Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.

Wednesday, May 31, 2017

Semacam Oret-Oretan~Baiq Cynthia

Ada pertanyaan yang lebih horor dari "kapan nikah?" 

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang tidak butuh jawaban. 



Tetapi, karena menghormati mereka yang memang memiliki hubungan kekerabatan. Memang butuh jawaban. Apalagi, bulan Ramadhan tidak bisa berkata dusta, walau hanya bercanda.

Satu pertanyaan ini mudah dijawab, harusnya. Tanpa membutuhkan rumus hukum newton, logika, maupun aljabar.

Pertanyaan tidak lebih dari 100 cws bahkan bisa dihitung hanya 2 kata.

Pertanyaan itu sedikit mengorek isi dalam kepala. Menguras sedikit kenangan. Meski saya tidak tersinggung atau merasa kecil hati. Hanya saja saya sulit menerjemahkannya.

Saya bukan lagi karyawan atau pramuniaga, bukan pula mahasiswa, juga bukan lagi admin konsultan proyek. Saya juga bukan lagi marketing, maupun siswa menjahit. Hal-hal yang berhubungan dengan status lainnya.

Kita akan berubah-ubah. Terkadang menjadi anak jika dalam keluarga, menjadi pekerja dalam tempat kerja, menjadi istri/suami saat menikah. Menjadi ayah/ibu saat memiliki buah hati. Dan lain-lain.

Tetapi, apakah soal status bisa membuat kita terlihat 'tersisih' kan?

Misalnya saja: 

Ketika status saya menjadi pekerja di sebuah perusahaan, ada beberapa costumer yang terkadang kurang menghargai saya. Menghargai di sini bukan tentang sebuah rasa tunduk, seperti yang dilakukan orang jepang jika bertemu. Membungkukkan badan. 

Nilai-nilai etika yang terkadang luntur hanya karena sebuah status. 

Belum luntur dalam memori saya, perlakuan mereka yang statusnya sosialita. Mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas.

Tetapi, saya maklumi. Mungkin sedang pms, sedang mengalami gejala darah tinggi. Lupakan masalah status terkadang membuat kita lupa diri.

Berbeda pula, saat saya bersama saudara, yang kebetulan numpang status sosialita. Begitu dihargai.

Saya jadi teringat saat saya ingin memfotokopi tugas. Di sebuah tempat fotokopian tidak jauh dari rumah Eyang saya. Karena hanya sekitar 700 meter. Saya gunakan sepeda ontel. Mengingat hampir hujan, saya bawa jas hujan mini dan menggunakan sandal jepit. Saya lebih suka pakaian yang nyaman digunakan. Lagi-lagi saya lupakan soal trend.

Sesampai di sana, ada mahasiswa yang ingin fotokopi. Terlihat dari tugasnya dia mahasiswi tetangga. Ya, mungkin sepulang dari kampusnya. Terlihat berpakaian semi formal. 

Padahal saya sudah lebih dahulu meminta bantuan tetapi tak ada respon. 

Di saat yang sama ada warga asing, dari perawakannya asal luar. Mengingat dia sedang sibuk dengan ketikan berbahasa arab. Oh iya, selain tempat foto kopi, menyediakan rental komputer. Saya pun sempat menyewa untuk mengedit tugas. 

Mahasiswa yang berbeda namun dari kampus yang sama terlihat sibuk duduk di dekat warga asing itu. 

Aku hanya berdiri menunggu si petugas foto kopi merespon.

Terdengar bisik-bisik keras sang warga asing kepada salah satu pengelola foto kopi. Sepertinya menggunakan bahasa inggris. Saya tidak begitu ikut campur, karena saya tidak dipanggil. Nanti dikira geer.

Ternyata lelaki yang sibuk dengan mesin foto kopi berhenti sejenak, bertanya kepada mahasiswa yang sibuk dengan naskahnya. Tak jauh dari tempat warga asing.

Saya hanya termangu, menanti responnya. Entah mengapa si ambivert mulai usil. 

Ikut-ikut berdiri dekat pria berwarga negara asing. Daripada bosan menunggu jawaban yang tak pasti. Saya ajak bicara. Bersusah payah mengingat kosakata arab semasa Madrasah Aliyah. Ternyata dia juga fasih berbahasa inggris.

Wah, rumah dia juga tak jauh dari komplek saya.

Entah menit ke berapa, lelaki yang tadi sibuk dengan mesin foto kopian dan lebih berfokus kepada mahasiswa yang berpakaian semi formal. Menatap kami. 

"Oh, ternyata bisa bahasa Inggris juga, ya?" katanya nyeletuk.

Aku hanya menggangguk, membiarkan dia menunggu kertas yang kupegang. 

"Mbak mana yang mau difotokopikan?" 

Selepas itu aku hanya mengeluarkan selembar uang. Yang mana masih ditanya, "ada uang kecil?"

Entahlah raut wajahnya yang sebelumnya kebas, tiba-tiba meminta maaf. Aku hanya tersenyum dan meminta plastik. Agar kertas aman dari hujan. Antisipasi, sih.

Kembali lah ke sepeda keranjang berwarna biru. Aku gayuh dengan hati senang. 😃

Mungkin, penampilan boleh saja terlihat kampungan, asal otaknya modern. 😇

*Selamat Menunaikan ibadah Puasa. 

*IniSemacamOret-oretan

Saat Cinta-Nya Lebih Sempurna~[Book Review's KDKD]

           Kutinggalkan dia karena Dia



Pernah diposkan : Blog Indonesia Membaca

Sebuah kumpulan cerita inspiratif, menghimpun kisah mereka yang ingin meninggalkan pacaran. Tujuannya ingin mendekatkan diri kepada Allah. 
Pacaran jelas dilarang oleh agama. Taaruf yang lebih diutamakan. Itu pun ada tata cara tersendiri.
Buku karya @duniahijab & Ririn Rahayu Astuti Ningrum benar-benar membuat saya tersentuh. Ada banyak kisah yang menjadi inspirasi, bagi mereka yang benar-benar ingin hijrah. Kisahnya yang diangkat dari kisah nyata menjadi sebuah hikmah.

Pelajaran yang bisa diambil untuk lebih menjaga diri, menjaga pandangan dari hal yang dilarang. 

Ada banyak kisah yang menjadi tanda, bahwa Allah menyayangi hamba-Nya. Buku yang ringan, pembahasan yang mengingatkan yang pacaran, untuk benar-benar muhasabah diri.
Bagi kaum 'Jomloh' seperti saya, dengan membaca buku ini. Bisa sadar dan makin mantap akan pilihannya. Karena tidak ada yang benar-benar positif dalam pacaran. Kecuali positif maksiat. Naudzubillah.
Semoga dihindarkan. 

Bagi yang sudah siap untuk menikah, memang segera mungkin untuk menikah. Namun, saat belum siap diajurkan berpuasa. Itu perintah Allah.
Allah dengan segala Rahmat-Nya, masih peduli pada hamba-Nya, tak perlu baper saat melihat mereka yang lebih dulu menikah.
Urusan takdir yang satu ini, memang sudah ada ketentuan tersendiri. Di samping buku yang penuh cerita inspiratif, setiap berganti judul selalu disisipi kata bijak. Yang 'ngena' sekali.

 
Saat masih belum ada bahu untuk sandaran, masih ada Dia untuk bersujud.
Memang sudah lama saya mencari buku pinjaman ini. Alhamdulillah, saya menemukan dengan mudah di rak Perpusda. Seolah bukunya melambaikan tangan. Tetapi, perbedaan cover dengan terbitan terbaru. Tidak menyurutkan saya untuk membacanya. 
Terlepas dari minim typo, buku bertabur cerita remaja yang patah hati karena percaya kepada dia daripada Dia. 
Memunculkan sebuah hidayah setiap ending. Hal ini membuat pembaca lebih mawas diri. Bisa berkaca pada peristiwa yang telah terjadi (khususnya) di buku bersampul menarik. Mengingat diadaptasi dari kisah nyata.

Hikmah terbesar yang saya peroleh dari buku kumpulan cerita inspiratif. 
Jodoh adalah cermin diri, semakin memperbaiki perangai. Sang jodoh pun akan lebih baik. Insyaallah, jodoh menjemput pada waktu yang tepat. Di saat hati siap menerima belahan jiwa. 

Selain itu, buku ini memang mudah dipahami tanpa menggurui. Ditulis dengan gaya bahasa popular dan lugas. 
Terakhir, pesan yang saya dapat, "Allah tidak pernah menutup kesempatan bagi mereka yang ingin mempebaiki dan mendekat."
Peresume : Baiq Cynthia

Situbondo, 30 Mei 2017

Judul: Kutinggalkan Dia Karena Dia   

No. ISBN : 9789797959586

Penulis: @DuniaHijab & @ Ummu_Raisha81

Penerbit : WAHYUQOLBU 

Tanggal terbit: Januari - 2015, cetakan 1

Jumlah Halaman : 252

Berat Buku : 250 gr

Hikmah Ramadhan, Agar Bertakwa.

Ramadhan ... sudah empat hari terlewati. Alhamdulillah, sejauh ini masih diberi kemudahan oleh Allah. Hingga rasa sehat yang begitu mahal harganya, masih disematkan bagi mereka yang berpuasa. 


Sebelum Ramadhan Tiba, terlalu banyak waktu yang telah dihabiskan dalam kerugian. Sepanjang bulan, minggu, hari, bahkan jam. Banyak di antara kita yang terjerumus dalam gelombang nafsu syahwat, kegiatan sia-sia dan kenikmatan. 

Hal-hal di luar Ramadhan yang begitu hedonis membuat hati menjadi keras, jauh sisi Rabb. Pemilik langit dan bumi. Kenikmatan dunia yang sesaat membuat lalai dengan akhirat dan lupa akan kematian.

Ramadhan bulan yang penuh berkah, satu-satunya bulan yang Allah limpahkan rahmat. Dibuka pintu syurga selebar-lebarnya. Ditutupnya pintu neraka dan dibelenggu para syetan. Bulan Ramadhan adalah tempat untuk mengevaluasi diri. Melunakkan hati dan menyucikannya.

Hikmah Ramadhan ... Agar Bertakwa. Sebagai rukun Islam ke-4. Mewajibkan kaum muslim yang beriman untuk berpuasa. Sebagai mana surat Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa yaitu sifat yang bila ada pada manusia akan membangun gaya hidup yang unik yang senantiasa mendorongnya untuk melakukan kegiatan kebaikan dan ketaatan, sekaligus menghalaunya dari perbuatan buruk dan maksiat, dengan motivasi mendapatkan pahala dari Allah dan takut tertimpa adzannya. (Hal 15, buku Hikmah Ramadhan, Agar Bertakwa). 

Kuncinya menahan diri tidak makan, minum dan bersetubuh. Kuncinya terletak pada hati. Ia harus membersihkan hati dari segala macam kotoran yang menodai seperti dengki, kebencian, iri hati, prasangka buruk dan permusuhan. Kunci lainnya adalah lisan yang menjadi juru bicara ekspresi anggota badan, aparat menyampaikan puasa. (Pujangga Ibnul Mu'tamir: hal 16)

Puasa hukumnya Wajib! Kecuali ada hal yang diperbolehkan untuk tidak puasa (udzur), seperti haid, sakit maupun nifas.

Seperti hadits yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi:

“Barang siapa yang berbuka ( tidak puasa) satu hari ( di bulan Ramadhan) tanpa alasan yang meringankan (rukhsah) atau sakit, maka Ia tidak dapat menggantikannya dengan berpuasa sepanjang masa, sekalipun ia benar-benar melakukannya.” (HR. Bukhari, Abu Dawud & ,Tirmidzi)

Bulan Ramadhan juga sebagai ladang meraup pahala. 

Berlomba-lomba dalam kebaikan, menjaga kesehatan, memperbanyak do'a dan dzikir, membaca Al-Quran menjadi momentum yang berharga. 

Selain itu memperbanyak sedekah, mengkaji dan menghayati Al-Quran. 

Akankah Ramadhan, akan kita temui lagi? Kita bahkan tidak tahu kapan ajal menjemput. Hanya dengan berusaha istiqomah. Insyaallah Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terindah dan terbaik.

Semoga kita bisa dipertemukan dengan hari Kemenangan. Aamiin.

Insyaallah. Barakallah fii kum.

Peresume: Baiq Cynthia. 

Situbondo, 4 Ramadhan 1438H

(30 Mei 2017)

~*~

*)Mohon maaf belum bisa menampilkan cover buku. Insyallah segera. 

Tuesday, May 30, 2017

[Book Review] Luka Dalam Bara-Bernard Batubara~Reading Challenge iJakarta & Noura Books

Hal paling menyenangkan dalam dunia kata-kata. Bisa membaca banyak buku. Sekaligus menuliskannya. Tapi, terkadang perasaan dinamis seperti langkah sepatu yang bersisian. Pasang surut. Tak jarang muncul rasa bosan.


Alangkah menyenangkan I-Jakarta dan Noura Books Publishing kembali mengadakan Reading Challenge. Hastag #MembacaLuka menjadi syarat mutlak. Setelah selesai melalui berbagai syarat lainnya. 

Membaca, bukan hal mustahil dilakukan di mana pun. Termasuk dalam perjalanan. Yang notabene akan sibuk dengan bawaan yang berat. 

Bisa membaca, berkat aplikasi perpustakaan digital. Saya bisa membaca tanpa merasa berat membawa buku. Sejauh ini, aplikasi ini selalu menjadi kawan saat di luar kota. Aplikasi yang ringan, berbobot dengan banyak buku dan e-perpustaka. Cara membacanya mudah, bisa digulir ke bawah maupun ke samping, juga transisi kertas. 


Lebih kerennya, aplikasi orange ini gratis!!! Berguna bagi mereka yang memiliki kendala budget untuk membeli buku. 

Terlepas dari hal tersebut, kerja sama dengan penerbit, seperti Noura Books. Bisa menyokong koleksi buku terupdate. 

Penerbit Noura yang merupakan bagian dari PT. Mizan Republika. Benar-benar mengetahui selera pembaca. Alhasil, buku-buku terbitannya menjadi favorit tersendiri bagi pembaca seperti saya. 

                               ~*~


Blurb 

“Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan. Aku mencintainya karena ia adalah rumah bagi setiap kecemasan yang tidak perlu aku tunjukkan.”

Mudah dicerna, sarat makna. Itu hal pertama yang saya dapat dari tulisan Bernard Batubara. 

Buku yang berjudul “Luka dalam Bara”, tak hanya memunculkan sebuah diksi. Buku penuh ilustrasi ini mampu menguras emosi. Sebuah tulisan yang khusus. Bukan serupa puisi atau novel. Buku ini berbeda, dikemas dalam sebuah rasa baru.

Beberapa penggalan rasa cemas juga sedih. Memunculkan fragmen baru yang indah. Bisa dinikmati banyak pencinta kata. Ini semacam album diari. Berbentuk lebih fresh dan mudah dipahami.

Menggamit buku dalam bentuk aplikasi, berjumlah 108 halaman tak memeras waktu. Justru berbekas pada palung hati. Kata-katanya sederhana, penuh metafora. Seolah membekukan suasana.

Metafora Ombak, berisi tentang sebuah ombak. Hanya ombak yang mampu menghancurkan karang. Terhempas menjadi buih.

Ada makna lain bagi Bara. Ombak yang seolah dirinya. Menaklukkan cinta membutuhkan perjuangan. Tak bisa hanya sekali. Pun tak bisa datar. Karena ombak memiliki ragam. Di sana juga dijelaskan tentang seorang peselancar yang menemui ombak. Peselancar dikiaskan sebagai sang kekasih ombak. Ditutup dengan kalimat;

“Aku akan menarik, menenggelamkanmu hingga ke laut terdalam.” (Halaman 19)

Pembuka buku ini begitu manis, berupa kata-kata yang kental dengan profesi penulis. Penulis yang terkadang dipandang sebelah mata. Lewat ini, selipan pesan bahwa membaca dan menulis seperti ikatan yang mustahil dilepaskan.

Penulis kelahiran Kalimantan sangat memesona saat mengolah kisah dalam bentuk baru. Dalam buku ini, sekurang-kurangnya ada 5 pola penulisan. 

1. Narasi singkat seperti judul Rumah,

2. Narasi panjang seperti judul Sepatu yang hilang. 

3. Dalam wujud surat yang terdiri dari beberapa part.

4. Semacam dialog.

5. Kisah flash back. 

Itu opini saya sebagai pembaca, model-model baru yang dimunculkan dalam satu buku ini. Ciamik. Tanpa menghilangkan rasa, irama, diksi yang manis. Membuat saya bertahan membaca, benar-benar membuat saya terhanyut. Hanyut pada memori kelam yang saya alami. 

Sepotong hati yang sudah lama hilang terasa kembali. Memoar kilasan hitam-putih menyusup. Bagi pecinta romance seperti saya, sudah klepek-klepek

Meski berupa kisah sendiri yang dibuat seakan blocknote pribadi. Kata-kata yang diracik seakan mengunci mata untuk tetap menatap buku ini. Hingga saya tak bosan membacanya berulang kali. 

Lebih dari itu, kata pepatah lama. Tak ada gading yang tak retak. Wajar, ada hal-hal yang masih kurang. Seperti, salah satu gambar ilustrasi yang kurang sesuai dengan isi yang disuguhkan. Seperti sub bab Doa, isinya tentang harapan dan keinginan untuk selalu merekam baik dan memutar ulang segala hal yang manis yang telah terjadi. 

Mungkin saja masih sedikit nyambung, dengan gambar sepasang kekasih merayakan ulang tahun. 

Tetapi, pembaca bingung. Sebab, penulis mengatakan, “Selamat berulang tahun, rembulan pagi. Satu hari penuh doa dan harapan baik kini melayang kepadamu dan menjadi milikmu. (Halaman 11)

Hanya soal selera bagi saya. Namun, karena pembuat ilustrasi sangat pandai. Menggoreskan gambar-gambar nuansa baru.Bukan masalah yang cukup krusial. 

Di beberapa bagian, juga ada sebuah kata yang bermakna ganda. Bagi saya, jarang digunakan. 'Menyigi'. Apakah berarti menerangi atau mencungkil. Kata setelahnya berhubungan dengan hati yang terdalam. 

Terlepas dari minim kesalahan tulisan, nyaris tak ada. Bagi penikmat senja dan kisah cinta. Terus dibanjiri kisah romantis. Tidak berlebihan. Kisahnya pun lebih berbobot. Seperti “Cerita Kecil tentang Kartu Ucapan. Tempat yang Tua dan Bagaimana Kita Diselamatkan oleh Benda-Benda Mati.”

Kisah ini penuh dengan pasak-pasak kecil yang membuat kaki tersandung, terjerembab, namun berkat pasak-pasak. Sebuah kenangan kecil terekam sempurna. 

Selain, #MembacaLuka dan membuat hati terpilin. Penulis begitu kritis. Menyelipkan kisah persahabatan yang terpecah hanya karena perbedaan aliran politik. 

Juga tentang pembangunan yang merajalela. Hingga mempersulit pengguna jalan. 

Ada satu kutipan dari buku ini yang benar-benar membuatku jatuh cinta berkali-kali. 
“Sesuatu yang membuatku mencintai seseorang begitu lama adalah, karena garis waktu dengannya selalu bersaling-silang. Belum benar-benar bertemu pada garis dalam alur yang sama. Semakin lama waktu terulur, cinta semakin dalam terpancang.”

Walaupun, saya baru pertama kali membaca karya beliau. Saya langsung jatuh hati. Rasanya ingin mengoleksi semuanya. Buku ini merupakan karya ke-11 yang dimiliki Bara. 

Sebenarnya, saya ingin menulis panjang lebar tentang #Membacaluka. Seperti bagiamana perasaan seorang pecinta senja. Mencintai seseorang yang memiliki perasaan yang sama. Namun tujuan yang berbeda. 

Cinta wanita senja hanya dibalas dengan cinta tak murni. Itu mengapa setiap membaca Luka dalam Bara. Rasanya ada bara yang meletup ingin mengoyak luka.

Hanya dengan mencintai luka, kita akan benar-benar paham. Tentang luka yang tak benar-benar melukai si pemilik luka. 

Penulis : Baiq Cynthia

Info buku: 

Judul : Luka Dalam Bara Non Ttd  

No. ISBN : 9786023852321

Penulis : Bernard Batubara

Penerbit: Noura Book Publising 

Tanggal terbit: Maret - 2017

Jumlah Halaman : 108

Berat Buku : 200 gr

Jenis Cover: Hard Cover

Dimensi(L x P) : 130x200mm

Kategori : Romance



Monday, May 29, 2017

Sekelumit tentang Kota Kecilku.

Alhamdulillah ... menulis membuat tanganmu akan lincah... menari di atas kertas... Meski tak terasa kulit melepuh. 

Berkat rasa cinta. Pasti dikejar. Walau jarak yang lumayan jauh. Walau terik panas dan debu. Meski harus duduk berlama-lama di atas dua roda. 😎

Terima kasih, kak. Setidaknya bisa membunuh rasa jenuh.

Bonusnya melihat keindahan kota Santri di pagi hari dan sore hari. Melihat satu petak sawah yang disulap jadi bangunan. Entah sisa berapa lagi yang dibajak oleh petani yang baik hatinya. Melihat debur ombak di utara jalan pantura. Tambak-tambak udang.

Berharap, anak-cucuku kelak masih bisa melihat bangau yang mencari ikan kecil. Melihat sunset dibalik tirai tebu. Juga gundukan berbentuk putri tidur.


Ah! Indahnya kota mungilku. Meski banyak yang bilang kota panas dengan suhu 31°. Ada yang mengatakan kota terbelakang. Bahkan beberapa mengejek aku, "Ngapain tinggal di kota ini, bodohnya!" Kenapa gak tinggal di sana. Kan enak bisa lihat Kuta dan jalan-jalan tiap hari.

Aku hanya bilang, "Mungkin saja di sana mudah untuk mencapai apa pun dengan mudah. Seperti toko buku, akses mudah ke mana pun. Jalur Internasional. Dan hal lainnya yang tak ada di kota saya.

Tapi, apalah artinya jika saya di sana sendiri. Menatap hingar-bingar kendaraan. Berjalan seorang diri, hingga diikuti oleh anjing liar.

Life is choice. Ini pilihanku. Lagi pula, tanggung jawab masih belum selesai.

Kota Santri masih butuh pemuda yang mau membangun nama Sehat Aman Nyaman Tertib Rapi dan Indah.

Siapa lagi yang akan membangun, kalau bukan generasi muda. 

Sunday, May 21, 2017

Love in Virtual, Tak Benar-benar ada.

Secangkir hangat baru saja aku seruput, aku hanya duduk mendengarkan lagu berbahasa India. Channa Mereya dari soundtrack film Ae Dil Hai Muskil. Film yang hits tahun lalu. Meski begitu, makna lagu ini sangat dalam. 

Aku hanya teringat dengan sosok yang kucintai. Hanya dalam dunia virtual. Kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Karena kami pun hanya bertemu lewat jejaring sosial. 

Saya memanggilnya Jerry. Karena saya suka kucing dan kami selalu berantem. 5 tahun lalu. Sejak pertama kali adik saya mengenalkan dengan FMA. Seorang dari Pravatty, India Selatan. 

Dia bercerita tentang teman facebook-nya yang bisa bahasa Inggris. Saya sangat menyukai India. Bahasa, Budaya, filmnya, lagunya. Everything about India. :') 

Akhirnya, kami berteman. Dia juga agama Islam. Senang rasanya. Pengetahuan saya terbatas, yang saya tahu tentang India, rata-rata agama Hindu. Tetapi, saya hanya butuh buat belajar bahasa India. Hanya itu saja. 

Semua berjalan normal, hingga si FMA mengatakan cinta kepada saya. Semua menjadi berubah. Khayalan akan bisa ke sana semakin nyata. Terbuka lebar. 

Tapi, cinta pertama saya justru di FB. Mengingat di dunia nyata, Ayah saya diktator. Melarang pacaran, melarang interaksi dengan lelaki. Seperti terperangkap dalam penjara.

Saat itu saya duduk di bangku kelas 2, Menengah atas. Sebelum akhir tahun 2012. Saya juga berteman dengan Jerry. 

Kami layaknya sahabat. Meski saya tak jauh-jauh dengan kamus. Saya berusaha untuk improve bahasa English saya.

Jerry pun menyatakan perasaan yang sama saat Bulan Maret 2013. Tepat pada tanggal 23. Saya menjadi bingung. Saya ceritakan kepadanya, bahwa saya sudah dekat dengan FMA. 

Begitu juga saya cerita kepada FMA tentang Jerry. Terjadi konflik singkat. Hingga saya menjadi benar-benar gila. Saya putuskan untuk tidak memilih semuanya. 

Usia saya saat itu 16 tahun dan kami terpaut 3 tahun saja. Nenek saya tidak setuju, Beliau khawatir saya tidak balik ke Indonesia. 

Saya pun menurut kepadanya. Saya tidak menggunakan FB. Untuk satu bulan. Karena akan melaksanakan ujian. 

Ujian akhir untuk kelas 2. Kami bersahabat dan berjalan dengan baik. Tidak menafikan. Karena sering tag-tag. Teman India lainnya banyak berdatangan. Kerja akun FB mencari mutual friend untuk suggest. 

Sejak saat itu, saya mulai mengenal macam-macam watak lelaki. Mulai dari nama akun yang digunakan, foto profilnya. Cara chattingnya. Sejauh itu saya tidak menggunakan foto asli. Khawatir disalahgunakan.

Saya punya banyak relasi, mulai dari India selatan, India utara, afrika, Turki, Mesir, Dhoha Qatar, UEA, ect. Namun, hanya sebatas teman chatting. Tidak jarang masa tersebut, terjebak dalam percakapan serba cinta.

~*~

Alhamdulillah, Allah bersamaku. Berulang kali orang yang dicintai membahas hal tabu. Tapi, aku alihkan pada lainnya. Tidak sedikit adegan blokir-blokir. Jujur saat itu, saya benar-benar menjadi remaja yang labil dan kuper. 

Bagaimana respon sahabatku? Mereka mengatakan saya gila. Percaya dengan namanya FB. Apalagi, kita belum mengenalnya. Tetapi, hati saya begitu yakin. 

Ditambah dengan olokan, Jerry yang tampangnya seperti bapak-bapak. Menakutkan dan terlihat tua. Tapi, aku mencintainya. Saat aku mencintai Jerry. Aku lupa sama FMA. Karena dia malah menusuk dari belakang. 

Lucunya, yang membeberkan adalah sahabatnya sendiri.Tentang FMA hanya bermain-main denganku.

 Aku pun begitu. Selain berteman dengan Jerry, aku berteman dengan sahabatnya. Aku hanya ingin tahu. Seberapa besar tingkat keseriusannya.

Setiap mendengarkan lagu Jab Tak Hai Jaan. Teringat kepada sosoknya yang lucu. Jerry itu berbeda dengan lainnya. Sejauh kami berteman, tak sekalipun dia bercanda dengan rayuan gombal. Yang biasanya lelaki lain lakukan. 

Kisah lanjutnya di sini 👇👇👇

https://baiqcynthia.wordpress.com/2016/11/09/tentang-rasamy-story-of-love-in-pattambi/
Bagiku cinta dunia maya, tidak ada yang benar-benar serius. Entah sudah bertemu sebelumnya. Atau belum sama sekali bertemu. 0,001 persen. 

Baru-baru saja, seorang wanita ingin menjodohkan dengan orang asing di medsos. Aku tidak mau, karena aku memang ratu online. Sejak dulu. Aku sudah hafal mereka yang chat basa-basi. Atau ingin berteman. Akan Ber-be-da. 
Seiring waktu, Si Jerry mengatakan dengan mengirim sebuah gambar. Gambar tersebut hanya sebuah kata-kata. 
 

Aku benar-benar patah hati. Perjuangan aku untuk mencintai satu orang. Mengabaikan cinta yang nyata di depan mata. Hingga yang sudah melamarku. Sudah banyak aku tak terima. Aku benar-benar perempuan bodoh. Dia hanya menganggap sebagai teman. Jadi, impian yang aku bangun selama ini musnah.

Tak kurang 25 orang yang membuatku terluka. Sebuah pelajaran berharga yang tidak aku temukan di dunia nyata. Tentang sebuah komitmen. Susah didapat, untuk mencari 1000 musuh itu sangat mudah. Namun, mencari 1 sahabat sejati. Butuh perjuangan. Apalagi cinta sejati. 

Banyak yang dari mereka hanya mencari keuntungan, ada pula yang hanya iseng, hanya sekedar mencari teman. 

Tentang Jerry, saat aku tanya melalui pesan pribadi. Aku hanya ingin bersahabat. Dia mengganti profil pictures dengan seorang gadis India. Seolah, dia diklaim oleh gadis tersebut.

Aku tidak benar-benar yakin. Tentang cinta maya. Bahkan ada satu teman yang sudah seperti saudara mengatakan. 

Semua lelaki FB hanya ingin main-main saja. Semua bohong. Aku bahkan merasa seperti mainan.( Jerry pun demikian?)

Sekarang sudah tak ada gunanya menggunakan medsos, selain hanya untuk menambah teman 'real'. Dan hanya untuk mencari informasi menulis.

Selain itu, kita hanya bisa menjalin sebuah persahabatan. Jika memang suatu saat kita bisa bertemu di dunia nyata. Mungkin love in virtual is not just dreams. 

Karena mimpiku, masih banyak yang belum tercapai. Salah satunya ingin mengunjungi Taj Mahal. :') 

*Hei ... My prince, that still uknown. Whereever you life, I will wait you. I miss you. Take care. :) 
Hope you are fine! 

Pertemanan sejati, saat membuatmu menjadi sosok lebih berarti. Menarik ke jalan yang benar. 

Penulis : Baiq Cynthia

[caption width="720" align="alignnone"]Kita wajib hati-hati di Medsos ya. :)[/caption]

Friday, May 19, 2017

Wanita itu ... Bernama Dia

Aku bersyukur melihat dunia. Melalui perjalanan, bertemu banyak orang. Mendengar kisah mereka, melihat banyak peristiwa.
Membaca kisah pilu mereka, menerawang masa lalu mereka. Seakan aku tempat curhat paling nyaman. 
Tetapi, memori mengingatku mudah lupa. Aku tidak tahu sebutannya. Bukan amnesia. Karena saat engkau memberi kata kunci, dengan mudah ingatan itu kembali.
Aku membuka galeri, berisi gambar. Bahkan aku sendiri sudah melupakan. Aku membuka catatan yang berderet di tembok. Aku bahkan tidak ingat, kapan menulisnya. 
Siapa orang itu. Aku sudah lupa. Tapi, potongan peristiwa, demi kejadian serasa menyatu. 
Aku mungkin saja lupa nama kalian, tapi aku ingat wajahnya. Tegur aku, bila aku tak bisa memanggilmu. Barangkali kita bertemu di lain kesempatan. Namun, aku lupa. 
Aku bersyukur, bisa lupa. Kejadian menyakitkan, peristiwa memilukan, memori pahit, setidaknya tidak seperti mimpi buruk. 
Aku melihat seekor anjing yang bisa patuh kepada majikan. Hanya dengan remote chip. Aku tidak tahu siapa yang memberikan remote itu. Tahu, tahu aku memberikan lagi kepadanya.
Aku hanya bermimpi. Mungkin, aku rindu kepada semua binatang di Secret Zoo. 😢 



Tentang Kamu ...

Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu. Alasan engkau pergi. 

Bagiku, suatu kehormatan bisa mengenal denganmu. 

Seperti guruku.

Aku pernah marah, karena engkau memilih pergi.

Tetapi, kini aku mengerti. Kepergianmu, menjadi ketentuan-Nya.
Aku yang terlalu banyak membuat dunia sendiri. Aku hanya ingin berterima kasih.
Engkau mengajarkan rasa sakit, juga penawar. 

Aku tahu, sekuat apa pun aku menarik lenganmu. Engkau juga akan kembali kepada duniamu.
Biarlah, buku itu menjadi saksi bisu. Bahwa, aku pernah membacanya dalam satu hari. Sebelum pergantian almanak.
Kini, aku kesulitan. Membaca buku lainnya. 😢
Bisakah, engkau menyingkir sejenak dalam memoriku. 
Untuk bulan ke-5 yang akan berakhir. Izinkan aku kembali membuka tumpukan buku yang masih belum dibaca. Aku rindu dengan jiwa yang haus dengan ilmu. Aku rindu dia. Bukan kamu lagi. Karena buku tentang kamu sudah ditulis Tere Liye. 
Aku hanya ingin menulis tentang dia. Wanita yang tak pernah melihat bintang. Dia yang pergi dariku.
Aku tahu, lewat Kalam-Nya. Hanya aku yang bisa merubah kondisi dia, sebelum dia semakin pergi dari dunianya. 

Membaca, sebelum mereka membakar bukumu.

Tuesday, May 16, 2017

10 Pemuda yang dimaksud Bung Karno

Tak usah bicara tentang keadilan di birokrasi dan jajarannya, Pemerintah dan perangkatnya. Itu urusan hukum. 

[caption width="2000" align="alignnone"]http://answersafrica.com/wp-content/uploads/2015/07/shutterstock_Symbol-of-law-and-justice-1.jpg[/caption]

Berbicara saja bisa kena pasal. Apalagi, hingga mencemarkan nama baik. 

Berbicara tentang suara nurani. Suara rakyat seolah hanya dengungan dalam ruang hampa.
Berbicara soal ketimpangan 'adil'. Saya temui dalam sebuah forum. Di mana banyak tamu penting. Saya segani semua. 
Meskipun saya tak sempat berkenalan, mereka tidak asing bagi saya. Fotonya sering terpampang pada banner, maupun baliho. Saya simak setiap tutur katanya. Hingga sesi penyambutan selesai. 
Beralih pada acara inti. Saya pikir seorang lelaki yang memegang mikrofon seorang pembicara. Namun, setelah mendengar isi pembicaraan. Ia pemegang kendali forum tersebut. (Baca : moderator).
Meski terselip pesan jenaka, yang seolah menjatuhkan satu pihak. Saya tidak mengerti siapa gerangan yang dia maksud. Mengkritik secara simile.
Pembicara di depan hanya sesekali tersenyum. 

Bola mataku fokus pada mereka. Pemateri. Meski ada beberapa bagian yang keluar dari topik. Membuat seseorang harus berdiri, menghilangkan rasa kaku. Terlalu lama duduk. 
Aku hanya terus mengikuti sumber suara. Ide-ide gagasannya. Sumbang pikiran untuk membangun bangsa yang 'berpikir'. Bukan hedonis. 

~*~
Tibalah detik-detik terakhir. Di mana pembicaraan tidak hanya satu arah. Butuh suara dari 'audience'.
Seseorang yang ingin bertanya untuk mewakili suara kami. Aku pun yang terbiasa bertanya, urungmengeluarkan suara. Aku yakin dia lebih bisa mengeluarkan suaranya. 

Tahukah kamu? 
Seseorang yang sudah mengacungkan tangan lebih dulu justru diabaikan. Seseorang yang mengikuti acara demi acara dengan takzim. Justru tak dilihat oleh pembawa acaranya. 

Kesempatan itu dialihkan kepada mereka yang masih dalam cakupan sama. Padahal undangan tak hanya terdiri dari pelajar, ada dari media, perangkat-perangkat berpangkat, hingga aktivis dan komunitas. 
Pertanyaannya pun seolah pernyataan. "Sudah dibahas saat materi, masih ditanyakan lagi. Aku tak mengerti, dia sekolah atau enggak!"  Mendengar suara si pemandu acara berkata kecil. Tanpa mic, aku tatap kerut wajahnya. Mimiknya, hanya tertawa masam. 
Aku hanya diam, mendengarkan seorang pelajar yang menjelaskan panjang lebar. Namun intinya satu. Pertanyaan tersebut hanya sebuah pernyataan tak berbobot. Mengapa aku katakan seperti itu, 4 pemateri di podium sudah menjelaskan dengan detail. 

Mungkin saja beda pikiran beda masa penyerapan informasi. Itu hanya bisa menengahi pikiranku. 
Kembali ke inti. Seseorang yang memang ingin menyuarakan suara, sebagai wakil banyak suara. Meminta kepada seorang panitia, untuk meminta mic-nya. 
Dalam waktu sekian detik, si pemandu suara. Tergopoh-gopoh dari sudut ruangan, berusaha merebut mic. Jadilah konflik kecil selang 3 detik. 
Seperti, dua anak kecil yang merebut es krim. Ini bukan sebuah es krim yang bisa dibeli lagi. Lebih dari itu.
Pembawa acara yang bertampang jenaka kini berubah merah padam. Seolah, ada butir kebencian kepada seseorang yang sempat mengusulkan pertanyaan. 

Aku sebagai penonton aktif, yang mengikuti acara dari awal sampai akhir merasa kecewa. 

Aku tatap dalam-dalam wajahnya. Tiga baris guratan. Cengar-cengir, tertawa sendiri. Tak segan-segan, dia memotong pembicara utama. Yang mungkin dalam benaknya dia tak berpangkat seperti yang ketiga. 

Aku tak pandai meramal, tapi aku hanya melihat jiwanya yang bicara. Bahwa, hanya dia yang benar-benar bisa menentukan siapa yang berhak bertanya. Siapa yang berhak berbicara. Meski sebuah pencitraan. 

Esensi forum yang penuh ilmu, ternoda oleh satu oknum tak bertanggung jawab. Membiarkan salah seorang calon penanya, harus terabaikan. 
Saat aku mendengar orang yang dia pilih, rata-rata hanya tentang 'aku'. Ke-akuan. Di mana revolusi mental yang dimaksud? 

Acara yang hanya memakan belanja negara, tak menggubris suara rakyat kecil. 

Hanya sebuah forum ketidak adilan sudah bisa terlihat. Bagaimana, dalam cakupan lebih besar? 

Indonesia ... bisakah sepesat negeri Jepang yang meski sempat mati oleh ledakan bom atom. Jepang mampu bangkit secara mandiri. Meski keterbatasan SDA maupun SDM.
Indonesia negeri yang kaya. Bahkan 1/3 dikelilingi lautan yang penuh kekayaan mineral maupun tambang. 
Ingat perkataan Ir. Soekarno selalu Pahlawan Proklamator:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” (Bung Karno).
Justice for All. Harapannya, munculkan rasa keadilan tanpa ketimpangan. Tanpa berat sebelah. Meski kita melihat banyak ketimpangan sosial. 

Jika satu individu saja mewujudkan keadilan. Banyak individu pun ikut berpartisipasi. Tumpaskan korupsi, kolusi dan nepotisme. Akan muncul 10 keadilan. Begitu seterusnya.

Indonesia, sudahkan merdeka? Merdeka dari rezim yang bernama KKN, Hukum memiliki mata uang, krisis kepercayaan. 
Ayo pemuda bergerak! 
"Berikan aku 1000 anak muda maka aku akan memindahkan gunung tapi berikan aku 10 pemuda yang cinta akan tanah air maka aku akan menguncang dunia." (Bung Karno)

Penulis : Baiq Cynthia 

Sunday, May 14, 2017

Esensi Kuliah, Apa?

Satu foto dan satu capture obrolan singkat malam ini. Tak bisa menampik. Usaha aku 2 tahun ternyata sudah benar-benar pupus. Itu kenapa aku tak bisa menyalahkan siapapun... ini bukan salah orangtua yang gak mampu, bukan salah birokrasi yang ketat bukan salah juga aku punya impian. 

Aku manusia biasa yang kadang salah. Salahkah aku punya harapan tinggi? Bukankah kata pepatah lama bermimpilah setinggi mungkin jika jatuh kau tak akan jauh dari mimpi itu. 

Aku sudah upayakan matang-matang. Bahkan aku sendiri malu dengan kebaikan orang2 selama ini. Kebaikan bunda dan chimut yang pertama kali mengajak ke sana. Dan membantu aku ... tentang kenaikan teman2 kos, kebaikan teman2 kampus, kebaikan kak2 aku yang kenalkan dengan sosok baik di permata jingga, kebaikan dosen2 yang selalu memberi semangat kepadaku, kebaikan semua teman komisariat IMM FISIP, kebaikan semua yang jika harus sebutkan tak bisa ditulis di tempat ini. 

Aku tidak menyesal pernah menjadi bagian dari mereka. Aku sendiri kadang tersenyum kecut menjawab kamu di malang? Kamu cuti? Kamu kuliah. Sekarang aku sudah bosan ditanya macam2. 

Secara fisik aku masih tahan, tapi secara psikologis aku sudah terlalu lelah. Sudah banyak yang membuat aku down. Ingat kata seseorang terhormat itu "kamu gak pantas masuk jurusan itu". Masih terus terngiang. Aku hanya diam membeku. 

Kalau aku diizinkan memilih, aku ingin dilahirkan dari keluarga yang serba ada. Semua keinginan mudah terpenuhi. Lagi-lagi aku ngaca. Siapa aku? Aku? Aku hanya manusia biasa.
Kadang aku heran dengan mereka yang begitu mudahnya menghabiskan waktu dan materi di luar biasanya. Tapi, itu hak mereka. Toh itu hidup mereka. Lagi-lagi aku urung. 

Ini hanya tulisan kecil dari seseorang yang memiliki impian....

Aku harap kalian tetep mempertahankan (memperjuangkan) impian kalian... Jangan mudah dihasut kaum borjuis yang hanya ingin menjajah (lagi) bangsa ini. 

Tetap berjuang dan tersenyum. :) Aku hanya ingin berbagi...Semoga tulisan singkat ini bisa menambah semangat tujuan pertama itu. 

Aku masih semangat .... ini hanya jawaban dari beberapa yang tanya aku kuliah apa enggak...Yang pasti pendidikan itu penting...ya ambil hikmahnya....:)
Komentarnya yang membuat saya hanya diam. 😁

Adikku yang di Jember. 😇



.....


.....


..


....

Semoga ada manfaatnya. Bagi yang berkesempatan kuliah. Tapi, belum maksimal. 😂

Kuliah bukan soal nilai IP tinggi, tapi minim pengalaman. Bukan tentang kuliah rapat-kuliah rapat, namun nilai mengecewakan. 

Kuliah tentang komitmen, membuka wawasan dengan nilai yang optimal. 

....

Saturday, May 13, 2017

You Will Never Know, Ketika Aku Patah Hati.

You never know.

When, someone is start love you. But you was choose other person. 



Gimana sih rasanya? Saat kamu sudah benar-benar berjuang meninggalkan duniamu. Hanya demi seseorang yang kamu cintai. Lantas seseorang yang kamu anggap paling mencintai. Ternyata hanya mengganggap sebagai teman. 

The feeling so guilty. 

Tetapi, jika dilihat dari kacamata berbeda. Rasa itu akan segera lenyap. Tanpa membenci. Tanpa membuat permusuhan. 

Memang bisa? 

Bisa. Buatlah hatimu seluas samudera. Engkau akan mampu menampung segalanya. Lelaki di dunia tidak hanya satu. Apalagi wanita. 1:5 

Tak perlu risau. Tentang jodoh. Pasti ada hikmah yang indah, setiap kejadian yang terpetik. Engkau yang memang benar-benar mencintai karena Allah. Masalah hati tak harus dibayar dengan hati. 

Apalah arti cinta. Jika cinta hanya seperti sejumput jarum yang melekat pada daging. Menyakitkan.

Kata orang, "Cinta terlalu indah". Tidak ada yang lebih membahagiakan selain merasa bahagia. 

Ikhlaskan. Cinta yang pergi bukan karena sebab. Memang dari awal cinta itu hanya lewat. Namun, cinta sejati. Tak akan pernah pergi. Dengan gagah, ia setia menanti.

Memang berbicara itu mudah. Coba bayangkan, cinta itu mirip koin 100 rupiah. Yang jatuh. Lantas kamu mencari. Tak bertemu.

Koin itu mungkin sudah diambil orang. Atau malah terselip di tempat yang justru dekat denganmu.

Cinta seperti koin. Bisa saja hilang diambil orang. Namun, jika Allah sudah menakdirkan cinta untukmu. Kamu akan menemukan cinta itu. Koin 500 atau 1000. 

Diganti dengan yang lebih baik, selama ada upaya untuk memperbaiki diri.

Percayalah. Koin hanya sebuah benda. Pun cinta hanya sebuah sebutan. Tetapi, cinta yang benar-benar ada hanya cinta kepada Allah. 
Masih ingatkah, perjanjian sebelum lahir di dunia? Keterbatasan akal kita yang tidak bisa mengingat. 
Kita diberi pinjaman nyawa untuk melakukan tugas-Nya. 

Perkara Rezeki, Kehidupan, Kematian dan Jodoh Allah yang mengatur. 

Jadi, jika kamu jatuh cinta. Siap-siap patah hati. Jatuh cintalah karena Allah. Titipkan namanya kepada-Nya. 
Pada waktu yang tepat Allah akan berikan.
You never Know. The true love is not first love. Every one will feeling in love. Not only once. 

The true love is the last love that bring you to love just for Allah.

~ Baiq Cynthia

Penulis : Baiq Cynthia

Tuesday, May 2, 2017

[Book Review] How to Love Indonesia- Duma M.Sembiring

Indonesia ... Merah Darahku ... Putih Tulangku. 

Judul buku : How to Love Indonesia

Penulis : Duma M. Sembiring

Editor : Cahyadi H. Prabowo

Cetakan Pertama November 2014

Penerbit : Ketamine, Creative Imprint of Tiga Serangkai

Halaman : 274 Hal

ISBN : 978-979-045-774-4
Blurb:
Aku bukan manusia yang cinta tanah kelahirannya. Sebab, bagiku tidak ada guna aku mencintai negeri ini. Berbeda halnya dengan ibuku, aku sangat mencintainya. Dalam hidup ini, dialah manusia yang paling berharga. Jika bukan karenanya, aku tidak akan melihat dunia ini. Aku tumbuh dalam kelembutan belaiannya.
Seiring waktu berjalan aku mulai tahu apa yang seharusnya kulakukan, yaitu mengerti lebih dalam apa arti negeri ini bagiku. Dan semua itu dimulai dari kata “Ibu”. Seorang anak tak sepantasnya bertanya pada dunia, “Apa yang sudah ibu berikan padaku?” Sebab, meski pertanyaan itu tidak diajukan, jawabannya sudah lebih dulu diketahui. Artinya, pertanyaan itu tidak berguna. Hanya orang bodoh yang akan mengajukannya. Sebagai anak, akan terlihat lebih pintar jika ia bertanya, “Apa yang sudah kuberikan pada ibu?”
Sadar atau tidak, ternyata tanah kelahiranku sama dengan ibuku. Pada akhirnya, aku mengerti apa maksud dari pernyataan John F. Kennedy, “Jangan tenyakan apa yang Negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan pada negaramu.” 

Salah satu buku pemenang ajang “Seberapa Indonesiakah Dirimu?” Sebuah novel yang menceritakan kisah gadis pecinta anime yang tinggal di Tanah Karo. Memiliki seorang sahabat bernama Suri. Mereka berasal dari latar belakang berbeda. Suri asli Jawa. Berbeda tradisi dan kepercayaan tak lantas membuat jarak di antara keduanya. 

Dea namanya, memiliki seorang kakak yang cerewet dan galak. Tinggal bersama sosok ibu yang kuat dan ayah yang keras. Meski kakaknya terbilang dewasa, masih suka cengeng untuk hal sepele. Berbanding terbalik dengan Dea yang kekanak-kanakan namun tak suka menangis. 

Dea salah satu mahasiswi jurusan Sejarah yang suka membaca novel genre fantasy maupun romantis. Sosok introvert yang tidak suka diajak ke pesta pernikahan. 

Memiliki seorang tetangga yang sering mencuri pandang kepada kakaknya. Kakaknya merasa risih dengan penampilan pria ala Koboy namun tak berkuda. Karena ini menyapu halaman menjadi wajib bagi Dea, meski sapu lidi pinjam ke sepupunya. Letak rumahnya tak jauh dari rumah Dea. 

Si Topi Koboy julukan yang sering Dea dengungkan kepada kakaknya. Pakaian saat pergi ke ladang kontras dari petani biasanya. Hampir setiap hari Si Topi Koboy menatap ke rumah Dea demi melihat wajah kakaknya. 

Ternyata Ibu Dea yang memiliki Ladang yang berdekatan dengan lelaki penyuka topi Koboy, menjadi menantu idaman ibu Dea.

Pekerja keras, rajin, sopan dan ganteng maksimal. Sudah tersemat pada pria berusia 35 tahun. Kakak Dea tidak suka dengan lelaki tersebut. Selain itu, sudah memiliki pacar. Dea tak henti-henti mem-bully.

Bagaimana olokan-olokan yang diciptakan Dea--dijuluki Beo, bisa membuat si Koboy makan bersama dengan keluarga Dea? Tiap hari! 

Suri sahabat setianya, meski sering kena semprot Dea. Karena otak kritisnya, terhadap isu sosial yang minim moral. Tentang penerobos lampu pelangi. Tentang pemboros kertas. Hingga kritis saat makan, menghitung jumlah nasi. Tetap menyokong Dea mengalami hal terberat.

Membuat masalah dengan Dosen yang tak ingin dianggap salah. Hingga mendapatkan nilai E. 

Bagaimana perasaan seorang ayah, yang juga pengajar di Perguruan Tinggi Swasta, menerima hal tersebut. 

Sikap angkuh, cuek dan jutek namun masih bisa menitik airmata. Saat berurusan dengan Ayahnya. 

~*~

Awalnya saya mengira buku non fiksi. Tampilan luar yang benar-benar khas. Setelah melihat hologram (bertanda khusus) pemenang 3. Saya yakin ini buku hasil sayembara menulis.

Novel berbobot ringan dan alur santai benar-benar menguras kepala untuk kritis. Penulis pandai bermain sudut pandang. Tanpa kesan menggurui. Buku ini memiliki emosi yang kuat. Itu mengapa meski berlembar-lembar. Tidak ada rasa kantuk. 

Kisah hidup di Tanah Karo yang belum pernah saya bertandang. Memiliki ending yang manis. Sadar mencintai Indonesia. Tak hanya dengan sebuah identitas WNI. Tapi, benar-benar melaksanakan butir-butir Pancasila. Saling menghargai dan menghormati kunci kebersamaan.

Saya menjadi sadar. Selama ini, masih jauh dari cinta Ibu Pertiwi. Kedepannya, berharap bisa memetik nilai dari novel yang terbitan Metamind.