Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.

Friday, March 31, 2017

Hujan Akan Mengirim Pelangi

Saat engkau merasa hidup itu sulit. Percaya akan ada kemudahan. Setiap langit yang mendung akan berganti dengan torehan pelangi.
Saat gersang tanah, suatu saaf akan basah oleh tangisan hujan.
Kini engkau mungkin merasa sendiri di dunia. Tetapi, lihatlah ... masih banyak yang peduli kepadamu.
Engkau tak merasa sendiri. Allah bersamamu. 
Tetap semangat! Akan ada masa engkau merasa hidupmu sangat berarti. Meski tak ada orang yang disayangi lagi. 
Lihatlah mereka yang tak punya rumah. Luntang lanting mengorek sampah. Demi sesuap nasi. 
Setidaknya engkau masih punya tempat berteduh
Sabar dan berdoa. Bekerja keras. Sejatinya usaha tidak akan pernah menghianati hasil 

Coba kau menulis. Siapa tahu ada banyak orang yang terinspirasi oleh tulisanmu. 
Percayalah... setiap kekurangan pasti Allah beri kelebihan. 
Bahkan semut pun tak pernah mengeluh meski diciptakan kecil. Masih bisa mencari makan ... 
Semangat kawan. Kamu harus bangkit. Ada banyak mimpi mu yang harus dicapai.

Sunday, March 19, 2017

[BOOK REVIEW] Go Internasional ~ Stories of Hayyu Ra Soetrisno -Stiletto||By Baiq Cynthia

Catatan Imut, Perjalanan Gadis Gendut. 



​Akhirnya tamat juga membaca buku yang tebalnya tidak begitu tebal. Eh, maksud saya buku ini memuat banyak kisah. Saking banyaknya saya tidak hafal berapa bab saya habiskan untuk tertawa, tersenyum, terkekeh, terharu, salut. Semuanya. 

“Go Internasional.” Sebuah buku yang langsung saya dapatkan dari penulis kece yang baik hati. Sebuah kenang-kenangan pernah berjumpa. Pertemuan yang tak di sangka. 

Sebelumnya, tak pernah terbetik dalam hati menentukan hari bertemu dengan Mbak Hayyu. Mengingat saya tinggal di Situbondo. Tidak di Malang lagi. Yang udah janjian malah gak bisa hadir. Itulah hidup. Seperti kisah-kisah ciamik yang sarat makna. 

Buku berbalut cover pink yang bersimbol melankolis-feminim di terbitkan oleh Stiletto. Saya suka sekali dengan layoutnya. Simple elegan gitu. 

Kita bisa saja pergi ke Luar Negeri. Tak harus karena prestasi. Tetapi karena mimpi yang kuat. Begitu yang bisa dapat dari kisah ini. Penulis imut ini mengajak saya travelling keliling Indonesia. Malang, Yogyakarta, Bali, Bandung, Ibu kota Indonesia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong. 

Gaya penulisan asyik, dijamin ngakak terus. Cerita yang tragis dirubah menjadi comedi. Hebat banget dan Penulis yang doyan banget berburu kuliner. 

Ada satu kutipan yang benar-benar terkadang membuat nadi berhenti berdetak 0,01 detik. 

Beranilah bermimpi, entah mimpi kecil atau mimpi besar. Yakinlah Tuhan akan mendengarkan mimpi-mimpi kita. Di waktu tepat yang tak terduga Dia akan mengabulkan segalanya dengan cara yang tak terduga pula dan membuatmu menjadi manusia hebat. Halaman 91.

Sebuah catatan perjalanan meraih mimpi. Meski mimpi terbesar ternyata ada di sekitar. Mimpi tak harus tentang glamor. Bagi penulis mimpi adalah bagaimana orang bisa percaya kepada kita. Kita bisa memberikan uluran kepada orang lain. 

Tak ada gading yang tak retak. Terlepas dari kesalahan tulisan. Maupun tanda baca. Saya merasa terlalu banyak brand yang dipaparkan. Namun, dibalik demikian saya yakin penulis hanya ingin give and share. 

Melepas buku ini hanya ingin memeluknya. Percayalah, kamu akan merindukan buku ini. Saat ada tugas yang lebih penting. Wajib bagi kamu yang ingin pergi meninggalkan Nusantara. Membaca catatan Go Internasional. 



*)Terima kasih saya haturkan kepada penulis yang berbaik hati memberikan pengalaman besar lewat buku ini. Ditunggu buku selanjutnya. Semoga bisa bertemu dengan impian terakhir yang belum mengajaknya ‘terbang’.

Situbondo, 19 Maret 2017

Baiq Cynthia

Cerpen : Kenari Menanti Cinta oleh Baiq Cynthia

Mata sembab, dibalik kilas kornea terlukis sketsa bunga kecil. Mahkota ungu yang mengantung, dengan tangkai mungil. Anggunnya bunga anggrek, tak bosan mata memandang. Duduk di beranda belakang rumah. Sendiri, menemani semut berbaris rapi mengangkat makanan. Meski sedih, setidaknya aku merasa tidak begitu banyak beban. Tiba-tiba sosok sepuh yang menggunakan syal abu-abu menepuk pundakku.

“Nduk, pokoknya apa pun yang terjadi. Nenek janji bakalan mencarikan jodoh untukmu. Kamu yang sabar, ya!” suara wanita sepuh yang sangat lembut terus menghiburku. Seakan masa depanku sudah runtuh. Memang kuakui, semenjak orangtua tak sanggup membayar biaya perkuliahan. Aku tinggal bersama Nenek. Tepatnya di Malang, di kota yang notabene pendidikan. 

Sebagai wanita dewasa, karir menjadi tujuan. Namun, sayang sekali pekerjaan rata-rata meminta kualifikasi yang tinggi. Hatiku gundah, bukan karena merindukan seseorang. Aku merasa bingung dengan masa depan. 

“Nduk, melamun lagi? Sudahlah kamu akan Nenek jodohkan dengan seseorang yang baik. Dia punya perusahaan sendiri, Alhamdulillah sukses. Usianya sudah matang. Cocok kayaknya sama kamu!”

Mendengar hal demikian, rasanya tenggorokan tercekat. Ini seperti zaman Siti Nurbaya. Padahal aku sendiri sudah memiliki bayangan pangeran. Seseorang yang baik dan aku kenal. Berdiri tegap dengan bahu siap membantu. Entah, sepertinya dia sudah pergi. Empat tahun lamanya kami tak bersua. Meski komunikasi begitu gencar-gencarnya. Untuk pertama kali aku jatuh cinta, tetapi tak terbalaskan. Dia memilih untuk pergi. Demi wanita lain, padahal janjinya masih terpahat dalam palung hati. Janji sakral katanya ingin bersama sehidup-semati. Sedikit menyeka airmata. Aku tersenyum menganggukkan kepala. 

Wanita tua yang sering merajut baju hangat, baik sekali. Cucunya hampir selusin. Tetapi, beliau begitu sayang denganku. Tuntutan kuliah menyebabkan harus tinggal bersama. Rumah asalku di Situbondo. Kota terpencil yang ikonik dengan pantai Pasir Putih dan Baluran. Perbedaan suhu dan bentang alam, membuatku betah. 

Nenek sudah mengabarkan akan memberikan calon pendamping. Ada rasa penasaran dengan sosok yang akan dikenalkan denganku. Tak sedikit pun terbetik dalam sanubari. Bagaimana rupa, perangai, tutur bicara. Hingga satu kalimat mendarat dengan mudahnya.

“Nek, kenapa aku dijodohkan?”

Bukannya menjawab, justru Nenek bercerita tentang masa lalunya. Anak-anaknya. Sangkut-paut dengan pasangan hidup. Alasan realistis, mengapa menikah dan dijodohkan penting. Petuah kuno yang penuh nilai.

Aku memahami tiap kata yang terlontar. Meski zaman digital sudah tidak menganggap perjodohan identik dengan jadul. Perempuan dengan garis tegas di kening. Usia mencapai 70 tahun. Tubuhnya masih kuat untuk menghadiri kegiatan rutin bulanan. Arisan  sekitar kompleks di rumah lama, tepatnya Batu. 

Sekelibat bayangan muncul tentang kota dingin yang pernah kusinggahi. Dalam acara yang sama. Saat acara arisan bertempat di rumah tanteku. Sebuah rumah kediaman yang begaya minimalis. Dengan tatanan taman penuh tumbuhan perdu juga bonsai.

Matahari sudah bersemangat menyiram kami. Aku hanya membantu menyiapkan beberapa makanan, menu favorit. Kare, nasi kuning, ayam krispi dan aneka kue. Beberapa minuman dingin tersuguhkan di meja kaca.

 Kota Batu berbeda dengan Malang. Lantai keramik, terasa dingin. Brrr. Tak sanggup jika tidak memakai kaos kaki. Apalagi air dari shower yang mengucur. Rasanya tidak ingin mandi. Sedikit berkeringat di kota dingin. Cukup gunakan parfum, tidak kentara jika tidak mandi. 

Acara arisan dimulai, aku berkumpul dengan sepupu, rapat juga di lantai dua. Arisan anak muda. Kami membicarakan tentang aplikasi anak muda terbaru, tentang selfi. Sesekali menyomot pisang goreng yang masih hangat. Obrolan kami seputar kuliah, kuliner sampai hal paling konyol.

“Maharani, kamu sudah punya pacar?” sapa sepupu yang memiliki rambut lurus dengan bibir polesan lipstik. 

“Oh, enggak Kak! Saya dilarang pacaran!” Aku hanya tersenyum tipis. Meski melihat mereka sedikit melengos. 

Sepupu lainnya tak mengomentari, mereka berdua sibuk dengan gadget masing-masing. Sesekali tertawa. Aku hanya diam melihat handphone tanpa kamera. Melihat jam, sesekali menulis catatan di aplikasi kalender. 

“Kak Maharani, dipanggil Mama!” keponakan cantik yang polos membuatku menoleh. 

Ternyata kami disuruh makan siang, satu persatu turun tangga. Rasanya hanya diriku yang kesulitan. Mengingat menggunakan Khimar panjang. Sedikit menjinjing rok panjang tanpa memperlihatkan kaos kaki berwarna coklat.

Saat kami mengambil makanan, beberapa wanita paruh baya menyapa kami. Lebih tepatnya, kami bersalaman dengan mereka. Mereka begitu memuji sepupuku, yang kuliah jurusan kebidanan dan apoteker. Aku sedikit mengutuk diri, mengapa tidak seperti mereka. 

Ya Allah, Kuatkan hamba-Mu. Menahan rasa ini, membuatku tak berdaya. 

***

Hanya itu bayangan yang kumiliki tentang acara arisan yang digelar sederhana. Hari ini, aku sudah siap berkemas pulang kampung. Mengingat tak ada lagi yang bisa dilakukan di rumah Nenek. Akses ke kampus pun ditempuh dengan sepeda ontel. Meskipun ada mobil dan sepeda motor. Apa daya itu bukan milikku. Hanya menumpang di rumah Nenek. 

Saat embun sore tak kunjung datang, rona hati menyemai rindu. Rindu kepada sosok yang bahkan belum pernah bersua. Menantikan momen yang tak pasti seperti merajut tulisan di atas air. Hati selalu bertanya, apakah cinta itu ada?

Sudah pulang kampung, malah menganggur tidak menemukan pekerjaan yang tepat. Kota kecil jarang dengan lapangan kerja. Jika pun ada tidak banyak yang bisa dilakukan dengan perempuan berhijab. Diam sendiri memangku tangan. Berharap Romeo menjemput Juliet. Dengan setangkai mawar segar, seraya mengatakan cinta. Sering mendengarkan dua nama yang melegenda. Seperti kisah Qais dan Laila cinta yang terhalang untuk bersatu. Cinta laksana aksara yang menetap dalam kertas. Sekali ditulis sulit untuk dihapus. Diam-diam kusebut namanya dalam doa, berharap bisa bertemu dengan sosok yang menurut Nenek akan menjadi pasanganku. Tak banyak harapan, selain berdoa dan menanti kehadirannya.

Doaku terijabah, delapan bulan menunggu tanpa tahu siapa namanya, tidak tahu rupanya. Selama itu pula aku menjaga perasaan. Menutup hati rapat-rapat untuk lelaki lain. 

Pernah suatu ketika di bulan lima menanti kabarnya. Tiba-tiba lelaki semasa sekolah dulu datang ke rumah dengan tujuan untuk meminangku. Entah setan dari mana, aku menolak. Aku berdalih telah ada calon yang siap menikahiku. Kusampaikan bahwa perjodohan itu pasti berhasil. Mungkin celotehan kecil, menyakiti hatinya. Dia pergi tanpa kabar setelah itu. Bagaimana pula, tak ingin melukai hati Nenek. Dia peduli dengan masa depan, impian menjadi seorang yang bahagia.

Benih-benih cinta mati-matian kutanam, masa bertemu telah datang. Itu menjadi sebuah jawaban sekaligus pertanyaan. Sore setelah seharian lelah dengan acara keluarga kecil. Bermain dengan satwa juga melepas penat di salah satu wahana wisata. Tidak jauh dengan rumah tanteku di Batu. 

Punggung dan telapak kaki terasa encok. Berkeliling luasnya Secret Zoo. Tidak peduli saat ada tamu berkunjung ke rumah tanteku. Kaki yang diluruskan di atas karpet. Kutatap wajahnya, merasa sangat familiar. Ternyata tetangga, rumah yang berdiri tegap di depan rumah yang kutempati. Gaya bangunan minimalis modern, dengan lantai dua yang begitu stylish. Pernah terketuk dalam hati, bisa mempunyai rumah elegan.

Batu benar-benar seperti es batu. Air yang keluar dari pancuran, di bak mandi sangat dingin. Rasanya seperti mengambil tumpukan es yang cair. Aku pikir dunia sedang bercanda dengan air es, gemeletuk gigi seperti ikut tantangan Ice Berg. 

Baru saja duduk di kursi kayu. Tetangga Tente--perempuan yang sempat berbincang dengan kerabatku. Kini menghampiri dan ikut duduk di sampingku. 

“Sekolah di mana?” raut wajah penuh antusias.

“Euu ... Saya sudah kuliah aslinya. Harusnya semester 6 hanya saja ambil cuti.”

Jujur ini pertanyaan mudah, namun sulit kuungkapkan. Banyak sekali orang menyebut saya masih SMA, lebih parahnya mengira masih SMP. Wajah babyface, dengan perawakan tubuh kurus tidak terlalu pendek. Masih cocok jika masuk SMA. 

“Maaf, Habis wajahnya masih imut! Oh, iya kenalkan tante ini Mamanya Varid. Kamu Maharani, ya? Manis sekali,” tandasnya. 

Sedikit menelan ludah, pipiku bersemu. Astaga, dalam keadaan tidak siap. Baju masih berupa baju santai, pinjaman tante. Sekarang bertemu dengan calon mertua. Lagi- lagi, lebih tidak percaya. Usai Margrib akan dipertemukan dengan lelaki yang selama ini aku nantikan. Padahal make-up dan pakaian yang anggun. Seharusnya dikenakan saat bertemu. Rencana berantakan. Tidak sesuai ekspektasi, tidak bertemu di rumah Nenek. Tetapi di rumah tante.

Kuhirup napas dalam-dalam, sesekali mengangguk mendengarkan perempuan berkerudung bunga. Wajahnya masih cantik, meski ada kerutan kecil di sudut mata. Aku menduga Varid memiliki wajah yang serupa dengan Mamanya. 

Sedikit memiliki ruang gerak, saat Mama Varid bergegas. Setengah berlari ke arah rumah berjarak jalan lebar di kompleks ini. Setidaknya ada waktu untuk memperbaiki sendi yang kaku. Bekas berjalan jauh di kebun binatang. Perasaan tegang bertemu Mamanya, yang kelak menjadi orangtuaku juga. 

Sudah terbayang sosok tegap, wajah oriental khas Arab. Mengingat masih ada keturunan arab. Aku berdoa dalam hati, meski sudah tak sempat memoles diri dengan bedak lagi. Berharap pujaan hati tidak shock  melihat penampakan diriku yang ala kadarnya.

“Assalamualaikum!” 

Degup jantung kian tidak keruan. Sedari tadi aku duduk di kursi kayu ruang tamu, sekaligus terhubung ke ruang makan. Persis dekat pintu dapur suara itu terdengar. Sebuah kepala muncul dari pintu dapur. Dia melihat banyak orang berkumpul di meja makan.

Bagai hujan membasahi bunga mawar, hatiku terasa kuncup. Harapan yang tidak sesuai kenyataan. Lelaki yang berjalan menuju ruang tamu bertolak belakang dari segi bayanganku. Wajahnya bulat, dengan rambut sedikit keriting. Bola mata bulat dan senyum khas.

Saat bersamaan itu pula, 5 anggota keluarga yang tadi sibuk mengobrol, dan berceloteh panjang lebar kini sibuk dadakan. Kakak iparku, tiba-tiba pergi keluar urusan belanja. Tanteku sibuk membuatkan teh, menyuguhkan tahu petis. Sisanya naik ke lantai dua.

Hanya nyanyian jangkrik yang memecah kesunyian. Selama 3 menit kami hanya diam. Lelaki bertubuh gempal itu duduk di sudut ruangan dekat dengan pintu ruang tamu. Kami berjarak satu bangku panjang, sekaligus menjadi meja tempat tahu petis dan teh kami.

Aku hanya menatap kedua kaki yang terbalut kaos. Varid pun seakan menatapku. Seperti melihat hal yang aneh. Meski mata tak bertaut, aku merasa dia melihat ke arahku. Mengingat sebelah kanannya hanya jendela tertutup tirai. Hatiku semakin berdebar tak keruan. Malu dengan keadaan tidak rapi, harusnya tersapu bedak sedikit. Satu hari penuh dibakar dibawah sorot matahari. Ah, lupakan.

Kini suara beratnya mulai mengambil bagian. Mengajukan pertanyaan ringan seputar nama, umur dan hobi. Aku jawab meski ada keraguan untuk menatapnya. Kutatap sebuah bunga segar. Teronggok di sudut ruangan dekat pintu, menjadi saksi pertemuan dua insan yang selama ini hanya diam membisu. 

Meski bibirku kelu, sebisa mungkin untuk balik bertanya. Rasanya tak sopan jika pasif. Kutanyakan kegiatanya. Seperti pekerjaannya. 

“Aku hanya bantu-bantu di bengkel,” jawabnya sambil tertawa kecil. Dalam hati menolak, berlawanan dengan ucapan Eyangku. 

“Jadi, suka bersih-bersih di tempat kerja?” suara lirihku tanpa ragu.

Dia hanya mengangguk, sedikit menyeringai. Ada kagum, meskipun dia pengelola perusahaan Ayahnya. Kelihatannya pribadi yang rendah hati. Ternyata dia anak pertama, menjadi panutan adik tirinya. What? Pantas saja tidak mirip dengan wanita cantik yang tadi. Mamanya sudah lebih dahulu dipanggil Ilahi Rabbi. Ada kerut di keningku, mengapa usia yang sangat matang namun enggan menikah. Kubiarkan saja rasa penasaran menjadi besar. Toh, yang penting kami dijodohkan. 

Lelaki dengan kumis tipis yang sering tersenyum, memiliki kegemaran yang sama denganku. Membaca buku, menonton film, lebih jarang bersosialisasi. Dari segi penampilan, dia lebih suka pakaian casual. Musik kesukaannya adalah jazz. 

Menurut buku yang pernah kuingat, mengenai tipe pribadi sesuai dengan musik kesukaan. Salah satu alunan jazz yang santai, memiliki arti sosok yang lembut dan easy going. Terkesan melow, pribadi yang perasa juga sedikit sensitif. Bagiku Varid sosok humoris. Wajahnya juga manis. Setiap melihat gaya bicaranya, entah mengapa aku merasa nyaman dan aman.

Kedatipun bibirnya menghitam, efek rokok. Tak menjadi masalah besar. Sisi paling lucu tentang dirinya, dia takut dengan hewan yang cepat dan terbang. Kepalaku langsung menangkap signal bahwa hewan yang maksud ialah si kecoa. Binatang mungil suka sekali terbang dan datang semau gue. Tak terbayangkan jika sama-sama takut kecoa. Pasti saling teriak kali, ya? 

Dering ponsel menggugurkan lamunanku. Sepertinya, seseorang menelpon dia. Sudah berapa lama aku bermain dengan khayalanku. Wajahnya tampak serius, aku hanya diam menatap semut yang berbaris di dinding. 

“Okey, Ma! Saya segera ke sana,” suara Varid menatap tembok dengan serius. Aku hanya menerka-nerka apa yang terjadi selanjutnya. Tak ayal dia menutup panggilan dengan seulas senyum. 

“Maaf ya! Sepertinya saya harus akhiri bincang singkat ini. Setidaknya, kita sudah saling kenal,” ujarnya setelah meletakkan telepon pintar di sakunya.

“Oh, tentu! Saya bersyukur bisa bertemu. Lain kali kita sambung kembali,” jawabku singkat. Ada rasa getir, mengapa hanya sesaat. Padahal aku belum sempat bercerita tentang Eyang yang sering menggoda namanya. Tentang foto selfi dengan Unta. Keseruan mengelilingi rumah hantu, juga asyiknya dengan tornado.

 Dia pergi malam itu juga, tanpa ada rasa atau ungkapan lainnya. Beberapa menit setelah pamit dengan Linda—tanteku. Bayang punggungnya sudah menghilang dibalik pintu. Aku hanya bisa menatap jendela dengan berkas cahaya yang memantulkan tubuhnya. Perempuan yang berprofesi sebagai guru kini menarik kedua bibir manisnya, seolah ingin tahu perbincangan singkat kami. Aku hanya menunduk dengan semburat ranum di wajah. 

“Kamu tahu tidak? Varid sebenarnya mencuri pandang waktu di acara arisan Nenek. Awalnya dia mau bermain dengan Keyzila. Dia suka membelikan es krim untuk Key. Ternyata saat mendengar hentakan kaki dari tangga. Bukan Key yang muncul. Tetapi kamu. Mangkanya dia ingin bertemu denganmu!” tangan tante Linda mulai mencuil pipiku. Kali ini aku sedikit tersipu. 

“Oh iya tante, masa benar dia kerja di bengkel?” selidik rasa penasaran.

“Hehehe ... Dia emang gitu anaknya. Suka sekali ngibul. Aslinya dia manager, juga mengelolah event organiser ada lagi dia ngurusi resto yang dekat kota itu loh!” 

Aku hanya mematut diri dalam cermin jendela. Pantaskah, seorang wanita yang tidak selesai kuliah bersanding dengan sosok hartawan. Sedikit terseyum, semoga ini jalan yang terbaik. Setelah gagal kuliah. 

Sepotong malam, seperti bentuk puzzle yang tak lengkap. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak. Apakah dia akan menelponku? Masihkah ada waktu untuk bertemu kembali. Desiran halus kini terasa, setiap melihat rumah yang dihuninya. Malam itu malam pertama berjumpa dan terakhir pula. Aku harus kembali pulang. 

Bagaikan pungguk merindukan bulan, bagaikan bayangan merindukan pemiliknya. Setiap kali berusaha menghubungi, selalu saja sibuk. Bahkan dalam pesan singkat pun tak terbalas. Jiwa yang tak hanya haus pada sukma, rindu yang kusematkan dalam setiap do’a. Tak sampai tangan untuk merangkul impian, kutulis sebaris surat untuknya. Sebagai butir rindu yang mengapung di udara.
Teruntuk seseorang yang dinanti

Assalamualaikum....

Percikan air dari langit membuat atap rumah berisik. Ini hujan pertama di kotaku. Setelah sekian lama pengap tanpa awan yang biasanya beradu pandang denganku. Mungkin di tempatmu hujan akan lebih sering menyelimuti. Pun rasa dingin yang tak bisa dibayangkan. Bagaimana kabarmu? Semoga senantiasa dalam Lindungan Allah. Aku pun masih dalam tahap pemulihan. Mohon do'anya, tapi... mungkin setiap hari engkau pasti berdo'a. Ya Aku yakin! Karena setiap menangkupkan tangan aku merasa kauhadir.

Sejak hari itu--hari kita dipertemukan untuk saling bersua. Tidurku tak lagi nyenyak. Rutinitas tak seperti biasa. Makan pun terasa hambar. Terasa sepotong hatiku tertinggal di sana.

Ada rasa membuncah untuk pertama kali melihat sosokmu. Pernah terlintas sebelum hari pertemuan tentang sosok agamis, atletis, modis dan humoris. Namun, semua itu hanya dalam negeri dongengku. Bagiku engkau cukup menggemaskan, tampang yang selalu tersenyum. Hingga kerut di pelipis menenggelamkan bola mata saat engkau tertawa. Aku tak mempermasalahkan perutmu yang mirip pemeran di Teletubbies. Kulit sawo matang khas Arab. Juga hidung yang tak semancung Ranveer. 

Aku menerima dengan lapang meski kita terpaut satu dekade. Batinku .. .engkau segalanya. Aku merasa kedamaian saat waktu mempertemukan kita di tempat yang memiliki jarak. Bukan seberapa lama kita beradu pendapat. Tapi, seberapa sabar engkau mengiyakan pendapatku.

Aku suka kamu. Bukan karena sejumlah aset Abahmu, sejuta teman di komunitasmu atau sedekat engkau dengan anak kecil. Meskipun jujur aku akui engkau HEBAT. Begitu sederhana menampik kalau engkau memiliki segalanya.

Aku kadang iri, mengingat aku hanyalah gadis desa yang gagal mendapatkan impianku. Harusnya aku bisa seperti teman seperjuangan yang akan menyabet 'title'. 

Tapi, lagi-lagi disadarkan oleh ucapanmu, tentang selembar kertas tak akan ada gunanya. Jika tak memiliki kemampuan. Saat rindu menyapa, aku ingin kauhadir walau hanya sebuah kata, "Hai!".

Nyatanya pesanku terabai. Aku tak tahu keadaanmu. Aku harap engkau menyempatkan membaca secarik surat ini. 

Ini bukan sebuah kata-kata manis merayu. Lebih dari itu. Ini tentang ungkapan hati yang merindu. 

Hanya dengan menulis aku bisa tenangkan diri. Lebih menguasai emosi. Agar tak menjual hormat diri. 

Maafkan aku jika selama ini tak mampu mengendalikan diri. Aku selalu berpikir kau-acuh. Padahal engkau bersusah payah 'tuk perjuangkan hidup seseorang.

"Semoga ada jodoh dan bisa bertemu di tempat yang lebih baik," ucapan itu terus terngiang. Walau hanya dalam bentuk kalimat singkat dan padat. 

Insyaallah, jika kita ditakdirkan bertemu kembali dalam sebuah mahligai suci. Aku sangat bersyukur. Hanya soal waktu yang memisahkan jarak kita.

Aku akhiri lebih awal, karena sepanjang rel kereta pun pasti ada ujungnya. Kita saling memantaskan diri dalam menuju jenjang lebih tinggi. Aku tahu engkau sosok yang tak mungkin mendua. 

Terima kasih, telah membaca hingga akhir. Semoga kita sama-sama diberikan jalan untuk menggapai tujuan yang sama.

Akhir kata .... Sampai bertemu di tempat yang lebih indah. 

Jaga diri, jaga hati dan mantapkan kepada Ilahi. 

Wassalamu'alaikum.

Situbondo, 24 September 2016

~Sabtu, ketika hujan menyemai~
***

Suara petasan hiasi malam pergantian tahun, aku hanya mendengarkan saja. Dentuman demi dentuman meramaikan. Seolah penghuni bumi tak tidur. Sudah tiga purnama terlampaui, tak ada kabar. Pesan yang pernah kulayangkan tak terbalas. Sepi di antara hingar-bingar gemerlap malam. Menyendiri dalam kamar, pasrah dengan waktu yang terus bergulir. 

Katanya jarak bukan masalah, hanya ratusan kilometer. Komunikasi sudah canggih, tapi apa salahku? Mengapa hanya seperti pita dalam bungkus kado. Cantik tapi tak berguna, seolah komunikasi hanya sebuah riasan saja. 

Saat ulat kecil bermimpi menjadi kupu-kupu, cantik rupawan. Saat itu aku pun ingin menjadi ulat. Bisa terbang dengan hebatnya. Sebenarnya aku sendiri bingung dengan tujuan hidup. Aku menangis bukan karena tak mempunyai impian. Tetapi, impian kecilku seolah runtuh. Saat impian yang kurajut, sudah berakhir. Kuliah sudah berakhir, impian menikah pun hanya tinggal cerita. Apakah aku tak pantas untuk bahagia? 

Hasrat untuk menjadi sosok yang menginspirasi pun seakan pudar. Jika saja hatiku terbuat dari besi. Mungkin saja berkarat seiring banyaknya airmata yang merembes. Terlalu banyak lebam. Luka yang masih menganga. Impian harapan merajut cinta. Tersenyum bahagia, menari dengan malaikat kecil. Seolah gelap. Sudah pupus. 

Hal paling menyakitkan, saat mendengar Varid menikah. Terlebih kini aku memegang undangan berwarna maroon. Sebuah ukiran nama yang begitu jelas. Itu nama Varid dia memilih bersanding dengan orang lain. Wanita yang entah siapa. Sepertinya rinduku selama ini percuma. Doa-doa yang kulayangkan ke langit. Pudar bersama hujan. Harapan-harapan kecil. Pecah tanpa sisa. Sudah tak ada lagi. Hanya tetesan bening yang membentuk lingkaran kecil di atas undangan pernikahan. 

Ini kabar menyenangkan sekaligus memilukan. Kabar menyenangkan, sepasang insan yang berjumpa dalam mahligai rumah tangga. Terasa pilu pengantinnya bukan aku. Bahkan aku tak tahu alasan dia memilih orang lain. Untuk apa kita berjumpa jika ada perpisahan. 

Separuh jiwaku, seakan terlepas dari raga. Serpihan hatiku luka, saat sosok yang kumimpikan menjadi pelindung. Sudah tak ada lagi. Impian sholat berjamaah setiap sepertiga malam pun pudar. Ini takdir atau kutukan? 

Wahai yang maha membolak-balikan hati, sesungguhnya hati ini milikmu. Jiwa ini dalam lindunganmu. Aku hanya menahan bulir bening itu untuk. Tak terlepas. Sesegukan kecil sudah tak terbendung lagi. Astaugfirullah. Mungkin ini sudah garis jalanku. Aku harusnya lebih sadar diri. Aku siapa, dia siapa. Jika jodoh tak harus berakhir dengan menikah. Kuikhlaskan. Kubiarkan sembilu menancap dalam segumpal daging. Kubiarkan denyut perlahan menipis. 

Menatap langit yang terang, melihat kenari dalam sangkar. Matanya seolah berkata kepadaku. Dia sedang rindu dengan kekasihnya. Terjerembab dalam sangkar emas pun, bukan pilihannya. Kenari tak bisa menangis. Baginya diberi makan oleh empuhnya sudah cukup. Tersadar di dalam sepiku. Bahkan jodoh tak bisa disalahkan. 

  Setiap cinta yang datang pasti akan pergi. Kala cinta tak tergenggam, boleh terlepas. Cinta yang indah akan melengkapi benak yang hampa. Begitu pula dengan takdirku. Jika Varid memilih pergi, hatiku tidak bisa. Cinta itu sudah bersemayam terlalu dalam. Butuh waktu untuk menghapusnya. Perlahan cinta semakin meredup, hingga aku mengusap bulir bening. Aku harus ridha, kehidupan, kematian, rizki dan jodoh Allah yang mengatur. Ini isyarat dari-Nya. Allah cemburu kepada hamba-Nya. Maafkan hamba-Mu yang dhoif. Ingin kudekap selalu. Cinta sejati tak harus diucapkan, biarkan saja mencari cinta yang lain. Biarkan cinta bertepuk sebelah tangan. Jika cinta, dia datang bersama wali. Tidak membiarkan menunggu, seperti a

#BaiqCynthia 

Februari, 27 2017

Biodata Penulis
Nama Lengkap : Baiq Synithia Maulidia Rose Mitha

Nama Pena : Baiq Cynthia

Aku Medsos

FB : Baiq Cynthia

Twitter : @BaiqVerma

Instagram : BaiqCynthia

Blog : Baiqcynthia.wordpress.com

E-mail : Baiqcynthia@gmail.com

Saturday, March 18, 2017

[SINOPSIS] ONCE UPON A TIME IN MUMBAAI DOBAARA~Films India (2013)

Sebuah film yang dibintangi Akhsay Kumar sebagai gangster. Mumbai menjadi area kekuasaannya. Tak ada yang berani melawannya. Satu teman yang berhianat. Satu peluru akan menembus jantung penghianat. 



Misinya hanyalah ingin menguasai mumbai. 12 tahun silam dua bocah yang hidup penuh derita. Tak punya rumah. Apalagi orangtua. Kerjaannya apa saja. Demi bisa bertahan hidup. 

Tidur beralaskan tanah, beratap rel kereta. Setiap beberapa jam suara bising gerbong lokomotif mengusik tidurnya. Tak peduli udara dingin yang menusuk tulang. Tak takut serangan nyamuk atau anjing liar. 

Dua bocah yang bertahan hidup, bertemu dengan seorang gangster. Bagi Sohaib dua bocah adalah ladang kejayaannya. Bisa menjadi kaki tangan yang sangat berguna kelak. Aslam dan sahabatnya pun menerima tawaran lelaki berkacamata hitam. Berkumis tebal. Dengan asap rokok menjadi bayangannya.

Bertahun-tahun di luar Negeri demi keamanan diri dari kejaran Polisi. Tapi, Sohaib tidak bisa diam. Jika, Mumbai akan direbut oleh musuhnya. Mafia besar yang ingin menguasai. Sang musuh pun sangat ingin Sohaib mati ditanganya.

Banyak pertentangan, konflik dan simbah darah demi terwujudnya sebuah misi. Bukan Sohaib namanya jika tidak bisa membuat dunia penuh iblis.

Namun, salah satu anak buah Sohaib tertangkap polisi. Karena perbuatannya membunuh seorang wanita. Bagaikan tanduk merah muncul di atas kepala Sohaib. 

Baginya, kesalahan sekecil apa pun yang merusak citra dirinya. Harus ditumpas. Membuat polisi tahu, adalah kesalahan fatal. Hanya satu pelatuk mampu membuncahkan darah di dada korban. Sekalipun anak buahnya sendiri. 

~*~

Cinta ... terkadang bisa mengantar kita ke Surga. Terkadang pula bisa membawa ke Neraka. Cinta. Pun bisa membuat iblis berdoa. 

Mudah sekali bagi seorang Gangster berganti-ganti wanita. Tetapi, lelaki sejati hanya mempunyai satu Cinta. 

Cinta bagaikan racun bagi Aslam. Lelaki yang sangat setia kepada Sohaib. Bahkan rela nyawanya menjadi taruhannya. Bagi Aslam Sohaib adalah Pahlawan. 

Seorang wanita pendatang dari Khasmir, memiliki raut wajah yang manis. Telah menjahit cinta pada hati Aslam. Aslam rela berpura-pura menjadi tukang jahit. Demi mendapatkan cinta wanita yang membuat mimpinya tak muncul. 

Meski sahabat Aslam, patah hati. Aslam rela lakukan apa pun demi sahabatnya. Sebab cinta dan persahabatan tak tergantikan. 

Musuh Sohaib mengendus kabar, bahwa ada wanita yang membuat Sohaib 'gila'. Sekaligus umpan untuk bisa membunuh Sohaib.

Apakah cinta bisa merubah iblis menjadi malaikat? Apakah setelah menaklukkan Mumbai dan seisinya, bisa menaklukkan cinta? Siapakah cinta Sohaib? Yang bisa membuat iblis berdoa. Bagaimana jika cinta Shohaib dan anak didiknya adalah orang yang sama? 

~*~

Itu petikan film yang luar biasa membuat saya tidak mandi di akhir pekan. 😀 Rasanya film bernuansa action, romantis, dan drama mampu membuat betah duduk 2 jam 16 menit. 

Kalau ditanya rating 4.8 dari 5. Gak akan nyesel bagi pecinta action. 🌟🌟🌟🌟

Hanya saja ada sekelumit yang membuat saya bingung. Ayah Sohaib polisi, kok bisa anaknya jadi perampok? 

Penasaran? Nonton saja. Biar gak dikejar arwah penasaran. 

Satu kutipan film yang aku suka dari film Once Upon a time in Mumbaai Dobaara. 






Keberanian tak butuh kaki untuk melangkah ~ Aslam.

Info detail film ~Source Wikipedia 

Directed by Milan Luthria

Produced by Ekta Kapoor, 





Shobha Kapoor







Written by Rajat Arora

Starring Akshay Kumar, 





Imran Khan, 











Sonakshi Sinha







Music by Songs: 





Pritam; 











Anupam Amod ;











Background 













Score 











Sandeep Shirodkar







Cinematography : Ayananka Bose

Edited by Akiv Ali

Distributed by Balaji Motion Pictures

Release date 





15 August 2013







Running time 





152 minutes







Country India

Language Hindi




[REVIEW] Prem Ratan Dhan Payo~India Films (2015)



Prem Dilwale yang dibintangi oleh Salman Khan. Sukses membuat saya tertawa dengan aksi kocaknya. Lucu, humoris dan romantis. Cita-citanya untuk pergi ke Kerajaan Pritampura demi menemui seorang gadis yang diidamkan. Tujuannya hanya ingin bertemu, dan memberikan hadiah. 

Gadis yang ditemui saat bakri sosial bukanlah gadis biasa. Wanita dengan kulit yang halus dan wajah oval adalah tunangan Vijay Sigh. Seorang Pangeran yang bijaksana.

Entah bagaimana usahanya malah terjebak dalam sebuah istana. Wajahnya yang mirip dengan Sang Pangeran. Belum pernah terbetik dalam hati Prem Dilwale. 

~*~

Empat hari sebelum penobatan raja di Pritampur. Di mana dihadiri semua rakyat, dan tamu dari penjuru negeri. Termasuk Putri Maithili. Sang Pangeran mengalami kecelakaan. Tidak tahu dalang dibalik kejadian yang menyebabkan luka dalam. 

Penasihat istana sekaligus ajudan. Kalap, mengingat upacara yang sangat sakral. Tidak mungkin ditunda. Tidak bisa dipungkiri. Sebuah kebetulan. Prem Dilwale. Bertemu dengan petugas istana. Kemudian Tn. Dawan meminta bantuanya. Untuk menjadi Pangeran sementara. Menggantikan Vijay Sigh yang kritis. 

Sosok pecinta drama, teater, kini malah harus berakting sedemikian rupa seperti Raja. Di dunia nyata. Bukannya bisa mengikuti aturan istana. Pram Dilwale sukses bikin malu Tn. Dawan. Mengganti acara pidato menjadi ajang sepak bola. 

Konflik panasnya, saat Chandika dan Chanda selaku saudara tiri tidak suka dengan kejayaan Vijay Sigh. 

Lantas bagaimana peran Pram Dilwale? Mampukah dia membuat damai istana. Atau malah menghancurkannya? Siapa dalang dibalik kecelakaan Vijay Sigh? 

Bagaimana perasaan  Pram bertemu dengan Putri Maithili? Apakah setiap impian bisa menjadi nyata? Coba tonton deh. Biar tahu jawabannya. 

Yang aku suka adalah bagian Pram yang sadar diri, bahwa dia bukan siapa-siapa di Istana. Sifat rendah hati yang suka menolong. Kocaknya minta ampun. 

Kutipan yang ngena banget di hati itu ini. 

Lampu yang menyala untukku, dia bukan milikku~Pram Dilwale



Di film ini, saya bisa jalan-jalan Pritampura. Menikmati pesona alam. Megahnya bangunan bersejarah. Makanan yang khas. Juga tradisi yang begitu eksotik. 

Rating dari saya jika 1-5, adalah 🌟🌟🌟🌟 (4,5) Mengapa? Film yang berdurasi 165 menit. Sukses membuat emosi meletup. Komedi, Konflik, Drama, Romantis, Action jadi satu. Banyak petikan hidup yang berharga. So, touching. 


Duh! HAPPY Wacthing! ✨⚡☺
Directed by : Sooraj R. Barjatya

Produced by :Ajit Kumar Barjatya

Kamal Kumar Barjatya

Rajkumar Barjatya

Screenplay by : Sooraj R. Barjatya

Story by : Sooraj R. Barjatya

Based on : The Prisoner of Zenda by Wells Root and Donald Ogden Stewart[1][2]

Starring : 

⚡Salman Khan

⚡Sonam Kapoor

⚡Neil Nitin Mukesh

⚡Anupam Kher

Music by Songs:Himesh Reshammiya

Score: Sanjoy Chowdhury

Himesh Reshammiya

Cinematography :V. Manikandan

source : wikipedia

Friday, March 17, 2017

Sebuah Alasan, Bertahan Hidup

Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi selalu dengan alasan. Tidak ada sebuah kebetulan yang beruntun. Pasti ada makna yang tersirat pada kejadian yang telah terjadi. 

Faktanya hidup tidak selalu tentang kebahagiaan, hura-hura, kesedihan, kesuksesan, kegagalan, dan pernak-pernik lainnya. Hidup adalah proses panjang yang masih harus ditempuh. Sekalipun jiwa sudah berpisah dengan raga. Masih ada kehidupan, dalam dimensi yang lain. 

Life is an adventure. Banyak orang yang sukses, mereka ditempah pada proses yang sangat lama. Seperti intan di dalam lapisan bumi. Dengan suhu yang tinggi, juga waktu yang lama. Sebuah karbon bisa berubah menjadi intan. Berbeda dengan arang. Dia hanya ditempah dengan suhu biasa, waktu relatif singkat. Hasilnya juga hanya arang. Padahal dibentuk pada unsur yang sama. Karbon. 

Alasan aku masih bertahan hidup hanyalah satu. Aku pantang putus asa. Menyerah. Itu bukan tipikal yang cocok bagi calon entrepreneur. 

Ada banyak buah yang manis, dan tak sedikit yang getir. Nikmati hidup, meski sepahit buah pare. Khasiatnya pun banyak. Gula memang manis, tetapi terlalu banyak akan menimbulkan penyakit. Jamu itu pahit, cukup dikonsumsi akan membuat sehat. 

Sebenarnya tak ada alasan untuk frustasi. Rangkaian kehidupan akan terus mengitari jalan. Kita tidak tahu, kesakitan, kesusahan, yang dialami saat ini. Barangkali akan berbalik menjadi kemudahan, kecemerlangan di hari nanti. Setiap usaha tidak pernah menghianati hasil. Pasti ada feedback. 

Walau bagaimana pun. Setiap ada rasa kesungguhan untuk menyambung hidup. Penuh liku-liku, terjal, aral melintang. Pasti ada masanya hidup nyaman. Jika pun tak berkesempatan untuk menikmati hidup yang diimpikan. Kelak, percayalah. Ada hidup yang kekal pada keabadian. 

Hakikatnya hidup akan berlanjut, boleh saja tempat tinggal berubah. Namun, jiwa harusnya sama. Pantang menyetah. Punya jiwa optimistik. Daya juang tinggi.

Ingatlah, Presiden B.J Habibie pernah merasakan ditolak rancangan pesawatnya. Tetapi Beliau sukses di negara lain. Barangkali kita bisa, meneladani sikap pantang menyerah yang dimilikinya. 

Cobalah simak sebuah kisah lama yang mungkin sebelumnya pernah mendengar. Kisah Kijang dan Harimau. Kijang memiliki kecepatan berlari yang luar biasa daripada Harimau. Kecepatannya setara 98,1 km/jam sedangkan sang predator 60-65km/ jam. Jauh ya, rentang kecepatannya. 

Tapi, mengapa sang pemangsa mampu menangkap Kijang? 

Sangat benar Kijang mampu berlari cepat, seperti angin. Tetapi, setiap berlari Kijang terlalu sering menoleh ke arah belakang. Menatap sang lawan yang ingin memangsanya. Setiap menoleh ke arah berlawanan. Kijang menghabiskan sepersekian detik untuk menoleh. 

Kecepatan berangsur berkurang, saat proses menoleh. Kijang tidak percaya diri. Dia takut Harimau bisa menyusulnya. Itu sebabnya, mengapa Raja Hutan bisa menangkapnya dengan mudah. 

Pelajaran ini bisa kita petik, bahwa dalam hidup pun sama. Tidak perlu terlalu lama menyesali yang telah terjadi. Melihat masa lalu hanya membuat kita semakin rapuh. 

Percayalah, hidup tak mudah ditebak. Namun, bisa diupayakan. Sesulit apa pun hidupmu saat ini. Kelak akan berbuah kemudahan.

Jika ada kemarau panjang, akan ada masanya musim hujan. Air yang menumbuhkan benih harapan. Percayalah dan jangan menyerah. 

Hidup bukan untuk mencari alasan, tetapi alasan untuk hidup hanyalah hidup. 

#BaiqCynthia

#KampusFiksi

#HariKeTujuh 

#BasabasiStore 

#WritingChallenge7Days 

Tanpa rasa, Hampa~Kehilangan

Pernah merasa kehilangan. Rasa hilang yang sebenarnya tak hilang. Hanya raga yang hilang. Namun, hati terpaut.



Pernah juga aku kehilangan barang berharga. Diambil paksa oleh seseorang yang tak dikenal. Tetapi, awalnya ikhlas. Karena setiap apa yang kita punya akan kembali kepada Sang Pemilik keabadian. Setelah berpikir ada buku dan dokumen penting yang hilang. Airmata langsung tumpah. 

Memang tak mudah kehilangan sesuatu. Lebih tepatnya, sangat menyakitkan di awal. Tetapi jika ingat kembali, hidup hanya menumpang. Pasti akan berpikir kembali. 

Kamu akan ikhlaskan, walaupun barang itu berharga. Hal ini berlaku pada seseorang. Kita bisa jadi bersama sekarang. Kelak saat maut menjemput. Kita punya jalan masing-masing.

Bisa jadi kita kurang sedekah, sehingga kita merasa kehilangan. Sebab, ada hak orang lain pada harta kita.

Alasan Rasa Kehilangan yang terkadang lebih hampa dari Vakum udara. 

  • Ketika kita merasa kehilangan kepercayaan. Sudah sulit menjaga kepercayaan. Masih saja suka hilang.

  • Ketika kita kehilangan seseorang yang sebelumnya sangat baik kita kenal. Lantas dia pergi. Kita bertemu, bertatap muka. Tapi, seolah stanger. Itu kehilangan yang menyakitkan.

  • Kita kehilangan harapan. Saat sudah berupaya lebih kerasa mencapai sebuah kesuksesan. Namun, rintangan yang menghadang tanpa disangka-sangka. Harapan langsung luruh seketika. 

  • Kita kehilangan mimpi. Sudah lama merangkai impian. Menata masa depan. Tetapi, kita lupa bahwa ada yang hanya bisa menjadi impian. Tidak untuk jadi nyata. 

  • Saat rasa kehilangan sahabat. Sosok yang biasa menemani kita. Kala suka maupun duka. Entah mengapa, sahabat itu berubah. Dia ada taoi, membuat sebuah batas dia antara kita.

  • Saat kita merasa kehilangan ingatan. Sulit diungkapkan. Bagaimana mengembalikan ingatan yang sudah pupus. Memori indah hanya terasa seperti de javu. 

  • Kehilangan moment bersama keluarga. Keluarga yang damai dan tentram. Idaman semua orang. Tapi, tak semuanya harus selalu bersama. Bahkan air dan minyak pun sulit menyatu.

  • Kehilangan waktu. Tak bisa dipungkiri. Hidup ini hanya ditemani oleh detak waktu. Waktu tak bisa diulur atau dihambat. Saat sudah kehilangan waktu. Lantaran sibuk dengan kesedihan, terlalu bahagia. Lantas waktu hanya disia-siakan. Hingga sang waktu pun menghilangkan diri.

  • Kehilangan Kesempatan. Ini sangat menyakitkan. Ada pepatah mengatakan kesempatan tidak hadir dua kali. Saat ada kesempatan, sering kali kita mengabaikan. Seolah masih ada lagi kesempatan. Ternyata. Yang diharapkan sudah pupus. Usia yang terkadang menghapus kesempatan. 

  • Kehilangan cinta. Mungkin ini terbilang jarang. Tetapi, saya merasakannya. Bagaimana mungkin cinta bisa hilang? Bisa saja. Saat cintamu terabaikan. Dan tak ada cinta selain yang kamu harapkan. 


Kehilangan terbesar yang kadang kita lupakan. Hanyalah kehilangan kesehatan. Kita terlalu abai masalah menjaga kesehatan. Seolah hidup terlalu bebas. Padahal tak ada yang tahu hadirnya rasa sakit. Terlalu sering mementingkan kebahagiaan sesaat. Tapi, lupa sebahagia apapun yang kini kamu rasakan. Bersiaplah untuk merasakan kehilangan.

Boleh saja merasa kehilangan. Namun, tidak baik hingga meratapi. Carilah yang hilang. Atau ciptakan yang baru. Hidup akan suka saat ada yang hilang. Tapi, kita bisa belajar arti sebuah memiliki. 

#baiqcynthia 

#KampusFiksi

#BasabasiStore

#WritingChallenge7Days

Wednesday, March 15, 2017

Bisakah Punya Cinta Sebesar Dia?

Memasuki hari kelima. Pertanyaannya mudah. Jawabannya sedikit rumit. Pasalnya sejak hampir 2 bulan tidak ada buku yang benar-benar tuntas dibaca. Terkadang hanya baca satu bab kemudian ditinggal. Sebelumnya, saya ingin punya banyak buku. Saat banyak buku kenapa saya jadi merasa stuck. 


Ternyata tidak hanya menulis yang membuat stuck membaca pun juga. Namun, bacaan yang membuat saya enggan membaca adalah fiksi. Untuk asupan non fiksi masih lancar jaya. 

Baiklah saya ingin menjawab pertanyaan no. 5 
Ambil sebuah buku terdekatmu. Carilah sebuah paragraf di dalam buku yang ingin kamu tuliskan dan kenapa memilih paragraf tersebut?

Sudah mengambil buku paling dekat. Awalnya mau mengambil buku yang tebal. Saat melihat buku terdekat terambil sebuah buku berjudul "Uhibbuka Fillah, Aku Mencintaimu karena Allah" karya Ririn Rahayu Astuti Ningrum. Sudah pernah saya review buku ini di sini

Kisah yang mengharukan, sekaligus memberi motivasi. Banyak belajar dari buku ini, meskipun sebuah buku fiksi. 

"Cerita ustad Hasyim malam itu seolah sekarang terjadi. Beliau bercerita tentang Salman al Farishi dan Abu Darda. Salman mencintai seorang gadis, namun ternyata hadir itu tidak menyukainya.Gadis itu malah menerima jika Abu Farza yang melamarnya. Salman dengan lantang berseru 'Allahu Akbar! Kuserahkan mahar dan nafkah yang telah kubawa untuk saudaraku Abu Darda. Aku akan mempersaksikan pernikahan kalian!' Begitulah cinta sejati. Ia cukup dengan mencintai, dan tak berharap balas untuk dicintai. Bayangkan bagaimana perasaan Salman saat itu, namun dia begitu tangguh untuk melihat gadis dan saudara yang dicintainya bahagia. Lalu, salahkah jika aku meneladaninya?' Begitu, Rin."  (Halaman 125-126) 

Alasannya sederhana. Cinta tak harus memiliki. Jika memang benar itu cinta. Meskipun cinta hanya bertepuk sebelah tangan. Cinta akan membahagiakan pasangannya. 

Dalam paragraf tersebut Salman Al Farishi real memberikan mahar kepada Abu Darda. Memang benar, cinta tidak hanya ucapan. Namun, berupa perbuatan. Meski cintanya tidak diterima oleh si Gadis. Pengorbanan cinta Salman tetap ada. 

Bahkan Salman pun menghadiri pernikahan tersebut. Luar biasa. Hatinya begitu berkilau. Sungguh jarang zaman sekarang. Mereka lebih memilih menghindari. Bahkan tak jarang bermusuhan. 

Apakah esensi cinta hanya berkenalan, jadian, kemudian berpisah dan tak saling kenal? 

TIDAK. Cinta tak bisa disalahkan. Emosi yang meletup saat tak memiliki, meretas akal. Menerawang perasaan yang terabai. 

Alasan yang khusus paragraf pada bagian ini tidak ada kesan menggurui, malah super menginspirasi. Sejatinya, harapan dan cinta akan tersampaikan pada cinta. Jika kita hantarkan pada Sang Pemilik Cinta. 

Tak ada cinta yang bersatu tanpa restuNya. Bisakah kita mengubah pola pikir tentang cinta. Menjadi. Aku Mencintaimu karena Dia. 

*)Hari ini ada Event Literasi. Hadir ya!


#Situbondo

#KampusFiksi 

#BasaBasiStore 

#KampusFiksiWritingChallenge 

Tuesday, March 14, 2017

Cinta Adalah . . .

Cinta adalah anugerah, banyak yang mengatakan seperti itu. Tanpa cinta kita tak akan bisa bersama orang lain. Cinta di sini tidak terbatas cinta antara lelaki dan perempuan. Makna cinta itu luas. 



Saat kamu merasa desiran kecil mengalun pada dadamu, itu bisa jadi cinta. Ketika kamu merasakan debaran hebat melihat sesuatu yang selama ini kamu tunggu, kemudian engkau mendapatkannya. Itu juga cinta. Kamu tak ingin saudaramu terluka, berjuang demi dia. Itu juga cinta. Kamu pernah marah kepada sahabatmu, sikap sahabatmu melenceng dari biasanya itu namanya cinta. Kamu selalu tepat waktu memberi makan hewan peliharaan, juga bisa dikatakan cinta. 

Well. Cinta itu luas. Banyak sekali maknanya. 
Kalau dalam KBBI cin·ta 1) suka sekali; sayang benar: orang tuaku cukup – kpd kami semua; -- kpd sesama makhluk; 2) kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan): sebenarnya dia tidak -- kpd lelaki itu, tetapi hanya menginginkan hartanya; 3) ingin sekali; berharap sekali; rindu: makin ditindas makin terasa betapa -- nya akan kemerdekaan; 4) susah hati (khawatir); risau: tiada terperikan lagi -- nya ditinggalkan ayahnya itu;

Jelimet! Saya malah tambah bingung. Jadi cinta itu sebuah kata sifat yang mewakili perasaan manusia, berupa rasa suka, terpikat kepada lawan jenis, tertarik kepada hal unik, merasa takut kehilangan sesuatu, berbakti kepada orangtua, menyayangi sesama, dan melakukan apapun karena cinta. 

Ini yang bahaya, sebab kalau udah cinta. Otak ada di dengkul. Kenapa saya katakan berbahaya? Banyak orang jatuh cinta, tetapi tidak mengerti dengan maknanya. Terutama ABG (Anak Baru Gede), biasanya kalau cinta sama pacarnya sampai lupa waktu. Lupa sama segalanya. Seperti dunia hanya miliknya saja. 

Cinta bisa merubah logika menjadi fantasi. Menghayal, yang mustahil menjadi mungkin. Kalau udah cinta apa saja bisa diterobos. Gak mikir dah, mau itu dari kalangan bawah, menengah atau atas. Cinta tidak pandang bulu. Ada banyak pernikahan dengan modal cinta, tapi gak lihat Sikon (situasi dan kondisi). 

Jadi, ada kejadian. Dua pasangan kekasih sama-sama jatuh cinta. Tetapi, kedua orangtuanya gak setuju. Dipaksain. Yang satu kaya, yang satu melarat. Yang kaya cowoknya. Tetapi, harta itu warisan dari orangtuanya. Bukan hasil sendiri. Si cewek ngebet banget pengin nikah. Udah deh jadi, pas udah setahun. Berantem. Gara-gara ekonomi, perseteruan suami-istri mirip perang dunia. Piring bisa terbang. Aishh. Lah, iya! Mereka nikah gak dengerin kata orangtua. Cuma modal nafsu aja. Giliran si lelaki gak nafkahi. Ruwet. 

Itu salah satu cinta yang kadang bikin logika jadi fantasi. Cinta mah indah awalnya saja. Kalau udah lama pudar. 

Beda lagi kalau cintanya dilandasi dengan akal dan budi pekerti. Pasutri (Pasangan suami-istri) yang menikah dengan menggunakan banyak prinsip. Gak hanya modal cinta. Rata-rata rasa cintanya semakin lama semakin lengket. Seperi perangko sama surat. 

Yang jomloh dilarang baper. Biasanya cinta yang ini lebih mempertimbangkan banyak aspek. Daripada sisi ego yang tinggi. Mereka sadar cinta mereka demi mempersatukan kedua keluarga. Jadi, cari jalan aman.

Kok melebar, jadi bahas pernikahan. Ya! Cinta lebih identik dengan nikah. Tetapi, tidak sedikit yang menikah tidak dilandasi rasa cinta. Misalnya menikah karena dijodohkan. Atau karena terpaksa. 

Ngomongin soal cinta, banyak jenisnya. Cinta diri-sendiri, cinta pada orang lain, cinta pada binatang & tumbuhan, cinta pada benda (harta), cinta pada Allah, cinta pada anak, kalau sekarang zaman ya cinta pada gadget

Repot kalau udah cinta sama gadget, bangun tidur langsung cari Handphone. Hehehe ... 99% orang ternyata melakukan ini. 

Ada lagi macam cinta, seperti cinta monyet, cinta murni, cinta keranjang, cinta uang, cinta keturunan, cinta hakiki, cinta-cinta lainnya. 

Lama-lama saya jadi pakar cinta. Cinta ada yang di dunia nyata, juga di maya, semoga gak ada cinta di dunia ghaib. 

Udah banyak kasus cinta di dunia maya, berakhir pada hal memilukan. Cinta kok disalahkan. Sebenarnya bukan cinta yang salah, nafsu itu loh. Cinta kalau ketemu nafsu = gila. 

Ada banyak penyimpangan remaja, karena mengikuti hawa nafsu. Bukan cinta. Seperti terlibat pada obat-obatan terlarang, tawuran, hingga seks bebas. Semoga dihindarkan. 

Karena cinta bisa melukai. Terkadang seperti itu, banyak yang jatuh cinta malah patah hati. Mereka yang notabene gagal menjalin sebuah relasi dengan kekasih. Sering melakukan hal yang fatal Misalnya, gak mau makan. Ngambek, sampai ada yang nge-fly,  menyayat tangannya dengan benda tajam. Itu mah, namanya bunuh diri secara perlahan. 

Tapi, biasanya yang melakukan hal itu para remaja labil. Yang baru tahu sama cinta.Tetapi, bagi mereka yang udah mengerti pasti bijak untuk move-on. Banyak hal yang positif yang lebih bermanfaat daripada hal rendahan yang tak ada gunanya. Misalnya, menulis. Terserah mau nulis, diary, puisi, cerpen atau novel. Asalkan tidak curhat di medsos. Bahaya ... Bahayanya itu hanya membongkar aib. Nah, mending ikutan Writing Challenge yang selalu diadakan Kampus Fiksi. Lumayan dapat buku, jika beruntung. 

Bagiku cinta itu indah, walaupun aku pernah terluka karena cinta. Cinta yang membuatku mengerti bahwa tidak semua harus bersatu. Cinta itu ... 

  • Cinta adalah pengorbanan yang tak meminta upah. Cinta sebuah harapan untuk hidup bersama. 

  • Cinta itu menghargai. Menumbuhkan rasa saling peduli. 

  • Cinta itu memiliki, walau banyak cinta tanpa memiliki. 

  • Cinta laksana mahkota bunga, menarik perhatian lebah. 

  • Cinta terlalu suci. Cinta yang hakiki saat seorang lelaki hadir untuk menyatakan cinta di hadapan keluarga pasangan. 

  • Cinta tidak membuatmu menanti, cinta itu pasti. Jika tidak pasti itu bukan cinta.

  • Cinta tidak sekedar SMS atau telepon, cinta diwujudkan dengan pengorbanan yang nyata. 

  • Cinta bukan hanya ucapan "I love you", cinta diwujudkan dengan membawa rombongan keluarga untuk melamar. 

  • Cinta tidak selalu manis, cinta terkadang getir. Saat seseorang yang engkau cintai lebih memilih pergi, dengan alasan atau tanpa alasan.

  • Cinta tidak selamanya, terkadang cinta hanya sesaat. Datang untuk mengisi hati, kemudian lenyap dari sanubari. 

  • Cinta kadang sampai kepada seseorang yang dicintai, terkadang cinta juga tak sampai. Ada rasa ingin memilih, apa daya bagai pungguk merindukan bulan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan. 

  • Cinta itu hanya sebuah ilusi, kadang tak sesuai ekspektasi. Kadang telah mengejar dengan banyak pengorbanan, malah mendapat sebuah penghianatan. 

  • Cinta itu bisu, terkadang hanya hati yang mendengar. Tanpa bisa mengungkapkan, tetapi kata bang Tere Liye "Dikatakan atau tidak itu tetap cinta".

  • Cinta bagaikan sembilu, menusuk kalbu. Saat sosok yang kita miliki beralih pada orang lain, atau memilih pergi.



Cinta--bagaikan fatamorgana yang hilang oleh bias cahaya. Jua tak dapat dicekal oleh masa. (Baiq Cynthia). 



Sejatinya cinta sebuah kepastian, cinta itu murni. Bukan angan atau harapan, cinta hadir mempersatukan dua insan yang terkena virus jamu merah. Cinta memang tak ada yang abadi. Namun, cinta yang sejati, hanyalah cinta yang selalu bersama sampai maut memisahkan. 

#BaiqCynthia 

#KampusFiksiWritingChallenge

#KampusFiksi

#BasabasiStore

#HariKeempat

Monday, March 13, 2017

Hati Orangtua Lebih Berkilau dari Berlian


Jika memiliki buah hati, namun tak sesuai dengan yang diharapkan. Tentu harus tetap bersyukur. 

Anak adalah titipan Allah, bagaimana pun rupanya. Jika sudah lahir dari rahim sendiri tetaplah menjadi buah hati. 

Seekor induk kucing pun, saat anaknya berbeda dari induknya. Masih tetap dirawat, disusui, dengan penuh kasih sayang. Tanpa ada rasa membedakan satu dengan lainnya. 

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk memiliki anak. Sebagai penerus generasi. Pewaris harta, ilmu dan genetik. Anak sebagai pelita hati, yang sejatinya akan menjadi teman hidup. Tanpa anak, dunia akan terasa sepi. 

Jika dalam artian anak sudah dirawat dan diberi pendidikan yang baik. Namun, justru tidak sesuai dengan yang diharapkan. Orangtua hanya bisa mengelus dada. Perasaan seorang Ayah yang telah bersusah payah menafkahi keluarga. Terkhusus untuk anak, jelas akan terluka. 

Perasaan ibu, selama 9 bulan mengandung pun akan lebih pedih. Sebagaimana anak tumpuan keluarga. Harapan orang tua. Hampir semua orang tua berharap anak menjadi sukses. 

Tak heran, membanting tulang siang-malam. Hanya demi anak. Tak ingin anak berkelakuan buruk. Terkadang banyak orang tua berkorban tangis, keringat demi pemenuhan kebahagiaan si buah hati. 

Ibu khususnya, lebih sering berkata "iya"meski berbohong. Demi melihat senyum tipis putra maupun putrinya. Mereka lebih sering mengalah, demi terwujudnya impian anaknya. Lebih sering menahan keinginan memenuhi kebutuhan sendiri, demi sang buah hati. 

Walaupun anak sudah berkeluarga, hakikatnya masih tetap anak. Walau beda tanggung jawab. Ironis, pepatah tua itu benar sekali. "Jika orang tua kaya, anak jadi Ratu. Jika anak kaya, orang tua jadi babu." 

Kecewa rasanya jika memiliki anak yang tidak diharapkan. Tidak sesuai keinginan. Sejatinya, itu seperti hukuman. Jika semasa kita menjadi anak sering kali melawan orang tua. Maka balasannya saat kita menjadi orang tua. Akan memiliki anak yang bersikap kurang baik.

Banyak kisah klasik anak yang durhaka kepada orangtua seperti Maling Kundang. Doa orangtua sangat manjur. Jangan coba-coba menyakiti Ayah-Bunda. Jika ingin hidup beruntung. 
#Hari3

#BasabasiStore

#KampusFiksi

Motivasi Pagi~Baiq Cynthia

Angsa terlihat anggun, tetapi kedua kakinya berjuang keras untuk berenang di air. 🍃



Kamu kadang tidak tahu, alasan menangis, tertawa, bersedih, gembira, mencintai, membenci, menghindar, bersama. Berduka, bahagia, meratap, bersyukur, dengki, iri, hianat, berbohong, jujur, mengelak, mengakui, dan pergi. .

.

Tapi, kamu tahu alasan mengapa masih bisa berdiri, tersenyum. Berkata pada dunia. "Aku bisa!" Membahagiakan, minimal membahagiakan diri sendiri, dan keluarga.

.

.

Kamu tahu kamu masih sering salah, gagal, letih dan bingung. Tapi, Allah memberi jawaban dengan masalah, kesulitan, agar kamu tahu sandi untuk memecahkan. .

.
Kamu kadang tidak suka dengan hidupmu. Memandang orang lain, lebih bahagia, sukses dan selalu tertawa. Tapi, apakah kamu sadar? Mereka yang kini sukses juga pernah sepilu kamu. Menderita, bersedih. Tapi, mereka hebat menyembunyikan tangis dengan senyuman.

.

Yakinlah jika ada siang dan malam. Pasti ada di mana kamu akan berterima kasih pada kegagalan, masa lalu suram.
Kejayaanmu ialah saat kamu bisa berdamai dengan hati. Kamu bersyukur. Bersyukur. Tersenyum. 

#baiqcynthia

Sunday, March 12, 2017

Tempat Impian Destinasi



Travelling--satu kata yang bisa menjadi sebuah rujukan pencinta wisata atau tour. Jangan ditanya, mereka rela akses walau jalan yang ditempuh padat sekalipun. Menggunakan kendaraan pribadi atau umum. Tidak masalah. Selama masih dalam batas wajar. 

Banyak sekali yang mengatakan berkenala itu tidak berguna. Terutama mereka yang terbiasa hanya pergi mengunjungi kerabat. Apalagi yang suka jalan-jalan itu perempuan. 

Well. Kegiatan mengunjungi suatu tempat yang paling jauh adalah keinginan saya semenjak kecil. Saya ingin sekali bisa mengunjungi sebuah tempat--yang terkenal dengan bangunan suci romantis.Taj Mahal. Ya, salah satu dari 7 keajaiban di dunia. 

India merupakan negara yang memiliki banyak kemiripan dengan Indonesia. Seperti candi atau kisah Ramayana dan Mahabrata yang tepahat pada dinding candi. Ditambah dengan banyaknya warga Indonesia keturunan India. Sejak pedagang Gujarat menetap di Nusantara.

Tanpa pengecualian, sudah banyak kerja sama sejak presiden pertama yang memimpin Indonesia. Hari kemerdekaan pun hanya bertaut 2 hari. 

India, bukan sebuah negara tujuan tanpa alasan. Ada banyak impian negara tujuan. Namun bagiku negara satu ini, kelak menjadi prioritas. 

Banyak cerita sukses, yang pernah menapaki negara Bollywood. Terkenal dengan aktor tampan legendaris. Shah Rukh Khan. Pakaian sari yang gemilau. Makanan penuh rempah dan sangat kuat akan rasa. 

Sejak kecil sudah suka dengan India. Lewat film yang disuguhkan. Lewat lagu yang selalu asyik didengar. Bahasa yang kental. Semuanya yang indah. 

Aku mengenal banyak tentang India lewat teman Facebook yang rata-rata orang India. Ada yang dekat, namun tidak bisa bersama. Tapi, hidup hanya sebatas pilihan. Bersama atau tidak biarkan saja melekat dalam sanubari. 

Destinasi wisata tujuan selain Taj Mahal, yaitu Mughal Garden. Euuu, melihat foto teman yang bisa masuk tempat yang di buka hanya satu kali dalam semusim. So perfect. Melihat bunga yang ditanam sepanjang sungai. Indahnya. 

Ingin tahu rasanya tinggal di daerah yang suhunya hanya 10 derajat. Di New Delhi harga handphone dibandrol cukup murah. Astaga. 

Tujuan di India tidak hanya di New Delhi, ingin tahu rasanya melihat langsung SRK. Keliling kota Mumbai, kota paling padat. Sekaligus sumbernya film India. Bagaimana rasanya di Amritsar. 

Final destinasi ke Pattambi. Entahlah ini hanya angan yang tak sampai. Bersua dengan seseorang yang hanya pernah dikenal lewat jejaring sosial. 

Semoga kelak bisa membeli souvenir langsung menggunakan mata uang rupee. Meskipun begitu saya bersyukur bisa memegang selembar kertas uang. 



Tahu cerita asyik di India. Lalu-lintas yang kocar-kacir. Kisah-kisah haru dan kocak tentang India. Sekaligus mencicipi salah satu makanan India. 😀

Makanan satu ini manis banget. Entah gula berapa ton dicampur. Selain khas dengan rasa rempah. Juga aroma sedap tak kalah enak. 



Soan Halwa memiliki tekstur lebih padat dan keras. Mirip gula aren. Namun, rasanya manis. Kelewat manis. Mungkin saja orang India banyak yang manis suka sekali makan yang manis-manis. 

Bagiku, perjalanan jauh sekali pun jika diniatkan ibadah atau silaturahmi pasti ada manfaatnya. Berjalan jauh tidak sekedar menghamburkan uang. Tetapi, lebih banyak belajar. Menambah wawasan dan pengetahuan baru. 

Ada pepatah mengatakan, jangan menjadi katak dalam tempurung. Ya, dunia itu tak selebar daun kelor. Dari sana kita bisa menularkan manfaat yang banyak. 

Life is adventure. Nikmati proses! Sejatinya tak akan pernah menghianati hasil. 

Salam dari kota Malang. Hari ini saya di sini. Setelah kemarin jalan lagi ke Pare, Kediri. Ya seperti yang saya katakan menghirup udara baru di tempat baru akan sangat menyenangkan. 

Pun sejatinya tidak ada tempat terjauh yang tak bisa terjamah. Nyatanya bumi itu bulat. Posisi terjauh saat kita tak mengenali jati diri. 

#Malang

#BasabasiStore

#KampusFiksi

#WritingChallenge



Saturday, March 11, 2017

Cinta Monyet Itu Apa Sih?


Cinta sebuah kata yang gak ada matinya saat menjadi buah bibir. Paling asyik bahas tema ini. Bahkan baru kenal pun di Bus. Kalau merembet masalah cinta, akan ada bumbu-bumbu manis dan pedas. Seperti rujak. Manis tapi pedas.

Berbicara tentang cinta, semua orang pasti mengenal jatuh cinta. Cinta yang alami, murni sampai cinta jadi-jadian. Jatuh cinta pada teman karib, hingga di jodohin. Cinta yang tumbuh sendiri, hingga tak disangka ada cinta. 

Oh cinta, virus merah jambu. Terkadang jika diingat-ingat tentang cinta monyet. Itu menggelikan. Cinta yang diidentikkan dengan monyet jatuh cinta. Asal cinta aja. Gak tahu itu cinta murni atau mainan. Yang penting ada kara, " Aku sayang Kamu!". 

Ah, baper! Cinta dengan mudahnya datang dan cepat sekali pulang. Cinta monyet, kata orang cinta anak abg. Cinta labil. Ahahaha. Hampir setiap orang mengalami cinta monyet. Lumrah ya! Kalau gak punya feeling kepada lawan jenis itu perlu diwaspadai. 

Jangan-jangan. Oh tidak hanya sebuah dugaan. Cinta monyet yang pernah terjalin saat kecil itu suka sama teman sendiri. Ya walaupun masih kecil labil banget. Tapi, bila diingat-ingat. Lucu. 

Dimulai dari persahabatan, sejak kelas 2 SD. Sudah punya sahabat karib. Teman main masa kecil. Ke mana pun bersama. Bermain pun bersama. Tak ayal tetangga sudah paham. Jika aku tak ada di rumah pasti ada di rumah sahabat. 

Cinta monyet yang kurasakan dimulai awal tahun 2003. Sejak kelas 1, setiap ujian atau ulangan semester akhir selalu duduk menurut absensi. 

Kebetulan aku selalu duduk dengan seorang lelaki. Meskipun model bangku zaman dahulu memanjang. Kami duduk sama-sama di ujung kursi. Dengan tas sekolah menjadi batas. Pribadi sejak kecil hanyalah pendiam. Meski banyak teman-teman yang sering mengajak bermain saat jam istirahat.

Lelaki yang kukenal itu, jarang berbicara. Dia selalu mendapatkan rangking pertama. Sampai kelas 3.  Hampir setiap tahun posisi tempat duduk kami selalu sama saat ujian. 

Nomor absen 2 selalu bertemu dengan 7. Jika diurut bangku dari depan ke belakang. Dia jenius, tapi sayang pelit. Aku selalu tolah-toleh saat ujian. Namun, dia tak pernah memberi. Ah! Dia memang tampan. 

Banyak gadis kecil yang suka dengannya. Meski sering terjadi kasus sorak 'cie' ... 'cie'. Antara sahabat karibku dengannya. Tapi, dia tak pernah mengakui, pun mengelak. Sosoknya misterius. Teman satu kelas akan menulis di papa tulis dua nama, dia dan sahabatku. Tulisan nama yang digambar panah cinta. 

Aku tidak merasa kecewa atau sedih, malah ikut-ikutan membully mereka. Ah, anak ingusan tidak pernah serius jatuh cinta.

Suatu ketika, di kelas 4 di jam istirahat ke-dua. Sudah mulai ada les tambahan dari sekolah. Siang itu aku dan beberapa teman kelas kompak membeli mie instans. Milik pak Pardi, kantin sekolah. Sekalipun cara pengolahan mie dengan cara diseduh. Kami rela mengantri demi makan mie seharga 1.200 untuk mie kuah, dan 1.500 untuk mie goreng. 

Dia juga memesan, namun mie goreng. Saya memiliki uang pas-pasan. Hanya mampu membeli mie kuah. Zaman kecil, uang saku hanya 1000. Tapi, sudah bahagia. 

Saat itu kami beserta anak lainnya inisiasi lomba makan. Dengan aba-aba hitungan mundur. Aku begitu lahap memakan mie kuah. Bukannya dia juga ikutan makan. Namun, memperhatikan saya. Seraya berkata, " Emang gak panas?" 

Aku hanya tersenyum dan terus melahap mie. Konon saya suka sekali mie instans. Jadi, terbiasa makan tanpa dikunyah. Padahal sekarang sudah tahu, itu tidak baik bagi kesehatan. 

Tentu saja, saya abaikan. Dia melongo bagai, kelinci bingung melihat kawannya loncat-loncat. 

Di rumah, sering cerita kepada Umi'. Dia orang terkasih yang paling suka mendengar cerita sekolah saya. Terus terang, saya cerita. Saya menyukainya. Tetapi, dia dijodohkan sama teman-teman dengan sahabat saya. 

Umi' hanya tersenyum, "belajar yang rajin, jangan main pacaran." Saya hanya nyengir. Siapa juga yang mau pacaran. Hanya bilang suka. Orang tuanya salah satu orang terpandang. Rumah bercat putih dengan dua lantai. 

Ah, saya hanya bisa berandai. Perasaan itu terus redup. Seiring waktu. Cinta monyet itu aneh. Saat ada yang mengolok-olok dengan murid baru. Aku jadi salah tingkah. Dan malah naksir sama sosok yang menjadi bahan bullyan. 

Cinta monyet ya hanya rasa suka, cinta main-mainan. Dan tidak lain cinta semu. Jika diingat, saat kini. Justru membuatku ingin tertawa. Kok bisa aku jatuh cinta.

Ah, cinta monyet berjuta rahasia dari bilik cinta. Sampai sekarang, aku tak tahu siapa tempat pelabuhan cinta. 

#kampusfiksi

#basabasistore

#baiqcynthia

Sunday, March 5, 2017

STILL FIND My Dreams



Saya tak ingin ketinggalan lagi, atau lupa atau nulis tergesa-gesa. Jadi, untuk tantangan hari ini, saya tulis lebih awal. Saya tahu ini weekend. Hari untuk bersantai. Namun, saya lebih sibuk. Hari ini harus nyuci tumpukan gunung setelah trip on Sumenep kemarin. Insyaallah perjalanan saya, akan di-posting pada Daily's Baiq. Dilanjut bantu persiapan acara selamatan Nikah. Dari pagi sampai sore nanti. Malamnya datang ke acara resepsi pernikahan teman. Astaga banyak sekali orang nikah. Saya tak ingin menulis tidak fokus seperti yang kemarin hari. Ah, sudahlah. Lah, kok malah curhat. Ya udah demi meramaikan event menulis, sekaligus latihan nulis saya ingin menulis tantangan dari nomor tiga. 

"Jelaskan tentang keinginan atau cita-cita yang belum tercapai hingga hari ini, dan seberapa keras usahanya!" 

Impian. Semua orang memiliki, tentang target usaha. Seperti update status di FB Baiq Cynthia;
"Semua orang punya harapan, mimpi, cita-cita dan target. Tapi, ada kalanya terpending, terkirim atau gagal. "NO CONNECTION". Itu tidak jadi masalah. Ada saatnya, ketika 'terhubung'. Semua daftar yang "centang" akan "delivery" dan di "Read" oleh Allah. 😇
#StatusHiburDiri

28 Februari 2017

Waktu begitu cepat bergulir tanpa terasa semua akan kembali kepada Sang Pemilik Waktu. Yang muda akan menua, yang tua akan kembali ke dalam tanah. Begitu seterusnya siklus hidup. 

Sejak dulu saya ingin sekali kuliah. Itu impian saya. Kuliah bagi masyarakat dinilai tinggi pikirannya. Tetapi, saya hanya 'haus' pengalaman. Supaya nambah teman. Pengetahuan ter-upgrate. Kalau dibilang usaha, itu wajib. Sudah sangat keras usaha saya jika dibilang. Namun, kesuksesan saya hanyalah karena Allah. Mungkin saja kelak saya akan lebih sukses lagi. 

Awalnya saya ingin kuliah, jurusan Kimia atau Fisika. Dua mata pelajaran yang paling saya suka. Ternyata saya gagal masuk SNMPTN jalur undangan. Tetapi, saat mendengar salah satu teman saya. Dia bisa lulus dengan nilai pas-pasan. 

Luka di palung hati membekas. Sejak masuk SMA saya selalu prioritaskan belajar. Tak heran, jika bisa mempertahankan rangking paralel utama berturut-turut. Tetapi, yang paling saya sedihkan justru di semester akhir. Pas menjelang kelulusan. Malah anjlok. Kalah sama teman bangku. Dia yang rangking 11 bisa menjadi rangking 1. Mengalahkan saya. Saya menjadi nomor 2. 
Saat dipanggil untuk diberikan penghargaan, saya malu. Tiga kali dipanggil oleh pembawa acara. Saya baru berani naik podium. Ayah saya terlihat kecewa. Kok bisa turun? Karena kelalaian. Tahun di mana saya lebih senang main FB daripada belajar. Akhirnya begitu deh. 

Ternyata kejadian sepele itu merenggut masa depan saya. Sejak kegagalan SNMPTN, saya down. Tidak ingin ikut SBMPTN atau jalur Mandiri lagi. Apalagi ditambah dengan tak dapat daftar ulang di PTS swasta yang saya diterima jalur undangan. Double patah hati. 

Saya alihkan pada pekerjaan. Membantu saudara, mengelola parfum dan kebutuhan laundry. Hanya 3 bulan. Saya bosan dengan bayarannya. Tidak memadai dengan rasa remuk saat malam Berurusan dengan liter-an metanol. Membuat puluhan trika, molto, dsg. Memang saya suka kimia. Tetapi, saya tidak bisa kuliah. Jika penghasilan minim. Kota kecil saya, minim UMK.

Bertolak dari Situbondo menuju Denpasar-Bali. Mengadu nasib. Orangtua saya tinggal di sini (Bali). Sejak kecil saya tinggal dengan Nenek dan Paman. Tetapi, soal tugas sekolah. Saya tidak bisa meminta bantuan Nenek. Beliau buta aksara. Itu yang membuat saya suka membacakan kisah Nabi sejak SD. Semangat belajar dipacu lebih tinggi. Agar keluarga saya tidak dipandang sebelah mata. Agar saya bisa membuktikan kepada Mama. Saya bisa menjadi anak sukses kelak.

Tinggal dengan lingkungan baru. Saya sebelumnya sudah cari informasi kuliah D1 bergengsi. Notabene bisa langsung kerja atau lanjut S1. Ternyata sampai di kota tujuan. Sebagai lulusan tahun lalu, tidak bisa mendapatkan potongan harga, yang dijanjikan. Khusus Fresh Graduate saja. 

Padahal waktu ada Expo kampus di Situbondo, saya selalu hadir mencari peluang kuliah. Tetapi, tidak bisa. Dana saya kurang. Alternatifnya, berkerja. Dengan gaji UMK menggiurkan. 

Sudah training 3 bulan. Non stop. Tidak ada libur. Selama 90 hari. Saat itu benar-benar kerja total. Bahkan sering dapat jatah lembur. Senior sering absen. 

Di tengah Februari 2015 saya mendengar kabar, bahwa Kampus Swasta Malang memiliki banyak koneksi beasiswa. Termasuk beasiswa Exchange ke Eropa. Januari saya pernah ikut Expo kampus luar negeri di Denpasar juga. Menggali informasi. Tidak mudah untuk masuk daftar penerima Beasiswa Luar Negeri. tu impian saya. S2 Ke German. 

Sudah matang dengan pilihan, ditambah di PTS tujuan bisa sambil kerja part time. Saya resign setelah 6 bulan kerja. Dengan pilihan yang matang. Mama saya, menolak untuk kuliah. Baginya cukup investasi hasil kerja. Saya memilih kabur.

Sendiri, pulang ke Situbondo. Sebelumnya sudah bicara juga dengan Paman. Mengenai impian kuliah di kota Apel. Uang tabungan memadai, untuk bisa kuliah. Saya pun tak segan berangkat seminggu setelahnya. Demi ikut test masuk. 

Berbulan-bulan menunggu peresmian menjadi Mahasiswa, setelah dinyatakan lulus tahap 1. Ada tes wawancara juga daftar ulang. Bukan hal mudah. Mengingat uang saya hasil tabungan yang disisihkan selama 6 bulan merantau. Masih kurang. Setelah kursi ruang tamu dijual. Untuk menambah kekurangan biaya. Pun masih kurang. 

Akhirnya saya meminjam uang kepada orangtua sahabat yang merekomendasikan kampus tujuan saya, menurutnya sangat bagus untuk saya. Saya yang suka menulis bisa diasah di jurusan ini. 

Alhamdulillah, dengan harapan yang menipis untuk bisa kuliah. Akhirnya ditransfer sejumlah harga laptop bekas. Besar nominalnya. Saat beda transfer bank. Dikenakan potongan admin. Uang 100 rb malah nyangkut dalam rekening. Saya bingung untuk bayar DPP butuh seratus ribu. Dari mana lagi. Akhirnya saya hubungi sahabat lama yang juga kuliah di kampus yang sama. Alhamdulillah. Setiap kegagalan, pasti ada jalan menuju kemenangan. 

September 2015 resmi menjadi Mahasiswa Baru. Tak masalah meskipun lulusan tahun lalu. Saya lebih PD (percaya diri). Ditambah pengalaman kerja Pramuniaga, lebih sering bercakap dengan orang. Saya terlihat unggul. Sehingga teman memilih saya sebagai Ketua Tingkat.

Bagi saya, kuliah itu menyenangkan. Bisa bertemu dengan banyak orang sukses. Menambah ilmu dari Dosen, ketemu orang dari latar belakang beda. Mengingat kampus saya akreditasi A. Diincar banyak mahasiswa seluruh nusantara, termasuk mahasiswa Asing. 

Kenyataannya, jalan penuh lubang. Untuk biaya ujian UTS. Harus memenuhi administrasi. Lagi-lagi saya harus pinjam. Saat itu ibunda sahabat yang pernah memberikan bantuan. Pindah Malang juga. Saya yang ditugaskan mencari rumah kontrakan. Sahabat saya meski sudah kuliah lebih awal. Masih sering minder ketemu orang, jadi saya menjadi kepercayaan Ibunda, sekaligus kaki tangannya. 

Life is adventure. Di kampus saya sempat jualan cilok dan rujak petis. Semester pertama. 24 SKS harus ditempuh dengan tambahan kuliah pagi--pada hari minggu. Juga, kuliah Bahasa Inggris wajib D1. Membuat saya memilih menitipkan jualan di kantin. Ternyata saingan seperti monster. Milik saya ditelantarkan. Tidak dijual. 

Masih lekat dalam ingatan, dengan pakaian wajib ujian. Menggendong box berisi rujak dan cilok yang tak laku. Saya malu, karena pakaian resmi. Sehingga pilih pulang dengan puluhan bungkus yang tersisa. Kenapa saya tahu, milik saya ditelantarkan. 

Saat dipantau, jualan saya dibiarkan di kotak. Saat saya verifikasi, alasanya etalase penuh. Pun lain hari, saat membawa berkantong kresek. Lebih sedikit. Saya pajang di etalase sendiri. Saat sore berpura-pura jadi konsumen. Si penjaga kantin bilang milik saya sudah habis. Senangnya minta ampun. Setelah saya ambil uangnya. Ternyata ada sisa 9 buah. Dari 12 yang saya titipkan. 

Demi ingin kuliah saya usaha. Nyambung hidup, ngampung dengan bunda Sahabat yang punya anak kecil banyak. 

Kerjaan saya jadi banyak peran, Kuliah-Kerja-Organisasi-Rumah Tangga. Membantu mengasuh 2 bayi kecil. Usia 2 tahun dan 1 tahun. Gak usah bayangin deh, bagaimana keadaan rumah tiap hari. Hehe. Meski tidak menyewa pembantu atau baby sister. Alhamdulillah saya masih bisa membagi waktu. Waktu bersih-bersih, kuliah, jaga adik-organisasi. Sama sekali saya tidak pernah kewalahan. Kecuali saat membayar uang untuk ujian. Sambil gendong bayi. Akhirnya, bisa dapat dispensasi. Bayar 50 persen. Sisanya dibayar bulan depan. 

~*~

Beruntung saya punya teman organisasi. Walaupun pernah diremehkan teman dekat saya. Menurutnya ikut organisasi itu radikal. Pemikirannya terlalu keras. 

Tetapi, jujur saat ujian Akhir Semester 1. Saya dibantu dari segi dana. Masyaallah. 

Sudah banyak pengorbanan, minta bantuan kepada Dekan, Kajur, hingga bagian Kemahasiswaan. Mereka tidak bisa bantu. Sempat terpikir untuk minta bantuan rektor. Tetapi, saya malu. Saya memutuskan untuk jalur terminal. KTP sempat diplong. Tidak tercatat sebagai mahasiswa. Ya seperti yang saya jelaskan tadi. Organisasi saya yang justru membantu, memulihkan status mahasiwa yang (sempat) hilang. Juga bantuan dana. Sepertinya saya ingin menangis sekarang. Bagaimana tidak. 

Sejak peristiwa kabur dari Bali. Orangtua saya lepas tangan. Tak ada yang bisa bantu lagi. Ibu angkat saya juga tidak bisa membantu. 

Saya juga dicemooh, saat bicara ingin minta beasiswa. "Kamu itu salah jurusan, harusnya tidak masuk jurusan notabene favorit." 
Memang benar jurusan yang saya tempuh notabene, jurusan artis. Sering kali dikaitkan mahasiswanya artis. Karena jurusannya masih berhubungan dengan jurnalistik, humas, dan pertelevisian. 

Saya lulus Semester 1 dengan IPK baik. Meski saya merasa sedih. 2 mata kuliah kurang memuaskan. Saya tidak ikut kuliah saat sedang ngurusi berkas terminal, maupun berkas aktif kembali. 

IP saya 3.6 😭 

Alhamdulillah, bersyukur. Ternyata di kelas saya yang paling tinggi. 🙌 Semangat kuliah naik drastis. 
Orang tua angkat saya, kena problem besar. Saya tidak tahu bagaimana untuk Semester 2. Akhirnya saya mencari lowongan kerja. Beberapa interview dilewati. Tetapi, status mahasiswa baru. Membuat saya sulit diterima. 

Dengan izin Allah, istri sepupu saya punya keluarga di Malang. Mereka bersedia membantu dengan syarat saya harus tinggal bersama. Menjaga Eyang kakung dan Uti. Fasilitas makan terjamin. Dengan gaji perbulan setara dengan kerjaan. Asisten rumah tangga. Ya! 

Demi kuliah, akan saya lakukan. Asal Halal. Ternyata, kabar saya kuliah terdengar di telinga orangtua saya. Mereka nelp bicara. Setelah 365 hari tidak bicara. Saya hanya menghargai. Menjawab pertanyaan. Meski rasa dongkol masih tertanam. Dia bilang janji, akan biayai ujian tengah Semester nanti. 

Sudah semangat kuliah, karena sudah bakalan ada yang tanggung. Hanya minimal Semester 2 baru bisa ajukan beasiswa. Setelah memegang IPK. 

Ternyata, dia ingkar. Saya tak bisa ujian. Semuanya terlihat gelap. Hari itu saya pulang. Rindu nenek yang sudah tua. Harusnya saya tinggal bersamanya. Akhirnya impian kuliah S2 German luruh. 

Impian terbesar kedua adalah menulis. Selama kesibukan yang menyita waktu tidur hanya 2 jam tiap hari. Membuat diri saya berdosa. Beberapa naskah berhasil dilayangkan ke koran. Namun gagal. 

Sejak di Situbondo. Saya merasa seperti orang gila. Tidak punya masa depan. Sekarang S1 sudah biasa. Untuk kerja rata2 harus berpendidikan. Apa daya tangan tak sampai memeluk gunung. 

Setelah vakum, saya bekerja ikut proyek. Sebagai admin. Proyek pembangunan. Mimpi yang meletup seperti kembang api. Malah semakin besar. Saya harus konsern ke kerja ini. Ternyata 3 bulan saja. Setelah mendapat kabar burung yang membuat saya harus resign kembali. :'( 

Tahun 2016 tahun intropeksi diri. Saya sendiri sudah hafal dengan beasiswa PTN. Sudah tahun ketiga. Tidak bisa kuliah masuk jalur beasiswa. Tangan meski berpangku. Sering sekali saya menulis pada buku. 

Impian punya laptop sejak lulus SMA, tak kesampaian. Padahal saya kerja banting tulang. Allah.Terkadang saat waktu luang di tempat proyek saya menulis. Sempat ditanya bos. Ngapain? Nulis. Pake kertas HVS bekas. Hehehe. 
Ingin sekali saya bersandar. Saya pernah menulis resolusi 2017 menikah. Agar bisa menyalurkan impian kuliah pada anak saya kelak saja. Benar hampir menikah, gagal. Kemudian saya berpikir fokus kerja. Kamu tahu saya kerja di mana? Parfum lagi. Tetapi dengan posisi marketing internet. Tetap saja gaji seperti dua tahun silam. Bersyukur setidaknya bisa buat beli pulsa internet. 
Banyak sekali event menulis. Draft sudah selesai. Namun, keterbatasan menulis itu membuat saya gundah. Harusnya saya bisa merampungkan tulisan 100 lembar 10 hari. Harusnya. 😒

Kebanyakan berpikir atau aktivitas lain yang saya enggak tahu gimana masa depan tulisan saya.

Maret ini saya dilamar orang. Tetapi saya belum yakin. Karena terlanjur continuous.
Mengejar kuliah

Saya sudah daftar BLK (Balai Latihan Kerja), tinggal test saja. Kemarin ditawari kuliah sama mama saya. Semoga tidak PHP. Sembari saya ingin ikut kursus menjahit. Sebagai tunggangan awal, bekal kuliah kelak. 

Harapan saya satu, Kuliah, Entrepreneur, Penulis. Yang pasti bisa menginspirasi bersama. 

Situbondo. 

#KF3Days 





 Yakin Usaha dan Berdoa ~Baiq Cynthia

Jika Mesin Waktu Itu Ada

Penyesalan adalah hal yang tidak bisa ditarik kembali. Hal yang sudah terjadi kemarin tidak bisa diulang. Apalagi diubah. Masa kini tetaplah hari ini. 

Jika kemarin itu menjadi hal paling menyenangkan. Mungkin hari ini menyedihkan. Juga sebaliknya. Hidup selalu berada dalam ketidak pastian. Hidup hanyalah sebuah misteri yang sulit dipecahkan. 

Jujur, terkadang saya ingin kembali ke masa lalu. Ingin memperbaiki hal yang pernah rusak.Impian yang tertunda. Kehidupan hanyalah pilihan. Jika salah satu pilihan itu salah, bisa menimbulkan kesalahan yang berkepanjangan. 

Sampai saat ini saya sering melamun, ingin memperbaiki masa lalu. Masa SMA lebih tepatnya. GOLDEN TIME. Masa yang menentukan jalan yang lebih dewasa. 

Seharusnya dulu saya lebih berfokus dengan Ujian Nasional. Bukan sibuk merindukan anak orang. Memikirkan hal yang belum pasti. Akibat kelalaian saya dalam mengerjakan ujian. Nilai Ujian amblas. Biasanya rangking 1 yang selama ini disabet berturut-turut dari semester 1 hingga semester 6. Menjadi rangking 2. Rasanya luka itu kian mendalam. Ditambah saya tidak bisa lulus ujian masuk PTN. Ketika saya diterima jalur undangan PTS. Justerus orangtua saya tidak memiliki dana. Histeris. Menangis. Seolah masa depan suram. Benar saja. Saya tidak kuliah. Saya pergi ke Bali. Demi peruntungan. Mencari bekal untuk kuliah tahun depan. Usaha saya untuk mendapatkan beasiswa pemerintahan dinilai gagal. 

Enam bulan berlalu, saya tidak ingin melewati moment hidup terlalu lama. Khawatir rasa ingin belajar pupus. Saya pun terbang ke Malang. Demi masuk Perguruan Tinggi yang diidamkan. Ternyata hanya bertahan satu semester 2 bulan. Bukan tanpa liku. Hingga KTM saya pernah plong. Karena saya frustasi. Tidak ada yang membatu. 

Saya menyesal. Mengapa saya pergi ke Malang. Meninggalkan kerjaan tetap. Harusnya saya lebih bersabar. Menunggu uang lebih banyak terkumpul. Demi impian. Penyesalan hanyalah penyesalan.
Kini memasuki tahun ke-4 saya sudah satu tahun vakum, hanya ingin menjaga Nenek saya. Tetapi, mendapatkan tawaran kuliah lagi. Itu benar-benar membuat saya bingung. Di sisi lain saya ingin ikut kursus menjahit. Pilihan ini terkadang berat. Entahlah. 
Mesin waktu tidak bisa diubah, kalaupun saya bisa kembali. Saya ingin tidak gegabah mengambil keputusan. Selama ini saya hanya memikirkan diri sendiri. Ternyata saya malah gagal. Bertubi-tubi. 
Seharusnya saya mendengarkan, nasihat orantua. Tidak ada nasihat yang menyesatkan. Sekalipun, sifat orangtua tidak baik. 

Saya ingin menjadi sesorang yang lebih dewasa, tidak menyia-nyiakan waktu. Kesempatan. Karena awal kehancuran kita, karena rasa percaya diri yang tinggi. Menganggap semua akan mudah. Padahal hidup ibarat lomba. Jika tidak berkerja keras, maka akan kalah. 
Jika saya bisa memperbaiki, saya tidak aka percaya kata orang. Lebih punya prinsip. Saya tidak akan menyia-nyiakan waktu. Saya akan benar-benar berusaha. Demi masa depan saya. 
Masa depan yang tertunda sampai saat ini adalah kuliah. Banyak aral melintang demi kuliah. 

Selain itu, saya ingin meminta sebuah kesempatan. Kepada mesin waktu. Jika ada. Saya ingin kembali belajar tekun menulis. 2013 saya lebih semangat menulis. Tetapi 2014 saat tuntutan kerja yang keras di Bali. Saya enggan menulis. Saya merasa tidak cakap menulis. 

Ada penulis senior, berkata kepada saya. Menulis tidak harus menunggu waktu tidak sibuk. Semua orang itu sibuk. Mereka yang memanfaatkan waktu dengan baik. Mereka yang beruntung. 
Seperti dalam Janji Allah pada surat Al-Ars. Pada surat ke-103. Allah berjanji pada waktu. Sungguh, manusia berada dalam kerugian (2), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (3)

Intinya, jika ada mesin waktu aku hanya ingin memperbaiki waktu yang aku sia-siakan. Waktu 24 jam yang kita miliki bersama harus benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin. Juga patuh kepada nasihat orangtua. Selain itu tetap menulis. Berkarya tanpa pamrih. Menulis sebuah hobi. Yang jika ditulis dengan hati akan membuat si penulis selalu terinspirasi. 

Sejatinya hidup pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Kelak. Saya ingin kedepannya lebih pandai memanage waktu. Karena waktu tak ada mesinnya. Tak ada yang bisa mengendalikan waktu untuk berhenti. Atau diulang lagi.
#KF3Days

Saturday, March 4, 2017

Persahabatan Masa kecil

Ada banyak seseorang yang datang dan pergi dalam hidup kita. Mereka yang datang karena dipertemukan oleh takdir. Ada pula yang bertemu karena cinta. Bisa jadi ketemu hanya sekedar jumpa, secara kebetulan. 

Sejatinya kita bertemu tanpa jadwal, tanpa harapan. Begitu pula dengan teman. Mereka hadir karena kita tak mungkin sendiri. Teman yang memiliki kesamaan prinsip, tujuan yang sama bisa menjadi sahabat. Jalinan ikatan yang saling mengokohkan. Saling bahu-membahu. 

Persahabatan yang saling merindukan satu sama lain. Sahabat kecil yang selalu saling mensupport. Berbagi setiap kesulitan. Berbagi tak harus kebahagiaan, berbagi setiap beban. 

Sahabat paling manisku, dia yang selalu berbagi. Kisah yang lucu, maupun pilu. 

Dia yang mengatakan apa adanya, tanpa maksud lain.

Berhubung kami telah terpisah jarak. Sudah tidak bisa seperti dulu. Bercanda hingga julukan jelek sekalipun. 

Sahabatku. Dia yang mengerti dan memahami. Sukses selalu. Semoga bisa berjumpa lagi kelak. 
*)Gak begitu panjang kisahnya. Sedang dalam long trip. Sekarang saya kembali pulang harus menempuh 9 jam lagi. Ganbatte. Oyasumi



Ini permen oleh-oleh sahabatku yang di Australia.

~Sumenep