Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.

Tuesday, January 31, 2017

Bagai Kunang-Kunang (Tanpa) Cahaya [Inspirasi]

​Sebenarnya ini uneg-uneg yang ingin saya tuangkan. Sejak semalam saya tidak bisa tidur. Bukan karena insomnia. Tetapi karena pikiran dan sakit. Saya sakit malah semakin ‘gila' dalam berpikir. 

Diawali dengan salah satu grup WA yang mengirimkan informasi berkenaan beasiswa Unggulan dari Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan. Saya senang saat melihat persyaratan, bisa masuk kategori tersebut. Setelah mencerna dan kembali membaca halaman selanjutnya. Halaman yang ternyata adalah page 1. Nyali saya ciut. Impian untuk melanjutkan pendidikan seperti berhenti begitu saja. Padahal saya sangat memimpikan untuk bisa lanjut ke tahap yang lebih tinggi. 

Saya tidak pesimis. Membaca kesempatan lainnya bisa menjadi alternatif. Beasiswa Non Degree yang dikhususkan untuk mereka yang berprestasi selain mahasiswa dan Dosen yang masih memiliki relevansi dengan Pendidikan dan Kebudayaan. Seperti guru, seniman, pendidik dari PAUD-SMK, dsg. 

Kembali mengevaluasi diri. Selama 2016 saya berhenti kuliah. Sejak saya tahu tidak ada yang akan memberikan bantuan dana. Biaya pendidikan yang begitu tinggi nyatanya tak sanggup orangtua menanggung. Sebelum saya memberanikan diri terjun ke salah satu fakultas paling diminati karena Ayah saya pernah berjanji bisa mengusahakan. Dengan jalan menjual sepetak tanah yang dimiliki. Juga saran dari teman saya, bahwa di kampus yang akan saya jalani banyak bantuan dan subsidi. Seperti bisa kerja paruh waktu, menulis artikel atau gagasan yang dimuat di media. Dan lain sebagainya. Jujur sebagai anak baru kemarin saya kelimpungan. Tidak hanya berkecimpung dalam tugas kampus baik individual maupun kelompok. Saya masuk dalam organisasi dan kegiatan komunitas lainnya. Seperti Rumah Inspirasi Malang. Dari sana saya banyak mengenal hal baru, seputar kampus dan lingkungan Malang. Saya sudah mulai menargetkan impian tiap bulan dan tahunnya. 

Ternyata kehidupan tak sesuai yang saya persepsi. Saya harus bisa bagi waktu antara kampus, organisasi, dan tugas rumah. Juga informasi kerja paruh waktu untuk semester atas.

Berhubung saya tinggal bersama orangtua angkat tugas saya menjadi bertambah termasuk menjaga dua adik yang belum balita. Tapi, saya merasakan itu mengalir seperti air. Meski kadang saya harus memulai rutinitas dari dini hari agar tak terlambat kuliah maupun pulang organisasi tengah malam. 

Life is a procces. Banyak yang menganggap saya hidup aman, damai dan tentram di Malang. Nyatanya memang seperti itu. Saya tak pernah terbebani kuliah ke rumah dengan jalan kaki 800 meter lebih. Belum dari Gerbang kampus menuju kelas yang ditempuh 5-10 menit jika berjalan dengan cepat. 

Pun saya belajar marketing dengan menjual rujak buah dan pentol goreng. Ibu angkat saya yang membuat. Tetapi saya tidak merasa malu menjual sebelum kelas dimulai. Juga menitipkan ke kantin. Meskipun persaingan ketat. Banyak yang berbondong-bondong nitip di kantin. 

Buktinya, saya harus memikul kembali saat sore datang. Box berukuran 60x50x40 cm3. Aslinya bisa di dorong. Namun saya tak ingin banyak yang melihat. Jadi saya dekap saja. 

Hingga suatu hari saat saya ingin menjemput pentol goreng. Si petugas kantin tiba-tiba mengatakan sudah habis. Mereka pikir saya costumer. Saat saya jelaskan bahwa ingin mengambil uangnya. Nyatanya, sisa dagangan masih ada dalam kantong hitam sebagai jualan yang belum laku. Dari situ saya paham mengapa jualan saya selalu tidak laku. 

Sebagai mahasiswi semester 1, SKS yang wajib ditempuh 24. Ditambah kegiatan ESP dan keagamaan (Ahad Pagi). 

Awalnya saya tidak merasa terbebani, namun saat menjelang UTS ada syarat yang harus ditanggung salah satunya administrasi. Saya down. Saya tidak tahu harus membayar dengan apa. Orangtua saya angkat tangan.

Pikiran kalut hingga kebaikan dari orangtua angkat yang bersedia membantu mengantar separuh. Memang segitu bisa membantunya. Akhirnya saya merengek kepada bidang Keuangan untuk permintaan dispensasi. Saat itu pula saya menggendong adik angkat saya. Ibu angkat kebetulan pergi ke suatu tempat.

Saya tidak mungkin lupa. Bagaimana saya mengambil uang di bank saat si kecil kehausan tidak ingin minum susu instan. Juga hari terakhir pembayaran. 

Ternyata saya bisa mendapatkan dispensasi. Senang sekali. Semua berjalan lancar tak sebentar. 2 bulan berikutnya saya kembali pusing dengan tagihan dispensasi juga kewajiban administrasi UAS. Berarti ganda yang harus dibayar. Kembali saya menelpon rumah berharap masih bisa mendapatkan uang. Ternyata nihil. 

Siapa bilang saya gak depresi. Hampir 3 kali masuk rumah sakit karena beban pikiran yang ditanggung sendiri. Saya bingung, saya mencoba datang ke salah satu senior saya di RIM yang juga sebagai Humas di kampus saya. Dia memberikan banyak alternatif. Namun, harus berujung dengan biaya juga.

Seperti seonggok kertas yang kehilangan tinta. Tak ada kisah. Kosong melompong. 

Saat itu saya gusar. Tidak bisa bekerja paruh waktu. Mengingat hampir 20 jam saya sibuk dengan tugas rumah dan kegiatan lainnya. Akhirnya saya putuskan sendiri. 

Drop out! Jalur terminal. Sebelumnya saya rela membolos kelas demi bisa menemui Kepala Biro Mahasiswa, mencari saran atau alternatif. Setelah saya menemui 3 orang penting juga. Dan tahu apa yang dikatakan. 

Sesuatu yang menyakitkan. Entahlah saya tak ingin luka lama bersemi kembali. 

Sudah banyak yang saya pertimbangkan, dari segi finansial dan kesempatan ikut ujian. Hanya hitungan hari namun tak bisa. Sebelumnya saya juga melamar kerja, namun satupun tak ada yang menerima lamaran kerja saya. Mungkin mereka berpikir anak kuliah tidak bisa membagi waktu kerja. Padahal saya sudah siap dengan segala konsekuensinya. 

Hujan rintik mengelus puncak kepalaku. Saat itu aku menoleh ke lantai 5 di sana tampak teman kelas yang akan masuk kelas. Sebagai wakil kating saya merasa rindu. Jika harus meninggalkan kelas. Saat-saat mengambil kunci kelas atau menemui dosen bertanya jam mengajar. 

Langkah kaki sudah pasti, menuju BAA. Tempat mahasiswa mengajukan non aktif atau cuti, maupun aktif kembali, atau membuat KTM baru, juga yang ingin mendaftar kampus.

Namun, tujuanku beda. Aku hanya ingin berhenti. Aku berpikir jika tak berhenti suatu saat ditagih biaya administrasi yang nyatanya saya tak mengikuti. Mungkin pikiranku terlalu singkat. Siapa lagi yang mau mewakili. Orangtua tak mengayomi putrinya. Menyebutkan kata itu hanya membuat bulir bening mendarat tanpa halangan. 

Beberapa hari lalu saya menemuinya, saya sudah diberi waktu untuk berpikir juga konsultasikan ke atasan. Saya tak ragu pun menggandeng Gubma (Gubenur Mahasiswa), saya sangat bersyukur sudah dibantu selama ini. Tanpa menyebutkan nama. Saya ucapkan terima kasih. 

Berhadapan dengan sosok yang sabar, mengurusi mahasiswa yang cuti maupun yang ingin aktif kembali. Saya sudah siap meski menggigit bibir mendengar pernyataannya. Satu kali dihapus dari sistem. Sulit untuk mengembalikan data mahasiswa yang bersangkutan.

Hanya anggukan dan mata yang sayu. Namun, saya masih duduk dengan tenang. Mendengarkan nasihat yang sangat indah. Namun, hati saya tetap menolak untuk tinggal. Saat itu saya pun menyerahkan KTM. Staf yang bertugas bertanya satu kali lagi. Saat dia menerima surat pernyataan yang saya buat dengan tanda tangan seseorang yang paling saya hormati diatas materai. Sah secara hukum. 

“Klek!” suara pelubang kertas yang memahat ukiran di atas ATM saya. 

Airmata menyeruak ingin keluar masih kuat bertahan di sana. Aku masih tersenyum, berterima kasih dan undur diri. Hujan mulai deras. Namun, sekali lagi kuabaikan. 

Pepatah bilang, “Kegagalan adalah awal kesuksesan”. 

Selamat Baiq kamu pulang dengan tangan hampa. Tanpa ijazah pun. Suara kecil yang terus berdengung dalam hati. 

Saya berjalan di trotoar menuju depan kampus, tempat menongkrong kami. Mencari ide-ide segar. Dengan pembahasan aktual.

Saat itu niat saya hanya ingin berpamitan kepada organisasi tempat saya ditempah tidak kurang dari 4 bulan. Tetapi, salah satu demisioner yang aktif membagi apa yang beliau punya. Mengatakan. 

“Cara berpikir kamu itu normatif, kamu lupa saat mempunyai kami. Berpikirlah yang tidak kaku.” 

“KTM saya juga bolong!” tiba-tiba membuatku kaget. 
Aku tak mengerti maksud ucapannya, tapi ada benarnya juga. Jika KTM bolong otomatis tidak ada nama mahasiswa lagi. Luntur sudah. Masa mau dianggap lulusan SMA? Sebuah pertanyaan yang membuatku diam seribu bahasa. Kamu tidak papa menjadi mahasiswa non aktif. Yang terpenting kamu masih status mahasiswa. 

Akhirnya kami mengadakan rapat dadakan, yang intinya harus mengembalikan status mahasiswa saya. 

Proses demi proses dibantu oleh Ketua Pimpinan organisasi saya. Hingga suatu masa di tanggal yang semestinya saya sudah hengkang dari tugas kelompok tenyata harus kembali lagi. Akhirnya opsi tugas kuliah menjadi individu semua. 

Masalah yang saya hadapi bukan semakin mudah, semakin runyam dan tidak jelas. Masih ingat dalam pikiran, terbetik rasa untuk menegak beberapa kapsul kadaluarsa. Beruntung segera dicegat teman seperjuangan saya. 

“Man Jadda Wa Jadda,” Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Alhamdulillah saat menjelang ujian, saya diajak oleh salah satu teman organisasi yang usianya bisa dibilang lebih tua dari saya. 

Saat itu mengajak berbincang 4 mata. Sejauh mana saya bisa memperbaiki, dan mempertahankan semangat jika diberi pilihan untuk masuk. Saya menjelaskan tekad baja yang selama ini malah disia-siakan dua orang yang harusnya menjadi tiang penyangga kesuksesan. 

Saya menjelaskan alasan saya memilih kampus dan jurusan tersebut. Latar belakang nekat. Hingga tak sadar bulir bening itu kembali menetes. 

Lelaki yang duduk di sampingku. Kami terpisah oleh ruang kosong dan suasana taman penuh dengan aktivitas mahasiswa yang mengerjakan tugas maupun kelas outdoor. Tak memecah konsentrasiku mendengarkan kisah ayahnya. Dulu pun pernah menjadi di posisiku. 

Saat finansial tak bisa dipungkiri menjadi hal yang “influence”. Pengaruh yang sangat besar. Menyebabkan dia mundur mengalah, mencari jalan lain. Berwirausaha hingga sukses. Berjanji ingin membuat anaknya sukses seperti yang tak kesampaian. Aku terharu, sekaligus iri. Beruntung orang di depanku memiliki ayah yang hebat. Berjuang keras demi masa depan yang tertunda. 

Jujur saat saya menulis di bagian ini, rasanya cairan panas mulai meleleh dari kelopak mata. Tak terbendung lagi. Sejak dulu impianku adalah bisa kuliah. Bersyukur masih ada tangan-tangan Allah yang membantu untuk bisa mewujudkan meski sesaat. 

Alangkah kagetnya saat tangannya menyerahkan sebuah amplop coklat dan menyeru agar aku menyimpan dalam tas. Aku tak tahu berapa jumlahnya. Menurutnya, itu sesuai dengan angka yang aku butuhkan. Jika ditaksir mirip dengan harga laptop yang saya idamkan selama ini. Alhamdulillah. 

Nikmat yang mana lagi yang Engkau dustakan (QS. AR Rahman)

Itu salah satu pengalaman yang tak terlupakan. Meskipun saya ingat 3 kali ditolak beasiswa. Beasiswa dari kampung halaman, kampus sendiri dan organisasi cabang kampung halaman. Kurangnya prosedur yang relevan. Padahal menurut guru BK saya, saya tergolong anak yang cerdas. Selalu menyabet Rangking Paralel. 

Bulan berikutnya saya tak bersama dengan orangtua angkat, saya tinggal dengan nenek angkat. Berkerja untuknya demi bisa lanjut kuliah. Menjaga sepasang lansia. Mengurus dan tugas membereskan rumah. Tak masalah meski jarak tempuh menjadi 10 kali lipat sebelumnya. Namun, kali ini saya menggunakan sepeda kayuh. Butuh waktu 1 jam untuk sampai di kampus. Atau 40 menit jika memotong jalan. 

Tenyata tak sesuai yang saya harapkan. Mereka hanya mampu membiayai uang persemester. Awalnya Mama saya yang tinggal di Pulau Dewata berjanji akan mengirim. Ternyata. Diluar ekspektasi saya. Justru uangnya untuk adik saya. Katanya ada biaya program rekreasi Bali-Malang-Yogya. 

Hatiku remuk. Sakit sekali. Percuma selama ini saya berjuang jika ujung-ujungnya menjadi sebuah ‘omongan’ saja. Banyak yang mengatakan saya itu kuat. Teguh, meski banyak pengorbanan yang selama ini ditolerir. Saya selalu mengalah demi kebahagiaan orang lain. 

Ternyata salah, ibarat sudah jatuh tertimpah tangga. Double sakit. Hari di mana seharusnya saya menggunakan kemeja hitam putih harus lusuh begitu saja. Saya dilarang meminta bantuan lagi kepada organisasi saya kata Ayah saya. 
Akhirnya mimpi saya pudar, seperti dicuri orang. Kejadian setahun silam yang masih berbekas dalam dada. Banyak teman yang bertanya kapan kembali? Bahkan saat waktu menyulap menjadi 2017 saya tidak mempunyai kekuatan lagi. 

Sempat saya banting stir. Saya bekerja di salah satu CV Konsultan. Bidang yang dijalani cukup berat berkenaan dengan rancangan pembangunan. Sayangnya hanya bertahan 3 bulan. Saya berhenti saat mendengar bujukan seseorang. Entah dapat bisikan setan dari mana. Saya berhenti.

Hampir 6 bulan menganggur, karena kota tempat saya tinggal minim lapangan kerja. Saya memutuskan pulang. Merasa iba dengan Nenek saya. Selama ini beliau yang membesarkan saya. 

Masih belum kering airmata kesedihan. Atas saran keluarga angkat di kota Apel. Saya katanya akan dijodohkan dengan salah seorang pengusaha. Dengan harapan saya bisa kuliah lagi. Menurutnya saya punya potensi. Sayang sekali jika dibuang sia-sia. 

Kembali merajut mimpi. Ternyata Allah tidak menghendaki. Buktinya proses itu berhenti secara perlahan. Seperti kapas yang jatuh di atas gundukan jerami. 

Hati mana tidak menangis, di saat ingin impiannya tersalurkan kemudian menemui jalan buntu lebih dari sekali. Saya sendiri bingung tidak bisa bekerja dengan omset katakanlah UMR. Untuk bisa kembali ke kampus putih. 

Seperti sembilu yang mengganjal paru-paru. Susah menambat udara, tak bisa bersua. Rasanya sudah tak ada lagi yang tersisa. Lantas apa yang harus saya lakukan? 

Lebih baik tak memiliki orangtua, daripada memiliki tapi seolah mati rasa. 

Mungkin aku anak durhaka mengatakan hal demikian. Lantas bagaimana peran dan tanggung jawab orangtua? 

Saya rasa itu cukup. Tak ada maksud menjelekkan pihak manapun. Dalam hal ini aku hanya butuh cahaya. Seperti kunang-kunang tanpa cahaya. Mengarungi dunia tanpa mata. 

Bersyukurlah kawan yang masih bisa kuliah. Karena di luar sana ada yang tidak beruntung mencapai impiannya. Meski kadang engkau memilih bolos demi kesenangan fanah. 


Salam dari Baiq yang ingin berjuang mempertahankan impian. 

Saturday, January 28, 2017

Jangan Tertawakan Mereka, Tertawakan Diri Sendiri (Tere Liye)

Hari ini saya sengaja share tulisan Bang Gere Liye Fans Page Tere Liye. 

Zaman sekarang sudah krisis dengan simpati dan empati. Hal kecil terkadang dibuat lelucon. Seperti yang viral beberapa hari ini. 

Berikut Pesan Bang Tere yang meminta untuk share. Saya copykan di sini. 

Jangan tertawakan mereka. Tertawakan diri sendiri.

YESTERDAY · PUBLIC

Lima-enam tahun silam, saat page ini punya like di bawah 50.000, saya pernah melakukan kesalahan fatal. Dalam sebuah tulisan, saya menulis, “anak muda sekarang, main gagdet, asyik betul, sampai lupa sekitar, menjadi autis.” Sungguh saya menulis kalimat tsb tanpa ada maksud apapun. Tapi tidak perlu satu jam, beberapa sudah menulis komentar keberatan. Ada yang marah2, ada yang ngamuk, dan ada yang mengirim email penuh kasih sayang, “Bang Tere, jangan menggunakan istilah autis. Karena itu bukan buat olok2, perumpamaan, lucu2an, atau apalah. Bang Tere itu penulis, nanti dicontoh orang lain. Bersimpatilah dengan ibu2 yang punya anak autis, autis itu bukan mau mereka.”

Saya terdiam lama sekali membaca email salah-satu pembaca. Ini betul sekali. Kalimat saya, meskipun tidak ada maksud apapun, itu boleh jadi menyakiti orang lain. Saya bergegas, memposting minta maaf karena telah menyakiti banyak pihak. Tapi itu tidak cukup. 4-5 tahun berlalu, setiap tahun sy menebus kesalahan ini dengan memposting postingan khusus setiap tanggal 2 April, Hari Autis Sedunia (bahkan hari ulang tahun saja sy kadang lupa, tapi khusus hari ini, rutin sy rayakan), agar kita bisa lebih memahami, menghargai dan menyayangi orang2 lain yang ditakdirkan demikian. ‘Mahal’ sekali harga penebusan dosa itu, dek, bertahun2. 

Dan bukan cuma soal autis, juga ada disleksia. 

Apa itu disleksia, kesulitan membaca, mengeja, menulis. Bagi mereka, menyebut kata “ibu”, bisa sangat susah sekali, menjadi “ubi”. Susah payah. Itu bukan mau mereka, itu adalah bawaan lahir. Dia sungguh mau bilang “ibu”, tapi yang keluar, “ubi”. Mau bagaimana? Juga saat membaca, posisi huruf terbalik2. Itu tidak mudah. Maka jangan dijadikan tontonan soal disleksia ini, dijadikan bahan lucu2an. Bahkan jika bagi penderitanya dia enjoy, tidak masalah, ikut tertawa. Tapi kita tidak tahu, mungkin bagi orang lain, itu menyakitkan. Jika itu tetap kita lakukan, kita justeru menikmati tertawanya, kita sungguh menyedihkan. Jangan tertawakan mereka, tertawakanlah diri sendiri, yang sangat memalukan hidup di dunia. 

Adik-adik sekalian, dunia ini semakin rusak, bukan karena orang2 jahatnya tambah banyak, tapi simpati dan empati kita semakin berkurang banyak. Saya tahu, banyak yg melakukannya karena tidak memahami, seperti saya dulu. Tapi lebih banyak lagi yg tidak peduli. Bahkan minta maaf-pun tidak telah menjadikannya tontonan--bahkan setelah dia tahu. Merasa baik2 saja. Semoga kita dijauhkan dari sifat: mudah sekali menilai fisik orang lain, hitam, pendek, pesek, keriting, sipit, dll. Dijauhkan dari tabiat: mudah sekali menghina kekurangan orang lain--merasa kita lebih baik. Karena kita tidak tahu, dek. Hari ini kita tertawa, besok2, boleh jadi giliran kita, keturunan kita yang ditertawakan. Saat itulah kita baru tahu betapa itu menyakitkan, bukan bahan lelucon.

*Tere Liye

Friday, January 27, 2017

Tidak Janji, Berusaha tidak mengingkari.

Hal yang saya berjanji tidak akan mengulanginya kembali. Adalah hal yang sangat berat untuk ditinggalkan. Masih berusaha untuk lebih semangat. Karena saya tahu efek dari hal tersebut menghanyutkan impian yang selama ini dirajut.



Malas adalah hal yang saya berjanji tidak diulangi lagi. Memang sulit tetapi akan  menjadi lebih mudah jika mencoba tidak melakukan kesalahan lagi. Malas sikap alamia semua orang juga pasti mengalaminya. Ditambah dengan perilaku yang menunda waktu. Mengabaikan seolah bisa rampung dalam sekejap. Oh, tidak lagi.


Kesempatan tidak datang dua kali. Mereka akan mendapatkan kesempatan di lain waktu. Karena waktu tidak dapat diputar. Kalau punya mesin waktu. Aku gak mau dekat-dekat sama malas. Sudah banyak pencapaian yang gagal didapatkan. Hanya gara-gara malas.


Orang sukses katanya sebisa mungkin mengalahkan ambisi untuk tidak jatuh pada lubang kemalasan. Entahlah apa kata dunia kalau aku malas. Bahkan rezeki bisa dipatuk ayam kalau bangun saja malas. Nanti Jodoh juga dipatuk ayam. :V


Sebenarnya tantangan ke 10 saya malas banget nulis. Kenapa? Saya sudah menulis tadi subuh dan selesai, tinggal copy paste. Berhubung wi-fi hanya ada di kantor saya sempatkan untuk mengirim ke Blog saat itu juga. Saat mengcopy paste saya tidak melihat kena sentuh delete dan word yang bekerja di hape otomatis menyimpan. Jadi tulisan hilang. Malas sekali saya nostalgia dengan yang saya tulis sebelumnya.


Kata malas sepertinya sering sekali masuk di neuron otak sampai saya pun sekarang memaksakan menulis. Menulis saja malas apalagi mencari jodoh? Herannya saya tidak malas menulis. Lebih kurang saya hanya mood-mood tan. Itu yang ingin saya tinggalkan dan berjanji tidak mengulangi lagi. Semoga saja saya bisa melupakan sifat malas.


Momon Kampus Fiksi terima kasih sudah mengadakan tantangan yang begitu membuat saya harus bangkit dari malas. Harapannya semoga bisa lebih rajin. Dalam segala hal, rajin membaca. Rajin menulis dan rajin memetakan masa depan.


Ini tulisan singkat saya. Sengaja singkat karena mencuri kesempatan menulis di Kantor. Hehe


Jumat Mubarak.


Selesai pulah tantangan #KampusFiksi10DaysChallenge


#Hari10


Thursday, January 26, 2017

Sepucuk Surat (tanpa) Penerima

​Ketika hujan mengguyur bumi. Daun yang kering merasa segar. Ketika waktu sudah kemarin, kita malah bubar. 

Masihkah tertulis namaku dalam memorimu? Sepertinya sudah tak ada lagi. Padahal aku begitu berharap bisa menjadi bagianmu. Aku tak mengerti. Apa yang terjadi pada masa depanku nanti. 

Andai saja kamu hadir di sini. Mengukir pelita saat sunyi. Ingin sekali aku mengatur mimpi. Bukan pertemuan yang tak berarti. Bukan angan yang terlupa. 

Saat satu waktu menjelma tanpa arti. Merasa semua tak peduli. Biarkan sendiri. Menatap langit tanpa mentari.

(Situbondo, 25 Januari 2017)

Terakhir menulis sebuah surat tanpa balasan itu bulan September 2016. Kini tantangannya menulis surat. Meski saya tahu tidak ada yang akan menerima. Biarkan surat ini mengudara. 


Kepada 

Sosok nan jauh di seberang mata.

Selama Pagi,

Langit masih membungkus kumpulan air. Tapi, menahan untuk tak menangis. Raut langit suram. Begitulah yang kurasakan. Bagaimana kabarnya? Berharap engkau masih selalu sehat wal afiat. Di sana pasti hujan terus-menerus. Tak dapat dibayangkan suhunya nyaris minus. Emm, bagaimana kabar Mama dan Papamu? Harapannya selalu bahagia selalu. Hari ini pasti engkau akan sibuk. Membanting tulang demi masa depanmu.

Aku tak tahu alasan yang tepat kuterima saat engkau menyatakan kita tak bisa bersama. Padahal aku sudah siap dan menerima segenap yang ingin engkau wujudkan. Maafkan aku yang pernah mendesakmu. Aku bukan bus yang bisa berhenti di halte. Pun juga aku ingin tetap melaju. 

Perjalanan masih jauh. Tapi, seolah engkau tak peduli. Aku merasakan jarum menusuk lebih dalam. Menghunus gumpalan coklat di dada. Hingga merah kental mengalir perlahan. 




Masihkah kamu berharap mengakhiri kesendirian menjadi kebersamaan? 




Tapi, cukup bulir bening ini mewakili. Separuh jiwaku pergi. Bukan aku tak ingin engkau memilih orang selain diriku. Namun, pernahkah engkau merasa? Ada hati yang terluka menanti kejelasan. Menanti jawaban. 

Setelah jawaban engkau putuskan. Engkau yang pernah merajut harapan dalam benakku. Kini pintalan rindu kau-gunting begitu cepat. Menurutmu. Aku terlalu baik? Oh tidak. 

Aku bahkan tak bisa membedakan mana hatiku mana hatimu. Setiap aku menyandarkan pikiran tentangmu. Seperti perasan jeruk nipis yang mengucur di atas luka. Perih.

Engkau yang jauh dipelupuk mata. Jika butiran waktu bisa menyesap air laut. Kurasa hanya sekejap berganti buih. 

Ah, aku terlalu puitis. Entah engkau mengerti atau tidak. Padahal intinya aku masih banyak berharap tentang kamu. 

Maafkanlah kekeliruan yang selama ini memberikan sebuah beban untukmu. 

Kau tahu tidak? Saat aku berusaha hanyut dalam kesibukan. Keponakan paling kusayang tiba-tiba duduk di pangkuan. Dan aku biarkan saja dia di sana. 

Beberapa menit kemudian, dia terlelap sangat manis. Tapi aku tahu masa depan dia ditentukan oleh orangtuanya. Kamu tahu tidak? 

Aku juga ingin masa depanku ditentukan oleh orangtuaku. Tapi, aku tak seberuntung mereka yang selalu bisa meminta kepada orangtuanya. Langsung dikabulkan. 

Sementara aku ingin mandiri. Jika aku boleh merangkai masa depanku. Aku ingin sekali engkau yang menuntunku. Membebaskan dari belenggu istana Rapunzell. 

Sayang sekali itu hanya impian yang pupus. Sudah tidak ada kesempatan lagi. Kurasa aku harus bisa berdiri teguh. Dengan harapan baru. Mungkin engkau akan menemukan apa yang selama ini menjadi misteri. Pun hal sama akan aku temukan keajaiban misalnya.

Keajaiban kita bersatu. Diam-diam, aku masih merindukan cara bercandamu. Cara senyum ranummu dan kejutamu. 

Oh ya, sekarang aku harus menidurkan si kecil di ranjang yang hangat. Dia sudah masuk dalam mimpinya. Mungkin bermimpi tentang tedy beat yang melawan dinosaurus. Karena sebelum tidur dia bermain dua boneka itu. 

Oh iya, kamu jaga kesehatan ya. Mungkin kamu suka terlambat makan dan tidur. Kuharap tak lupa juga berdoa. Semoga kamu bertemu dengan sosok yang kamu cari selama ini. 

Harapanku sederhana, melihatmu tersenyum itu lebih dari cukup. Biarkan aku menjadi sebatang lilin yang memberikan cahaya meski akan berakhir oleh jilatan api. 

Sayonara.

Ditulis oleh seseorang yang diam-diam mendoakanmu.

Situbondo, 26 Januari 2017

Semoga secarik kertas tanpa tujuan bisa mengudara bebas. Mengabarkan bahwa aku menulis surat untuknya. 

Wednesday, January 25, 2017

5 Fakta Ambivert yang berlawanan dengan Opini orang lain.

​5 Fakta tentangku yang berlawanan dengan opini orang lain.

1. Ramah itu adalah sikap asliku, sama sekali tak ada niatan menjadi orang jahat. Bagi beberapa orang yang masih belum kenal denganku. Aku adalah tipe yang jutek dan selalu cuek. Karena mereka belum mengenal. Kalau sudah mengenal pasti dia bakalan malu sendiri dan berkata, “Wah, kamu ramah ya! Tidak seperti yang saya pikir. Sebelumnya saya pikir kamu orangnya jutek dan sedikit cuek."

2. Aku masih muda, usiaku 20 menuju ke-21 tahun. Banyak yang menduga saya masih sekolah SMP dan SMA. Karena postur tubuh yang tinggi dan wajah baby face. Jika bertemu secara langsung anggapan anak sekolah sering kali dilontarkan kepada saya. “Kamu kok gak sekolah, ini kan hari Rabu?” Dalam hati aku mulai kesal. Wong aku sudah kerja. Masih sering dianggap bolos. “Maaf bu, saya mau beli pulsa dan kembali bekerja.” 

Tetapi, jika di kampus saya akan terlihat lebih tua. Mungkin dari penampilan yang sering saya gunakan. Juga di dunia maya. Seringkali sebutan mbak dan kakak itu dilontarkan. Padahal saya masih muda dan gak muda-muda amat. Mereka pikir saya berusia 27 tahun. Oh My God.

3. Jika jalan bareng sama adikku, mereka berpikir aku adalah adiknya. Padahal aku anak sulung. Loh ini kakaknya? Kok lebih besar adiknya. Sejak kecil hampir semua orang menduga saya adalah adik saudara saya. Padahal saya ya begini. Gak bisa gemuk. Kurus kayak tiang listrik. Terkadang juga saya sering dianggap saudara kembarnya adik saya. Padahal kami lahir selisih 1 tahun 7 bulan. Usia kami terpaut 2 tahun. Sering orang salah sebut nama. 

4. Ambivert. Beberapa orang beropini saya orangnya pendiam dan tidak asyik diajak berbicara. Padahal kalau sudah bisa ngomong. Boro-boro diam. Kereta api yang gak punya titik dan koma. Ya itu saya. Dalam satu sisi saya diam. Lebih suka sendiri walaupun di keramaian. Saat sudah punya kesempatan, saya mulai aktif. 

5. Hemat. Sering sekali saya berantem dengan adik saya. Dia pikir saya tidak memberi itu karena pelit. Padahal saya sedang hemat. Guna masa depan dia juga. Selain itu, saat ujian saya akan menjadi individualis. Biarkan saja mereka memanggil. Jawaban saya adalah ‘tidak tahu' memang kenyataannya tidak tahu. Karena saya menjawab soal dengan nalar yang dimiliki.
Jangan melihat sesuatu hanya dari covernya. Ada lagi yang tidak tahu mengenai saya sok-sokan dekat dan sampai mengecap saya sombong lah. Apa lah. Mereka yang begitu tuh. Sok tahu. Biasanya yang mengecap orang sombong, karena keseringan berbuat demikian. Makanya dia tahu mana yang sombong dan enggak. Hahaha

Tuesday, January 24, 2017

Embun Menangis Bahagia

​Tulisan yang membuatku merasa kuat. Ketika aku rapuh aku ingat masih ada orang yang menyayangi. Membuatku bangkit dari kegagalan, kesedihan yang berkepanjangan. Kepiluan tanpa keringanan.

Saat tak ada seorang pun yang membantu. Aku pun merasa dunia sudah akan benar-benar berakhir. Aku tak memiliki, apa yang mereka miliki. Tak sebahagia seperti tawa yang mereka buat. 

Aku sadar aku sudah rapuh. Aku butuh sosok pelindung yang selalu menghibur. Selalu hadir saat kesedihan datang. Mengajak bercanda dengan angin. Menggapai impian yang tak pasti.

Mungkin saja aku lemah dalam bidang mencintai. Hingga tak satu pun orang benar-benar sayang seperti kasih sayang Umi dan Babe.

Apalah arti mencintai jika masih menyakiti? Apakah aku tak pantas dicintai? Apa kurangnya? Aku selalu mencoba menjadi bagianmu. Tetapi, selalu diabaikan. 

Memang aku tak secantik barbie, aku tak sesholeha Fatimah binti Az-Zahra. Aku juga tak sepandai wanita karier lainnya.

Sesungguhnya aku lemah karena tak ada dukungan dari wanita yang membuatku hadir di muka bumi yang ganas ini.

Apakah kamu takut hanya karena itu? Hingga abaikanku? Aku minta maaf jika selama ini engkau merasa lemah. Namun, aku tak mensupport. 

Aku tahu, aku wanita lemah. Bukan berarti aku lemah dalam segalanya. Aku masih kuat berjalan kilo-an meter. Mengayuh sepeda puluhan kilometer. Berteriak memanggil masa depan. Agar turut menemani.

Aku tahu aku bukan kekasih yang baik. Selalu membuatmu khawatir. Aku tahu. Tapi aku sama sekali tak bermaksud. Selamat jalan.

Semoga di jalanmu yang baru engkau menemukan kepingan hati yang merindu tentangmu.

Tulisan yang membuatku kuat 

1. Setiap masalah akan menemukan titik temu akhir.

2. Saat engkau merasa lelah dengan perjuangan yang tak pernah berhasil. Tuhan selalu hadir. Mengusap kepalamu. “Jangan bersedih.”

3. Ketika waktu membuatmu lupa. Pernah melewati bersama kekuatan. Kini berganti lemah. Tak masalah. Bahkan semakin tinggi pohon semakin kencang angin berembus.

4. Pejamkan mata saat kamu merasa lemah. Bangunlah dengan kekuatan yang lebih menguatkan.

5. Ketika kamu tahu kamu naif, tak adakah upaya untuk tegar?


Itulah salah satu mengapa aku lebih sering menulis kalimat inspirasi daripada mengeluh. Aku ingin menjadi orang yang kuat dan selalu tahan banting oleh zaman yang berputar.

Monday, January 23, 2017

Saat Engkau Memandang Sebelah Mata

​Membanggakan sesuatu tiba-tiba orang lain meremehkannya.


Saya pernah mengalaminya. Tepatnya setelah lulus sekolah. Ceritanya gini. Waktu itu saya ikut bantu kerja di sepupu saya. Hobi saya menulis sejak setahun sebelumnya, mencoba terjun di dunia itu. Mulai mencari link dan teman yang suka menulis di Facebook. Hingga bertemu dengan mereka yang menulis secara produktif. Ken Hanggara, Lindsay Lov dan Siti Khumairah. Mereka menekuni genre yang berbeda. Jika Ken Hanggara lebih condong ke Horor, dan bermain imajinasi. Lindsay Lov suka genre romance, thriller dan horror juga. Siti Khumairah condong ke Religi dan Romance. Namun di tahun ini dan sebelumnya, beliau (red-Siti) sudah tidak terlihat lagi di dunia literasi. Mereka adalah guru pertama yang membuat aku semangat dan senang menulis. 

Hampir setiap hari saya mentag tulisan saya untuk mereka. Meski saya tahu, mereka pasti tidak akan suka namun saya merasa senang. Beberapa cerpen saya kirim melalui inbox mereka. Mereka menilai begitu sabar. Jika kak Lindsay punya Story Club sebagai lini penerbitan kini. Kak Khumairah punya Ar-Rahman. Juga kak Ken punya pabrik cerpen--iya menamai seperti itu, produktif sekali menulis cerpen. Hampir tiap minggu kabar cerpen miliknya dimuat di koran lokal maupun Internasional. Iya! Pernah dimuat di Jakarta Post yang dikirim ke Hongkong. Salut.

Saya bertekad untuk menjadi kolaborasi ketiganya. Entah apa jadinya. Hingga saya pernah ikut event give away demi mendapatkan tanda tangannya. Tetapi gagal, karena saat mengirim foto selalu gagal. Handphone saya kurang canggih. Mungkin juga signal sudah error malam itu. Saya masih berharap untuk bisa mendapatkan tanda tangan dengan membeli novelnya. Waktu itu menjadi gratis ongkir. Menanti 3 hari. Alhamdulillah saya mendapatkan paketan dari wanita yang berdomisili Pematang Siantar, Sumut. 

Buku yang didapatkan waktu itu genre Thriller. Sampulnya penuh darah dan pisau. Judulnya “Knife”, saya menyukainya. Saya bermimpi untuk menjadi penulis. Saat ditanya oleh sepupu saya. Kemudian dia tertawa. 

“Penulis itu gak ada manfaatnya! Hobinya cuma berimajinasi,” rasanya saya ingin teriak waktu itu juga. Padahal itu salah satu profesi yang bermanfaat. Meredam emosi saat meledak-ledak. Berbagi motivasi kepada orang lain. Juga bisa banyak kenalan baru, menambah relasi. 
Saat itu entah kenapa tertanam dalam benak bahwa menulis tidak penting. Lalu saya merasa stuck setahun berikutnya. Saya sudah tinggal di Pulau Dewata. Tuntutan kerja dan rutinitas harian membuat waktu terpangkas. Jikapun masih ada kesempatan untuk menulis. Pasti lampu dimatikan oleh orangtua saya. Menyuruh saya tidur. Orangtua pun kadang membuat saya down. Dia memilihnya bekerja lebih menghasilkan uang daripada bengong atau menulis. 

Seolah bengong dengan berimajinasi itu sama. Padahal ya beda. Bengong/melamun hanya berpikir yang terjadi. Berimajinasi memikirkan yang belum ada. Berpikir kreatif. Meskipun dilarang kebiasaan itu sudah tertanam. Sehari tidak menulis rasanya gusar. Hingga setelah benar-benar bekerja. Waktu yang dimiliki kian menipis. Ditambah bekerja membantu mama. Mulai dari pekerjaan rumah tangga hingga menjadi delivery dagangannya. Termasuk ke pasar setiap pagi. Di situ perjuangan menulis mulai goyang. 
Memasuki bulan ke 6 saya sudah pergi dari pulau yang menjadi destinasi dunia. Hanya satu minggu di rumah. Dilanjutkan berangkat lagi ke Malang. Memperjuangkan kuliah. Itu impian saya sejak SMA. Saat gagal SNMPTN. Saya tidak mencoba lagi. Seolah tak mendapatkan support dari keluarga. Saya diterima di kampus swasta dengan jalur undangan. Namun, saat daftar ulang. Ayah saya tidak mempunyai uang yang cukup. Kesedihan saya semakin mendalam. Berhenti menjadi anggota perpustakaan di sana. Itu mengapa saya banting tulang ke Bali. 

Kembali lagi, saya di Malang sekarang. Kota yang dingin. Berbanding terbalik dengan Bali. Sendiri di kota ini. Lebih tepatnya bersama sahabat saya. Dia baik. Dia juga pernah cerita mengenai sahabat waktu SMP-nya yang juga hobi menulis. 

Selama di Malang saya pikir saya akan lebih banyak waktu untuk menulis. Ternyata dugaan saya salah. Aktivitas kian padat. Ditambah saat Pesmaba (Ospek dari jam 5 pulang jam 5). 3 bulan berikutnya. Saat itu pula. Ibu sahabat saya tinggal di Malang. Mengingat sahabat saya kurang bisa memanajemen uang. Sedangkan saya itu ‘numpang'.

Menulis. Beberapa orang menganggap saya idiot. Ke mana-mana membawa buku dan pen. Saya tidak ingin melewatkan satu menit tanpa menulis. Awalnya saya suka foto. Setiap ada yang indah pasti difoto. Namun, ternyata handphone saya rusak lebih awal. Jadi, hanya berbekal pinjam.Gak mungkin menggunakan dengan sangat private toh. 

Entahlah saya merasa sakit. Saat menuliskan tentang ini. Tapi, saya harus bisa. Saya mendapatkan banyak masalah di pertengahan semester 1. Finansial. Padahal harus ikut ujian. Bersyukur lagi saya diberikan pinjaman sama orangtua sahabat saya. 

Oh iya, saat itu saya jualan cilok (sejenis bakso kecil) yang digoreng. Namanya cilok goreng. Juga menjual rujak petis. Tak hanya dipromosikan kepada teman-teman. Saya menitipkan di kantin kampus. Ternyata. Hal paling menyakitkan. Cilok goreng saya diremehkan. Dia bilang tidak disukai anak di sini. Usut punya usut. Ternyata ciloknya disembunyikan. Saya tahu, karena waktu itu menyamar menjadi pembeli. Dia bilang sudah habis. 

Seolah gak ada artinya. Saat itu saya harus berjalan sekitar 1 km. Mengantar Cilok, karena anak Bunda. Ya, saya memanggil orangtua sahabat saya dengan sebutan spesial. Bunda. Lebih manis. Ya, anaknya malu. Entah malu karena takut temannya melihat atau apa. Bahkan beberapa hari berikutnya. Saya menitipkan sebelum masuk kuliah. Tidak bersama dengannya, lagi. 

Kenapa jualan cilok itu malah diremehkan? Sampai saya pernah bersumpah. Akan membeli itu kantin suatu saat. 
Ada lagi selain, menulis dan tentang Cilok yang diremehkan. Tentang organisasi saya. XXX. Menurut sahabat saya dan temannya. Itu adalah organisasi radikal dan tidak memanusiakan, hanya hobi demonstrasi. Saya jadi ragu, ingin masuk tapi ya takut. Saat itu ada dua organ yang menarik saya untuk bergabung. Merah atau hijau. Saya pun meminta saran dari salah satu Humas UMM. Kebetulan saya menjadi anggota paling mudah di Rumah inspirasi Malang saat itu. Dia salah satu pengelolanya.

Benar saja saat saya sudah masuk saya memang merasakan tekanan. Kegiatan demi kegiatan. Bahkan kajian bisa sampai tengah malam. Memang aneh terdengar oleh Bunda. Ya, tapi saya di sana itu memang sedang kajian. Tidak pergi ke mana-mana. 

Kamu tahu? Setelah hampir 5 bulan bergabung. Saya justru merasa aman di organisasi merah yang kusayangi. Perangkat kerja yang bahu-membahu membantu anggota lainnya. Termasuk salah satu bantuan dari anggota yang menyumbangkan biaya kuliah yang saat itu saya masih ada tanggungan, ditambah dengan uang untuk ikut ujian Semester 1. Allah. Hanya Dia yang bisa membantu saya. Orangtua di Bali sudah tak peduli. Orangtua di Situbondo tak berpenghasilan. Saya seperti merasa dilindungi oleh organisasi saya. Saat itu pula orangtua angkat saya sudah angkat tangan. Mengingat biaya operasional kampus jurusan saya lebih tinggi dari anaknya. Katanya saya salah jurusan. Kok malah masuk jurusan favorit? 

Saya gak tahu itu jurusan favorit. Tapi saya punya minat lebih di sana. :’( Impian saya ingin menjadi Produksi Film Islami. Entahlah, lagi-lagi impian itu pernah diremehkan oleh salah satu pengusaha sukses di Situbondo-Bali-Yogyakarta. 

Mengenai jurusan favorit. Saya pun pernah diremehkan. Impian Saya, ingin membuat serial animasi. Tetapi dia justru mengatakan ini kampus tidak ada jurusan perfilman. Saya salah kampus. Dihadapan 400 lebih mahasiswa dan beberapa dosen di sana. Dia memang punya kendali. Tetapi, dosen bagian praktikum yang berkaitan malah mendukung saya. Saat itu saya sudah tidak berminat lagi. Bahkan waktu kena kasus KTM saya bolong beliau tidak tahu. Hanya saja waktu KTM hilang saya 'terpaksa' menemuinya. *Anggap saya hanya bermimpi.
Haruskah kita menyerah dengan impian kita? Saat dipandang sebelah mata? TIDAK. Justru kita harus bangkit. Di sini awal saya merajut mimpi. Menulis kembali. Alhamdulillah menulis membuat saya dapat buku gratis terus. Dapat tanda tangan dari orang berkelas. Penuh inspirasi. Dapat kenalan baru. Dapat banyak perubahan. Lebih maju. 

Saya masih ingin kembali ke kampus putih. Bukan sebagai mahasiswa. Tetapi pembicara. Bisa? Harus bisa. 😊

Cause your life is never flat. Be positive. Insyaallah bisa. Dengan menulis sebagai gerbang kemajuan. 
Salam dari Baiq yang ingin pergi ke India. πŸ˜…

#harike6

#10dayswritting

Sunday, January 22, 2017

~3 Film yang Berkesan ala Baiq~

​Selamat Pagi, semoga pagi ini selalu diberikan kemudahan dalam beraktivitas. Have a nice day!


Hari ini memasuki hari ke-5 tantangan menulis. Pertanyaannya adalah  ....

Tulis 3 film yang membuatmu berkesan jelaskan kenapa? 

Wah, berhubung saya pencinta film Bollywood ada banyak yang berkesan di tahun 2016 ini. Kalau dijelasin semoga gak ngantuk ya? 

Memang sih rata-rata orang menganggap saya terlalu mainextreme. Hanya mentok pada film satu saja. Sebenarnya saya juga pecinta horor, thriller, biografi, animasi, action, comedi dan romance. Jadi, gak semuanya film Bolly identik dengan cuma nari-nari saja. Banyak ide yang bagus dan sangat menginspirasi kehidupan. 

Seperti My Name is Khan, Rab ne Banna Di Jodi, Don (1,2,3), Sarbjit, dsg. 

Berangkat dari mindset (pola pikir) orang awam terlalu terhipnosis oleh sinetron. Jadi, daya tarik film seakan mulai pudar. Sinetron-sinetron India yang tahun belakangan menggoncang Indonesia mulai dari Joda Akbar hingga yang sekarang yang ngehits banget di salah satu channel. Entah apa judulnya. Saya bukan tipikal pecinta Sinetron. Lebih suka film sekali duduk selesai. Terlalu banyak waktu yang akan dikuras dengan jam tayang televisi yang semakin hari kurang ‘mendidik'. Terutama yang bercerita remaja jadi siluman, entahlah. Tidak masuk di nalar. Kecuali mau bikin serial Fan Fiction harusnya memadai perlengkapan setting dan sebagainya. Ini malah cerita tentang percintaan, putus nyambung dan tidak bermakna bagi anak-anak yang belum memasuki usia tersebut ikutan gak jelas. Jujur saja saya jengkel melihat adik saya yang baru lulus SD sudah suka dengan sinetron jadi-jadian.

Kembali ke topik. Nominasi film yang paling berkesan di tahun 2016 lalu adalah ...

1. Teraa Surroor

2. Hamari Adhuri Kahani

3. Sanam Teri Kasam 

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Teraa Surror



Pemain utama adalah Raghu (Himesh Reshammiya) yang merupakan pacar Tara Wadhia (Farah Karimaee) juga penyanyi. Masa lalu Raghu yang kelam membuat dia menjadi Seorang Gangster.

Dengan panggilan internet dan akun FB palsu Amirudh Brahmana menjebak Tara dengan obat-obatan terlarang, yang diselipkan pada buku. Ternyata buku itu sudah ada di tas Tara. Tidak tahu pasti kapan dan siapa yang menaruh.

Tara dijebloskan ke penjara di Irlandia, tertuduh membawa obat-obatan terlarang. Raghu sang pacar langsung ‘terbang’ dari Meerut ke Dublin Prison (Irlandia). Dibantu oleh pengacara ahli Monica Dogra. 

Ternyata tidak bisa melepaskan Tara, karena sistem ketat. Tara harus mendekam selama 7 tahun. Masalahnya Raghu tak bisa melihat kekasihnya yang akan dinikahi akan terus di sana. 

Memang sebelumnya terjadi pertengkaran hebat, kecemburuan Tara kepada Raghu. Raghu menyesali perbuatannya. Tapi Tara tidak terima hingga pergi ke Irlandia. Maksud Tara menghindari Raghu ternyata terjebak di penjara.

Raghu tahu pacarnya tidak mungkin melakukan hal itu. Pasti ada orang ‘asing’ yang sengaja menjebak. Raghu pun bertandang ke Eropa. Mempelajari seluk beluk kota dan lalu-lintas di sana. Dia pun bertemu dengan seorang narapidana yang memang ahli dalam kejahatan. Mengutarakan maksud dan tujuannya. Meskipun Naseeruddin Shah tidak mau ditemui oleh siapa pun. Raghu terus berusaha. Mendapatkan jawaban dan usulan cara membebaskan Tara dengan 'ilegal'. Karena jalur hukum tidak kuat. Menteri Luar Negeri India pun tak ingin membantu. 

Eksekusi membangun tara sangat membuatku merinding. Karena Raghu sangat berani, memperhitungkan detail saat meloloskan diri dari Polisi. Pun Tara juga memiliki semangat yang tangguh untuk lepas dari sel. 

Sebenarnya Raghu punya alasan kenapa harus tidur dengan wanita lain. Dia menjelaskan di pelabuhan kepada Tara. Misi besar negara untuk membunuh Amirudh Brahman. Seorang lelaki licik dan punya banyak anak buah dalam meloloskan ‘barang haram’ masuk ke India. Entah kenapa sekarang malah bisa ada di tangan Tara. 
Ending sangat twist! Duh pokoknya aku itu gak menyangka siapa yang sebenarnya menjebak Tara. Ini film action kental banget. Sudah main pistol-pistol dan membuat mata melotot. Tapi, saya bukan merasa takut. Malah menangis. Karena terharu dengan perjuangannya. Demi gadis yang dicintainya. Bercerita tentang sosok pria sejati yang menepati janji & tak hianati cinta. 

Well, Aku harap di dunia nyata ada yang tipe gini. Bukan karena dia Gangster lantas dibilang berani. Bukan kamu nonton saja deh biar tahu jawabannya.

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Hamari Adhuri Kahani.


Ini film bikin aku jadi menumpahkan darah saat melihat. Padahal diulang-ulang pun bikin ‘nyessek’. Duh gimana jelasinnya. Film ini sangat rekomendasi bagi yang cinta romance. Berkisah tentang seorang wanita yang masih setia menjaga pernikahannya. Demi menunggu seorang Ayah dari anaknya yang tak pulang lebih dari 5 tahun. Bayangkan! Bersusah payah menafkahi anaknya, seorang diri. Meski pernah dicibir oleh orangtuanya. 

Ini film rilis 2015 tapi aku baru nonton, karena tahun itu benar-benar sibuk dengan aktivitas.

Vasudha yang merasa sendiri ternyata menemukan cintanya. Aarav. Entah mengapa kisah yang menceritakan “Cinta yang tak sempurna”, justru membuatku terasa haus akan cinta. Bagaimana mungkin kita bisa hidup dengan cinta tanpa bisa merasakan hadirnya cinta. 
Engkau akan merasa, cinta itu saling menghargai bukan melukai. Justru cinta itu terus bersemi tiap tahun. Hingga pemilik cinta sadar. Cinta mereka harus dilengkapi. Dengan abu kematian yang dirajut di atas tebaran bunga Lily. 

Perfect story. Meskipun aku tidak masuk dalam film itu. Oh iya, ini film khusus 17+ So, bukan adegan panas yang membuat film ini menarik. Justru saya skip aja. Tapi, keteguhan cinta Vasudha. 

Well rating film ini tergolong tinggi. Sebab sampai sekarang masih banyak yang mendengungkan sondtrack musiknya. Aku sampe hafal semuanya. Sejak di tahun 2015 itu. :’) 

Tuh kan baper. Aku suka film ini ceritanya ada di Dubai. Emang gak pernah nanggung produksi film India mengambil setting di luar Negeri. Semoga bisa pergi ke sana juga. Ahhhhhh.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷



Nah yang ini juga, Sanam Teri Kasam. Bikin airmata membuncah. Bukan aku melow. Bukan tapi banyak arti dari film ini. Aku malah belajar banyak dari kisah ini. Meskipun tidak diceritakan. Tapi karena lebih banyak show daripada tell. Mirip-mirip kisah sendiri. Tapi, jauh kok. Masih.  Aku gak mau review, bikin nyessek. Sudah lebih 5 kali nonton bukan malah bosan. Malah tambah nangis.Maka, biarkan kutipan ini mewakili.

Orang-orang yang tidak tinggal bersama karena mereka lupa. Namun, mereka yang masih bersama karena saling memaafkan.
~Sanam Teri Kasam


#MawraHocane as Saru



See you, have a nice day! T︵T

By : Baiqcynthia

Saturday, January 21, 2017

Ada Cinta dibalik Edelweiss

Pertemuan pertama dengan dia. Dia ... dia ... dia. Telah mencuri hatiku.* Kok malah nyanyi. Ini tengah malam ada tetangga sakit gigi. Nanti lempar sandal. Wkwkw. 

#KampusFiksi10DaysWritingChallenge

#10DaysKF

Jadi, si momon nanyain pertanyaan nomor 4. Isinya gini,

Tanpa menyebutkan namanya, bagaimana pertemuan pertamamu dengan si dia?

Suruh cerita ya? Aku bikin fiksi atau non fiksi? 

Ya udah fiksi saja ya. Biar lebih wow gitu. Hehe. Berabeh kalau dibaca orangnya.

Sore itu baru balik dari Secret Zoo. Ceritanya sih lagi liburan bareng keluarga. Entah mengapa mobil yang melaju itu bukan ke Malang. Malah ke kota yang super duper dingin banget. Ternyata mampir di rumah tante sepupu aku. Bla bla bla. Handphone sudah lowbat. Kebanyakan foto-foto sama satwa liar. Padahal yo dia bukan artis. Apalagi selebritis. Hihihi.

Rasanya sudah gerah buanget. Akhirnya numpang mandi menjelang magrib. Airnya duh kayak es batu. Dingin banget. Entahlah suhunya berapa yang pasti dingin. Karena niatnya cuma ke Secret Zoo aku gak bawa make up. Udah. Saat itu aku pake alakadarnya. Gak punya kerajaan jadi main-main sama keponakan. Anaknya tante. Soalnya keponakan aku udah tepar semua. Seharian jalan keliling 7 kali lapangan sepak bola. Luaasss buanget. Entahlah aku gak lebay ini beneran. Gak percaya buktikan sendiri. Tapi, kakiku strong jadi gak pake sepeda sewaan yang perjamnya 100 ribu. Bayangno kalau 5 jam. Terus kami itu ada 5 orang. Kan bisa buat beli laptop. Duh.

Saat itu datang wanita, dari feeling aku sih kayaknya tetangga tante. Soalnya familiar gitu. Emang sih dulu pernah main ke rumah tante, acara arisan.  

Feeling sudah mulai main nih, soalnya disuruh cium tangan (salim). Tapi, aku mikir ini kan tradisi Jawa. Nikah aja nanti bakalan sungkem. Hehehe. Aku ini blasteran Arab-Madura jadi agak bingung dah. Mereka bahasa ibunya Jawa. Mereka ngomong ngalor-ngidul pun gak ngerti. 
Jadi, sedikit boring. Nonton TV acaranya frozen yang diputar dari DVD. Lihat hape belum full juga. Akhirnya nulis dah. Memang sengaja bawa buku buat coretan-coretan kecil. Malam sudah datang. Saat itu wanita paruh baya tiba-tiba ngomong gini.

"Ojo kemana-mana, tak kenalin sama anak tante. Namanya *sensor* umur #tittttt Pokonya enteni wis." 

Artinya kalau gak salah gini, kalau salah ya betulin. Kan aku bukan orang Jawa. 

"Jangan Kemana-mana, mau saya kenalkan dengan anak tante. Namanya bla bla. Pokoknya tunggu di sini!"

Gubrak! Rasanya kayak ada batu nyosor dari atap rumah. Bingung bukan main. Lah dadakan gitu. Emang sih sebelumnya eyang Uti pernah mau jodohkan aku sama dia. Tapi aku gak tahu dia siapa. Berbulan-bulan penasaran sampai hampir 10 bulan akhirnya bisa ketemu. Kamu tahu gak kan aku tahu cluenya. Jadi aku nyosor di sosmed. Gila! Namanya bejibun. Yang mana pula. Terus aku cuma tahu nama panggilan. Banyak sih nama kucing aja banyak. Ada anggora, persia, lokal, peaknose, *Eh. 

Intinya aku gak siap saat itu. Padahal aku udah bawa gaun. Sama make up artis. Katanya adik sepupu aku yang bakalan bantuin entar. Eh, la da la. Aku gak bawa bedak dan aku pake baju yang sama waktu ke kebun binatang. Semoga aja aroma esensialnya gak menyeruak. 

Duh, sudah tahu kota ini dingin. Ketemu orang baru rasanya mules. Keringat dingin. Duh gak fokus. Sebelumnya dengar gosip dari sepupu aku. Adik dia itu putih dan tinggi. Wah aku merasa aman. Sepertinya dia akan seperti itu. Pan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mirip-mirip gitu. 
Eksekusi langsung. Teng teng ... Ada suara salam. Wah, aku perbaiki tempat duduk. *Sok pasang wajah imut. Padahal masih manisan marmut. 
Jreng! Selamat anda menang. Saat itu perut aku langsung seperti ditonjok. Kok ini beda. 180 derajat. So aku diam saja. Padahal aku yo tegang. Dia jalan sedikit demi sedikit. Melipir di kursi yang jaraknya 2 meter di samping aku. Padahal dekat aku ada kursi kosong. Hehehe. 

Tiba-tiba seisi rumah mendadak sok sibuk. Yang satu mau ke acara ini. Tanteku sama sepupu mau cari frame kacamata. Sisanya naik ke lantai dua.
"Krik ... krik ... krik," suara jangkrik. Emang siapa bilang suara kerbau. Pintu ruang tamu terbuka lebar. Pintu samping juga terbuka lebar. Dia tadi lewat pintu samping. Wah. Aku dingin. Cuma ditemani oleh suara jangkrik. 
Senyap hampir 3 menit. Sampai akhirnya dia baru memulai acara ngobrol. Gitu. Aku hanya nunduk malu-malu kucing. Sesekali ya ngobrol. Ngelihat semut yang berbaris di dinding. Menatap kucuriga. Seakan penuh tanya. Sedang apa di sini. Taaruf, jawabku. πŸ˜‚πŸ˜

Pembahasan tambah seru menjelang Isya. Tiba-tiba ponsel aku berdering. Shit! Dari mantan yang sok pede itu. Aku lihat dan silent. Abaikan. Nah, si mamas. Saat itu dia minta nomor telp aku, WA, FB dan aku minta IG. πŸ˜‚πŸ˜ 

Kamu tahu saat aku berusaha ngesave nomor. Si mantan tetep aja nelp. Padahal udah direject. Saat itu aku malas banget. Udah tahu aku mau nikah masih aja ganggu. *ralat masih taaruf. 
Tapi jam 19.00 lebih beberapa menit dia udah undur diri. Astaga baru aja bentar dalam hati. Kok udah pergi. Huhuhu. Padahal dalam hati lainnya. Bagus. Aku bisa kabur ke toilet. Sebelum ngompol. 
Okey pertemuan singkat itu menemukan banyak kesimpulan seperti mengetahui dia. Eh ke balik ... dia yang banyak tahu tentang aku. Dasar ambivert. Awalnya saja malu. Ujung-ujungnya. Malu-maluin. 

Dia romantis banget. Dari kacamata aku, melihat kasih sayangnya ke ibunya juga adik-adiknya. Ah, baper. 
Ternyata kisah kita sad ending. Bro. Dia memilih untuk pergi. Katanya belum siap. Rasanya aku seperti kejatuhan es batu dari langit. Udah katos dingin pula. Gagal deh nikah 2016. 

Eh sekarang sudah hampir 5 bulan masa ketemuannya. Sudah jadi sejarah. HARUS masuk Museum. Biar selalu terkenang. -_-
Enggak bukan gitu. Ambivert harus kuat. Si mantan pasti ketawa sekarang. Ngeliat aku begini. EGP. Aku lebih suka sendiri. 
Ah kenangan Eldeweiss tidak akan terlupakan. Selamat malam. Eh udah dini hari. Nice dreams si kaka ☺πŸ˜ŠπŸ˜‚

*Sejauh apapun jarak akan dipertemukan lagi oleh waktu. Hanya waktu yang menentukan seseorang kembali atau tidak. Tapi, aku betah menunggu. Meski tak ada jawaban pasti. 

#Baiqcynthia

Friday, January 20, 2017

5 Hal yang Ingin dicapai pada 2017

Memasuki hari ke-3.

#KampusFiksi10DaysWritingChallenge

#10DaysKF



Sudah memasuki hari ke tiga sepertinya akan semakin seru lagi. Karena kemarin peserta sudah tembus 100 lebih. Hihi. Banyak saingan. Tapi, gak papa. Itu bagus artinya hastag #10DaysKF akan selalu booming hingga tanggal 27 Januari 2017. Wah! Iya. Kini sudah lembar tahun baru. Semakin dinanti semakin tak sabar.
Aku menanti apa memangnya? Pencitraan saja. Hihi. Langsung saja ke pertanyaan no.3

Sebutkan 5 Hal yang Ingin dicapai tahun ini!
Mirip resolusi gitu ya. Tapi tak papa, semakin didengungkan akan semakin menetap di dalam sanubari. Semakin semangat jadinya.

Hal paling sederhana
yang ingin dicapai bisa konsisten menulis dan memperkaya bacaan. Saya mengingat kata-kata Presma--Presiden Mahasiswa UMM. Beliau mengatakan bahwa saya harus lebih banyak lagi dalam hal bahan bacaan. Membaca itu seperti memberi cahaya di setiap langkah yang ditempuh.
Sedikit minder kadang, karena saya tidak kuliah lagi di sana. Tapi, impian menulis itu ingin ditingkatkan menjadi penulis produktif. Semoga bisa tercapai. 

Hal kedua
masih tidak jauh dari yang pertama. Saya ingin segera mempunyai laptop. Saya merasa kasian sama gadget. Dia selalu digunakan hampir setiap saat. Untuk selling, Fotografi, menulis, membaca, chatting atau komunikasi.




Seperti ini akan mengurangi daya kekuatan Gadget. Mengingat saya tidak berasal dari keluarga mampu. Bekerja sebagai marketer memang tidak mudah. Untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Sulit dijabarkan di sini. 
Laptop yang ingin dimiliki minimal punya spesifikasi bagus untuk mengedit juga. Selain itu hobi saya mengedit video atau gambar. 


Harapan selanjutnya
saya ingin menerbitkan sebuah cerpen di media atau sebuah novel. Sudah banyak tawaran seperti itu. Namun, tak pernah benar-benar dieksekusi. Bahkan tadi pagi ada sahabat Facebook yang share tentang syarat mengirim naskah ke Majalah. Saya lupa siapa yang mengshare. Tapi sudah saya copy tulisannya kurang lebih seperti ini. 
Alhamdulillah :-)

Pengantin Gosong di Rubrik Gado Gado Majalah Femina 04, Terbit Hari ini. Selamat Membaca :-)

Mungkin teman-teman berminat mengirim artikel seperti ini, ini dia syarat-syaratnya. Semoga manfaat.

* Tulisan boleh pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain yang terpenting 'fresh'.

* Arial 12 Spasi 2

* 700-800 kata atau 3 halaman folio

* Sudut pandang orang ke-1 

* Tambahkan catcher ( kalimat yang paling menarik)

* Kirim ke ; kontak@femina.co.id

* Masa tunggu sampai 6 bulan

* Jika ditolak ada pemberitahuan lewat email

* Jika dimuat ada pemberitahuan lewat sms/telp & email 

* Honor Rp 500.000 (lancar :-) )

Selamat Mencoba....




Malu rasanya jika sudah pernah masuk di lini universitas walau hanya beberapa semester namun tidak bisa tembus media. Apalagi jurusan yang ditempuh berhubungan dengan media. Semangat!

Hal selanjutnya
yang ingin dicapai ingin merancang bisnis sendiri. Hennah, yang sangat menjamur akhir-akhir ini. Sangat dibutuhkan keterampilan menggambar. Bisa ala biasa jadi hanya perlu lebih rajin belajar menulis. Saya juga ingin menjadi marketer yang handal. Susah-susah mudah. Itu pun sebenarnya bisa dipelajari secara otodidak. Punya usaha sendiri asyik rasanya. Juga ingin bekerja freelance editor, misalnya jika ditawari. Akan sangat bahagia. 


Terakhir
, saya ingin menikah. Alasanya sudah pernah saya posting di post sebelumnya. (Bisa baca di sini Resolusi Baiq). Jadi saya ingin segera bisa membangun rumah tangga bersama lelaki impian yang selama ini 'menggelayuti' isi kepala. Ingin setiap akhir pekan ada yang mengajak liburan atau belanja bersama. Insyaallah semoga diberi titipan buah hati. Semakin lengkap dan komplit rasanya.
Kita bisa berencana, berandai-andai untuk menggapai impian. Tetapi jawaban akan muncul dari Karunia Allah. Tetap yakin dan berusaha. Sejatinya usaha tidak akan menghianati hasil. 

Keep list and do it! 

Salam dari saya. Have a nice day. :) 


Thursday, January 19, 2017

3 Kemungkinan Besar Membuat Saya Histeris

#KampusFiksi10DaysWritingChallenge

#10DaysKF



Memasuki hari ke-2 sepertinya mulai agak goyang menulisnya. Semalam Ambivert sakit jadi tidur dan mandi tengah malam supaya gak insomnia. Hihihi Ternyata bangun siang deh. Ini gara-gara teman lama ngajak chatting-an. Ah baper. 

Langsung deh saya mencoba menjawab pertanyaan hari kedua. 

Sebutkan 3 Hal yang kemungkinan besar akan membuatmu histeris? 



Wah, Histeris ya? Selama ini saya belum pernah mengalaminya. Paling hanya histeris kecil seperti mandi hujan. Hehe senang banget deh kalau bisa mendapatkan momen hujan-hujanan. Pernah juga saat melihat gunung Gumitir yang jalannya muter-muter. Sama seperti gunung di Kediri. Pernah juga saat bisa pergi ke toko buku yang ada promo besarnya. πŸ˜πŸ˜‚

Juga pernah pergi ke salah satu tempat wisata untuk keluarga. Itu histeris kecil yang saya ucapkan lewat selfi dan ketawa. 

Sepertinya kemungkinan saya histeris besar itu saat situasinya begini. 

Ketika Pangeran yang selama ini diidamkan tiba-tiba langsung melamar. Hahaha pasti Histeris tingkat dewa. Membayangkan cincin pernikahan itu tersemat di kelingking manis saya. Hahaha. Kayak orang stres gitu ya? 

Biarkan saja saya histeris toh saat bahagia. Hihihi. 

Yang kedua mungkin saat kaki saya bisa melangkah ke tanah India. Bisa duduk di dekat sungai Gangga menatap indahnya marmer di bangunan putih bersejarah. Taj Mahal. Semoga saja saat histeris gak sampe terjun ke dalam sungai. BAHAYA

Yang Ketiga, apa ya? Hehe saat aku bisa mendengarkan kabar bahwa akan ada makhluk di dalam rahimku. Calon bayi. Hihihi Insyaallah begitu lah. 
Mengapa saya hanya histeris saat kebahagiaan itu? Karena selama ini itu impian yang paling ingin dicapai. Selama ini menunggu Pangeran berkuda putih untuk membebaskan belenggu pada diri Rapunzell. Berharap impiannya bisa keliling dunia termasuk negeri Bollywood itu. Harapannya sih gitu. Kok malah melow ya?

Mungkin saat kita berharap namun tak sesuai dengan ekspektasi rasanya nyess. Ingin rasanya amnesia saja. Masa lalu yang terlalu indah pun tidak bisa pergi saat otak sudah memutar kilasan indah.
Tapi, saya yakin semua usaha yang selama ini ingin dicapai akan membuahkan hasil. 

Percaya suatu saat si pangeran datang, bisa bertandang ke Taj Mahal juga memiliki anak dari saya.

Have a nice day!


Orang yang kuat bukan yang bisa menaklukkan segalanya. Tapi mampu mengendalikan emosi dan keinginan dari dalam dirinya sendiri.



#10DaysKF

#Baiqcynthia

Wednesday, January 18, 2017

7 Pasal Tipe Kekasih Dambaan (Hari Pertama)

 

#KampusFiksi10DaysWritingChallenge



Holla selamat pagi! Lebih tepatnya dini hari. Eh, enggak. Entar lagi udah Subuh. Dapat tantangan menulis nih yang diadakan oleh #KampusFiksi di twitter. Checki-cheki saja hastag #10DaysKF

Rule-nya disuruh menulis sesuai dengan draft yang disediakan selama 10 hari berlangsung. Jika tulisan istiqomah dan membuat momon bahagia dapat buku. Ngarep sih. Tapi, saya suka menulis ya udin nulis aja. Daripada gatal tangan gak nulis. Bisa posting di Wattpad, Note FB, Blog, dsg. Cuma saya pilih blog. Di sini paling aman. Eh! Iya, jarang yang mau mampir ke sini. Kan aman. Siapa tahu ada penguntit. EGP. 

Cuss, kebanyakan cincong dari tadi. Pertanyaan di hari pertama. Haha. Apa ya? Elu lupa mulu sih. Dasar Ambivert.

*Plak. Nyotek dulu, lihat kertas. Taraaa. 

1. Jelaskan Bagaimana Tipe Kekasih yang Kamu dambakan? 



Kalau ditanya kekasih, kok sepertinya dunia gelap ya? Tapi, berhubungan dengan masa depan kemerdekaan kaum jomlo jadi ya sudah saya jelaskan.

Pasal 1, wajib laki-laki. Boleh pria boleh kaum adam. Nah itu kan sejenis? Eh, iya. Iya. Pokoknya lelaki sejati. Asyik. Gak nerima selain itu. Eyke masih normal chin. *xixixi

Ngomongin soal lelaki saya lebih tertarik sama sifat dan kepribadian. Meskipun kadang mata kedap-kedip kayak lampu hampir mati voltasenya. Sama yang wajah oreantalis, hidung mancung, mata bulat, bibir tipis, brewok, mirip arabian atau indian gitu. Terus dada datar, berotot dan tinggi. Ah! Kayak suami Ishita. :'v Di mana dapat ya? Ah, mimpi mulu. Don't look a man from the cover.

Pasti kaum pria bakalan ngomong gitu. Secara sejak bayi sudah tercipta seperti itu, misalnya bibir dower, mata sipit, tubuh gempal, rambut keriting, kulit hitam dan perut buncit. 😯
Bagi yang merasa angkat tangan, goyangkan badan. Senam SKJ. *Eh. Jangan tersinggung mending tersungging. Gak ada maksud kok. Biar slim kan kudu olahraga? Back to the topic. Jadi, fisik mah dari orok gak bisa diganti. Kalaupun bisa, mirip artis Korea. Butuh biaya yang gak sedikit. Belum lagi efek jangka panjang. Oh No! Wanita baik-baik akan menerima bagaimana pun keadaan pasangannya. Ciee. 

Kan benar? Kalau mau yang tipe gitu mesti berapa abad lagi mau menjomlo. Entar kalau udah jadi mumi baru mau nikah gitu? Kagak dah. Aku gak mau yang hadir cuma bangsa Firaun. *Apaan sih.

Ya intinya tipe lelaki yang aku ingin dari segi fisik itu pastinya gagah, mental cerdas, tahan banting, lebih tinggi/ lebih gemuk dari saya. Lebih tua dari saya. Lebih tahu dari saya. Maksudnya lebih berpengalaman. Lebih dewasa. (Karena ada yang usia tua belum dewasa, emang ada? Ada.) Rentang umur gak melebihi 12 tahun saja.

Dari sisi yang lain saya suka tipe yang humoris, bisa bikin nyaman, membantu banyak orang lain, menyayangi orangtuanya, suka anak kecil, hobi travelling, bisa diajak ngomong ngalur-ngidur. Suka nonton films atau main games. Suka sekali makan. Dan bisa nyetir banyak kendaraan. :v

Kenapa harus humoris? Karena saya tipe ambivert yang suka berubah moodnya. Tidak selalu ceria, kadang murung. Saya butuh hal yang fresh dan lucu. Kaum adam yang merasa humoris, ngacung! 

Eh, gak ada ya? Ya udah deh bisa bikin nyaman dan membantu banyak orang. Jujur, banyak orang humoris tapi tak semuanya bikin saya merasa safety dan nyaman. Malah merasa terganggu terkadang. Kalau dia suka bantu orang lain. Point plus. Kenapa? Manusia kan makhluk sosial. Siapa tahu saya butuh bantuan dia selalu ada untuk saya. So sweet. *Lagi-lagi gak ada yang ngacung.

Ya udah yang sayang ortu atau budak kecil. Kata kak Rose di serial Upin-Ipin. "Jadilah budak kecil yang pandai, suka bantu orang dan sayang akak dan Opha." :v Budak kecil = Anak kecil. Percaya deh, mereka yang sayang ortu dan anak kecil akan menyayangi ortu kamu dan anak kamu kelak. Aamiin. 

(+) Emang mbak Ambivert tahu dari mana? 

(-) Dapat Ilham semalam. 

Travelling, nonton, ngomong ngalor-ngidul. Duh, tipe saya banget. Soalnya selama ini ambivert mendekam dalam menara Rapunzell tanpa pintu. Siapa tahu saya diajak melancong ke Jatim Park atau Kebun binatang. :v

(Eh jeda dulu ya. Di sini sudah Adzan Subuh.)

~*~

(Balik lagi deh, sudah tenang deh rasanya.)

Nah, sampai di mana dah? Oh iya, sekarang bahas tipe selanjutnya.

Pasal 2, Ngomongin soal laki-laki saya sih bebas gak muluk-muluk. Dalam kategori profesi dia. Boleh yang tukang fotografer, pemain sepak bola, artis papan atas, bawah, asal gak dibalik papan. 😣 Bisa guru, dosen, dokter. Asalkan bukan nelayan dan pengemis. Kenapa? Lowongan kerja banyak. Saya gak mau suami saya nanti dilalap sama Paus atau Princess Duyung. Pun menurut saya lelaki yang tekadnya kurang keras saja yang memiliki profesi *maaf pengemis. Saya bukan menjelekkan mereka yang tidak mendapatkan kesempatan kerja. Mereka kurang kreatif saja. Bisa toh dagang, bikin kerajinan, menjahit, tukang bakso, jual ikan dsg. Asalkan usaha teguh Insyaallah akan dimudahkan. Saya lebih suka lelaki yang mandiri. Punya inisiatif dan etos kerja tinggi. Katakanlah jual kulit sapi. Itu lebih baik. Siapa tahu suatu saat jadi pemasok kulit sapi atau dikenal leather. Atau bidang kuliner, siapa tahu jika tekun menjadi chef handal. Banyak lagi profesi lainnya. Asal baik dan halal. Supaya bawa berkah ke keluarga. Saya siap membantu dari bawah. Dari nol. Seperti pak SPBU. 

Pasal 3, Lebih memprioritaskan lelaki yang rajin. Kenapa? Banyak yang humoris, penyayang, bekerja tapi kalau malas. Sumpek rasanya. Apa-apa meski di suruh. Harus teriak-teriak. Yang ada pita suara saya putus.Bermilyar-milyar usaha seseorang saat dia malas. Maka akan bangkrut. Rajin pangkal kaya. Bukan begitu pepatah yang sering didengungkan oleh guru? 


Pasal 4
, Religius. Walaupun dia itu perfect dan rajin bekerja tapi kalau gak ingat sama yang Maha Menciptakan. Sama saja dia merasa pongah. Seolah semuanya berasal dari usaha dia sendiri. Saya lebih mengutamakan lelaki yang rajin sholat ke masjid tepat waktu. Yang sedikit bacaan ngajinya tapi rajin. Kalau dapat yang lebih alim lagi. Alhamdulillah. Toh jodoh itu cermin diri. Bismillah saya akan mencoba menjadi pribadi yang baik dan elegan untuk mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan jangka panjang.Tujuan hidup di dunia kan mencari ladang amal untuk akhirat juga. Seimbang dua masalah itu. Hidup akan tentram dan damai. 


Pasal 5
, mengontol emosi dan diri. Penting. Hiruk-pikuk rumah tangga akan berlaku hingga maut memisahkan. Akan banyak badai dan ombak besar menerjang. Akan banyak duri-duri dan paku bertebaran. Akan banyak ujian dan cobaan menghadang. Rintangan demi rintangan akan terasa ringan. Saat situasi batin lebih berdamai dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Saya sudah bosan mendengar kata cekcok dan berdebat. Penting saling mengerti dan mengisi satu sama lain.


Pasal 6
, Romantis. Dambaan semua pasangan di muka bumi ini, kan? Romantis bukan tentang hal yang klise. Sering terjadi seperti biasanya. Tidak selalu itu. Bahkan hal kecil bisa jadi romantis. Misalnya. Saat bangun pagi menyediakan air putih di samping ranjang. *Ini kalau udah nikah. So sweet rasanya minum air putih pemberiannya ada manis-manisnya. Romantis itu banyak wujudnya. Tidak melulu soal kiss dan hug. Atau *sensor* 


Pasal 7
, konsisten pada janji. Ini yang sulit dicari Bung. Lelaki itu makhluk yang hobi ngasih janji. Tapi, dia merasa amnesia kalau ditagih. Bisanya ngeles deh. Semoga calon suami saya enggak. Aamiin. Lebih baik gak usah janji. Mendingan tidak ngasih harapan. Harapan wanita itu lelaki jujur dan menepati janji. Bukan harta yang bergelimang. Untuk apa wajah tampan dan harta berkilauan. Jika hanya makan hati tiap hari dan hobi ingkar janji.

Itulah 7 pasal tipe pria yang saya idamkan. Semoga saya bisa mendapatkan. Pasti bisa, setidaknya dia berniat menjadi 7 pasal itu. Memang sulit. Itu mendekati kata sempurna. Tapi, apa susahnya mencoba setiap hari. Menjadi pribadi baik dan elegan yang selalu tersenyum. 
Salam dari Baiq Cynthia untuk lelaki impian masa depan. <3

#10DaysKF



#Haripertama

Motivasi Hari Ini

​Sebagai tugas dari Sekolah Inggris yang dimentori oleh Mr. Budi Waluyo. 

Bapak Budi Waluyo menginginkan anak didiknya membuat satu motivasi. Karena menurut beliau pasti ada motivasi setiap detik dalam bernafas. 
~*~
Tadi pagi, di tempat kerja. Saat saya memasukkan botol bekas wadah air mineral ke dalam karung, yang dibeli dari pemasok botol bekas. 
Saya melihat wanita paruh baya mendekati toko tempat saya bekerja, dia berbicara dengan bahasa madura yang kental. Saya kurang mengerti karena bahasanya sangat  halus.*Keseharian saya mengucapkan bahasa Indonesia dan madura tingkatkan kasar kepada teman sebaya. 
Jika diterjemahkan kurang lebih begini, "Nak, saya mau beli minyak." Setelah sebelumnya sempat bingung mengingat pakainya lusuh beberapa sudah robek. Saya pikir pemasok botol bekas juga. Tapi, dia hanya membawa tas tipis. 
Saya terus bertanya, dia mencari apa. Akhirnya dia mencari parfum yang sama dengan botol spray kecil yang dipegang. Dia sengaja membawa botol untuk isi ulang. Katanya lebih hemat. Saya mencoba menerka aroma parfum tersebut. Akhirnya bisa ditebak. 
Mulailah saya mengisi sesuai dengan yang diminta. Sembari saya mengajak berbincang. Ternyata dia bukan asli di tempat tinggal saya. Perempuan tua yang selalu tersenyum berasal dari kota seberang. Memang dia membeli parfum tersebut di tempat saya sebelumnya, katanya. Saya baru pertama kali berjumpa. Harusnya saya hanya bertugas via online saja. Berhubung petugasnya gak masuk. Akhirnya double role.
Katanya parfumnya baru seminggu sudah habis, ternyata digunakan oleh cucunya. Memang sengaja membelikan khusus Cucu tercinta. *Sedikit tertegun. 
Senyuman tulus dan doa yang berkali-kali diucapkan semoga laku laris katanya. Saya pun menyahuti 'aamiin', tanpa sungkan membalas senyuman.
Sepersekian menit, ternyata dia ingin membeli parfum (lagi) untuknya. Dia pun mengeluarkan botol kecil plastik yang berukuran 30 ml. Namun, dia membeli 5 mili saja. Saya memberikan option campuran pada parfumnya. Namun, dia setengah merajuk meminta tambahan bibit. Saya hanya diam melakukan tugas saya. Akhirnya dia setuju diberi tambahan alkohol. Tak tanggung "isi full". Dengan anggukan kepala, saya langsung isi full.
Kemudian, kepalanya menoleh ke arah atasan saya. Dia mengambil tutup bibit parfum dan mengusap ke kerudung usangnya. Sambil tersenyum, "ini baru parfum asli." 
Saya menerka boss saya tak ada, makanya dia tersenyum girang saat bibit parfum yang menempel di tutup botol menetes di sana. Langsung dia lap dengan kain bajunya. 
"Ibu mau ke mana?" kali ini saya antusias bertanya. 

"Kembali mengemis, Nak! Semoga laris yag tokonya!"

"Aamiin, tiap hari ke sini?"

"Enggak, saya seminggu dua kali!" Dia pergi setelah meminta kantong kresek untuk melilitkan dua botol parfum. Katanya supaya aromanya gak hilang. Tak lupa dia mengucapkan salam.
 Baru saya sadari dia melepaskan sepasang sandalnya. Padahal saya tahu lantainya masih belum dibersihkan, bekas hujan semalam. 
Kepergiannya membuat pikiran semakin kalut. Kaki besinya mampu berjalan ratusan kilo meter. Mengemis, demi keluarganya. 
"Terkadang kita menyia-nyiakan nikmat. Padahal di luar sana masih banyak yang menanti nikmat. Bersyukur dengan apa yang dimiliki. Barangkali di luar sana banyak yang membutuhkan."
#Semogamemotivasi

Monday, January 16, 2017

TODAY I'm HAPYY

​Kebahagiaan sekecil apa pun. Itu pasti akan dikenang. 

Jujur dua hari ini get big trouble. Sayang sekali gak bisa terbuka  sama my best friend. Sampai rela deactive alun menghindari curcol. Ya. Biasa saya pengguna media aktif. 

Ingat pesan gurunda. Kalau lagi labil emosinya mending gak perlu dekat-dekat medsos. Bahaya. Demi keselamatan banyak pihak. Ya off. 
Hari ini itu hari spesial Bajang. Nama panggilan sayang buat Rhoro. Saya ingin hari ini bisa membuatnya merasa lebih spesial. Dia gak lupa hari spesial aku. 

Persahabatan yang terjalin selama 8 tahun karena kesamaan. Tomboy wkwkwwk. Tapi saya lebih kalem dari SMP. Oh lupakan itu terlalu indah. 
Hm dia itu the best. Ini bukan bilang dia segalanya. Enggak. Kami cocok aja dalam hal apa pun. Meski terkadang kami saling menutup diri. Tidak semuanya dia tahu tentangku. Pun tentangnya tak semua aku tahu. Rahasia Negara. 
*ini status apa? 
Intinya I am being loved to her. Kalau kamu? Siapa yang paling mengerti selain keluarga. Pastinya ada kan? Kalau gak ada harus ada. πŸ˜‰
Lucu juga hari ini sukses ngerjain dia. Mulai dari rebutan emmak. Minta foto di Jip. Itu mobil punya tetangganya. Dari dulu emang pengen banget foto. Walhasil saya hanya merajuk lewat tatapan mata ke Emmak. Rasanya, permintaan saya dikabulkan. Sampai Bajang harus rela merangkul emmak. 

Well, saat itu gerimis mulai berjatuhan, melihat garis tuanya. Aku merasa rindu. Apakah bisa aku merindukan seseorang ibu? Tidak. 

Ini hari spesial bagi babang biarkan saja rindu mengatup. Berganti dengan yang lebih menyenangkan. Aku bahkan tak akan pernah mengerti. Emmak begitu peduli. Hingga dia merasa khawatir tentang pekerjaanku. 

Ya dia sangat peduli, tentang makan siang kami. Meski Rhoro memilih untuk tak makan. Aku merasa kehangatannya, meski aku tak memeluknya.

Kami setelah itu menonton bersama di ruang televisi. Dia hanya tertawa terkadang tersenyum. Ah, indahnya. Mereka bahkan lebih romantis daripada liburan family ke Jatim Park misalnya. 
Sore hari, Bajang membuatkan mie samyang ala home made. Dengan taburan bon cabe dan lombok besar itu. Lumayan enak dan bikin jadi ingin nambah. Hihihi. Meski telinga rasanya panas. Hingga ke ubun.Setelah itu mendengarkan Bajang bernyanyi dengan aplikasi smule. Meski sore itu aku harus pulang lebih awal.

Mereka seperti keluarga sendiri. Aku dipeluk saat akan pulang.Mama Aku saja belum pernah seperti itu. Biarkan saja aku begini. Life is never flat.
Today I so happy. Thank you.

Sendiri (Saat Semua Pergi)

Ada kalanya hidup butuh untuk sendiri di saat kita merasa tak mampu lagi. Karena tak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan. 


Cinta 

Datang dan pergi tanpa pamit, kembali pun tanpa mengetuk pintu hati terlebih dahulu. Dulu sempat berpikir akan aneh jadinya. Tapi saat engkau sudah mengerti hakikat cinta, engkau tak akan lagi menangis. Untuk apa?
Menangis saat ditinggalkan oleh kekasih? Menangis ditinggal suami? Tidak ada yang lebih menyakitkan jika kita ditinggal oleh Allah. 
Saat tak ada lindungan lagi, saat tak tersisa kesempatan untuk bernaung dibalik sajadah cinta. 
Terkadang hati merasa seperti ditikam panah panas yang menjejal dalam sanubari. Batin merontah kekosongan. Tak ada lagi yang tersisa selain hampa. Semua orang terasa tak peduli. Saat peduli pun hanya berkata, "Sabar, ya! Akan datang keindahan yang lebih sempurna dari apa pun. Kehidupan bahagia dunia akhirat."
Di dunia yang sementara, tak bisa ditukar dengan kebahagiaan di akhirat. Keabadian di dalamnya. Hanya dua tempat, Surga dan Neraka. Sudah siapkah?
Sendiri, pada akhirnya kita akan bermimpi dalam ruangan gelap. Tanpa lampu, tanpa keindahan, tanpa pujian. Ditemani amal yang selama ini menjadi tempat kita berpijak.
Tak bisa pongah, segalanya yang kita miliki akan kembali kepada Sang pemilik. Kita hanya diberi kesempatan untuk selalu memperbaiki kualitas.
Berbicara sangat mudah, akan lebih mudah jika sambil dipraktikkan. Saya bukan motivator yang handal. Menulis seperti obat, saat benar-benar sendiri. Semua pergi. Hanya pena dan kertas yang selalu setia. Hanya ranting dan tanah yang selalu sedia. Hanya pohon bisu tak pernah mengeluh, saat aku guratkan paku untuk menulis. 
Ya! Mereka sudah pergi. Selamat malam mimpi. 

Tuesday, January 10, 2017

Review Film Dear Zindagi~ Alia Bhatt~ Shah Rukh Khan



​Ulasan Film Dear Zindagi. 

Alia Bhatt dan Shah Rukh Khan sebagai peran utama mampu menghipnotis saya selama 2 jam 30 menit. 

“Kepada Kehidupan” begitu arti judul film di penghujung tahun 2016. Gauri Shinde sebagai penulis sekaligus “Director” film berlatar Singapura, Goa dan Mumbai sukses mengajak saya menikmati indahnya lokasi syuting. Singapura salah satu negara maju di Asia. Goa itu surganya India. Kalau di Indonesia itu Bali. Mumbai salah satu kota basis Internasional, lahirnya films dan bintang cinema bollywood. Lah kok bahas ini. 

Dear Zindagi, bukan film India yang terlalu kental dengan ‘shadii’ (baca:nikah), tarian, kisah sedih, kisah romantis. Bukan. Ini salah satu film Bollywood Kontemporer. Partner films sangat credible dan support sponsor begitu besar. 
Ide films yang mencampur adukkan komedi, drama, roman, psikologis, dan makna kehidupan. Membuat suasana naik turun seperti rolling coster. Mengasyikkan, mengharukan, menyedihkan, juga membuat perut terkocok. Tak berhenti untuk tertawa.
Kaira sebagai salah satu bagian dari sinematografi kehilangan rasa berani. Ketakutan yang dimunculkan seperti bayang-bayang tanpa warna. Membuat dirinya harus berhadapan dengan Dokter Terapis. 
Insomnia yang selalu menghantui tak kunjung berhasil dilewati meski harus berpindah-pindah tempat tidur. 

Dr. Jehangir Khan berkata, “ Hidup seperti puzzle. Kamu bertugas mencari jawaban. Aku hanya membantu mencari potongan-potongan. Hanya kamulah yang mampu menyatukan potongan itu. Memecahkan masalah.”

Kaira depresi, desakan orangtua yang risau Kaira Lesbian. Karena usianya hampir 25 masih jomloh. 

Ada alasan kuat mengapa Kaira memilih sendiri. Pacarnya. Raghuvendra juga mencintai Kaira, ternyata telah bertunangan. Cinta lokasi itu sulit dipatahkan. Terkait impian Kaira ingin memproduksi film sendiri. Bukan sebagai teknisi di bagian Cameramen. 

Proyek film besar di New York mengajak Kaira untuk bekerjasama. Tapi, Raghuvendra telah berkata bahwa Gautami Sharma akan ikut di proyek tersebut. Mantan pacar lelaki yang dicintai Kaira. 

Ada bola-bola kemarahan dalam hati Kaira. Tumpah begitu saja. Hingga dia mendengar kabar pertunangan tersebut dari teman terdekatnya. Pedasnya cabai tak akan terasa sakit di lidah. Lebih sakit cinta yang dihianati.
Antara Cinta, Impian dan Kenyataan. Bagaimana perasaanmu jika ada kesempatan emas. Tapi, khawatir engkau menghancurkan. Bingung. Hanya Dr. Jehangir Khan yang punya jawabannya. 
Kalau boleh rating 4.5 deh. Cucok Badai. Sama sekali tak ada Klise, wanita mewek, baku hantam atau putus nyambung. Ini film Bollywood Kontemporer (kekinian) yang wajib kamu tonton. Kamu akan tahu makna kehidupan yang sebenarnya. 
Rasanya saya menjadi plong setelah nonton film ini. Inspirasi berasal dari mana pun. Termasuk dari film ini. Yuk Nonton. 

Boleh nonton Dear Zindagi Trailer πŸ’



Reviewer: Baiq Cynthia

Info Detail πŸ‘‡πŸ‘‡ Source Wikipedia

Directed by Gauri Shinde

Produced by Gauri Khan

Karan Johar

Gauri Shinde

Written by Gauri Shinde

Screenplay by Gauri Shinde

Starring

Alia Bhatt

Shah Rukh Khan

Music by Amit Trivedi

Cinematography Laxman Utekar

Edited by Hemanti Sarkar

Production

companies

Red Chillies Entertainment

Dharma Productions

Hope Productions

Distributed by Red Chillies Entertainment

Release date

23 November 2016 (North America)

25 November 2016 (Worldwide)

Running time

150 minutes[1]

Country India

Language Hindi

Budget ₹22 crore[2]

Box office est. ₹139.09 crore[3]

Dear Zindagi (English: Dear Life) is a 2016 Indian Hindi-language coming-of-age drama film written and directed by Gauri Shinde. It was produced by Gauri Khan, Karan Johar, and Shinde under the banners of Red Chillies Entertainment, Dharma Productions, and Hope Productions respectively. The film features Alia Bhatt in the lead role, with Ira Dubey, Kunal Kapoor, Angad Bedi and Ali Zafar in supporting roles. Shah Rukh Khan plays an extended cameo role in the film. The plot centers on a budding cinematographer named Kaira, who is discontented with her life and meets Dr. Jehangir, a free-spirited psychologist who helps her to gain a new perspective on her life.[4]
The film's development began in 2015, when Shinde signed Bhatt and Shah Rukh Khan for a film to be made under her banner. Principal photography took place in Goa and Mumbai. The film features a score composed by Amit Trivedi and lyrics written mostly by Kausar Munir. Dear Zindagi released on 23 November 2016 in North America, two days before its worldwide release on 25 November 2016, to commercial success and critical acclaim, with major praise directed to Bhatt's performance.

Monday, January 9, 2017

Sekar Jagat Bali -Haha Parfume Situbondo

IMG_20161212_100859.jpgSalam Haha Parfume sebelumnya sudah jelasin tentang Haha Parfume dan beragam produknya. Kali ini saya bahas dulu tentang Lulur Sekar jagat yang berasal dari Pulau Dewata. Salah satu destinasi wisata Dunia. Ya Bali! Lulur sekar jagat dibuat dari racikan bahan alami. Sudah turun-temurun dari leluhur zaman dahulu. Hanya dengan bentuk yang lebih praktis dan lembut digunakan di kulit.

Haha Parfume juga sebagai penyedia lulur tersebut. Jadi, gak usah jauh-jauh menyebrang selat Bali. Dengan harga yang pas di kantong pastinya. Langsung saja saya bahas manfaatnya.

Lulur Sekar Jagat memiliki kegunaan sebagai berikut:
1. Mengangkat dan membersihkan kotoran pada tubuh.
2. Memberikan efek wangi aromaterapi.
3. Memperlancar aliran darah
4. Memberikan nutrisi, melembabkan kulit, dan membuat kulit harum alami.

Waw banyak juga. Kalau masih ragu, banyak yang sudah membuktikan. Baca di sini ya. REVIEW LULUR SEKAR JAGAT BALI

[caption id="attachment_448" align="alignnone" width="3328"]Haha-Parfume- Lulur Sekar Jagar- Situbondo[/caption]



Varian:
Avocado, Bengkuang, Boreh Rempah, Cendana, Chocolate, Coffee, Green Tea, Honey Coconut, Lidah Buaya, Milk, Pepaya, Seaweed, Strawbery, Wortel. Sekar Jagat ~ lulur dengan 14 aroma

Bagi yang ingin berkonsultasi atau memesan boleh deh add kami.
Konsultasi dan Pemesanan hubungi contact:

πŸ“ž WhatsApp : 085236976075

πŸ“² Pin BBM : D46DC0BF

=========================

HAHA PARFUME

Jalan Basuki Rahmat Sebelah barat SMP 1 Panji, Kec Panji, Kab Situbondo, Jawa Timur

#hahaparfume #beauty #beautycare #beautyful #cantik #cantikindonesia #skin #skincare #skincaremurah #wanitaindonesia #kosmetik #jualan #perawatanwajah #perawatankecantikan #perawatankulit #olshop #olshopindo #olshopid #olshopkediri #olshopjatim #kulitsehat #trustedseller #trusted #trustedolshop #trustedolshopindo #kediri #skincarekediri #skincarejatim #kediriolshop


TUM BIN II (WITHOUT YOU) NOVEMBER 2016 ~SINOPSIS



Jika cinta bukan dibuktikan dengan sebuah hubungan. Apakah dengan pergi orang yang engkau cintai akan bahagia?


Tum Bin (Tanpamu) sebuah cerita roman yang mampu menguras habis-habisan airmatamu. Dibintangi oleh Neha Sharma sebagai Taran. Wanita proposional yang kehilangan kekasihnya saat berlibur di musim salju. Kekasihnya Amar kecelakaan saat bermain Sky.


Tanpa sengaja seseorang berjaket hitam membuatnya terjun ke jurang.
Badai salju memperparah pencarian Tim SAR. Taran hanya bisa diam menanti kabar ditemani Ayah Amar. Kesedihan semakin parah saat hari ke-9 tak ditemukan jasadnya.
Hari-hari gadis cantik yang suka bersepeda semakin gelap. Bayang-bayang Amar selalu muncul. Setiap tempat yang ditempuh selalu merasa bahwa cinta sejatinya itu masih ada.
Tak kuasa Papaji merasa terpukul kehilangan anak semata wayangnya. Setelah istrinya telah meninggalkan lebih cepat.
Shekhar—lelaki yang seusia Amar kini tinggal bersama Papaji. Anak dari teman Papaji yang meninggal karena collaps.



Sunday, January 8, 2017

Resolusi Tahun 2017 yang Paling Ingin Saya Wujudkan

#FirstGiveAway Resolusi Tahun 2017 Yang Paling Ingin Saya Wujudkan



Alhamdulillah sudah masuk di tahun. 2017 Masehi tepat di Rabiul Akhir 1438 H. Hal yang sangat disyukuri masih dalam keadaan sehat wal Afiat. Biasanya semua insan akan gencar-gencarnya melakukan yang namanya Resolusi. Berkaitan dengan memperbaiki kualitas hidup. Agar lebih menjadi pribadi yang mantap dan lebih baik dari tahun sebelumnya. Sehubungan dengan itu saya punya impian yang ingin diwujudkan di tahun ini. Entahlah saya pikir semuanya akan memimpikan ini. Tapi saya ‘ngebet’ banget ingin direalisasikan tahun ini.