku. Mungkin engkau tak mengerti. Aku maklumi. Aku ingin membuatmu bahagia. Maafkan aku selama ini ya Be..
Aku memang bukan anak orang kaya. Tapi, aku ingin memberikan kekayaan hati.. untuk meraka. 

Love you.

Situbondo, 23 Agustus 2017

Monday, August 21, 2017

Sajak Tebing Menangis - Baiq Cynthia

Karena yang engkau lihat bukan yang sebenarnya.

Aku memilih pergi, karena aku tak sanggup untuk menyamai banyak hal yang berbeda.

Aku memilih diam, karena aku tahu ucapanku tak akan baik didengar olehmu.

Kau tahu ... meski aku disuapi apel emas sekali pun. Aku enggan memakannya.

Kebahagiaan yang mana yang kausebutkan?

Nyatanya aku tertawa dan tersenyum menyembunyikan luka.

Aku terlalu naif. Melakoni layar hitam di malam hari.

Sudah lelah melarikan diri dari kecewa. Sudah penat meraung menangis menepi di balik tebing.

Sudah waktunya, kurobek kisah yang tak sempurna. Akan kutorehkan lagi, cerita yang baru.

Perjuangan menembus tebing tanpa mataair, tanpa rasa cinta.

Doaku menyertaimu. Wahai perempuan yang setiap hari kurindukan.

#Aiq

Sunday, August 20, 2017

Curahan Tengah Malam

Jelas-jelas tadi sore sudah habis kuotaku. Setelah dicoba buka beberapa aplikasi yang memang terhubung dengan internet, sebut saja medsos burung biru. Aku langsung senang luar biasa. Tapi, mataku terhenti pada postingan aplikasi perpustakaan digital. Secepat itu pula kembali membuka akun lama yang penuh laba-laba. Terakhir buka dua minggu lalu.


Ada tanda notifikasi, bahwa salah satu kumpulan cerpen bisa diakses. 

Meski signal putus-putus. Aku teguhkan menunggu. 
Terunduhlah satu naskah kumcer yang begitu asing namanya. Karena buku tersebut terbit bertepatan mengenyam bangku SD. 
Halaman daftar isi sedikit. Tak seperti kumcer yang pernah kusentuh. Tak buang waktu, aku membaca judulnya. 
Kayu Naga. Sekilas nampak seperti cerita anak. Hewan naga kan hanya pada serial masa kecilku. Tontonan favorit, jika tidak di serial laga maka di salah satu kartun. 
Tapi, makin dibaca bukan kisah anak kecil yang diceritakan di sana. Tetapi, ekspor salah satu pedalaman di Kalimantan. 
Well ... ini menarik, beberapa bagian paragraf membuatku tercekat. Harus mengulang membacanya. Bukan karena tidak bisa membaca. Beberapa kosakata baru nyaris aku tak kenal. Setelah di cek di KBBI itu ada. 
Membaca dua cerpen membuat satu jam melayang. Bukankah cerpen itu cerita pendek. Itu artinya 30 menit aku merampungkan membaca 1 cerita.
 Aku pun penasaran. Siapa sastrawan tersebut. Jelas, gaya penulisannya klasik. Lugas namun berbobot. Hampir semacam Budi Dharma. Tetapi, jelas berbeda keduanya. Aku pun bingung menjabarkan letak perbedaannya.
Praktis, sekarang bisa langsung surfing di internet. Hanya mengetik kata kunci, semua bisa dalam genggaman. 
Terlambat. Bahkan aku tidak tahu-menahu, sastrawan angkatan 70-an sudah berpulang dua tahun silam. Ulang tahunnya bertepatan Dirgahayu Kemerdekaan RI. 
Beliau pencetus buku Sastrawan Angkatan 2000 terbitan GPU. Penerima penghargaan sayembara mengarang Roman DKJ 1976 & 1998. 
~*~

Aku benar-benar tersentuh dengan kisah cerpen "EMPANA". Menelisik kisah yang berhubungan dengan pembakaran sawit. Dan pernah terjadi lagi beberapa tahun lalu. 
Sepertinya, semakin hari aku semakin bodoh. Lantas 24 apa saja yang aku habiskan. 
Semoga tenang di sana pak Korrie Layun Rampan. 
#tulisanrenungan

Friday, August 18, 2017

Senja Menyorot Merah Putih

#YakinSudahMerdeka

"Kemerdekaan adalah hak segala bangsa ...." 


Tetapi, mereka yang merdeka hanya sebagian kecil. Merdeka dari kebodohan. Merdeka dari kebutuhan pangan. Merdeka dari melek baca. Merdeka dari tontonan tak layak.
Bangsa yang benar-benar merdeka saat slogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat; tak hanya sekedar slogan. 
Refleksi kemerdekaan (?) 
Tanyakan kepada nurani. Saat pelajar berkata sekolah hanya untuk ijazah. Ijazah untuk bekerja. Apakah kemerdekaan itu sudah terwujud? 
Indonesia memiliki persentase penduduk besar di dunia. Sudahkah berhenti mensuplai barang dan kebutuhan dari luar? 
Generasi muda yang cerdas dan tangguh, seolah enggan berkiprah di negara tercinta. Mereka yang diterima beasiswa di luar negeri. Sekelumit yang mau membangun Indonesia. Sisanya lebih bangga tinggal di luar.
Hedonisme menjadi raja. Empati menjadi nol besar. Mereka berlomba-lomba menghapus budaya timur. Tak sedikit yang lebih menyukai budaya barat. 
Indonesia sudah merdeka 72th. Tapi tikus berdasi kerap membuat resah masyarakat. Meraup banyak keuntungan. Tertidur saat kerja. 
Indonesia memang merdeka. Tapi, bangsanya masih terjajah oleh kaum sendiri. Terjajah oleh krisis intelektual. Generasi menjiplak menjadi raja. Generasi berprestasi menjadi patung manusia.
Indonesia, yang diperjuangkan oleh "Merdeka atau Mati." Dihapus oleh "Terima atau bunuh diri." 
Wahai hati, begitu cepat pergi. Luntur oleh nilai-nilai moral, agama. Seperti angin yang meniup debu. Indonesia, kuharap namamu selalu tertanam. Tak hanya pada hari ini. Setiap hari menggema.
NKRI Merdeka, harga mati!
Situbondo, 17 Agustus 2017

Tuesday, August 15, 2017

Bahkan Ucapan Bisa Menyengat

Pernah suatu ketika, aku menyapa salah satu orang yang pernah membantu ketika kritis di sana. Beliau yang bersedia menemani bertemu dengan mereka-mereka yang duduk di kursi spesial. 

Meja kerjanya penuh sesak dengan berkas-berkas penting. Di belakang tubuhnya ada schedule harian. Lemari kayu dekat ruang kerjanya. Mungkin berisi laporan dan buku-buku penting. Rambutnya menipis dimakan usia. 
Aku duduk menghadap Pak Tua ditemani beliau. 
Melupakan berarti menghilangkan rekam jejak hariku. Hingga media memudahkan untuk berkomunikasi. 
Aku menyapa beliau tempo hari. Rasanya tak ada yang berubah dengan 2 tahun lalu. Tetap rendah hati, bijaksana dan memotivasi. 
Dia berujar kata-kata yang sedikit menyengat tubuhku. Padahal kata-kata hanya ungkapan. Ungkapan bukan sebuah benda semacam perhiasan. 
Namun, ungkapan itu jelas-jelas menghapus satu memori kepiluan. Di mana aku pernah terjerembab pada jurang tanpa penghuni. 

Aku sadar. Ucapan itu sebagian dari doa. Semoga saja itu pertanda yang baik.
Ya ... tak perlu tahu beliau itu siapa. Karena yang saya tahu setiap kesuksesan tak semulus melaju di tol. Bebas hambatan. 

Kesuksesan hanya buah. Benih dari sukses; usaha keras, relasi, doa, tawakkal. 
Karenanya dia mengucap satu kalimat yang membuatku ternganga. Aku pun akan meyakini kalimat itu akan terjadi satu atau dua dekade di depan. 
"Baiq, saya yakin kamu pasti menjadi orang besar," kata beliau yang pernah menjabat menjadi Presma. 

Thursday, August 10, 2017

Cinta Seperti Sayatan Belati

Cinta dalam diam. Tak semudah memegang belati tanpa tangan. Emang bisa? Bisa. Saat kakimu masih mampu bergerak. Beralih fungsi sebagai tangan. 
Pertama kakimu pasti merasa bergesekan dengan lancipnya ujung belati. Aku tak mampu membayangkan. Hanya orang spesial yang bisa mengendalikan dengan tapak kakinya. 

Abaikan. Dia pasti bisa. Sejak kecil sudah terbiasa menggunakan kaki. Kaki menjadi tangannya. Dia masih mampu bertahan.
Tapi, cinta dalam diam. Menyembunyikan rasa itu. Seperti memegang belati dengan mulut. Karena kaki dan tangan tak ada.
Jika bukan bibir yang mengelupas. Maka belati yang akan menancap pada pangkal lidahmu. 

Rumit. 


Memang hanya segelintir yang tak memiliki tangan dan kaki. Tapi... bukan berarti dia tak mampu menjalani hidup ini. Bahkan saat motivasi hidupnya tinggi, belati tak mampu mengoyak dirinya. Justeru dirinya yang mampu mengendalikan belati. Mengendalikan banyak otak manusia.

Aku pernah membaca tulisannya. Sangat menginspirasi. Mungkin kamu tahu, siapa dia. Nick Vujicic, penulis dan motivator handal tanpa tangan dan kaki.


Cinta dalam diam, bisu mengungkapkan. Cinta tak punya tangan dan kaki. Hanya perasaan yang bertaut dalam senyap. Lalu, doa-doa yang dirapalkan setiap detik pun. Menjadi tak berarti. Dia yang kau-sebut dalam diam, memilih pergi dengan yang lain. 

Padahal dia dahulu pernah berjanji, untuk menjemput diri. Membebaskan dari belenggu sepi. Nyatanya hatinya menyimpan belati yang dilepaskan hari ini. 

Aku sudah berupaya keras, menjaga hati itu. Tak membiarkan orang lain menjamah hatiku. Bahkan aku menghilangkan kesempatan menjadi seorang ratu sehari. Demi menebus janjimu. Janji dan sumpah pada Ilahi. Hatiku pecah. Kamu memeluk perempuan itu, di bawah hujan. 

Aku hanya bisa diam. Karena rasa itu belum pernah kukatakan. Aku hanya diam saat kamu mengatakan akan mengajakku ke istanamu. Aku tak berkata iya atau menolak.

Kini baru kusadari, hati yang sakit bisa cepat pulih. Seperti luka sayatan belati. Bahkan hilang tak berbekas. Pergilah, sejauh kau mampu. Bersama pujaan hatimu. Aku tak bersedih. Aku tak akan sudi, menerimamu lagi.


Mengunci hati dengan gembok yang kuat. Ditambah rantai besi. Menjadi pilihanku sekarang. Aku hanya ingin berserah diri. Kepada-Nya. Aku yakin azzam-Nya lebih tepat. 
"SETIAP HATI YANG LUKA OLEH BELATI, TAK AKAN PERNAH TERASA PERIH. JIKA, MENCINTAI ALLAH." 

Aku putuskan, dalam tulisan ini. Tak akan menanti. Tak akan memberi kesempatan kepada siapapun, yang hanya ingin melukai diri. Aku ingin menjaga diri ini. Menjaga hatiku. Menjaga agamaku. Dari cinta yang belum pantas kumiliki.
Baiq Cynthia
Situbondo, 10 Agustus 2017 

Wednesday, August 9, 2017

Kursus Menulis Online-Cerpen & Content Writer

Menulis menjadi pengikat ilmu. Sejarah pun bisa dibuka lagi oleh tulisan. Jejak-jejak perjalanan, peristiwa maupun informasi. Melalui tulisan.

Kali ini saya ingin berbagi info mengenai kursus penulisan. Berkenaan dengan cerita pendek dan content writer. Mengutip kata-kata Tere liye, "menulis adalah berbagi." Bisa berbagi ilmu, pengalaman dan motivasi berkat penulis. Jika gajah mati meninggalkan gading. Maka penulis akan tetap diingat akan karyanya.



Tetapi, apakah menulis hanya sekedar menulis? Tentunya tidak. Penulis yang bijak akan selalu menggali ilmu baru. Entah melalui pengamatan, seminar, workshop, dll.
Penulis novel Tilawah Cinta. EL Salman Ayashi. Rz. Beliau adalah novelis juga content writer. Ingin mengajak para generasi muda untuk bisa menulis produktif. Tak hanya sekedar kursus kilat. Namun, peserta nantinya akan dikarantina selama 33 hari.

Total buku yang sudah diterbitkan sekitar 27 judul. Ada yang memakai nama Pena El Salman Ayashi. Rz, ada Non Fiksi dengan nama Pena Abu Salman. Dan beberapa buku yang ditulis dengan nama samaran. Antara Dua Arah Cinta, Sebuah Mahar Cinta dan Sebuah Jalan Cinta; salah satu buku yang pernah diterbitkan oleh penerbit Quanta, imprint dari Elexmedia komputindo.

Sudah kenal ya, dengan tentornya. Sekarang kita lihat dulu. Program yang akan disuguhkan. Intip di banner dulu, deh!



Apa sih, fasilitas yang didapat dalam kursus ini? Yuk, kita simak bersama.
Fasilitas:

1. Grup Kursus Rahasia. Diberi nama Endonesia. Grup dijadikan tempat bimbingan atau istilahnya ruang kelas. Online.
Pelajaran akan dilakukan seminggu 2 - 3 kali setiap hari Jum'at, Sabtu, dan Minggu.

Jadwal Kursus:

Jum'at: Jam 20.00 WIB -21.00 WIB

Sabtu: Jam 16.00 WIB - 17.35WIB

Minggu: Jam 13.00 WIB: 14.45 WIB

2. Dibuatkan Website

Gratis juga website premium, artinya hosting atau tempat menyimpan file adalah layanan berbayar. Tapi kami berikan gratis selama 1 tahun. Bagi yang ingin memperpanjang cukup membayar 100 ribu saja.

Untuk domain, saya berikan gratis selamanya. Karena memakai subdomain dari website utama, yaitu: endonesia.id

3. Modul. Modul akan diberikan secara bertahap setiap minggunya. Sebagai panduan praktis belajar.

4. Grup Alumni. Agar terus terhubung dan saling share info serta ilmu. Memudahkan menjalin informasi setelah kursus pun sharing seputar literasi.

Apakah belajar hanya setiap Jumat, Sabtu, Minggu?
Jawabannya tidak. Selama 33 hari kita akan dikarantina. Setiap hari akan diberi tugas sebagai bentuk bimbingan. Menulis bukan sekedar butuh. Tetapi butuh menulis setiap waktu. Untuk menghasilkan karya yang baik.
Tertarik? Program ini baru dirintis tahun ini. Maka kesempatan mendapatkan diskon semakin besar. Harga kursus selama 33 hari berkisar Rp 850.000,-

Eits, kenapa di banner hanya tertulis lima ratus lima puluh ribu rupiah? Ya! Sudah mendapatkan potongan harga. Hemat uang 300K.

Untuk pendaftaran bisa bayar 250K, sisa tanggungan bisa dicicil saat program berlangsung.

Wow! Sudah dapat ilmu, belajar 33 hari. Gratis website, juga bisa mengembangkan skill menulis di grup alumni. Termasuk ketika akan menerbitkan buku, akan diberi tips-tips hanya di grup alumni Endonesia.

Kuota terbatas. Kami ingin memberikan perhatian besar kepada peserta kursus. Maksimal 10 kursi. Agar lebih intensif proses karantina.

Kapan program dimulai? Pertengahan September. Tepatnya 10-15 September 2017.

"Tak ada kata mahal dalam mencari ilmu," kata Ariny NH. CEO Arsha Teen dan novelis.

Untuk info pendaftaran.

Hubungi Arya Wibisana

WA: 0852-2650-2521

SMS : 0856-4763-3224

Phone : 0286-325244