Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.

Thursday, June 29, 2017

Hati Manusia Mudah Berubah [Dialog Anak dan Babe part 2]

Biasanya si Babe suka sensi, kalau lihat anaknya bahagia. *Ambivert kalau bahagia suka senyum gak jelas.


Tapi, mungkin tadi karena jam sarapan. Juga kebetulan q_time. Aku kasih tahu video mbah buyut, 4 hari lalu. Waktu ambivert masih fit, sempat silaturahmi. Aku ndak sengaja geser foto salah satu sepeda motor *mantan. :v Yang bertanda bintang diabaikan. 

Spechless! Aku biasa aja. Wong juga udah lama end_nya. Tapi gak pernah main blokir-blokir. Musuhan atau balikan. Gimana sih kalau permen dah jatuh? Kan gak mungkin dipungut. Jadi, sebelum buang permen, pikir matang-matang. Perasan bukan permen karet yang elastis. :p

Gak pernah ketemu. Jarang kontak. Ndak penting. :3 Suka aja lihat motornya. Mirip punya Babe. Tapi lebih maco. Knalpotnya mirip sepeda GL.

Jeng jeng ... 

👴 : "Bagus!"

👧 : "Punya teman, India."

👴 : "India?" *Mulai bingung dia. 

👧 : "Iya, India ... negaranya."

👴 : "Sepedanya, buatan India?"

👧 : "Iya, lihat saja plat nomornya aneh, mereknya juga asing." *Sedikit bolak balik tiga foto yang ada.

👴 : "Suruh bawa ke sini!"

👧 : !@#%&* (Udah end, Beh! Cari yang lokal aja.)

Moment pas buat ngobrol sesuatu. Endingnya, Babe hanya geleng-geleng.

🙊 Pagi-pagi sudah semangat! 😁 

Percayalah Beh, Anakmu gak akan mengecewakanmu. 💕

Komunikasi itu penting, semakin banyak intensitasnya. Makin erat hubungan keluarga. Sayang sekali! Era gadget menumbuhkan serba cepat, serba instan. Bahkan rela ndak pulkam. Gara-gara ada video call.

Ada lagi, era gadget lebih banyak senyum sendiri sama hapenya. *akwawwww

#SelamatBeraktivitas

Wednesday, June 28, 2017

Jika Memang Engkau Tercipta Untukku

Menjaga stabilitas perasaan itu penting. Seperti menjaga denyut jantung untuk tetap stabil. 


Pentingnya, saat merasa hal yang memang diimpikan, tapi belum waktunya. Entah butuh legalitas, belum terpenuhi syaratnya. Bersiaplah lapang dada.

 

Segalanya butuh rasa ikhlas, sabar, komitmen. Tanpa tiga komponen itu, hatimu mudah remuk saat gagal. Mudah berambisi saat ada kesempatan. Mudah sekali jatuh saat mudah mendaki.

Bagaimana mungkin aku tersenyum dalam kepura-puraan. Sementara aku tahu, itu melewati areaku. 
Lebih baik diam. Anggap saja aku tak pernah hadir. Engkau pun tak akan mengerti keinginganku.
Ada cara yang lebih baik. Selain bercengkrama dalam larangan. Percayalah, kelak Allah yang memberikan rute yang terbaik bukan yang tercepat. 
Let's flow like a breathe.

Cinta bukan hanya sesaat, cinta perlu dipupuk, disemai dan disiram. Cinta bukan perkara dua insan. Tetapi dua keluarga. 
Andai saja aku menerima, mungkin sakit yang akan kutimbulkan. Hati ini masih terkunci rapat. Sudah kukatakan, aku tak butuh perasaan secepat kilat.

Aku hanya butuh, pendamlah gejolak cinta. Cinta hanya membunuhmu. Merusak jaringan otak. Meniti jalan yang tak benar. Saat cinta yang kau-torehkan hanya berujung pada larangan.
Cinta sejati ditemukan, di sebuah dimensi rindu yang kadang hanya berupa balutan doa.
Selamat Malam 

Tuesday, June 27, 2017

Akibat Dibully Saat Lebaran Berujung Asma

Aku tidak tahu, bagaimana cara menjelaskan seseorang yang kena asma. Mungkin kalian yang pernah mengalaminya, pasti mengerti. 



Pertama kali divonis sesak nafas (asma) semenjak SD kelas 3. Masih ingat dibenak. Saya merasa sulit bernapas, semakin berusaha bernapas semakin sesak. 

Hampir setiap bulan asma itu kambuh. Bahkan harus istirahat total hingga 4 hari. Saya masih ingat betul. Obat sirup berwarna merah bergambar paru-paru, lupa namanya. Yang jelas setelah minum sirup, juga resep obat dokter langganan saya. Penyakit itu berangsur sembuh.

Sudah berkali-kali rujuk ke macam-macam dokter pun. Tak pernah bisa sembuh. Saya bertanya, mengapa saya punya penyakit asma? Sementara adik-adik saya tidak. 

Gen orang tua, bisa jadi alergen. Alergen semacam pemicu asma. Seperti debu, makanan, minuman, asap rokok, dsg. 

Bertahun-tahun saya pelajari penyakit yang menjangkiti tubuh ini, juga teman saya yang sudah lebih dulu terbang ke Syurga karena komplikasi.

Asma--penyempitan saluran pernafasan. Penyakit ini tidak menular, hanya menurun. Tetapi, saya tidak tahu siapa yang menurunkan gen itu. Gejala awal biasanya flu ringan, hingga flu berat dan batuk kering. Jika sudah masuk tahap terakhir. Pada malam hari mulai batuk rejan, memicu fluks lambung. Sehingga merasa mual. Kepala akan berat. Tetapi, sulit untuk tidur berbaring. Saya sudah sering tidur duduk. Hanya dengan begitu, membantu bernapas lega. 

SMP semakin akut. Setiap hari menggunakan inhaler, juga membawa obat yang meredakan sesak. Biasanya disemprot di dalam mulut. Bahkan oxigen, sewaktu-waktu udara kotor. 

Sebisa mungkin menghindari makanan yang memang memicu penyakit itu. Sejenis kacang goreng, makanan berminyak, durian, makanan santan, es teh, udara terlalu panas--terlalu dingin, polusi udara, asap rokok, ruangan berdebu, pola pikir berat.

Lingkungan yang tidak kondusif, beberapa kejadian yang membuat trauma mudah sekali membuat penderita asma down, berujung sesak.

Saya merasa asma berkurang semenjak masuk SMA. Mungkin karena teman-teman yang begitu mendukung, tugas pun sudah ringan. Paling-paling sakit hanya 2 hari, dan saya cenderung memaksakan diri untuk masuk. Tetapi, puncaknya saat UN. Terpaksa mengerjakan soal lebih cepat. Saya sakit, tapi dipaksakan untuk ikut. Baru pertama kali ke UKS dan tiada yang menemani.

Beberapa orang yang dekat kadang jengkel, penyakit itu dibilang "Manja". Gak boleh ini, gak boleh itu. Memang demikianlah.

Saya berjuang mati-matian agar tidak sesak saat bekerja di Bali. Jadwal padat, dan semua dikerjakan sendiri. Termasuk pergi ke kursus english harus menempuh perjalanan 1 jam dengan kaki. Alhamdulillah, Allah selalu melindungi.

Saat saya benar-benar sakit bulan maret 2015. Saya merasakan rindu kota lahir. Hanya umi yang mengerti kondisi saya. Yang ada saya mendapatkan omelan tinggal bersamanya, juga menyiksa. Itu mengapa, saya tidak tahan di Bali. 

Meski demikian, membersihkan sepatu dan tas menjadi 'santapan' tiap hari. Saya bersyukur tidak asma. Padahal debu sudah pasti banyak, ditambah asap kendaraan dari luar.

Saya pergi ke Malang. Udara di sana sangat dingin. Tak jarang sering bersin-bersin sendiri. Tetapi, tidak sampai asma. Karena saya benar-benar berusaha menjaga diri. Agar bersin hilang--supaya batuk tidak terjadi. Tetapi, saya mendapatkan guncangan diri. Masalah dana kuliah. Saya bingung, orangtua sendiri sudah angkat tangan. Semester 1 tidak bisa kerja. Hampir 7 hari selalu masuk kuliah. Ada tambahan ESP dan AIK.

Beruntung ada orangtua angkat yang baik. Selalu menganggap saya seperti anaknya sendiri. Pernah tengah malam masuk UGD. Pemicunya stress.

Akhirnya saya tahu, pemicu asma saya bukan makanan, debu, atau lainnya. Lebih tepatnya stress.

Saya pernah tinggal di Batu, Malang. Meski awal-awalnya bakalan bersin2 karena cuaca benar-benar ekstrim. Gimana tidak, perjalanan Situbondo-Malang-Madiun-Batu itu tanpa jeda. Tetapi, Alhamdulillah tidak asma. Hanya flu. 

Balik ke kota tempat tinggal, saya malah divonis radang usus dan lambung luka. Mungkin salah makan, atau terlambat makan.

Jadilah sekarang penyakitnya dua. Asma dan luka lambung.

Entahlah, semakin menjelaskan hanya membuat saya sakit. Saya hanya butuh pikiran yang tenang. Bahagia dan hanya itu.

Saya tidak bisa menjelaskan detail yang pasti. Setiap berbicara pasti ingin muntah, setiap berjalan ingin roboh. Setiap bernapas, perasaan ingin mati.

Saya tidak boleh menangis, hanya itu pemicu asma. Sekali saya menangis dengan kenceng. Maka saya flu, saat flu berubah jadi batuk maka tidak akan pernah berhenti batuk dengan meludah. Terasa gatal tenggorokan, kepala berat saat ingin muntah.

Saat asma pun, makanan jarang bisa masuk. Tidak bisa makan makanan berminyak, pedas, asam, santan, kacang seperti sate, termasuk tempe goreng, telur goreng itu gak boleh.

Akhirnya saya hanya bisa makan bakso, telur rebus, kuah bening, dan hanya itu. Coklat pun tidak diperkenankan.

Saya tidak menyesal, karena ritme asma memang tidak bisa diramalkan. Terakhir sakit asma 2016 saya lupa bulan ke berapa.

Bersyukur, setidaknya asma tidak datang tiap hari. Hanya datang saat mengalami 2 hal itu, flu dan batuk berat. Tetapi, obat batuk maupun permen pelega tenggorokan tidak cocok. Hanya memperparah. Sudah pernah saya coba.

Masih ingat dalam benak, kadang saya tidur di bawa pohon untuk mencari udara. Juga pernah saat malam, duduk di teras rumah demi mencari angin. Tak jarang saya suka sekali ikut Babe ke mesin ATM untuk sekedar menghirup AC. Memang aneh.

Normalnya asma tidak bisa panas dan dingin. Tetapi pernah di awal januari tidak menggunakan jas hujan Situbondo-Jember, Jember-Situbondo. Juga saat itu tidak sempat mampir ke saudara. Jadilah basah kuyup berjam-jam. :') Alhamdulillah tidak asma.

Saya putuskan, alergen saya hanya satu. Pikiran berat. Tidak bisa menanggung banyak pikiran. Ambivert tidak suka bercerita apa yang ada dipikirannya.

Bahkan saya yang sering bersin gara-gara bulu kucing. Ternyata pun (Bisa) tidak asma.

Intinya saya hanya butuh hiburan saat sakit. Entahlah .... Penyakit aneh....

Pernah dirujuk ke rumah sakit yang bagus di Jember, tidak bisa mendeteksi penyakit asma yang saya alami. Karena saat itu, memang dalam kondisi tidak sakit. Saya pikir bisa di test alergen. Tetapi, obatnya mirip biji salak. :v 

*Efek pertanyaan kapan nikah(?), kapan kuliah(?) kapan kerja (?) bisa memicu asma. >_<

#Syafakillah

Friday, June 23, 2017

Kehadiranmu seperti Nyala Lilin di Bangku Kosong [Puisi Aiq]

Kosong

(Baiq Cynthia)



Saat kamu duduk di antara bangku kosong. Nyala matamu tak lagi terang. 

Aku jengah menanti

Ribuan baling-baling janji


Senja kemarin, 

Engkau pamit 

Menggamit sesuatu yang engkau sukai.
Sejenak aku menatap kosong. 

Tentang bisikan sakralmu.

Aku ... 

Akan merindukan ... mu...

Aku akan ....

Selalu menunggu ... mu ...
Kata-kata basi

Beraroma kaos kaki 

Lainnya ....


Hening

Dalam pangkuan

bernama diam

Kamu menampar pangkal daging penuh denyut. 

Dengan satu kata dari dalam mulutmu.


End

Probolinggo, di waktu yang diam-diam kamu menjelma menjadi casper jahat.
#poetry

Sunday, June 18, 2017

Rasa Bahagia itu Saat Bersyukur

#thelast

Ada banyak celoteh hati. Tentang mimpi dan cita. Saat ini dan beberapa tahun kedepan ... akan kuborgol perasaan dengan kunci yang kulempar dalam jurang. 



Foto : dokumen pribadi (Pantai Pasir Putih-Situbondo)

Setelah beberapa kali, jatuh dalam lubang kegagalan. Aku ingin kesempatan kali ini benar-benar terwujud. 

Impianku tahun 2017 menerbitkan sebuah buku. Entah itu antologi lagi, maupun bareng penulis kece atau solo. 

Sebelumnya memang pernah menulis resolusi 2017. Alhamdulillah beberapa sudah tercapai. Meski beberapa lainnya saya pending sendiri. 

Salah satu yang tercapai, bisa bertemu langsung dengan penulis. Beberapa bulan lalu bisa bertemu dengan penulis buku Go Internasional. Senang rasanya. 

Kedua bisa mendapatkan buku-buku gratis dari tantangan menulis dan membaca, juga beberapa give away. Alhamdulillah

Ketiga sebenarnya, banyak yang berlabuh. Tetapi, entah mengapa perasaan itu hilang sendiri. Tak mengerti. 

Ini hanya ungkapan syukurku. Allah maha mendengar doa-doa kita. Meski kita hanya menyematkan dalam doa saat sunyi. 

Tahun ini, benar-benar berkesan. Terlepas dari beberapa batu sandungan, maupun jarum-jarum yang bertebaran. 

Sempat tidak percaya, saya bisa melakukan hal yang paling dilarang sebelumnya. 
Travelling! Ya, meski tujuannya ingin ikut test mengajar di Pare. Setidaknya, aku diberi kepercayaan oleh orang yang kusayang. 

Jadi sempat dilarang, alasan perempuan trus sendiri. Tetapi, saya sudah katakan niat saya hanya ingin sukses. Jika gagal, berarti Allah akan berikan kesempatan di lainnya. 

Saya meyakinkan, ada banyak teman saya di luar kota. Berkat media sosial. Jadi, tidak perlu takut merasa sendiri. 
Alhamdulillah, sekali lagi saya benar-benar bersyukur. Bisa dipertemukan banyak orang baik. 
Karenanya saya bisa lebih bersemangat menjalankan scene dari-Nya. 
Semoga kelak impian-impian yang bergeliat di otak bisa terwujudkan. :)

Saat engkau percaya, dan berupaya dengan sungguh-sungguh. Akan ada kemudahan bahkan bantuan dari Tuhanmu. Nyatanya hidup adalah perjalanan panjang. Kebahagiaan pun tau harus selalu senang, perlu rasa sedih untuk menyeimbangkan.... 

Saturday, June 17, 2017

Teruntuk Masa Depanku : Sebuah Surat

Aku suka, aku suka. Ini bagian terakhir sekaligus paling mem-baperin. Wkwkwk. Tantangan #7DaysKF ini, sungguh berkesan. Bisa lebih membantu penulis #MalasRapuhpayah kayak saya. Juga bikin terteror dengan pertanyaannya. Hingga terkadang harus mencari ide. Bikin galau juga, kalau tiba-tiba paket internet habis. Bisa-bisa galau seharian. 

Eits malah curcol. Ya udah kini kupersembahkan bagian terakhir. 
Surat Untuk Masa Depan 



Hai ... Baiq! Kamu pasti sudah berubah ya ... tekstur wajahmu lebih keibu-ibu an. Lebih manis lagi. Masih ingat sama Baiq yang dulu? Kekanak-kanakan dan terkadang menangis untuk hal yang tidak jelas. 

Mungkin saat ini kamu sudah memiliki buah hati. Berapa? Tiga ... Empat atau kesebelasan sepak bola? Kurasa hanya dua. Program pemerintah. Miris ya! Nasib penduduk kamu di masa depan semakin banyak. Semakin sedikit lahan. Semakin sempit. Sesak banget. Polusi udara semakin banyak ya? Duh! Air sungai bukan tercemar lagi. Mirip kolam sampah? Astaga ... terus-terus bagaimana dengan laut? Apakah masih sama? 

Ketakutan terbesarku air krisis. Semua harga pangan melonjak. Kriminalitas meningkat. Kaum hedon dan sosialita bertebaran.

Selamat datang di abad milineum. Yang serba canggih. Namun minim interaksi. Sekarang saja, zamanku pengguna gadget seperti tidak kenal tetangganya. Yang jalan menyapa pun terkadang diabaikan. Oh, iya aku membawa selembar ini. Bacalah dan renungkan. 

Suatu saat kamu akan merindukan jalan setapak sawah, yang keberadaannya susah hampir tiada. 
Hai! Masih ingatkah dengan impianmu? Kini telah kau wujudkan berkat bekal usaha, tekad kuat dan doa-doa mereka. 

Mungkin mereka kini, berangkat lebih dahulu. Meninggalkanmu sendirian. Berjuang dengan dunia yang pelik. 

Hai! Dulu kamu sering bermimpi sebuah pernikahan yang harmonis dan indah. Kini kamu temukan keteduhan itu.

Pun kamu akan tersenyum, saat membaca komentar pembaca setiamu. Buku hasil tulisanmu, benar-benar berdiri di deretan rak buku—tempat biasa kamu belanja buku. Selamat ya!

Perjuangan berdarah-darahmu belum berakhir. Bagaimana dengan impianmu yang ingin menjadi designer? Apakah terwujud. Semoga benar-benar seperti target masa mudamu. 

Aku turut bahagia di sini. Tetapi, jangan pernah lupakan aku. Yang membuatmu bisa berdiri di antara tepuk tangan.

Sahabat-sahabatmu, Gurumu. Mereka selalu menemani setiap langkahmu. Terutama orangtuamu dan Umi’. Sosok ringkih yang selalu medoakan cucunya. 

Berikan apresiasi yang terbaik untuk mereka. Kalaupun saat ini, kamu telah berpisah. Entah karena jarak atau dimensi waktu yang berbeda. 

Tolong, hapus airmata-mu dulu. Aku tidak suka kamu menjadi rapuh begitu. 

Oh iya, siapa nama anakmu? Barangkali sudah memiliki cucu? Turut bahagia. 

Jangan lupa, ceritakan kepada mereka. Bahwa kamu pernah berjuang menulis. Salah satunya mengikuti event yang diadakan Kampus Fiksi bersama Basabasi. Meski di tengah banyak tuntutan deadline

Seperti menulis laporan hingga engkau lupa merasakan tidur pulas. Tetapi, hari ini pula. Kamu menebusnya. Ya! Kamu tidur dengan pulas. Hingga terbangun dari mimpi buruk.

Surat ini aku tulis di bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah di sepuluh hari terakhir juga. Meski sekarang aku tidak memikirkan pakaian apa yang akan dipakai untuk lebaran. Hiks

Mungkin kamu yang di masa depan tidak repot untuk hal itu. Kamu sudah memiliki karir yang cemerlang. Mampu memiliki yang pernah diimpikan. Seperti sekarang yang ingin sekali memiliki sebuah laptop. Ingin sekali lagi mendapatkan kesempatan kuliah lagi. Maafkan aku yang dulu. Yang terlalu angkuh. Egois dan ingin menang sendiri. 
Tolong hapus sifat itu ya, pun aku ingatkan. Jangan karena materi kamu menjadi pongah. Lupa diri. Jangan!

Selalu dekap dengan kuat, membaca Al-Quran. Seperti yang sering dilakukan Nenekmu. Kau tahu, hatiku teriris. 
Bahkan aku belum mampu membelikan musyaf terbaru untuknya. Sungguh buku yang bisa dia baca, terpenggal menjadi beberapa bagian. Hingga sering jatuh. Dalam benakmu saat itu hanya memikirkan buka puasa bersama. 
Aku tidak tahu, pesan apa yang harus aku sampaikan lagi. Mungkin masa lalumu tak seindah temanmu. Tetapi, justru kamu mendapatkan porsi tangguh lebih besar. 

Baiklah, meski mama dan ayahmu tetap sama seperti yang dulu. Tetap hormati ya. Tanpa mereka, kamu tak akan pernah melihat dunia yang istimewa.
Kurasakan, diriku mulai menipis. Waktunya kembali ke dimensi asalku. Jangan pernah menyerah. Aku tahu hidup selalu tak pernah sama dengan rencana kita. 

Kita hanya pandai berencana, Allah tetap yang Menentukan. Tetap teguh pada pendirianmu. Jangan terlalu banyak mendengarkan bisikan murahan. Istiqomah di jalan kebaikan dan nikmati masa depanmu yang (pernah) kamu impikan. 
Salam dari Masa Lalu, 17 Juni 2017

Baiq Cynthia

Masih di tempat mungil, kota Situbondo.


#HariKetujuh

#7DaysKF

Friday, June 16, 2017

Alasan Mengapa Harus Mendapatkan Pasangan yang Baik

Hari Ke-6

Setiap bayi yang dilahirkan di muka bumi ini suci, baik, lucu dan masih bersih. Namun, orangtua yang menentukan masa depan si kecil. Orang tua pula yang membentuk karakter. Setiap orangtua pasti berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Tetapi, Ada 3 pembentukan individu; orangtua, lingkungan dan teman pergaulan. 

source : pic in twitter
Saya rasa setiap orang berhak untuk kebaikan. Karena manusia terdiri dari dua sisi. Baik dan Jahat. Tak bisa dipungkiri. Hanya yang memberikan perbedaan seberapa besar persentase keduanya. 

Saya jadi teringat kepada salah satu film yang populer tahun lalu. Sanam Teri Kasam. Berkisah seorang mafia yang bertahun-tahun di penjara. Lalu bebas, jatuh cinta kepada gadis polos sebagai penjaga perpustakaan dan pecinta buku.

Lelaki yang penuh tato itu meminta rekomendasi buku, buku bagi orang yang baru keluar dari penjara. 

Saya melihat sosok lelaki yang baru bebas dari penjara pun suka memberi susu kepada kucing. Walaupun banyak orang mengecap ‘bajingan’. Mengingat perilakunya diluar tatanan hukum masyarakat. 

Uniknya dalam kisah ini, mereka saling jatuh cinta. Dengan ribuan konflik, sebelum mereka bersatu. 

Satu hikmah yang bisa dipetik, tidak bisa menilai orang hanya dengan tampilan. Kita bisa tahu perilaku orang melalui sikapnya, perilaku dan sudut pandang.
Berikan setidaknya tiga alasan bahwa kamu pantas memiliki pasangan hidup yang baik. #Harikeenam (Writing Challenge #7DaysKF #Basabasi)

Pertama, Saya sedang dalam tahap proses memperbaiki diri. Motivator yang saya kagumi berkata, “Seseorang yang selalu mengupgrade dirinya akan disandingkan dengan sosok yang setara.” Pasanganmu cerminan dirimu. 



Source: Instagram

Kedua, sudah banyak dipertemukan dengan orang tidak baik. Itu pertanda, harus bisa menjadi sosok baik. Setidaknya bisa bertingkah laku yang baik, minimal senyum setiap bertemu orang. Sebuah senyum, sama halnya berbagi kebahagiaan, juga membangun relasi yang baik. Hingga berkumpul dengan orang baik. 
Saya yakin diantara teman saya, pasti ada yang merupakan jodoh saya. Karena jodoh hakikatnya dekat. Dekat di sini bukan konotasi dengan jarak. Akan tetapi, jiwanya yang serupa. 
Terakhir, saya tumbuh dan dibesarkan di keluarga baik. Juga lingkungan yang baik. Bahkan Ayah saya sangat melarang keras pacaran. Demi menjaga buah hatinya. Selain itu pula sejak dini sudah dikenalkan dengan agama.



Source: Instagram

Tanpa Agama hidup terasa kosong. Sehingga saat akan melakukan hal yang kurang baik, bisa diminimalisir. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. 
Saya juga insan yang lemah. Banyak sisi kekurangan. Hanya dengan memiliki pasangan yang baik, bisa saling memperbaiki. 
Saya wanita. Wajib bagi saya mencari pemimpin yang baik. Seorang yang nantinya tak sekedar berstatus sebagai suami, namun kepala keluarga. Seorang ayah yang memberi teladan kepada anak. Membimbing istri, menemani setiap proses perjalanan hidup. 

 source : unname

Kebaikan tak mutlak sebuah kesempurnaan. Namun, kesempatan untuk sempurna selalu tentang kebaikan. Karena manusia tidak ada yang sempurna. Maka kebaikan yang akan menutupi keburukan. 
Penulis : Baiq Cynthia

Sosok yang Ingin Kutemui

Hari Ke-5

Sosok yang ingin kutemui dalam waktu dekat. Dia yang selalu memberikan inspirasi. Sosok yang menyumbangkan banyak suplai darah. Meski lama dalam setahun bertemu. 

Aku tak kecewa, mengapa kami tak bersama. Karena Allah maha tahu alasannya. Tidak ada yang benar-benar terjadi di bumi ini, tanpa sepengetahuan-Nya.  Aku pun tak ingin gundah, saat perlakuannya kurang mencerminkan kasih sayang. 
Mungkin, kesempatan ini jarang. Bahkan ikatan emosi di antara kita tak terwujud. Sedih. Tetapi, memang benar begitu.
Terlalu lama terpaku pada hal ego dan materi. Terlalu lama dekapan hangat itu terasa. Hingga tak ada sisa memori lagi. Aku akui aku salah. 
Tak ada yang benar-benar harus ditumpahkan. Selain rasa maaf dan penerimaan. Aku sadar. Kita pasti memiliki keping cinta. Tanpa diminta akan disediakan.Semoga bertemu kembali, Ayah-Ibu dan adik-adikku. 

Yang berikutnya yang ingin ditemui, sahabat lamaku. Yang selalu ada dalam suka maupun duka. Selama jarak hanya rintangan. Maka dengan menggulung jarak kita akan bersama lagi. Sebisa mungkin moment Hari Raya Idul Fitri sebagai pelipur lara. 
Terakhir adalah teman masa SMP, sudah hampir 8 tahun tidak bertentangan. Tidak ada kabar dan tidak mengabari. Berkat Ramadhan pun. Insyaallah kita akan berkumpul.
Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan keberkahan. Karena itu aku enggan ditinggalkan lagi. Bulan ini terlalu indah dan menyenangkan. 
Karena setiap ada pertemuan akan ada perpisahan. Setiap ada yang berpisah akan ada kerinduan. ~Baiq Cynthia
#KampusFiksi

#7DaysKF

#BasabasiStore

Thursday, June 15, 2017

HAL yang Tak Terkira, Mampu Membuatku Tersenyum [Hari Ke-4 #7DaysKF]

Hari ke-4.


Peristiwa yang kita alami terkadang penuh rasa. Memilukan, menyedihkan, membuat kita tertawa hingga merasa malu. Perasaan itu biasanya lebih lama mengendap dalam pikiran. Butuh umpan untuk mengembalikan ingatan lama. 

Hal pertama yang memalukan, saat semasa menjadi ketua tingkat di semester 2. Tugas kating (ketua tingkat.red) mengambil dan mengembalikan kunci kelas di ruang TU. 

Sore itu, setelah kelas selesai. Aku pun bergegas naik satu tingkat dari lantai 5 ke lantai 6. Saat mengembalikan kunci. Aku mendengar petugas pemberi kunci berteriak, “Pak! Kuncinya sudah ada,” jawabnya setengah teriak. 

Aku tidak menghiraukan. Karena hari itu benar-benar letih. Saat aku kembali. Aku bersisian dengannya. Wajahnya seperti mahasiswa senior. 

Dia : “Hei! Fakultas apa?” teriaknya dari belakang.

Aku : *Kaget dan berhenti sebelum turun tangganya. OMG mimpi apa bisa dipanggil si dia ... Sedikit tergugu, dengan sikapnya yang humbe. “Iyaaa, Jurusan ilmu Komunikasi, Kak.” 

Dia : “Oh, iya satu fakultas,” jawabnya sedikit tergopoh ikutan turun tangga.” 

Aku : “Kakak sendiri jurusan, apa?” 

Dia : *Tersenyum dibalik mata yang teduh. “Hubungan Internasional!” 

Aku: “Saya duluan ya, Kak.” Aku langsung bergegas menuju lift. Sedangkan dia menuju ruangan yang aku tempati sebelumnya. Tepat di depan Lift.

*Seperti ada kilat di depan wajah.

Setelah aku ingat-ingat. Petugas tadi memanggil dia dengan sebutan Bapak!

Buru-buru aku pulang ke Kos menanyakan, nama pengajar yang sering teman kosku ceritakan. 

“Nama dia Pak Hafid!” 

“Kyaaaaa .... Benar dong!”

Saat itu aku ingin teriak.... Apa? Panggil dosen dengan sebutan “Kak!”

~*~*~
Episode ke-2

Saat itu sedang ada di kawasan camping. Di mana lokasi kemah kami jauh dengan toilet. Anehnya setelah acara api unggun berakhir. Aku kebelet pipis. Jam sudah menuju pukul 24.00 Malam itu sudah benar-benar gelap. Kecuali lampu senter yang muncul dari handphone kecilku. Api unggun sudah redup. Jarak lokasi ke tempat mandi sekitar 300 meter. Sialnya, semua teman cewek gak ada yang mau nemani ke kamar mandi. Alasannya udah capek. 

*ka*pret setiap mereka butuh temani, aku selalu ada. Kyaaaaa... Sabar-sabar...
Kujalani jalan setapak. Demi setapak. Dengan lampu senter hape jadul yang punya tombol 10 biji kalau gak salah. Kalau salah, ya udah hitung sendiri. 

Suasana benar-benar mencekam. Ada suara air di sekolan. Gemirisik angin dengan bebatuan. Setelah sedikit kepayahan 20 menit aku sampai di lokasi. Tetapi, kenapa penuh dengan orang kemah? Dimana toilet? 

X : “Mbak! Tengah malam mau ke mana?” 

Aku : *Melihat pertanyaan diajukan kepadaku, jalanku terhenti. “Eh ... Ke toilet, Mas!” Sepertinya dia salah satu dari bagian camping yang lain. 

X : “Lewat sini mbak, bukan sana!” 

*Deggg! Wong tadi pagi aku hafal, bisa lewat sini. Bisa salah! 

Aku : “Eh, iya mas! Makasih.” 

*Wajahnya tertutup silaunya cahaya. Acara mereka sepertinya belum selesai. Aku abaikan banyak tatapan mata. 

X : “Sama-sama.” 

15 menit kemudian. 

X : “Mbak! Mau ke mana lagi?”

Aku : *Ihhh sudah gak kenal, suka urusin hidup orang. “Balik ke bumi perkemahan saya, Mas!” 

X : “Loh kok menuju luar gapura?” 

*Eng in eng. Rasanya ada soundtrack lagu ini,

Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Aku tanpamu. Butiran ... es oyen. 
Ndak jelas. Seng penting aku malu. Lagi-lagi banyak mata mengekori langkahku. 
Penulis : Baiq Cynthia

Tuesday, June 13, 2017

3 Rasa Kehilangan yang Berarti~#7DaysKF

Hari Ke-3

Kehilangan--sebuah rasa yang merupakan antonim dari memiliki.



Kehilangan itu bersifat relatif setiap orang. Ketika ada sesuatu yang mungkin bagi kita berharga, belum tentu bagi mereka juga berharga. 

Tetapi, hal yang berharga biasanya yang sering melekat pada kita. Ada 3 kehilangan terbesar yang sulit aku lupakan. Meskipun sudah terlupakan. 

Pertama kali saat aku ingin memiliki sebuah flash disk. Harus benar-benar memendam perasaan itu. Aku tergolong tertutup saat zaman wajah masih tirus. (*Untung sekarang ada aplikasi bikin tirus)

Hingga sebuah senja, Ayahku menemani ke sebuah konter hape. Untuk mencari FD. Zaman hape qwerty, FD 2 GB sudah cukup. Tetapi, Ayahku membelikan yang 8GB. Awalnya, saya di tawarkan yang 16 GB. Saya menolak. 
Warna merah dan ada logo yang keren. Bisa dikasih gantungan kunci. Aku menyukainya. Di FD itu bisa menyimpan hal baru.

Mulai dari tugas sekolah SMA kelas 1 hingga lulus. Aku suka sekali mengambil objek yang unik. Sejak dibelikan handphone yang memiliki kamera. Saat itu 1.3MP sudah bagus. Apalagi vendor yang terkenal. 

Objek yang sering aku ambil, mulai dari kucing peliharaan, moment gambar kadal menyendiri, bunga kamboja yang berbuah, foto pribadi, dsg.
Ternyata, setiap minggu file selalu bertambah. Tidak terbatas pada foto, tugas, juga karya kreasi dengan photoshop dan Corel, aplikasi edit video dan path, film tentang Agama, hasil subtitle sendiri, musik, animasi, dan lain-lain.
Pertama kali suka menulis itu semenjak diberi pinjaman laptop oleh teman baikku. Aku bisa menulis. Juga menyimpan di Flash Disk. Semua draft novel tersimpan rapi di dalamnya. Termasuk file penting. Yang tidak bisa didapatkan di internet. 

Video saat aku bermain peran di lomba film pendek se-Jatim yang diadakan oleh ITS Surabaya. Sekolah kami masuk kategori favorit. 

Isi flash disk itu terkumpul 10.000 foto yang dihimpun dari handphone jadul- hape adikku yang keren. 

Suatu hari teman masa SMA yang tinggal 1 kamar kos denganku meminta izin untuk pinjam FD.

Awalnya aku ragu, karena dia suka lupa dengan barangnya sendiri. FD miliknya pun suka sekali hilang. Tetapi, dia sudah baik kepadaku. Menampung di tempatnya.

Aku berikan tanpa, ba-bi-bu. Ketika ditanya sudah selesai? Jawaban astaga, tertinggal di gedung PKM-nya. Begitu terus hingga FD ditemukan oleh orang lain. 

Ternyata setelah seminggu terlewatkan, FD itu dinyatakan hilang dari radar. Aku meminta lelaki itu mencarinya. Karena isinya penting! Aku gak bisa menjamin bagaimana jika semua dokumen disalahgunakan. :’) 

Karena moment itu bertepatan dengan Ramadhan akhir, detik-detik mudik. Dia tak mau ribet. Mengganti FD aku. Herannya dia memberikan FD yang berbeda dengan kapasitasnya sama. 
Padahal zaman saya beli hampir 90 ribu diganti dengan FD 45 ribuan. Syedih bukan main. Benar saja FD baru itu mudah terinfeksi virus. Berapa kali saya format data. 

Saya tidak menyukainya. Bahkan saya biarkan orang-orang mau pinjam FD tersebut. Lagi-lagi FD yang saya punya dipinjam orang lagi. Kembali--hilang. 
Memang harganya tidak seberapa, tetapi isinya yang sangat berharga. Foto yang sengaja dikoleksi, dari hari ke hari. Perjalanan hidup saya di pulau Dewata. 

Tak ada lagi. 

Yang kedua saya kehilangan handphone beserta kartunya, termasuk kartu memori. 

Saya suka sekali meminta hasil foto dan menggunakan memori card supaya aman. Tidak bisa dipinjam. 

Ternyata kalau sudah apes itu gak bisa mengelak. Tas saya digondol sama 2 orang yang Jahat. Semua isi tas ditarik dengan entengnya. Padahal yang ditarik bukan sekedar bunga di pagar rumah orang. 

Awalnya aku merasa tidak kehilangan, detik berikutnya sadar. Ada buku pinjaman milik perpustakaan Kampus. Mati! Ada dompet yang berisi kartu Identitas diri, KTM, ATM, surat-surat dispensasi, foto sahabat, surat perjanjian, antingku yang tinggal satu. 

Juga handphone pemberian seseorang. Di sana ada banyak kontak penting yang tidak memiliki salinan. Bahkan saya tidak hafal nomor keluarga di rumah. 

Menangis sejadi-jadinya. Meski jalanan ramai pada malam itu. Tidak, masih jam 18.15. 
Hanya karena kehilangan dalam satu detik. Ribuan detik harus dikorbankan. Meminta pemblokiran ATM lama. Membuat baru, dengan menunggu KTP baru. Semuanya menjadi rumit. Di mana tinggal di kota orang. Jadi, mau tak mau semua diurusi seorang diri. 

Repotnya jadi Maba sendirian ke barat ke timur. Hingga dimarahi habis-habisan, oleh orangtua pengasuh.

Oh iya, walaupun Sim card telepon itu bisa diperbaiki, nyatanya kontak akan kosong melompong. 

Terakhir, kehilangan yang paling besar yaitu kehilangan momentum bersama. Teknologi menggeser semuanya. Membuat yang jauh menjadi dekat yang biasanya dekat menjadi renggang. 
Dulu, masih hanya handphone biasa. Sering nelp hingga berjam-jam dengan adikku. Apalagi kalau gratis bicara hingga dower.
Sekarang era medsos, setiap ditanya pasti jawabnya singkat. Setiap diajakin VC pasti sibuk. Tetapi US (Update status.red) terus tiap menit. -_-
Akhirnya, biar lengkap kehilanganku. Aku hilangkan akun medsos milikku! 
Karena sejatinya, hanya dengan menghilang kita akan dicari. Meskipun saat-saat ‘genting’ saja. 

Hikmah kehilangan ... kita menyadari, bahwa tidak ada yang benar-benar murni kita miliki. Bahkan jiwa kita sendiri--Milik-Nya.

By: Baiq Cynthia

Hewan, Sahabat Manusia

Hari ke-2

Jika saya diberikan kesempatan untuk bisa memelihara beragam binatang yang ada di rumah maka saya sangat senang sekali. 

Selain pecinta Binatang saya suka sekali dengan jenis-jenisnya. Meski keberadaannya sudah hampir punah. 

Binatang pertama yang ingin saya pelihara adalah burung Beo atau sejenis kakak Tua.

Mengapa? Burung ini bisa bicara dan saya termasuk orang yang tidak suka berbicara kepada keluarga. Lebih suka cerita kepada langit, angin yang lewat. Andai saja keberadaannya tidak termasuk hewan langkah. Pasti saya bahagia sekali.
Binatang yang kedua, mungkin saya ingin memelihara Monyet kecil. 



Spesies yang mudah dibawah ke mana-mana. Monyet kerdil ini seukuran jari orang dewasa. Saya ambivert, tidak suka dengan keramaian. (Terkadang) Meski ada di sekitar banyak orang. Terkadang ada rasa enggan untuk berinteraksi. Entah merasa minder atau mereka terlihat cuek.
Binatang ketiga yang ingin saya pelihara adalah burung hantu. 



Meski tidak terlihat seram. Tetapi, hewan nokturnal ini pasti akan bermanfaat. Di rumah terlalu banyak tikus. Saya benci. Mereka terlalu ahli memanjat lemari, hingga bisa memiliki terowongan di atap. Saya ingin punya security. Makanan yang di meja acap kali ludes. Padahal ditutup dengan tutup saji. Tikus zaman sekarang terlalu pintar. Saya yakin burung hantu yang bisa memutar kepala hingga 360°, mampu mencengkeram tikus nakal.
Binatang keempat tentu saja kucing. 



Saya pecinta kucing. Tetapi, dilarang memelihara. Alasannya saya alergi bulunya. Walaupun dilarang. Tetap saja saya suka mencuri waktu untuk bisa bermain dengan kucing peliharaan orang. Setiap melihat kucing milik orang pasti diajak selfi. Ya ... walau meronta-ronta. Hingga ikutan eksis. Kucing anggora, persia, peak nose, atau lokal. Saya suka!
Terakhir, ni ya! Saya ingin memelihara simpanse.



Mamalia yang mirip manusia ini, sangat cerdas. Tak heran di beberapa film produksi Hollywood sering ikut syuting. Kalau saya malas mengambil barang, tinggal minta tolong dia. Apalagi kalau ada tamu, dia bisa jadi guardian pintu. Wahahaah tapi, saya gak mau dia ikut tidur bareng. 

*Absurd
Jadi kelima hewan itu pasti bikin hidup saya bahagia. Setidaknya hingga status j*mbl” itu punah. 


Monday, June 12, 2017

Channa Mereya (2)

Aku berdiri ... tanpa jantung

Aku hidup ... tanpa napas

Bagai tetes air, memeluk daun berduri

Bulir bening itu luruh

Memecah kesunyian

Aku memandang tetesan itu

Dia hilang ditelan tanah



Mustahil menyimpan dalam kantong daun
Pelita kasih sudah padam 

Sudah jutaan kali gelembung yang pernah bersemi, pecah.

Walau pun kelak kau memiliki (ku) 

Tapi tidak hati (ku)
Aku bukan Tania 

Yang bisa menari di atas kepiluan

Aku tak sama dengan Saru

Menyatukan air mata dalam timbunan buku

Aku adalah serpihan kerang

Terhempas di atas pasir tak bertuan
Tak mampu merangkak

Meski mengandung mutiara 
Kilaunya turut gelap 

Tapi, purnama 'biarkan pemburu mutiara

Merenggut dari ku 
Jika aku pun dipasung dalam sepi ... 
Itu Lebih baik 
Daripada aku bebas dalam hampa
Permainan kabbadi

Mengejar ombak,

Aku tak bisa.

Tertawa lepas lagi ... Mustahil




Dia katupkan bibirku
Dengan topeng bernama 'tawa'


Jika dapat melempar surat ke Langit

Akan kutulis ...
"Sahabatku..."

Terlalu lama pergi

Tak muncul di sini

Sudikah, rangkul aku.

Peluk erat

Hingga deru bising tak terdengar

Aku ingin pinjam mahkotamu

Yang tersemat di sela rambutmu

Aku ingin melahap melati gading

Yang pernah disisipkan, saat tertidur

Aku ingin tidur

Dan tak terjaga 

Lagi

Keheningan Mendung, 12 Juni 2017

Sunday, June 11, 2017

Haruskah cerita tentang Aku?

Setiap orang yang memiliki kemampuan pasti akan ditinjau, siapa dia? 

Sepertinya jati diri tidak lepas di setiap individu. Bahkan jika memiliki teman, kamu sering mendapatkan pertanyaan. “Siapa dia, siapa kamu, siapa gadis berkerudung merah, siapa yang menandai kamu.” 

Hingga kamu menerima banyak pertanyaan yang di-awali kata siapa. Tak jarang saat pertama kali melihat seseorang yang terlihat menyimpan banyak misteri. Hatimu pasti bertanya, ‘siapa dia'. 

Pertama kali muncul di sebuah pikiran pasti namanya. Semua orang pasti punya nama, meski ada yang namanya hanya satu huruf. Seperti “Q”, di mana? Indonesia kok. Kemarin sempat baca di koran. 

Nama sendiri, tergantung dari orangtua yang memberikan. Tergantung pula latar belakang, budaya, sosial, etnis, agama, negara, suku dan sebagainya. 

Ada juga kok yang namanya menggelitik, seperti yang sempat viral. Bayi Pajero Sport lahir pada 26 April lalu di kawasan Ciputat.

Baiklah, nama itu terkadang penting. Karena merupakan doa. Benar-benar sangat berefek pada masa depan anaknya. Rata-rata nama hanya mengandung dua unsur. Nama panggilan dan nama lengkap.

Saat saya menyebut nama saya sendiri. Terkadang saya bertanya-tanya. Apa artinya? Meski nama saya berbeda di dua akta kelahiran. 

Kok bisa punya dua akta? Entahlah itu sejak proses pindah yang membutuhkan keterangan lahir di kota bersangkutan. Versi pertama yang benar. “Baiq Cynthia M.R.M”, yang keliru ketik menjadi Baiq Synithia. Coba perhatikan saat menggunakan vocal. Syni-Thia. Yang berarti memanggil Thia. 

Tetapi, sempat kecewa. Mengapa nama saya Cynthia? Tidak ada artinya. Yang saya tahu itu nama artis-artis. 

Ribet ... Sosok yang selama ini mendidik saya tiba-tiba mengatakan nama saya itu berarti “Cinta” atau kasih sayang. 

Saya tinggal bersama paman sejak bayi, juga bersama Nenek yang lingkungannya 'berbau' arab. Meski saya bukan darah asli arab. 

Masih banyak yang suka berlaku SARA. “Tidak termasuk golongan lah, Orang ‘Ahwal’ (Bukan keturunan arab. Red) 

Sedih rasanya, apalagi tidak tinggal satu atap dengan orang tua kandung. Dia ada, tetapi seperti tak ada.

Baiq--banyak orang awam pasti mengatakan, “Namanya artinya baik, ya!” Banyak pula yang menyangkut pautkan dengan lagu. Bahkan jika pengajar yang sering berucap "baik!", teman-teman akan menoleh ke arah saya.

Tetapi, bagi mereka yang mengerti. Nama Baiq memiliki arti sendiri, terutama mereka yang asli Lombok, NTB. 

Pentingnya sebuah nama, karena dengan nama kita dikenal. Bahkan hanya dengan nama pula kita bisa tercemar. 

Oh iya, nama ekor M.R.M itu Maulidia Rose Mitha. 

Nama satu RT! Karena zaman saya lahir, nama panjang masih jarang. Berbeda dengan sekarang. 

Arti nama saya sesungguhnya. 


Baiq--keturunan Ningrat di Lombok, yang memiliki kasih sayang, lahir di bulan Kelahiran Nabi Muhammad, Mawar Mitha—Penyematan nama Ayah saya. 

Usia saya sudah menginjak kepala dua. Lahir di tanggal 30 Juli. 

Saya penyuka kucing dan binatang lainnya. Sejak kecil sudah bisa akrab dengan hewan. 

Bahkan kata Nenek saya, saya bisa menjinakkan anjing galak. Masih usia balita, tetapi sulit bagi saya untuk mengingat. Kecuali cerita dari Nenek dan kerabatnya. Saya percaya. Karena yang bicara tidak hanya nenek saya. Beliau pun memiliki ingatan yang kuat. Aku menyayanginya. 

Fakta yang (mungkin) tidak akan dipercaya. Masih kecil saya menjadi cenanyang. Bisa menebak apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Usia 5 tahun. 

Namun, sejak usia 6 tahun kekuataan itu berangsur pudar. Bahkan usia 7 tahun, saya selalu  salah menebak. Seperti saat ditanya ayah, mengenai adik dalam kandungan. Jenis kelaminnya ‘apa'? 

Bersyukur, sudah tidak memiliki lagi. Dalam agama saya pun dilarang. Pun tidak bisa melihat ‘mereka' yang ada. Hanya merasakan kehadirannya. 

~*~

‘Hobby’ saya bersepeda, bermain bulu tangkis, membaca, menulis, menggambar dan usil. Itu hobi saat kecil, namun kini hobinya mempelajari hal baru. Entah itu menjahit, memasak, menggambar. Tetapi saya lebih sering menulis dan membaca.

Sejak kecil saya sering menulis satu kata di kolom cita-cita. Bahkan impian itu tak pernah tercapai. Sungguh anugerah, walaupun tak pernah tercapai. Setidaknya saya tahu rasanya di bagian itu. 

Tetapi, impian besar saya adalah menjadi penulis inspirasi, entrepreneur, menginjakkan kaki di Taj Mahal.

Yup! Pecinta film Bollywood, termasuk budaya, bahasa dan orang-orang sana. Saya bukan follower yang suka ikut-ikut trend

Zaman booming ini ikut ini, booming itu ikut itu. Saya suka India sejak usia 4 tahun. Saya suka lagu dan tariannya. 

Bahkan tanpa saya sadari, saya sering tiba-tiba familier dengan lagu India yang saya tak miliki di list lagu. Karena memang saya tidak memiliki koleksinya lagi. 

Sempat pula saya punya banyak kenalan 'dumai' dari negeri sana. Bahkan menjalin sebuah perasaan ‘terlarang'. Bukan hanya sehari dua hari. Komitmen itu sudah tertanam begitu dalam. Meski tak pernah benar-benar bertemu. Kurang lebih 5 tahun. Kini hanya tersisa serpihan memori. 

Berbicara tentang asmara, saya dikira bercanda. Lebih memilih orang yang tak diketahui daripada yang saya kenal. Itu absurd

Entahlah, sejak dulu saya lebih suka memilih jalan saya sendiri. Entah bagi mereka itu salah atau benar. Tetapi, selama masa penjajakan tidak benar-benar mudah. 

Perbedaan bahasa, menuntut saya harus dekat dengan kamus Inggris. Berbeda waktu, mengharuskan membagi waktu. Tak jarang saya begadang. Demi bisa chat meski hanya satu menit. 

Saat itu saya tidak pernah berpikir dugaan lain. Yang saya tahu dia tidak pernah gombal dan kacangan. Jadi, kami seperti sahabat yang erat. 

Lupakan. Masa depan masih misteri, termasuk jodoh. 

Tidak ada yang benar-benar saya simpan dalam hati. 

Tipe kepribadian ambivert. Saya temukan ... karena bisa berubah dalam waktu yang sama. Bukan plin-plan. Namun, suasana hati. Bisa menyendiri di keramaian. 

Masalah pendidikan. Alumni taman kanak-kanak ABA 4. Masuk SD negeri, karena saat akan masuk SD swasta unggulan terbentur dengan dana. Pun SMP sama dengan SD. 

Tetapi, dunia berubah saat negeri Api diserang Boneka Salju. (Nilai UAN murniku tidak seperti lainnya). Hasil kerja kerasku tidak dianggap. Padahal tiap tahun selalu menyemat juara satu. 

Bahkan pihak sekolah pun memohon, agar aku tak lapor ke pihak berwajib. Masalah kecurangan tersebut yang nyasar ke kontak ayah saya. Karena semasa SMP saya tidak memegang telepon seluler untuk ke sekolah. 

Ketika, teman saya meminta nomor saya. Saya beri nomor ayah saya. Katanya khawatir kalau semasa ujian takut ada hal yang tidak diinginkan. Tetapi, itu kedok. Untuk mengirim kunci jawaban. 
Ini mungkin rahasia lama yang tidak pernah terbongkar. Tetapi, bagi saya kejujuran lebih utama. Saya sempat dipanggil ke BK. Lantaran tidak menggunakan ‘bocoran’. Saya tahu, konsekuensinya. 

Saya sudah memaafkan, tetapi tidak melupakan.

Ternyata saat sistem masuk SMA menggunakan nilai UN online. Nilai 32,55 mudah sekali tersenggol ke deretan SMA pilihan terakhir. Sampai saya dan Ayah saya mendatangi Dinas Pendidikan. Untuk memasukkan nilai tambahan. Salah satu prestasi saya di juara olimpiade MIPA dan lomba Cerdas Cermat. Hanya menyumbang 0.4 %

Teman saya yang notabene hanya duduk di kelas--pasif, ternyata bisa masuk SMA favorit.
Saya kecewa? Tidak
Hal itu terulang lagi di SMA. Meski beda kasus. Sekolah saya termasuk minoritas saat itu. Banyak yang mengatakan ‘sekolah buangan'. 

Padahal saya lebih merasa bahagia di sana. Saya mendapatkan teman yang lebih bernilaikan pada moral. Lebih banyak kegiatan bermanfaat. Meski akhirnya, saat SNMPTN saya benar-benar kalah. 

Nilai saya bagus, namun ada banyak penilaian di sana. Seperti pemilihan jurusan, latar belakang SMA, alumni yang masuk PTN tersebut. 

Saya suka fisika dan Kimia. Itu mengapa saya dengan yakinnya untuk lolos, memenuhi kuota undangan yang hanya 30 orang. 
Gagal? Saya coba di PTS lewat jalur undangan. Saya diterima di IT. Selain menyukai hal eksata saya suka komputer. 
Orang tua saya tidak mampu, bahkan untuk bisa masuk. Harus merogoh kocek seharga laptop dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Patah hati. Banyak yang bertanya, mengapa tidak masuk universitas di kota saya? Kamu pasti bisa unggul. Tetapi saya merasa tidak tertantang. Saya jenuh. 
Hingga pergi ke Bali demi bisa kuliah. Impian saya hanya ingin kuliah yang penting bisa sambil kerja. Tetapi, sahabat saya menyarankan agar masuk universitas seperti dia. 
Dia bilang saya pasti diterima. Benar saja langsung tergiur. Saat ada jurusan yang sesuai minat dan bakat. Dengan tabungan seadanya saya terbang lagi ke pulau Jawa. Saya pikir semua akan seperti yang teman saya katakan. 
Ternyata berbeda, ada banyak prosedur untuk MABA (Mahasiswa Baru). Saya bertahan hingga semester 2 meski banyak karang kecil menusuk.Hingga pernah saya terminal. Tapi, masuk lagi. Lantaran teman seperjuangan tidak ingin status mahasiswa saya 'dicopot'.
Entah mengapa saya kehilangan jati diri saya. Bahkan saya tidak tahu, siapa saya. Saat tidak mampu melunasi uang DPP. Sebelumnya saya bekerja meski sampai dini hari. Ikut ‘membantu’ ... seseorang.

~*~ 

Kini sudah tahun keempat. Bahkan perjuangan itu sudah pudar. Teman-teman sudah akan skripsi. Tetapi, saya masih belum jelas statusnya.
Tidak usah tanya tentang beasiswa, beasiswa nasional, kabupaten, organisasi dan kampus. Tidak bisa. Kurang memenuhi persyaratan. Padahal jelas saya tidak mampu secara ekonomi.
Entahlah ... menjelaskan tentang saya tak akan pernah ada habisnya. Apalagi menulis semacam Autobiografi. 
Saya bersyukur mengalami hal yang beragam, dari situ mata-hati terbuka. Bahwa hidup tak semanis gula jawa. Tak segetir jamu. 
Saya tidak bisa menjelaskan siapa diri ini, karena pada nyatanya masih ‘nol besar'. 

Hanya dengan menulis, beban emosional bisa tersalurkan. Di ujung sana harapan tertancap. Saya ingin buah hati saya melanjutkan kiprah mimpi yang tertunda. 

Salam, dari kota Situbondo.
#7DaysKF

*(Perkenalkan dirimu dalam sebuah paragraf) 

Life is like a joke

Kamu tak perlu mencicipi, buah pare itu jelas pahit.
Kamu tak akan tahu Nangka itu manis atau tidak, hingga kamu keluarkan isinya. 
Kamu tahu lintah penghisap darah, lantas kamu menghindar.
Kamu juga tahu air laut asin, kamu mendekat bermain dengan ombak.
Tapi kamu lupa ... Kamu tidak mengetahui kedalaman palung. Hingga kamu menyelam.
Apa yang kita lihat terkadang perlu dicek kebenarannya. Pun apa yang mereka katakan terkadang perlu mendengarnya.
Tetapi, saat mereka mengucapkan hal yang memang bukan 'porsi'nya. Sebaiknya mencari ruang yang lebih menenangkan. 
Karena tak semua harus didengarkan, tak semua harus diabaikan. 
Cobalah memberi kesempatan kedua. Kita bukan radar hati. Yang bisa mengetahui perasaan seseorang. Ada yang Maha membolak-balikkan hati.
Karena final test tetap dari ketentuan-Nya.
Bahkan jika ditanya apakah kamu mencintainya? 
Aku tidak benar-benar mencintai siapa pun hingga sosok yang digariskan untuk saya. Benar-benar dititipkan amanah. 
Karena life is like a joke. 
~Celoteh Aiq

Thursday, June 8, 2017

Webcomics Asyik!

Baca salah satu karya penggiat KPMS (Komunitas Penulis Muda Situbondo) yang dimuat dalam Webcomics. Judul novelnya "Buku Bersampul Ungu", Ahmad Sufiatur R. Genre romansa. 


Bisa buka link disini 👇

http://www.webcomics.co.id

Baca komik maupun novel online secara cuma-cuma hanya di Webcomics.

Ada beragam macam genre, seperti romansa, komedi, horor, aksi dll.
Dapatkan kupon setiap memberi 'love' atau komentar setiap membaca novel maupun comics. Setiap masuk webcomics maupun share di jejaring sosial. 
So tunggu apa lagi?

Buruan.....

Wednesday, June 7, 2017

[Book Review] Mencintai Tanpa Dicintai-IF

"​Kesenangan memberi motivasi, kebahagian memberi inisiatif, apa yang diberi itulah yang didapat, dan menurutku kita bisa menyatukan kesenangan dengan kebahagiaan." (Halaman 19)


Senang dan sedih dua sisi yang terpaut. Tak bisa dihilangkan. Tetapi, buah perjuangan akan manis hasilnya. 

Seperti novel bergenre kisah cinta khas remaja ini. Penulis membawakan sebuah kisah inspirasi yang berbeda. 

Jika bisanya, Remaja masih menampilkan sisi glamor dan manja. Tak akan kamu dapatkan di sini. 

Zain--sapaan siswa SMA jurusan IPA yang cerdas. Selain aktif dalam kegiatan rohis maupun bidang intra. Dirinya sibuk membanting tulang demi keluarga. 

Meski awalnya cintanya hanya dipautkan kepada Tuhannya. Berubah haluan kepada gadis cantik bernama Yati. Perbedaan mencolok di antara keluarga tersebut. Tak membuat Zain patah semangat berjuang demi Yati. 

"Kesucian hati ini membuatku yakin akan cintaku padamu, izinkan aku selalu bersamamu, ku ingin bulatkan tekadku untukmu." (Halaman 35)

Entah, sosok Zain tak seperti yang Yati impikan. Material yang seolah mengunci perasaannya. 

Udara sejuk hari ini, berubah sesak karena polusi, udaranya kau, berubah juga karenamu. (Halaman 51)

Ada satu bab yang membuat saya, selaku pembaca dibuat mematung. "SIMFONI".

"Kita yang berdiri tengah abad dan menyangka hari jadi telah jauh tertinggal, makin samar mana asal, mana kejadian, mana jumlah dan mana kadar. Makin samar, mana mulia, mana hina, mana kemajuan, dan mana kemunduran."(Halaman 63)

Novel setebal 193 , menyimpan banyak hikmah. Meski typo yang masih muncul. Membaca dalam waktu 2 jam pun bisa tuntas. 

Ada haru-biru. Memutar kembali kenangan masa Putih Biru. Sejatinya cinta tetaplah cinta. Meski mencintai tanpa dicintai. 
SINOPSIS

Kisah ini menceritakan tentang seorang lelaki yang sangat mencintai Tuhannya kemudian dialihkan perhatiannya oleh seorang wanita yang mampu meluluhkan hatinya. Setelah wanita itu mendapatkan hati sang lelaki, wanita itu pun tidak menghiraukannya. Perasaan lelaki itu terbawa olehnya, sampai wanita itu menikah, lelaki itu tak mampu mencari penggantinya. 

Judul: Mencintai Tanpa Dicintai

Penulis: IF

Penerbit: Pustaka Taman Ilmu

Tebal: vi+192

Reviewer : Baiq Cynthia

[BOOK REVIEW] Rembulan di Langit Konstantinopel-El Salman Ayashi Rz

Cinta yang hakiki bukanlah cinta yang mudah meraup segalanya sebelum waktunya. Cinta tak pernah salah, hadirnya pun karena fitrah. Kita yang menyalahkan cinta. Mengkambinghitamkan cinta dengan nafsu. Tetapi begitulah cinta. Hadir bagai benang kecil di dada manusia.



Membaca novel karya EL Salman Ayashi Rz, tak lengkap jika tak dibumbui dengan cinta. Gaya bahasanya selalu manja dalam setiap untainya. Beberapa kisahnya hadir dengan konflik yang beragam. Memunculkan tegangan setiap babnya.
Rembulan di Langit Konstantinopel, sebuah novel islami yang dibungkus dengan wadah yang berbeda. Tak melulu tentang kawin-cerai, bukan hanya komitmen sehidup-semati.

Tentang salah satu peradaban islam yang telah pudar. Peradaban yang pernah jaya lebih dari 700 tahun, dibawah perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih. Negara Turki yang pernah menjadi kiblat islam. Kini hanya menjadi buaian dongeng semata. 

Negara yang dulunya berkibar tentang jihad, sudah tak ada jejak lagi. Selain puing-puing bangunan yang megah. Seperti Masjid Biru yang fenomenal. Lokasi yang berdekatan dengan benua lain membuka dunia barunya. Menjadi peradaban islam sekuler yang dominan. 

Dikisahkan sosok pemuda yang mencari Tuhannya, setelah terbuang dibilik kebun oleh mereka yang tak bertanggung jawab. Yusuf Hasan Ali yang telah lama mentuhankan komputer, sebagai pelampiasan atas nasibnya. Terbuang dari keluarganya. Meski tak tahu apa kesalahannya. Tak pernah melihat wajah asli ibu maupun bapaknya. Hidup dalam ketidaksempurnaan, menutup mata hatinya. 

Allah mahaBesar. Kedatangan ke Negeri batas dua benua, membuka sanubarinya. Selain menghindari kejaran interpol. Yusuf mengaku menjauh dari cinta. Cinta yang tak pernah mempertemukan dengan Ibunya. 

Dunia Hacking tak selamanya kelam. Seperti mereka yang hidup tanpa identitas. Tidur menemani kode-kode rumit. Demi membela ketidakadilan. Bagaimana mungkin, kita bisa tidur lelap. Sementara saudara kita merintih. Bayi-bayi tak berdosa menjadi santapan zionis tak punya hati. Sengketa lahan yang berujung terbangnya nyawa-nyawa suci. Geram. Hatinya tercabik-cabik.

Oum@r Mitnick, nama gelap yang membela atas nama jihad. Peperangan besar-besaran hingga mengunci komputer bom nuklir milik Israel. Menjadi buronan 3 negara Sekuler. Tak membuat jiwanya gentar. Atas kerja kerasnya merentas 20 ribu unit komputer. Ya! Peperangan Cyber

Kisahnya sudah pilu, tapi jiwanya tak bisa putus asa. Ingin membebaskan tawanan yang tak bersalah. Meski hidupnya menjadi taruhan. 

Apakah selamanya wanita hanya menjadi bahan pelampiasan lelaki?” (hlm 231)

Sebuah ironi. Bagi mereka yang tidak bisa memuliakan sosok wanita, berarti tak memuliakan seorang ibu. Memilukan sekali, (pernah) besar dalam rahim wanita. Lantas merusak kehormatan wanita. Tak ubahnya pecundang yang penakut. Lari dan melenyapkan diri, bagai ditelan bumi. 

~*~

Blurb
Karena kegemarannya bermain komputer dan mengotak-atik program, Yusuf mulai jatuh dalam dunia cyber crime. Bahkan, ia harus melarikan diri dari kejaran Interpol hingga ke Turki. Tapi, saat berada di negara sekuler itu, Yusuf justru mendapat hidayah. Dia sudah bertaubat dan tidak lagi menggunakan keahliannya untuk perbuatan kriminal. Dia memutar haluan, memanfaatkan kemampuan hacking-nya untuk meretas situs-situs milik pemerintah Israel dan Amerika. Yusuf membentuk sebuah forum hacker muslim untuk membela Palestina yang dia namakan Cyber Jihad for Palestine.

Di negeri dua benua itu pula, Yusuf jatuh cinta pada Syamaa, seorang gadis Turki yang menjadi kasir di Supermarket. Meski Yusuf tahu cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, ia urung menyatakan perasaannya. Sebab, dia menyadari dirinya tengah menjadi incaran interpol, Mossad, dan CIA atas aksi hacking-nya. Bagaimana nasib Yusuf selanjutnya? Apakah dia berhasil meloloskan diri dari agen rahasia Israel dan Amerika? Bagaimana kelanjutan kisah cintanya dengan Syamaa? Temukan jawabannya dalam novel ini.”

Diksi yang disajikan kental dengan bahasa yang lugas, mengalir dan membuat penasaran. Buku setebal 266 halaman menyimpan banyak rahasia. Membuat pembaca seolah membuka kotak-kotak dalam labirin. Penggunaan sudut pandang orang ketiga serba tahu, membuat pembaca tidak tersesat dalam cerita. Pembaca tak hanya dihipnotis dengan diksi puitis di bagian awal. Beberapa bab terselip humor. 

Sebuah novel islami, jelas isinya mengandung nuansa Islam. Beberapa kalimat tak jarang terselip dakwah.

Hanya saja, saya merasa beberapa terkesan diulang-ulang. Entah tujuan untuk penekanan. Atau penulis memang mensiasatinya, agar pembaca mengingat pesan penting yang disampaikan. Terlepas dari minim typo.

Tidak terlalu kaku, bahasa santai. Tak terkesan tergesa-gesa membawa masalah. Penuh edukasi dan romantis. 

Satu kutipan favorit saya. 

“Senantiasa berjuanglah di kala sempit maupun lapang.”(hlm 103)

Judul                            : Rembulan di Langit Konstatinopel
Penulis                          : El Salman Ayashi Rz

Editor                           : Ahmad Asrof Fitri

Penerbit                       : Semesta Hikmah

Tahun Terbit                : Pertama, 2017

Jumlah Halaman          : 266 halaman

ISBN                           : 978-602-6210-20-3

Book Reviewer : Baiq Cynthia