Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.

Friday, December 29, 2017

Tahun Baru Ala Ambivert (Coret-coret Akhir Tahun)

Merayakan Tahun Baru Ala Ambivert.
Dari dulu sama sekali belum tahu rupa dari tahun yang baru. Perayaan tahun baru itu apa? Menyambut tahun yang baru? Nungguin detik-detik jam 00.00? Ngapain? Lihat kembang api? Abis itu dingin-dingin pulang ke rumah? Macet? OMG!

Kalau dihitung beberapa tahun silam kurang lebih yang bekesan tentang malam tahun baru adalah ... bunyi petasan yang menggelegar. Dentumannya mengusik alam bawah sadar, ya begitulah. Ingar-bingar di jalanan, tak jarang ada pesta miras. Kalimat barusan itu sudah sering kita dengar. Begitu yang disodorkan oleh acara televisi di beberapa stasiun. Selalu ada masalah. Tapi, ambivert punya cerita unik tentang Pengalaman Tahun baru di beberapa kota.

Tahun pergantian 2014 menuju 2015 (Denpasar, Bali). 

Rekan kerja sudah menyiapkan jadwal untuk party di Kuta yang notabene kota yang tidak pernah tidur. Tapi, tempat kerja saya yang ownernya Muslim meminta kami menghadiri salah satu agenda rutin tahunan. Rukyah dan muhasabah diri. Bertempat di kediaman Big Boss. Acara dimulai seusai sholat Isya’.

Semua peserta rukyah harus duduk tenang dengan mata terpejam. Mengikuti apa yang dikatakan oleh pembimbing rukyah. Doa-doa khusus digemakan dalam ruangan tersebut. Kami pun mulai khidmat. Baru berjalan beberapa menit, dari ujung sudah terdengar teriakan. Ya! Ada peserta yang kesurupan.

Lantas semua formasi berubah menepi, menjauh dari sosok yang kemasukan jin. Sedikit ngeri, karena yang kami lihat mata nyalang ingin menerkam. Suara yang lebih nyaring dan saya tidak bisa menceritakan kejadian itu.

Intinya setelah rukyah, kami mendapatkan pelajaran. Bahwa jiwa kami pun butuh untuk selalu diberi tameg untuk terhindar dari lubang-lubang masuknya setan. Pukul 10.30 pm WITA kami disuruh langsung pulang ke rumah masing-masing. 
Berhubung jalan yang saya tempuh rawan macet, juga posisi banyaknya pengguna miras. Saya tidak ikut pulang ke rumah, saya memilih pulang dengan mbak V. Dia baik banget, ternyata kami pulang berenam. Saya, mbak V, Mbak I, dan satu lagi teman kami dari beda Showroom, ikut mengantar.

Jalan mulai sepi di area rumah Big Boss, mengingat jauh dari kompleks dan pertokoan. Tapi, kami berusaha untuk tidak gentar. Udara sudah dingin malam itu Rabu malam Kamis. Untung bukan malam Jumat. Lantas Aku, Mbak V dan Mbak I bertamu di rumah mbak I, kebetulan rumah mbak V tidak jauh dari mbak I. Sembari menunggu malam pergantian tahun. Mata sudah mengantuk sejak tadi. Tapi ditahan.

Tibalah saatnya malam itu berakhir, kami segera naik ke lantai dua rumah mbak I, untuk melihat taburan langit yang penuh dengan kembang api. Beragam yang timbul di langit, seketika aku merindukan rumah. Hanya selang beberapa menit, malam itu sudah berakhir.

Jadi, malam tahun baru hanya begitu saja?
Akhirnya kami ngobrol di ruang tengah kediaman mbak I, karena penghuni rumah sudah terlelap semua. Makanya mirip maling bisik-bisik. Mata kami sudah lima watt, ditambah keesokan hari, kami tetap masuk kerja. Akhirnya disudahi acara kami, aku dan mbak V pulang ke rumah mbak V. Kami pun melanjutkan acara menonton TV. Hihihi, bisa dibilang master begadang. Tapi, tak sampai pukul 2 dini hari sudah usai acara kita. Esoknya malah tepar.

Jadi kesimpulannya? Malam tahun baru membuat mata makin hitam. Efek begadang. Tubuh kurang fit karena dipaksa untuk terjaga.
Beda lagi pergantian tahun 2015 menuju 2016 (Malang, Jawa Timur).

Cepat sekali waktu bergulir, yang sebelumnya masih berstatus karyawan sekarang sudah berstatus mahasiswa. Malam tahun baru, bisa dibilang tugas yang menumpuk. Karena masih sore kami masih mengerjakan tugas di ITC. 
Bayangkan saja, itu hal yang menyebalkan. Walhasil aku pulang ke kontrakan. Bunda angkatku mengizinkan aku tahun baru bersama temanku. Tapi, aku gak suka. Karena kota Malang yang padat akan membuat jalanan macet.

Sedangkan temanku memaksa mengajak. Akhirnya aku ikutin saja, tapi sebelum itu kami mencari makan. Mencari makan. Jam 22.00 WIB mencari makan? Ada? Setelah keliling hampir sampai ke perbatasan Batu. Kami menemukan di salah satu warung. Membeli sate ayam. Bisa dibilang Mahasiswa itu kere, makan saja pas-pasan. Muka udah belepotan.

Usai mengisi perut, kami pun pergi melihat pertandingan basket di kampus, semacam latihan. Tapi, aku sudah merengek kepada temanku untuk pulang lebih awal. Entahlah aku merasa kalut, takut dan macam-macam. Tidak ada malam tahun baru selain ditraktir makan gratis. Tidur nyenyak sampai pagi.

Malam Tahun Baru 2016 menuju 2017 (Situbondo)

Kalau sudah di kota sendiri maka menjadi Rapunzell, di rumah. Eh tapi kebetulan kemarin itu masih sempat sibuk. Ngapain? Akhir tahun menyelesaikan bacaan. Buku Tentang Kamu-Tere liye dalam sehari semalam. Kebetulan bukunya dikasih oleh seseorang yang dermawan. Hihi, kemudian aku menulis resensinya.

Bisa baca resensinya di sini.

Punya waktu sendiri, membaca buku tuntas membaca sampai jam 20.00 WIB lantas langsung ngebut menulis. WAHHHH! Gak menyangka buku setebal 500 halaman bisa selesai dalam sehari. Xixixi. Itu karena selain bukunya memikat, juga isi ceritanya bagus. Bahkan tak jarang malah menangis sendiri. Terharu dengan perjuangannya yang super sabar , menghadapi segala cobaan.

Tetangga sudah ramai dengan acara bakar-bakar jagung dan ikan, aku hanya bisa diam mencium aromanya. Tak sampai pukul sepuluh, sudah memilih tepar. Tidur! Tiada masalah walaupun tak ikut melihat kembang api.

Tahun 2017 menuju 2018

Perkiraan ambivert sepertinya tidak akan jauh-jauh dari yang kemarin. Kalau enggak membaca buku, ya menulis atau mengedit saja. Toh, tidak ada manfaatnya melihat kembang api di tengah malam, berdesak-desakan dan menyebalkan saja kalau momentumnya hanya untuk melihat kembang api.

Sedih juga sih, akhir bulan kan sama aja dengan akhir tahun. Sama-sama tinggal dikit uangnya. Mending di rumah atau tidur, daripada begadang hingga kesehatan terganggu. Apalagi sekarang udah musim sakit, batuk dan macam-macam.

Saran Ambivert buat yang jomlo gak punya teman. Tahun baru tetap happy asal kita kreatif saja menjadikan momen yang baru. Misalnya nih, yang suka banget nonton film. Bisa tuh nonton film bareng keluarga, atau sahabat.

Buat yang suka baca kayak saya, nah- tantang dirinya untuk terus membaca. Selama masih diberikan kesempatan untuk membaca. Pilih buku-buku yang ringan dan pembahasan yang tidak begitu memeras otak, misalnya buku fiksi atau komik.

Bagi yang hobinya melukis atau menggambar, bisa banget memanfaatkan waktu untuk kreatifitas seninya.
Intinya, apa pun profesinya tetap untuk terus berproduktivitas. Demi masa depan lebih cerah. Tahun baru hanya sebuah bergantinya hari. Tidak otomatis dirimu berganti juga. Memanfaatkan resolusi tahun lalu yang belum direalisasikan agar segera tercapai.

Tahun baru ala ambivert itu berposes. ☺๐Ÿ˜Š
Kalau ada yang bingung kenapa sampul postingan gak ada gambar kembang api(?) Kok malah hanya tiga koin dan stiker bekas kegiatan literasi. Karena akhir tahun baru hanya itu yang tersisa. ๐Ÿ˜‚ 

Realisasinya masih jauh dari resolusi. 

Terima kasih sudah mampir. :)

Selamat liburan! ๐Ÿ˜„๐Ÿ™

Thursday, December 28, 2017

Kisah-kisah Unik Pembuatan Naskah September Wish (Part 2)

Lanjutan TAT S4
Cerita seru dibalik proses pembuatan TAT S4. Selain galau dengan kisah cerita Septian yang harus jadi penjual bakso. 
What? Iya! Dia cowok keren, naas takdir membuatnya harus berganti profesi. Tapi, apakah hanya karena sekolah sambil kerja masalahnya. Enggak! Ini masalah Sephia.

Loh? Mereka kembar? Sepertinya sih begitu. Nama mereka sama-sama berarti September. Mereka lahir di bulan September. Lantas apa hubungannya? 
Mangkanya kita baca bareng-bareng buku September Wish. Masih open Pre Order sampai tanggal 10 Januari 2018.
Mau lihat tampilan kovernya. Nih boleh deh dilihat gratis! :D



Tahu gak sih? Di balik kover yang keren itu. Ada banyak cerita lucu. Tapi akan saya ceritakan nanti di part terakhir.
Perbedaan di kover lama dan baru jelas terlihat, yang baru lebih manis. Mirip wajah Amzon yang kasih surprise. Hihihi.
Kebanyakan bercanda deh! Lanjut ceritanya.

Pembuatan bab satu sedikit rumit, karena saya harus membuka awalan dengan sedikit misterius, berbeda dengan pada umumnya. Tanpa meninggalkan karakter asli tokoh utama Septian dan Sephia. Mau enggak mau, suka tidak suka. Harus bisa terjun. Mengingat hari semakin mendekati DL. Hanya diberi batas waktu 23 hari?!! Hari pertama, kedua, ketiga saya sibukkan dengan riset. Ibu Kos (Ariny NH) marah-marah saat tahu perkembangan peserta AT di hari ke sekian masih menunjukkan progres yang minim. Apalagi novel versi asli yang dikirim e-book sudah diserahkan dua minggu sebelum tantangan AT.

Ambivert sama sekali tidak membuka isinya, hanya membaca blurb di internet. Sepertinya akan sangat membosankan. Apalagi harus bercerita nuansa remaja yang benar-benar labil, penuh emosi dan tingkah konyol lainnya. Entahlah. Membaca novel asli membuat mata sedikit mengantuk.

Selain pembawaan yang flat—karena gaya bercerita benar-benar (R+13) juga menggunakan POV 3. Sedangkan akhir-akhir ini asupan bacaan saya tentang novel berat, ‘serius’ dan jelas jauh dibandingkan dengan genre teenlit. Teenlit lebih mengarah pada pop, sedangkan bacaan saya lebih mengarah pada ‘serius’. Memang apa yang kita baca akan sangat berpengaruh pada gaya tulisan.

Misalnya kegagalan di TOP 7 UNSAM 2018. Saya terlalu banyak mengonsumsi tulisan cerpen serius, puisi-puisi yang sedikit berat, bacaan mencekam hingga sulit menulis sebuah cerpen komedi yang diberi batasan karakter harus 800 kata. Padahal normal cerpen itu 1000 cws. Ditambah waktu pengumpulan hanya 54 jam. Itu benar-benar membuat kepala ingin membenturkan pada besi.

Berikut komentar dari juri undangan. Oh, iya! Juri UNSAM pun undangan. Jadi saya sulit menentukan tingkat ‘humoris’ juri.



Hingga harus masuk ke bottom 2. 



Lantas setelah saya gagal UNSAM apakah saya kecewa? TIDAK! Kenapa? Karena waktu akan terbuang sia-sia. Tinggal 18 hari saya belum selesai menulis. Menurut penuturan Ibu Kos, naskah minimal yang dikumpulkan berjumlah 100 halaman. Jika peserta TAT S4 tiap hari menulis 5 lembar maka hari ke-23 sudah selesai 115 halaman. OMG! Sedangkan saya sudah absen menulis beberapa hari. Terpotong dengan riset dan membaca novelnya. Juga mengatasi move on dari kegagalan UNSAM 2018.

Ambivert harus semangat! Meski gagal ya, harus terus semangat. Begitu kata-kata yang sering saya katakan kepada diri sendiri. Saat saya baru memulai menulis beberapa halaman. Peserta lain sudah ada yang menulis bab ke-6. Sekitar 30 halaman. GILA!

Persaingan begitu ketat. Gimana gak ketat, peserta yang paling baik akan mendapatkan sebutan winner juga akan diberikan reward. Saya lupa mengenai reward tersebut. Dalam pikiran saya hanya terbayang-bayang 2 JT. Uang siapa yang akan digunakan, jika meleset dari deadline satu detik saja.

Pernah suatu ketika saya menawarkan berkenaan dengan genre yang diganti. Kata ibu kos harus siap melayang uang 500 ribu. Kembali menelan air liur. Ya Ela, paket-an saja yang 50 ribu lama kalau mau beli lagi. Benar, saat itu saya tidak punya paket-an hanya mengadalkan gratisan dari operator kesayangan. Hanya bisa dihubungi melalui WA. Saat yang sama tugas Pre Order Kumpulan Cerpen DARAH 2 masih berlangsung.

Rasanya kepala saya sudah akan meledak. Tapi, saya mencoba menjernihkan pikiran. Mencoba meyakinkan diri—bisa melewati tantangan AT. Ekspektasi satu hari 10 lembar jadi sepuluh hari bisa 100 lembar.
Kenyataannya?

Satu hari baru nulis 3 lembar sudah mengantuk. Rasanya laptop ingin dijadikan bantal. Kembali saya melakukan chatting. Karena saat yang sama Laptop sudah menunjukkan gejala sakit. Saya hanya bisa mengabaikan. Bagaimana caranya mengetik tidak tidur. Saya mematikan ponsel dan terus mengetik. Ditambah suntikan motivasi dari sahabat pena.

Seperti orang gila—mengerjakan tugas TAT S4; jarang makan, jarang mandi dan tidur pun jarang. Tapi, nyatanya saya malah tidak mengerjakan. Chatting, dengan adik-adik yang unyu. Mereka menjadikan inspirasi baru bagi saya.

Sebisa mungkin saya menjaga mood, meski kenyataannya saat itu bertepatan dengan masa PMS. Mudah baper dan mudah galau. Malah lebih sering waktu saya gunakan untuk memasak, bersih-bersih dan mencuci. Otot tangan sudah lelah, pikiran stuck. Semua orang malah berlagak menjadi ibu kos. Lebih parah lagi, setiap online bentar saja. Diomelin. 

Saya mencoba membaca buku sejenis September Wish, mulai dari buku Matahari untuk Jingga, Friend Zonk dan lainnya. Dari sana saya mulai mempelajari teknik menulisnya genre pop. Berbeda dengan tulisan Kak Ariny yang santai, bisa dibilang humoris tapi bagi saya masih flat. Gitu-gitu saja. Timbul ide baru yang muncul di otak saya.

Masih bab awal tapi gak mau bergerak maju, maka saya yakinkan diri untuk memasukkan karakter tokoh kesayangan saya—Marsyah. Teman dekat saya yang membaca karya cerpen di blog lawas pasti akan tahu, siapa Marsyah.

Mengikuti jejak kak Reyhan yang juga pernah menjadi teman duet di ajang UNSAM 2018. Dia memberikan bocoran, bahwa menulis novel teenlit merupakan genre yang paling mudah. Maka saya akan membaca sekali lagi novel September Wish. Berusaha menjadi pembaca awam, tidak tahu apa-apa. Karena sebelumnya--membaca seolah mengoreksi kesalahan tanda baca. Membaca yang kedua kali lebih cepat, karena ada beberapa plot yang sudah saya hafal. 

Ternyata ini novel bukan flat yang saya kira sebelumnya. Penulis begitu telaten menjadi dua sosok yang unyu-unyu. Mendalami karakter, karakternya bisa dibilang sangat kuat dan bikin baper.

Bergegas menulis, sudah semangat di awal. Eh, malah mati lampu. Ini namanya penulis tangguh (Cie ela puji sendiri). Biasanya saya paling tidak suka jamu buatan Nenek. Sejak mengerjakan naskah yang bikin ngantuk, segelas diembat tanpa bernapas. Bahkan sampai tetes terakhir, enggak peduli endapan jamu juga turut diminum.

Hari semakin mendekati deadline. Ada saja ujian yang mengganggu. Itu berkenaan masalah keluarga dan tidak mungkin ambivert share di sini. Pokoknya membuat galau dan gak bisa melanjutkan naskah seharian. Otomatis terpotong waktu menulisnya. Giliran sudah semangat untuk menulis. Pas malam itu!

Tuuutttttttttt ... suara dari lappy. Dia benar-benar bernada sumbang, seakan sekarat. Benar saja berkali-kali dicoba untuk hidup dia tak mau. Kesal bukan main. Maka saya tidur lebih cepat malam itu. Membiarkan naskah yang gak sampai 30 persen. Saya mencoba menulis melalui ponsel, yang ada malah tertidur. Iya! Ponselnya malah liatin saya ngorok. (Mungkin).



Esoknya pas Subuh sudah kembali menghubungi teman saya yang katanya akan ada hunting, dia meminta saya untuk berangkat lebih awal. JAM TUJUH. Itu jam-jam masih enak mendekam di kamar atau minum secangkir teh plus roti. Eh, tidak ada santai-santai. Semuanya gelap!

Langit pun gelap, semuanya terlihat sangat buram. Atau mata saya yang berkaca-kaca.
File belum sempat dipindah ke flash disk atau ponsel, sementara lappy saya divonis stadium 4. Dia memang sudah tua. Intel atom keluaran 2007, sepuluh tahun yang lalu. Dibeli bekas, baru sampai di rumah pun sudah berbunyi bib panjang. Ternyata ada kerusakan di bagian keyboard diakibatkan oleh debu. Begitu penuturan teman saya.

Sudah hampir satu jam berkelut dengan program yang akan di-install. Windows-nya yang membuat tercengang. Raib. Kok bisa ada system yang tereset otomatis hanya karena blue screen? Tak ingin berpikir macam-macam, saya meminta untuk menyelamatkan data saja. 

Nasar baik sekali, ia menyuguhkan segelas kopi. Biasanya saya anti sama kopi, sejak panik karena lappy mati. Maka saya putuskan untuk menandaskan. Untung saja saya tidak bisa online, setidaknya bisa terbebas dari status bully-an. Tapi, jangan salah! Saya punya agen FBI untuk mengetahui status yang di-posting oleh Ibu Kos.

Tiba-tiba dia buat status yang bikin geger peserta TAT S4. “Gimana kalau ide cerita diganti?” Kalau gak salah itu yang saya ingat. Entahlah apa pun itu, yang namanya diganti pasti akan merombak lagi.
Apalagi waktu semakin mepet. Tersisa beberapa hari lagi.

Bagaimana nasib lappy ambivert???

To be continue ....

Cerita Seru TAT S4 dan UNSAM 2018 (Part 1)

Alhamdulillah, Usaha tidak pernah menghianati `hasil. Orang-orang yang berada di sampingmu, sejatinya adalah guru terbaik. Meski kadang banyak yang membencimu dari bagian yang paling dekat denganmu. Itu karena mereka tak mampu, mereka terlalu mudah terbawa oleh suasana.


Wednesday, December 27, 2017



Thursday, December 14, 2017

#Tentang Sebuah PESAN

Tentang sebuah pesan. Dulu engkau tak akan pernah melewatkan satu pesan yang aku kirim, bahkan enggan untuk menghentikan sebuah pesan. Tapi, kini. Engkau malah melupakan pesan yang kubingkis untukmu. Bahkan terkadang, seolah melupakan ada pesan yang masuk dalam kotak masuk di ponselmu.
Itu tak mengapa, anggap saja itu sebuah perubahan cuaca. Pada saat hujan turun menumbuhkan rumput-rumput di halamanmu. Tapi, kebalikannya. Kemarau menyapa rumput hijau tadi menjadi mengering bahkan tiada sisa.

Siapa yang bisa mengetahui kadar perasaan? Tidak ada yang bisa menebak, bahkan orang terdekatmu tidak akan bisa mengetahui. Hanya Sang Pemilik Hati yang bisa mengetahui isi hati yang terlalu sering kita prioritaskan. DIA juga yang akan mencondongkan perasaan kepada perasaan lainnya.

Terlalu naif jika karena perasaan tak terbalas hingga menutup perasaan yang kita punya. Mengunci perasaan dan menjauhi. Memang sulit jika kita sudah dalam kondisi mengagumi tapi tak ada respon yang baik. Jangan bersedih karena kita bukan menjadi prioritas.

Entahlah ada cara paling mukhtakhir untuk mengurangi rasa kecewa saat pesan kita sudah tidak seperti dulu yang selalu cepat dibalas dan paling cepat dibaca.
Tetap tenang
Hanya dengan menenangkan pikiran, kita bisa berpikir jernih. Mengambil keputusan dan menyikapi dengan perasaan tidak gusar.
Menunggu dengan sabar
Barangkali tidak direspon cepat, karena ada kepentingan yang luar biasa hingga tidak bisa membalas begitu pesan sudah masuk. Biasanya, ada kepentingan yang harus didahulukan dari kita.


 Memberikan kesempatan di lain hari

Barangkali pesan kita sedang tertumpuk di paling bawah, hingga lupa untuk membalas. Itu wajar, mengingat tak hanya menerima pesan darimu. Mungkin dari grup dan pesan-pesan lainnya. Cobalah kembali membalas di kemudian hari, pastikan isi pesan bermanfaat atau urgent.

 Jika ternyata sudah berbulan-bulan tak dibalas

Tak perlu berkecil hati, tetap berpikir positif. Barangkali memang tidak cocok saat berinteraksi denganmu. Kamu yang cerewet, atau dia tak ingin mengusik hidupmu lagi. Dia lebih nyaman tanpa interupsi pesanmu yang kurang begitu penting.
Mencoba menghubungkan koneksi lagi
Sangat perlu, mencoba mencairkan suasa, memberikan kesan baru dan tidak monoton. Atau bertanya hal yang tidak menyinggung perasaannya. Boleh kepo, tapi usahakan tidak mengorek masalah pribadi. Sangat fatal akibatnya.
Berikan regangan
Sama seperti pasir yang terlalu erat digenggam. Ia akan menyelinap di sela-sela jari, melepaskan diri dari belenggu bernama ‘ketat’.
Cuek itu perlu
Untuk memberikan kabar bahwa dia baik-baik saja, maka cuek itu perlu. Membuat dia akan bertanya-tanya. Mengapa sikapnya berubah. Cuek di sini tak hanya tentang balasan yang dibalas begitu lama. Tetapi, lebih sering cuek menambah rasa penasaran dia.
Hindari mengumbar pesan yang pernah dia kirimkan
Jika tidak ada tujuan yang bermanfaat, maka hindari dengan menutup diri. Tidak lebay dan terlalu alay.
Itu beberapa tips pesan yang bisa mewakili perasaan pesan yang hanya di read tapi enggak dibalas. Misteri perasaan, yang terkadang lebih runyam dari roda yang berputar, atau gerakan awan di atas langit yang bernari-nari dengan segala motivasi yang diberikan.

No galau! No Pain!


Baiq Cynthia

13 Desember 2017

Bahasa Kalbu--C.I.N.T.A

Jika 'pasand' itu beda dengan 'pyar' sama dengan kulit mangga beda dengan kulit manggis. 



Meski sama-sama penutup. Meski manggis selalu sering diidentikkan dengan manis. Tapi, mangga selalu diidentikkan dengan kecut. 



Mereka sama-sama manis jika matang. *ini gak nyambung* 


Okay, ganti analogi. :v Sedikit rada bingung apa yang mau dijadikan analogi saat pikiran berkecamuk. 


✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒

Satu menit kemudian. 


Satu menit satu detik ....

Tarik napas. 

Ya mungkin saya akan share tentang sebuah kisah yang barangkali ada yang sama. Atau pernah mendengar. 

Kisah apa?
Cinta. Akan banyak yang merasa alergi sama kata itu. Namun, selalu sukses beredar di mana-mana. 

Cinta bagi anak labil diidentikkan dengan pacaran. Kisah kasih di sekolah. Cinta monyet. Ah, bahasa alay-nya begitu. 
Tapi, seperti yang saya bahas. Cinta itu datang tak diundang. Hilang tak diinginkan. Ya memang begitulah cinta.

Ada banyak hikayat cinta, Cinderella, Romeo-Juliet, Mumtaz-Shajahan, Laila Majnun, AADC. 
๐Ÿ˜‚

Mungkin saya tidak terlalu familiar sama yang terakhir, entah kenapa muncul saja di pikiran. 

Singkatnya cinta itu tidak melulu identik dengan suka. You know what? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Zaman dulu dijodohkan, mereka gak siap, tapi karena kasih sayang dan hormat kepada kedua orangtua. Atau salah satunya, atau lain sebabnya. Mereka menikah. Lucu, ya? 

Mereka akur. Mereka saling memahami. Aku kok tahu? Ya, aku melihat dari mereka yang mengalami dan menceritakan kepadaku. 'Mereka'. Jadi, bukan satu orang saja. ๐Ÿ˜Š

Hubungan mereka awet, meski cinta datang terlambat. Cinta hadir karena sering bertemu. 

Lah, kalau gak ketemu namanya apa? *jawab sendiri* ๐Ÿ˜Š

Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata, aku bukan orang yang membidani tentang cinta. Namun, aku hanya pendengar, penyimak tentang cinta yang hadir tiap waktu. Aku pernah merasakan? 

Saya yakin semua pasti pernah. Entah cinta sama buku, sama film, musik dsg. Cinta sama ibu. ๐Ÿ˜Š

"Saat dia berkata tidak, aku akan melakukan hal itu," kata seseorang yang hobinya makan masakan ibu. 

Setelah muter-muter gak jelas. Saya ingin menshare lebih tepatnya. :) Pengalaman mereka. Ya mereka yang pernah bertemu dengan saya.

Bagi mereka cinta itu indah, sekali mengenalnya maka tak akan bisa tidur maupun makan kecuali berharap pada yang namanya cinta. 

~*~

Seolah cinta disudutkan. Menjadi sebab semua masalah. Cinta pada anak misalnya. Anaknya jika diganggu (diusik) oleh orang lain. Bisa-bisa malapetaka yang muncul dari isi kepalanya. 

Bagiku cinta sederhana. Cinta itu tak bisa diucapkan tapi dimengerti. Mulut bisa saja bilang tidak atau iya. Tapi, sorot matamu tak akan bohong.

Ach! Sekarang .... 

Aku paham siapa yang benar-benar dicintai atau hanya disukai.
Itu ada dalam hati. Jadi, serumit apa pun kisah cintamu. Cobalah belajar mencintai dirimu lebih dulu. 

Waktu bisa membuatnya 'sadar' saat cinta sudah hilang.

"Kenapa kamu menyukai orang yang tak menyukaimu?" 

Itulah cinta. Pyar. 
Cukup .... "Dikatakan atau tidak itu tetap cinta", kata Tere Liye.

✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏
Samjha. ๐Ÿ’ญ
~~~

Tulisan ini ditulis tepat setahun lalu. 14 Desember 2016. Hanya belum diposting.
~Baiq Cynthia~

Thursday, December 7, 2017

Akankah Masa Lalu Kembali?

Masa lalu merupakan dua kata yang membuat perasaan nano-nano. Perasaan yang tak mampu diucapkan lagi saat kita mengingat dua kata pertama yang saya tuturkan. Masa lalu adalah hari kemarin, yang sudah dilewati. Termasuk satu detik yang berlalu. Seiringnya waktu, masa lalu terkadang membuat ‘runyam’ pikiran.


Hanya sedikit keliru, jika beranggapan masa lalu identik dengan hal buruk. Lebih ektrim lagi menjauhi masa lalu, dianggap musuh bahkan hingga ada yang meratapi. Kenangan-kenangan rapi yang menjalar itu juga masa lalu. Pengalaman berharga yang pernah dicapai, juga masa lalu. Beberapa pandangan masa lalu dari teman facebook saya yang mendukung munculnya artike ini.

1. Sesuatu yang sudah terlupakan namun haram untuk dilupakan. (Ghufron Seiha) Mungkin kategori ini sangat berat. Mengingat masa lalu baginya sesuatu yang pantang untuk dilupakan. Memang benar, sekecil apa pun memori yang sudah dilupakan. Akan segera hadir lagi, saat ada yang mengingatkan lintasan kecil tersebut. Menurutnya,masa lalu merupakan sesuatu yang sangat penting dari yang paling penting. Sedikit aneh saja, jika mereka malah melupakan. 
Seolah tidak terjadi apa pun. Padahal bisa jadi yang terlupakan adalah tujuan yang gagal kita upayakan. Saya menanggapi, masa lalu terlupakan karena ada fungsi ‘lupa’. Setiap perjalanan yang ditempuh, pasti menemukan manfaat yang luar biasa. Selama berusaha belajar dari masa lalu.
2. Masa lalu terkadang perlu dikenang, tetapi butuh untuk tidak perlu diingat. (Syaidinil Aksa Ahmad). Saya mencoba menguraikan jawaban ini, ada kategori masa lalu yang positif, juga negatif. Masa lalu yang positif akan membutuhkan porsi diingat daripada masa lalu negatif. Selama hal-hal yang dikenang merupakan pelecut semangat untuk masa nanti.

3. Tak akan pernah terlupakan. (Iftihana Ana). Menurutnya, masa lalu mengajarkan arti sebuah kesetiaan, termasuk dalam hal cinta. Mencintai tak harus memiliki, maupun menjadikan yang berharap cintanya berharga pada orang yang dicintainya. Mungkin benar, karena ada yang tidak benar-benar melupakan masa lalu. Meskipun telah berlalu. Masa lalu menjadi aset berhaga untuk tumpuan masa depan.
4. Masa lalu adalah waktu terindah yang akan tetap dikenang di masa depan. (Sovi Karamel), menjadi terindah karena memiliki banyak rasa. Kalau boleh saya menyimpulkan, apa yang terjadi di masa lalu beragam. Suka, duka, nestapa, bahagia, bergulat dalam sanubari pada waktu yang lebih cepat pergi. Hanya saja, waktu-waktu yang dilewati menjadi sejarah yang bisa menjadi terindah. Saat hati kita melepaskan untuk ikhlas, menerima kekalahan pada masa lalu, misalnya. Sama seperti (Devi Eka), mengikhlashkan yang telah berlalu. Tujuannya, agar fokus masa depan tidak buram karena masa lalu.
5. Beberapa pendapat menggelitik tentang masa lalu;
masa lalu adalah rasa, nano-nano. Sebuah rasa yang sulit diungkapkan (Ayu Citra Milania).

masa lalu adalah masa yang telah lalu.Itu (Aris Rahman Purnama Putra). 

masa lalu adalah sebuah lagu, masa lalu biarlah masa lalu. Jangan kau ungkit, jangan ingatkan aku. *jreng *jreng.

jika kita percaya pada kelak, maka hari ini adalah masa lalu. (Anfa Lah Mulia).

Respon yang luar biasa untuk ‘masa lalu’, bagi kita masa lalu akan tetap abadi. Meskipun ada banyak cara untuk menghapus jejak masa lalu. Tanpa sebuah masa lalu, kita tak akan bisa belajar untuk menyiapkan masa depan yang lebih berbahagia. Masa depan yang lebih menerima kondisi dengan hati yang lapang. Dengan adanya masa lalu, bisa merefleksi diri agar mengupayakan keburukan di masa lalu tidak terulang kembali di masa depan. 
Penulis : Baiq Cynthia 

Situbondo

Friday, November 24, 2017

#Tentang Memory

Kau tahu, kenangan terindah itu. Tak akan pernah berputar lagi. Hanya sekali.
Manfaatkan waktu dengan seseorang yang paling engkau cintai. Karena saat sudah pergi. 

Sedetik pun kenangan itu akan musnah. 



Masih tersimpan dalam benak; canda, tawa, kisah yang penuh kasih sayang.
Namun, itu hanya kenangan. Seperti mimpi saat terlelap. 

Wahai, kenangan ... engkau boleh tertinggal dalam bias pikirku. Tapi, tolong jangan mengusik masa yang kujalani. Karena aku tak tahu, esok masih tersisa waktu untukku. 
Biarkan aku pernah memiliki waktu yang sama denganmu. Biarkan tersimpan dalam bingkai memori paling indah. 

[Karena bagiku kebahagiaan terbesar, hanya bisa menjaga dirinya. Bersamanya di masa senja. Meski harus kulepas kenangan indah itu.] #SelamatBerpisahWahaiKenangan

#Mimpi(bukan)bungatidur

#baiqcynthia 

#DARAH

#PreOrderKumcerDARAH2

Monday, November 20, 2017

DARAH SEGERA HADIR!!!

"NGERI-NGERI SEDAP ANTOLOGI DARAH"

===================================

Antologi fenomenal ini baru pertama kali ada di dunia perbukuan Indonesia. Baru pertama dalam sejarah bahwa ada 5 penulis muda yang bertemu di dunia maya dan berkolaborasi dalam kumpulan cerita pendek. Bahkan dari tema yang digarap pun beda. Mereka ahli dalam membeberkan ide gila penyimpangan psikologis tokoh dalam cerita.

Ini keunikannya. Ini keberbedaan dari jenis antologi literasi.


Buku ini memuat 10 cerita dengan adegan berdarah yang pasti tidak terduga apa dan bagaimana cara pembunuh kejam itu melakukan eksekusi terhadap mereka yang dianggap sebagai suatu seni. Kengerian adegan pembunuhan yang diangkat sebenarnya bukan utama. Keutamaan antologi ini justru mengangkat nilai kehidupan yang perlu dijaga. Meskipun setting dan alur begitu mencekam, tetapi para penulis dengan lihai menyelipkan bahwa hidup ini perlu dihargai dan diperjuangkan. 

Selain itu, dari sisi alur penceritaan, tiap penulis mampu menghipnotis pembaca serasa menjadi seorang pemeran di dalam tiap-tiap cerita yg akan dibeberkan... Menarik bukan?? Setiap dari kita yang membaca ditarik masuk dan seakan-akan mengalami sendiri. Bisa jadi terhipno menjadi korban. Bisa pula seolah menjadi pelaku.

“Ngeri ketika lihat covernya. Pas baca, wah, ini luar biasa. Aku seolah menjadi korban. Aku bisa masuk dalam adegan-adegan yang disuguhkan”. _ Ani Tyas Purbasari – Mahasiswa Pasca Sarjana UGM

“Benar-benar tak kusangka. Saya kira hanya mengenas kegilaan dalam adegan kekerasan. Ternyata, dari setiap cerita aku sadar bahwa hidup manusia itu sangat berharga. Sangat beda dengan mahkluk lain.” _ Agnes Widiastuti – Pramuniaga.

“Sampai saya selesai membaca buku kece ini, saya masih penasaran dengan ide-ide segar penulisnya. Yakin! Buku ini sungguh menggugah bahwa manusia harus menghargai hidup orang lain. Persaingan hidup boleh sekeras baja, tetapi dalam kenyataannya, kita harus bersikap selembut sutra dan sesejuk udara pegunungan. Saya rekomendasikan buku ini untuk Anda baca sampai tuntas!” _ Edi Baskoro – Penggiat Seni Daerah tinggal di Yogyakarta.

Apa saja yang kamu dapat dari buku ini?

>> Kisah heroik yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang bisa kita serap. Hidup harus dijaga.

>> Pengalaman tak terlupakan karena dengan membacanya kamu dipastikan akan merasakan setiap jengkal rasa (takut, sedih,  gembira, dan galau)

>> Kesadaran tertinggi bahwa manusia bisa menjadi serigala bagi yang lain. 

>> Kesadaran terdalam bahwa manusia juga bisa menjadi sahabat bagi sesamanya.

>> Cerita-cerita fenomenal yang bisa menjadi panduan memahami orang-orang yang berperilaku 'sakit'.
Mengapa harus memesan sekarang???

Iya, harus... Kami membuka masa pre order ke-dua. Pada masa pre order ini kamu berhak menikmati buku ini cukup dengan uang Rp40.000 saja! Kami memberikan harga spesial ini setelah masa pre order pertama dapat diserap dengan baik. Agar kebermanfaatan buku ini semakin bisa menyebar ke banyak orang, maka kami merilis harga spesial PO batch dua cukup dengan Rp40.000,-. Harga normal di toko buku adalah Rp49.000,-. Artinya, jika Anda melakukan order pada 20 November sampai dengan 20 Desember, Anda hemat Rp9.000,-.

Kabar buruknya, harga naik setelah 20 Desember!! Harga mulai 21 Desember adalah Rp49.000,-. Tunggu apa lagi??? Pesan sekarang dan bakal tambah penasaran. Atau bakal gigit jari!

Apa yang akan kami berikan??

>> Buku bercover keren dengan sampul doff masa kini

>> Packaging rapi, berkwalitas, dan bergaransi

>> Bingkisan menarik (200 pemesan pertama) saat buku akan dikirimkan ==tanpa diundi / siapa cepat dia dapat==

.

.

Masa preorder batch 2 adalah 20 November 2017 hingga 20 Desember 2017. Tanggal 21 Desember harganya 49.000,-

.

.

Untuk pemesanan, silakan order ke nomor ini: 

Pilih salah satu

√ 081324373232 (fast respon)

√ 082334757562 

Pembayaran via transfer bank:
Format pemesanan: /Pesan /Darah /Jumlah /Nama /no. Hp /Alamat : /Jalan/no. Rumah /desa/kecamatan /kabupaten /provinsi /kodepos

.

#darah #kumcer #kumcerDarah #scrittobooks #scritto #berdarah #psikopat #fiksiHoror #HororPsikopat #horor #buku #bukuhoror #bukuterseram #seram

Sunday, November 19, 2017

#Tentang Belajar Privat

๐Ÿ‘ฉ "Iq, di rumah kamu ada anak kecil?"

(Kaget, ditanya macam itu. Masih stay Single.)

๐Ÿ‘ฑ "Adanya cuma anak tetangga? Emang kenapa?"

๐Ÿ‘ฉ "Iya, itu maksudku!"

~*~

Kalau ingat sama anak tetangga, aku jadi ingat beberapa tahun lalu jadi guru les buat mereka. Pulang kerja masih sisakan waktu buat memenuhi permintaan satu anak tetangga. Dia mau ujian kelulusan kelas 6. 
Tak disangka, semakin hari makin bertambah yang main ke rumah. ๐Ÿ˜ Seru! Bisa sharing. Tanya cita-cita mereka dan ngadepin beberapa karakter. 



Hanya saja, mereka yang sama-sama teman main. Lupa, ada tugas penting setiap malam. Belajar. 
Kadang harus teriak-teriak. Untuk mendominasi suara minorku. Emang dari dasarnya beda. Beda anak, beda karakter. 
Yang satu usil, menganggu temannya yang belajar. Ada yang gantikan posisi aku. Karena yang satu dari SD A sudah mendapatkan materi lebih dulu. Tapi, yang SD B ... merasa terganggu dengan penjelasan si anak dari sekolah A. 
Ricuh. ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ Aku tak terbiasa seperti guruku yang memukul meja untuk menenangkan. Jadi, aku diamkan beberapa saat.
Tantangan paling sulit lagi. Mereka rata-rata tidak pernah belajar di siang hari. Ditambah daya ingat terbatas. 
Bersyukur dari 7 yang diajari ada 2 yang tanggap. Langsung paham saat diajari. Sisanya ... mudah bosan. Menyerah, dsg. 
๐Ÿ‘ป๐Ÿ‘ป๐Ÿ‘ป๐Ÿ‘ป

Unjuk rasa sering terjadi saat proses belajar. Kadang masalah pinjam alat tulis yang tak dikembalikan menjadi ribut. Memang yang meminjamkan punya sifat yang kurang murah hati. 
Ayahku tak suka dengan belajar yang 'ricuh'. Terlalu sering, ada yang menangis dalam proses belajar. Sehingga, dia tak izinkan aku memberi bimbingan belajar kepadanya. 
Dalihnya, Aku pulang kerja menjelang magrib. Belum sempat istirahat sejenak. Pukul 18.00 mereka sudah mengetok pintu. ๐Ÿ˜ธ
Dilema jadinya. Sampai orangtua si Murid merajuk, akan memberikan Fee untukku. Karena menurutnya. Hasil belajarnya lebih baik. Aku tak sedang mencari penghasilan lebih. Kecuali aku menerima uang buat jajan dari bos ku. Anaknya juga les di rumahku.
Tapi, Aku sudah membulatkan tekad. Tidak mencari ribut sama Babe. ๐Ÿ˜‚ Les pun ditutup. Meski banyak yang kecewa. Aku pun kecewa. Belum bisa berbagi kepada mereka. 
Kasian banget. Di satu sisi, mereka kurang kepedulian orangtua. Orangtua di lingkunganku sibuk bekerja. 
Aku bersyukur, punya Umi. Beliau yang buat aku sebesar ini. Meski Beliau tak bisa baca tulis. Setiap pulang sekolah selalu mengingatkan tentang PR. 
Maka, masa kecilku hanya berkutat dengan buku, buku gambar, dan radio. Kecuali saat ada sepupu datang dan saudara. Hari-hari lebih menyenangkan.
Apalah arti dari memori masa kecil tak akan kembali lagi. Satu lagi, yang membuatku suka dengan dunia membaca dan menulis. Aku ingin menceritakan kisah-kisah sejarah lebih banyak lagi kepada Beliau. 

๐Ÿ‘ฉ"Iq, kamu belum membalas pesanku!"

๐Ÿ‘ฑ "Oh, iya. Akan aku bantu kabarkan pada semuanya." 
#TorehanAiq

Saturday, November 18, 2017

[MINI REVIEW] JEJAK HUJAN-Hary B Kori'un

Aku tidak benar-benar tahu arti melupakan. Melupakan sama dengan mengingat, bahkan saat seseorang yang sudah susah payah dilupakan akan selalu muncul ke permukaan.



Novel ringan ini sungguh mengaduk-aduk emosi. Penulis begitu pandai bermain sudut pandang aku secara bergantian dalam setiap tokoh.
Tapi, saya merasa ada beberapa bagian yang terlalu mubazir. Seperti pengulangan kisah yang dituturkan dalam sudut pandang 'aku' tokoh lain.

Ciamik novel setebal 132 halaman mampu membuat pembaca menerka-nerka apa yang akan terjadi. Ternyata endingnya tidak seperti terkaan saya. Selamat menerka-nerka.
Membaca novel ini hanya butuh satu jam 19 menit. :)
Kutipan yang memikat bagi saya, "Jika cinta selalu membuat belenggu untuk kita dan membuat kita tersiksa, saya kira itu tidak baik."

Terakhir, baca novel Unggulan Sayembara mengarang novel remaja 2005. Novel ini terbit kembali 15 Juli 2014. Sangat rekomendasi bagi pencinta novel remaja.



Selamat membaca. Jangan lupa manfaatkan aplikasi IJakarta. 



#Ijakarta

#bookreviewer

Friday, November 17, 2017

Kisah Cinderella, Hadiah Terindah dari Allah

Beberapa bulan lalu, sempat mampir dan tinggal di Surabaya bersama kerabat dari Aunty. 

Pertama kali masuk rumahnya. Aku kaget. Ini mimpi apa nyata? 

Saking kagetnya, aku 'ndlosor' setelah bersalaman dengan pemilik rumah. 

"Lho kok duduk di bawah? Dikasih kursi biar duduk di atas."

Aku hanya mengangguk, duduk pun tak sampai separuh. Bingung. Ini rumah milik Cinderella? 

Dinding bermotif kembang, ciamik dilihat mata. Lalu, aku melihat kursi santai yang biasa kulihat di TV. 

(Begini ya, orang kampung pergi ke kota). 

~*~

"Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah." (HR. Muslim no. 1467)



Pic resource : google 

Suatu ketika beliau yang sudah sepuh tapi masih terlihat cantik. Bercerita kepada kami. Aku dan dua sepupuku. Kira-kira kalau saya ceritakan ulang dengan bahasa Indonesia, begini. 
Ada orang yang punya perusahaan sukses, juga baik akhlaknya mencari wanita untuk dinikahinya. Tradisi yang masih digunakan yaitu menjodohkan. 

Diberitahu, fotonya juga ciri spesifiknya. Ternyata lelaki itu mengangguk. Juga ingin mempersunting segera. 

Saat ditanya, "Mahar apa yang diinginkan?" calon mertuanya sebagai perantara anaknya. 

Wanita itu hanya diam, tidak menjawab. 

Karena bingung, sang calon besan. Akhirnya meninggalkan sebuah cek untuk diisi bebas, berapapun. Selain itu memberikan sebuah cincin dibalik kotak kecil. Cincin bermata berlian. 

Subhanallah, wanita yang menerima itu merupakan perempuan sederhana. Berakhlak karimah. Meski dirinya tak pandai merias diri dengan make up yang glamor. Tetapi, mendapatkan pangeran yang tak pernah terbetik dalam hatinya. Sebuah hadiah terindah dari Allah.

Ternyata Cinderella, bukan hanya sebuah cerita fiksi. Allah yang maha membolak-balik hati manusia. Allah pula yang memberikan ketentuan. Bahkan yang Maha mencondongkan perasaan mahkluk-Nya. 

Subhanaallah. Mereka menikah, akhirnya dengan mahar yang telah ditulis pada cek tersebut. 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula bersabda:
"Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit." (HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 302, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/57 dan Asy-Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 282)

Wahai kaum Ikhwan. Saat engkau mencari kawan hidup selama di dunia. Utamakan mencari yang baik akhlaknya. Pilihlah jodoh yang baik agamanya pun sudah diberi petunjuk dalam surat Al Hujurat: 13 

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian ialah yang paling bertaqwa." 

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dalam kitabnya dari sahabat Abu Hurairah ra)

Wahai diriku, sebagai akhwat. Semoga, selalu semangat memperbaiki akhlak. Di tengah derasnya pergaulan bebas. Pun teknologi yang terus menghujam, menghilangkan sekat dan batas.

Ya Allah, yang Maha membolak-balikkan hati. Teguhkanlah diri ini dalam agama-Mu. Kuatkanlah jiwa yang selalu rapuh, tergoda dengan manisnya dunia.
Pertemukanlah hati dengan belahan jiwa yang telah Engkau tuliskan pada Kitab-Mu (Lauhul Mahfudz). 

Berikan limpahan hidayah kepada kami. Semoga kami selalu berada di jalan-Mu. 

Aamiin.

Based true story*)

#SalamUkhwuah

Penulis : Baiq Cynthia

Ketika Hujan Bulan Juni, Aku Menemukanmu

/Suara-suaramu mendengungkan sesuatu// membuat luluh bulir bening//


Oleh: Baiq Cynthia

Musim semi kembali, tiap-tiap ranting yang hampa terisi

Begitu pun hati, sudah lama merindukan tunas cinta berseri

Daun cemara yang dirindukan Kenari

Menjadi dermaga, pelabuhan hati
Hujan berbagi kasih pada bulan Juni

Membacakan syair rindu pada ranting cemara

Bulatan-bulatan bening menggantung pada daun lili

Kuncup-kuncup tulip menyibak haru, rindu dan tawa
Detik perjumpaan sepasang insan 

Menguar haru yang terpendam tahunan

Coklat hangat menjadi saksi, turut mengusap kebahagiaan

Bintik-bintik putih mengintip bingkai jendela 

Jalanan masih lengan, seperti tatapannya yang mengunci
Sudah lama aku menanti kisah ini

Lirih kusebut namanya, Aku mengadu pada Tuhan

Sudah lama membekap rindu,dengan kesibukan

Andai hujan tak hadir saat senja tumbang

Aku tak akan bisa menatapnya sekarang
Cinta yang pernah hilang, ditiup ruang dan dimensi

Tak pernah meminta tuk mencari pengganti

Karena namamu sudah terukir di lubuk hati

Namamu, sudah lama aku ikat dengan gembok kunci

Kuharap kau kembali, seperti kembalinya hujan pada bulan juni
Situbondo, 14 November 2017

Thursday, November 16, 2017

Kembalikan Diri Kepada-Nya [Self Motivation]

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Setiap pagi, saat langit cerah biasanya melihat ini sangat mudah. 
Keindahan ciptaan Allah. Kini hanya menjadi album kenangan. Entah kapan bisa mampir lagi.

Kalau melihat perjalanan demi perjalanan, tapak demi tapak. Rasanya sulit diungkapkan. Betapa terpuruknya saat itu. Beruntunglah, saat yang sama Allah menghilangkan separuh nikmat. 'Bisa bermedsos'. 
Tak bisa dibayangkan jika saat itu masih bisa buka medsos. Mungkin beranda akan dipenuhi rasa amarah, kecewa, pun sedih luar biasa. [Padahal bukan tempatnya, mengadu]. Tempat sesungguhnya hanyalah di atas sajadah.

Tapi, mereka yang yakin. Setiap cobaan yang menimpa hamba-Nya hanya sebuah ujian untuk lebih mendekat lagi kepada-Nya. Pun ujian yang dilimpahkan pasti sesuai takaran yang bisa dihadapi dengan bijak oleh hamba-Nya.

Mengapa diuji bertubi-tubi? 
Pertanda Allah menyayangi hamba-Nya. Allah menginginkan tingkat derajat hamba-Nya dinaikkan. 
Saat itu pun, waktu terlalu cepat mengalir. Hingga kusadari. Pemikiran yang pernah kulakukan terlalu pendek. 
Terlalu banyak ego yang didahulukan daripada buah pikiran yang jerni. Terlalu banyak mengeluh. Terlalu banyak kurang memahami keadaan. Menyalahkan situasi dan takdir. 
Padahal jika ditelusuri lebih dalam, Allah tak mungkin mempersulit kehidupan hamba-Nya. Selain kita sendiri yang menabung dosa. 
Setiap dosa yang mengalir menjadi penghambat laju kesuksesan sejati. Saat semua kata-kata bijak pun tak mampu memanggul. Saat itu pula rasanya ingin menjatuhkan diri pada hal yang dilarang.

Hidup hanya persinggahan, menuju perjalanan 'Pulang'. Hidup pun tempat memasung diri pada hakikat pencarian. 
Pun hidup menjadi sandaran mencari amal menuju akhirat. Pada akhirnya terlambat kusadari. 
Allah mendengar setiap doa kita. Allah mengabulkan yang kita minta. Allah Maha baik. Kita kadang yang kurang bersyukur. Kurang menerima dengan lapang dada.

Takdir kita memang telah ditulis jauh sebelum kita ada. Tapi, pernahkah berpikir hanya doa-doa setiap malam-Nya yang mampu memperbaiki nasib. 
Semoga hati kita senantiasa bertafakur, kembali   setiap lupa jalan. Pun bersyukur masih diberikan napas dan umur tuk menjadi muslim yang lebih baik. 

Tidak segalanya yang dilihat baik oleh kita, baik bagi Allah. Pun tidak segalanya yang buruk bagi kita, menjadi buruk di hadapan Allah.

Salah Satu Doa Yang Sering Dibaca Nabi Muhammad SAW 
ูŠَุง ู…ُู‚َู„ِّุจَ ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจِ ุซَุจِّุชْ ู‚َู„ْุจِูŠ ุนَู„َู‰ ุฏِูŠู†ِูƒَ ูˆَ ุนَู„َู‰ ุทَุงุนَุชِูƒَ

YAA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIKA WA ‘ALAA THOO’ATHIK.

Artinya : Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.

Allah ta’ala berfirman: (yang artinya)


“Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” 



(QS. Al-Baqarah : 216)

Berperang di sini, lebih tepat melawan hawa nafsu sendiri. Menguatkan diri hanya bersimpuh dan meminta pertolongan kepada Allah. Allah yang mengatur rezeki kita. Maka, Kembali kepada-Nya adalah cara mutahir untuk menyucikan diri yang selalu berlumur lumpur dosa dan salah.
Salam Ukhuwah dari seorang muslimah yang berusaha memperbaiki diri untuk tetap istiqomah.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Penulis : Baiq Cynthia

Wednesday, November 15, 2017

Pada Waktu yang Surut [Sebuah Bisikan]

Kemarin mungkin engkau diingat, sekarang bisa jadi mulai dilupakan. Apalagi esok?



Terlalu banyak kasus-kasus yang (pernah) heboh. Perlahan pudar, hingga bekas pijakan kaki pun disapu angin.
Tapi, pada esok di hari yang lebih baik, semua rekaman peristiwa akan ditampilkan.

Kenangan bisa raib, oleh peristiwa baru yang lebih indah. 
Kesempatan bisa hilang, dengan kesempatan lain yang tak terduga.
Tapi, waktu tak akan pernah bisa ditukar dengan semuanya. Waktu tidak bisa benar-benar kembali.
Selain, waktu kembalinya ruh pada yang memintanya mati. 
Situbondo, 15/11/17

Tuesday, November 14, 2017

#Tentang Menulis (Menulis Membuatmu Ada)

Punya lappy (nama laptop), baru empat bulan. Itu pun sering aku tinggal di rumah. Lebih sering ada acara ke luar kota dan luar Jawa. Total jalan-jalan hampir separuh waktu dari usia laptop. 



Pagi ini, aku sengaja membuka buku note tebal yang khusus menulis ide, bahkan selipan curahan hati. 

Tertanggal ... Juni'16, ada bukti pengiriman pos pertama. Beserta penjelasannya. Aku mengirim naskah lomba. Aku sedikit tak percaya. Karena saat itu ponsel pintar sudah raib, pun saat diberi ponsel lagi dengan seseorang. Sebut saja BB yang fiturnya terbatas pada medsos
Jadi, menulis naskah saat itu di buku. Di buku. Saat yang sama aku bekerja di salah satu CV proyek. Bukan main rasa lelahnya. Mengingat tugasnya, berhubungan dengan bangunan. Salah input data, sedikit. Fatal. 
Bulan Juni bertepatan dengan Ramadhan. Usai Subuh meski mata benar-benar kantuk. Mencari warnet dengan Babe. Hampir beberapa warnet yang didatangi tutup. 

Akhirnya, kami temukan yang buka. Pagi itu kota Santri dingin. Menjelang musim giling tebu. Tiba di warnet, aku langsung keluarkan catatan. Berhubung pagi, ada banyak komputer yang 'nganggur'. 
Sungguh, menulis saat itu benar-benar perjuangan. Melawan kantuk, waktu sewa warnet, waktu persiapan nanti nge-print dan kirim ke pos. Waktu kerja. Bulan Ramadhan masuk pukul 9.00 teng. 
Aku kembali membaca, antara yakin dan enggak. Menyalin satu cerpen delapan lembar tidak cukup 1 jam. Pukul setengah tujuh. Sudah ketar-ketir. Mengingat belum koreksi ejaan. Pun rasanya ingin menangis. 
Finish tepat pukul 7. Tapi, harus balik ke rumah. Persiapan kerja. Juga menyatukan dengan file lainnya yang perlu dibawa. 

You know? Kebetulan printer di warnet pun rusak. Jadi, sebelum kerja aku dan Babe mampir di tempat fotokopi. Penuh, karena lokasi tepat depan sekolah. Sudah hampir pukul setengah sembilan. Aku mempercepat memasukan dua map. Meski dalam kondisi acak-acak Babe tetap sabar menunggu. 
Berangkat langsung ke tempat kerja. Hampir telat. Tapi, bosku naik. :) Dia sangat pengertian. Bahkan, sering membiarkan waktu istirahat setelah makan. Meminjamkan fasilitas kantor untuk menulis. 
Tapi, aku sadar diri usai istirahat kembali pada tugas. Otakku pun meninggalkan dunia 'fantasy'.

Maka, kini ... jika aku tak sanggup menulis. Sungguh, memalukan. ๐Ÿ˜ฟ๐Ÿ˜ญ




Menulis bukan tentang batas waktu, menulis bukan mengejar target. Menulis merupakan jalanku. Pelarianku dari dunia yang telah menghukum impian-impian yang tak terwujud. 








#SalamLiterasi

#Aiq

Monday, November 13, 2017

#TENTANG JODOH

#TentangJodoh



Tak usah risau jika engkau dipisahkan dengan seseorang yang engkau sayangi. Boleh jadi ada dua kemungkinan.
1. Bisa jadi kamu terlalu baik.

2. Bisa jadi dia yang lebih baik.
Untuk kemungkinan yang pertama, berarti engkau patut bersyukur. Itu artinya engkau telah dipersiapkan dengan sosok yang lebih baik. 
Untuk kemungkinan kedua, lebih bersyukur lagi. Berarti Allah memberi kesempatan untukmu. Kesempatan untuk memperbaiki diri-memantaskan diri.
Percaya, jodoh datang tak terlalu cepat atau terlambat. Sejauh apapun jarak jodoh pasti akan bertemu. Hanya soal waktu. 
Memang jodoh sudah ditetapkan sebelum kita lahir. Namun, tetap wajib untuk ikhtiar. Bukan menunggu sambil berpangku tangan. 
Sebaik-baiknya jodoh yang mengajakmu bangun cinta bukan jatuh cinta.

*Masih Nasihat lama.
#DontbeSad

#YourSoulLikeYou

Kisah 'Pahlawan' & Kucing

Tolong menolong dalam kebaikan, begitu ungkapan yang sering saya simpan dalam benak. Meski hanya beberapa persen bisa mewujudkannya. 



Sumber gambar : google

Karena setiap bantuan yang kita berikan akan kita terima dalam bentuk yang lain. Janji Tuhan itu pasti, sedikit pertolongan yang diberikan akan dibalas berlipat-lipat tak terhitung. 

Terkadang, kesadaran akan membantu sesama pun pudar. Entah karena faktor rutinitas kesibukan yang luar biasa padat. Kurangnya empati terhadap sesama. Menjadi pahlawan, tak perlu menjadi tentara untuk membela tanah air. Membantu orang-orang lansia, anak-anak atau yang membutuhkan 'perhatian' khusus saat menyebrang jalan sudah meringankan beban mereka. 
    Hal-hal sederhana yang diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama;
  1. Seperti memberi tahu orang yang tersesat. Itu hal kecil. Tapi, sangat dibutuhkan bagi yang yang membutuhkan. 

  2. Mengembalikan barang yang jatuh atau tertinggal. Hal ringan, tapi bagi yang kehilangan sangat berarti.

  3. Mungkin punya banyak baju bekas. Pun bisa sangat berarti bagi orang yang kekurangan, korban bencana dan lainnya. 

  4. Meminjamkan uang, saat kondisi darurat. Pun merupakan pertolongan yang luar biasa bagi yang butuh.

  5. Hal sederhana lainnya, meluangkan waktu bercengkrama dengan keluarga. 


Hal-hal kecil di atas jika diupayakan secara maksimal. Kita bukan hanya sebagai pahlawan. Kita akan disegani, pun saat kita butuh akan diberi kemudahan. 

Mereka yang butuh pertolongan hanya sebagai perantara bagi kita untuk mendapatkan kesempatan berbagi, menolong sesama juga ujian. Apakah kita benar-benar bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri? 

Mustahil kita bisa melakukan sendiri. Kita hidup dan tumbuh besar karena orang lain (orangtua), kita belajar sesuatu pun melalui orang lain (pendidik), menikmati hal-hal yang bisa dikonsumsi dari orang lain (produsen), terakhir kita mati pun juga akan butuh orang lain (keranda tak akan jalan sendiri ke makam).

Sedikit senyum membahagiakan yang ikhlas untuk orang lain juga merupakan sedekah. Wujud berbagi kebahagiaan yang paling kecil. Sebuah senyum. 
Lantas, ada tumbuh begitu angkuh setelah dia mendapatkan target yang dia capai. Padahal, mustahil bisa diwujudkan sendiri. Coba, lihatlah betapa tangguhnya semut kecil mengangkat remah roti. Mustahil dia bisa mengangkat sendiri. Hadirnya teman, rekan, kerabat, semua orang di hidup kita wujud adanya peduli Tuhan. 
Sebelum, benar-benar ditutup. Izinkan saya berbagi kisah keluarga kecil kucing. Panggilannya luzi, kucing anggora yang usai melahirkan. Anaknya diadopsi oranglain. Dia kesepian, kehilangan. Sementara hasil indukan luzi dengan kucing lokal menghasilkan kucing blasteran yang lebih mirip kucing lokal. Ia pun memiliki tiga anak kucing. Berbulu mirip induknya.



Berhari-hari luzi merasa sedih, dia ikut merawat ketiga anak kucing. Melihat tuan rumahnya juga hidup susah. Memberi makan hanya sekali sehari. Luzi khawatir anak kucingnya kelaparan. Dia pun tak segan berbagi kelenjar mamae. Meski luzi sibuk menyusui. Sang induk pun berusaha mencari makanan. Mulai dari ikan di tong sampah, memburu tikus hingga mencuri ikan. 

Sebagai kucing yang tidak punya akal. Mencuri adalah jalan menyelamatkan nasibnya. Dia tidak tahu cara berkomunikasi, cara membuat pepes ikan, cara memancing atau cara menjual saham. Dalam pikirannya hanya anaknya dan cara menangkap tikus, kecoa, belalang, cicak yang bisa dilakukan. 
Maka, jika masih ada yang kurang peduli terhadap sesama. Bahkan melukai, berarti masih kalah dengan nurani binatang. Akalnya sudah tewas karena sifat kebinatangan lebih digunakan. 
Dari sana, kami menulis kisah-kisah manusia yang tidak peduli, mengeluarkan sisi binatang, rakus, tamak juga hilangnya hati nurani dalam sebuah kumpulan cerpen DARAH. >>Baca Selengkapnya 

Kemudian tak kalah penting, kembali lagi kepada sang Pencipta. Allah sudah membagikan rezeki sesuai kadar yang kita butuhkan. Bahkan masalah Rezeki, Jodoh, Kehidupan dan Kematian sudah diatur jauh sebelumnya. Sebelum penciptaan bumi. Subhanallah. Maha Suci Allah atas segala sesuatu. Menciptakan langit dan bumi, siang dan malam, laki-laki dan perempuan. 












Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Ali Imran : 190-191)






Manusia yang baik tentu akan menyukuri kehidupannya. Sebagai bentuk pedulinya bisa meluangkan waktu maupun materi untuk mereka yang membutuhkan. Jadilah pahlawan demi membantu sesama, peduli lingkungan dan binatang. 
Jika ada pakaian bekas yang masih layak pakai bisa donasikan kepada kami. LASNAS LMI SITUBONDOWOSO.

Kiranya itu saja yang bisa saya share di sini. Tidak menutup kemungkinan saya membutuhkan komentar anda. Barangkali ada yang tidak sepedapat. Bisa kita diskusikan bersama di FB : Baiq Cynthia

#SalamLiterasi 

Sunday, November 12, 2017

[Mini Review] Jingga dalam Elegi-Esti Kinasih

Keterpurukan bukan sebuah akhir. Bisa jadi awal yang tidak disangka-sangka. Setiap orang memiliki jalan tersendiri untuk menyematkan perasaan kalut, kekesalan, pencarian jati diri pun perhatian. 
Jingga dalam Elegi, lanjutan dari novel sebelumnya Jingga dan Senja. Benar-benar menguras emosi pembaca. Penulis sangat lihai memainkan karakter kembar identik yang memiliki perbedaan juga ciri khas. Alur yang begitu kuat, ditambah penggambaran latar turut menyuarakan tokoh. 

Ciri khas lainnya, novel ini meski pembawaan santai, tetap fokus dengan isi cerita. Sebagaimana cerita remaja, yang penuh drama, melankolis. Tapi, berbeda dengan gaya-gaya sinetron. 



Konflik yang ditawarkan memikat, tidak membuat pembaca terlalu tegang atau jengah. Sangat rekomen untuk pecinta teenlite, juga karya pop. 

Jangan lupa koleksi ketiganya! Bisa juga baca gratis di aplikasi e-book (Ijakarta).



#SalamLiterasi

Saturday, November 11, 2017

Kepadamu, yang Terbang Bersama Dandelion

Pada akhirnya aku tahu, siapa yang bersungguh-sungguh siapa yang ingin mencicipi manisnya cinta. 

Aku tak sedang bercanda pada dunia. Meski banyak orang abai akan sebuah impian. 



Sumber Google
Sudah setengah dekade, kau pun tak kunjung datang. Penantianku terasa terhenti. 

Denyut nadi bergerak tak pasti. Inikah perasaan yang dulu menggebu. Menghasut semua yang pernah menetap.

Kapan terakhir, engkau memetik dandelion? Jangan kau sebut kata itu. Jika mencabut satu saja tak mampu.

Lelaki yang kutunggu saat ini? Jangan tanya soal itu. Aku tidak pernah memimpikan lagi. Bahkan aku sendiri tak pernah ingin menatapnya lagi. 

Aku tak ingin bermimpi, pun tak ingin dimimpikan. 
Aku bukan pujangga waktu, yang pandai bercanda setiap detik. 
Kau boleh pergi sesuka hatimu. Kau boleh datang mengetuk hatiku bila kau siap. Aku pun tak akan pernah meminta kau hadir. Pun tak melarang kau pergi.
Bukan tentang sebuah janji. Tapi, ucapan janji yang kau-torehkan? Ah, sudahlah. Kuanggap kau daun kering, perlahan menyusup dalam tanah. 
Pergilah sesuka hatimu.
Jumat, 10 November 2017

21 Shafar 1439 H

Thursday, November 9, 2017

Saat Kau Merasa Lupa Asal Mulamu

Kau tahu capung, saat kakiku masih terlihat menjijikan melahap puluhan daun hijau. 



foto source google
Kau mencemooh, katamu aku tak bisa terbang. Setiap aku menyapamu, wajahmu melengos--menari dengan udara tak melihatku di antara tumpukan kelopak seruni.
Aku sedih, kalut, mataku sembab. Kulihat diriku di atas bening danau. Aku sangat buruk. Tubuhku lebih menyeramkan darimu. Pantas saja, engkau menghindar dan abai saat aku ingin berteman denganmu.
Aku malu, lantas membungkus diriku dengan pintalan benang. Aku akui, hanya butuh tempat sendiri. Bersembunyi, dalam liang kapas putih yang menggantung pada lengan ranting. 
Membiarkan tubuhku tak melahap satu jenis daun terlezat di dunia. Aku abai. Kupejamkan mata. Orang bilang aku sedang tertidur lelap berhari-hari. 
Kata si beruang, itu hibernasi. Entahlah, aku betah dalam kegelapan. Saat aku sendiri, setidaknya aku ingin memperbaiki diri. Aku juga ingin punya sayap. 
Embun mengetuk selimutku. Membebaskan hari-hariku yang kelam. Mataku berbinar melihat sekeliling dipenuhi bunga mawar dan matahari. Aku takjub!
Sial. Aku terpeleset, mataku terpejam. Kurasa tubuhku terasa ringan di udara. Sedikit membuka mata. Kyaaaa ... 
 Aku bisa terbang!

Tapi, apakah capung akan menjadi temanku? 
081117

Aiq

Wednesday, November 1, 2017

Lingkaran Hidup

Kenapa sih, hal yang lebih tinggi selalu dibilang enak. Sebaliknya, yang terlihat rendah dibilang tak enak.
Entah, pikiran apa yang merasuk dalam pikiran. Membuat riset kecil-kecilan. Bahagia itu gimana? Enak itu gimana? 
Bersyukur banget punya banyak family. Hingga travelling jadi bebas biaya. Allah yang memberikan kesempatan itu. Seperti impian tahun yang lalu-lalu. Travelling. Yups! ๐Ÿ˜‚



pic source google

Tahun ini menjadi tahun yang luar biasa bagiku. Selain bisa berpetualang ke beberapa daerah seperti Jember dengan sepeda motor, sumenep dengan rombongan keluarga, Malang sendiri, kediri dengan sepeda motor. Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Tuban, Surabaya, Banyuwangi. Terakhir Bali. 
Itu semua gratis! Alhamdulillah. Kalau bukan dari karunia Allah mungkin aku tak akan tahu rasanya naik mobil-mobil mewah sampai truk. 

Makan-makanan lezat (kata mereka) sampai makan yang tak biasa aku makan. Mandi dengan fasilitas air hangat sampai mandi harus menimbah. Jalan-jalan Pusat perbelanjaan besar sampai pasar-pasar. Tidur empuk dengan fasilitas AC hingga tidur desak-desakan dengan kipas angin rusak. 
Itu benar-benar enak!

Aku merasakan dengan nikmat yang tiada terkira. 
Lalu, ada orang yang begitu iri dengan posisi aku sekarang. Bahkan ada yang iri dengan temanku yang bisa magang di luar negeri. 

Prestasi macam apa yang terlihat tinggi? Padahal saat dijalani, rasa 'enak' darimana? Jauh sama keluarga, mengalami culturshock, beda musim. 
Padahal kita semua memiliki kesempatan yang sama jika berusaha. Melewati zona aman. Benar-benar terasa tertantang. Tergantung pada kemauan.
Maka tidak salah Kalam-Nya, Allah tidak akan pernah mengubah suatu kaum. Hingga kaum itu sendiri yang akan mengubah. ☺ 
Berhentilah iri. Menganggap diri lebih kecil. Jauhkan sikap pesimis dan rendah diri. Setiap orang punya potensi yang berbeda. Mereka punya kesempatan untuk maju, apabila pola pikirnya sudah maju. 
Bahkan, sejauh pengamatanku. Bagi orang kaya, harta itu bukan segalanya. Harta hanya titipan, untuk kaum yang membutuhkan. Harta ialah amanah yang jika dijalankan dengan benar akan mendekatkan diri pada Pencipta. 
Bagi yang tak punya, kekurangan bukan hal yang membinasakan. Selama masih berjalan di jalan yang benar. Selalu, optimis. Rezeki sudah Allah yang mengatur. 
Roda akan selalu berputar. Di atas atau di bawah. Bukan masalah serius, di mana posisi roda kita. Yang terpenting menjaga silaturahmi, banyak berterima kasih, juga hindari iri. 
Intinya syukuri hidup. Lihat sekeliling. Jelajahi dunia. Maka, akan tahu rasanya 'nikmat'.

Apa pun keadaannya, bersyukur. Terus berusaha mencari jalan keluar. 
Entah siapa yang menulis status ini. Selain dari Hidayah-Nya.
#SalamLiterasi

Thursday, October 26, 2017

​Tangga Waktu [A poetry Baiq]

Tangga Waktu
Ada kecamuk di palung hati.

Tentang sebuah rasa, tertinggal dan terlambat.

Jika rasa bisa hilang dengan Anestesi.

Tertinggal bisa melangkah lebih cepat.

Namun tidak untuk terlambat.

Terlambat tak bisa menarik waktu kembali.
Ada hal yang mereka inginkan dariku.

Aku tak pernah memilikinya.

Aku pun sebaliknya. 

Angan? Mimpi? 

Terlambat sudah!
Satu kata yang dibenci banyak orang.

Satu kata yang membuat jiwa melayang.

Satu kata yang memisahkan antara sekarang dan kemarin.

Tahukah rasanya terlambat?
Terlambat 'tuk percaya aku masih sendiri. 
Situbondo, 26 Oktober 2016
#Poetry

#BaiqCynthia

Tuesday, October 24, 2017

Dia yang Bertahan

Kamu melihat lahan tandus. Tanpa ada tanaman yang hidup. Hanya sebatang kaktus yang penuh duri.



Sumber gambar
~*~ 

Berkaca padanya yang tak begitu mempermasalahkan di mana tempatnya untuk bertahan. Tanpa setetes air saat mentari enggan pindah. 
Kamu merasa sendiri, tertancap banyak duri di tubuhmu. Kamu bertahan hidup. Mampu melindungi bunga yang hanya sekali tumbuh selama beberapa masa. Kamu bukan tak peduli mereka terluka.
Itu karena mereka mengusik hidupmu yang luka. Wahai kaktus?
Engkau mampu berdiri di atas tanah yang merekah, retak dan berapi. Tapi kamu terlalu baik, menjadi tempat perlindungan beberapa hewan di dalam tanah. Penghasil oksigen meski tak seberapa. 
Ini hanya masalah waktu. Biarlah begitu. Jika kamu dipaksa pindah di tempat yang subur dan berlumpur. Riwayatmu pun berakhir. Membusuk .
Takaran dari PenciptaMu tak akan kurang dan berlebihan. Cukup. 
Hai kaktus? Aku salut ๐Ÿ˜Š 
#Aiq
#Celoteh2016

Wednesday, October 18, 2017

Cinta Bilik Hati ~ Baiq Cynthia

Diterbitkan di Takanta.id

Orang bilang cinta itu hadir karena tatapan mata turun ke hati. Tapi, bagiku cinta itu aneh. Cukup mendengar namanya desiran halus muncul sebilik hati.



Sumber gambar : Tumbler

Tak pernah melihat sebelumnya. Hanya sekedar nama. Tak tahu rupa, tutur kata, cara menatapnya. Bagiku sudah cukup meski hadir sebuah nama. Semua nama yang hadir tak ada sedikit yang memahami. 
Apa mungkin karena terlalu dalam aku mengenalnya. Pernahkan kita berjumpa sebelumnya? Tapi, dalam bentuk yang berbeda. Mungkin kita sepasang merpati yang telah melewati ribuan pulau. Menari bersama di layar langit. Saling mengikat janji setia. Tak akan melepaskan. Kau menyusupkan cincin tak bermata pada pergelangan tangan.

Oleh :Baiq Cynthia

Tapi, aku tak ingin menjadi merpati. Sendiri dalam sangkar. Melihat dari kejauhan. Setelah malam itu engkau memilih pergi. Berakhir sudah masa bisa bercengkrama. Aku cemburu pada sepasang bunga aster. Teduh namun selalu beriringan. Mungkin kita sudah terbiasa berjauhan. Kau di sana dan aku di sini menatap purnama yang sama. Tak bersua sepanjang masa penantianku.

Kemarin aku menemukanmu. Aku mendengar namamu disebut, mata kita bertaut pada keheningan. Aku merasa kepakan kupu-kupu dalam perut. Aku tak tahu apakah engkau merasakan debaran itu? Lalu aku diam-diam mencuri senyumanmu. 

Kau yang mampu membawa tawaku mengucur. Tanpa harus bisa mengajakmu bicara. Padahal dalam benakku, ada banyak yang ingin kuutarakan. Entah itu tentang musim hujan yang tak datang. Tapi, kehadiranmu mengajak bercanda langit hingga tertawa berderai. Ratusan kepingan air mendarat di tepat pada rambutku. Kau berlari cepat menepi, senyum tipis terbit saat itu. Kumenadah wajah pada langit. Kubiarkan ratusan peluru hujan jatuh, muka telah siap menadah.

Sesaat kemudian, kulihat dari kejauhan. Engkau tengah menerima telepon penting. Aku pikir dari seseorang yang engkau kagumi. Tetapi, samar-samar kudengar kau menyebut wanita yang telah hadirkan kau untukku. Senyum renyahmu terekam cepat. Aku tak akan melewatkan kedipan mata saat kaumengerjap. Berpikir tentang hujan yang memasung kita. Aku turut bahagia saat bisa bersama meski aku tak sendiri saat itu. Tahukah? Aku merasa potongan puzzle telah lengkap.

Gambar waru di hatimu bertemu dengan jantungku. Merekat seakan tak akan pernah lepas lagi. Bagiku, kekosongan yang selama ini melekat. Pergi berganti terisi. Sesuatu yang bernama hati datang menghampiri. Mengaku bahwa ada yang tertinggal dengan hatinya. Tak ada pilihan yang baru, ucapnya penuh penegasan.

Purnama menjadi saksi saat sentuhan ucapannya menyatakan hal yang kutunggu. Sayang sekali. Aku sadar kita berbeda dimensi. Terlalu banyak yang berbeda. Kau pemilik kastil di tengah laut. Aku hanya penjaga kerang di dasar laut. Kau memanggul lingkaran rubbi di atas rambutmu. Selendang merah tanda kebesaran menggelayut di belakang bahumu. Dalam anganku, aku bisa bersembunyi dalam selendang itu.

Aku salah duga, kedatangan puteri bermata biru dengan bibir merah muda memanggilmu dengan sebutan kekasih. Aku mengurungkan kaki untuk melangkah masuk. Badanku bersembunyi dibalik pintu. Mendengarkan percakapanmu dengannya. Katanya dia diminta datang oleh orangtuamu. Dia jodoh yang diberikan langit kepadamu. Maka tak bisa mengelaklah engkau. Malah engkau menyatakan akan mengikat dia dengan janji suci kepada Tuhan.

Getaran dari langit terasa menelusup mencari gambar daun waru yang pernah melekat pada hatiku. Aku membiarkan lepas. Biarkan hatiku kembali tak utuh. Meski engkau sudah benar-benar akan melupakan. Menjadikan pertemuan itu hanya sebuah kebetulan. Hingga hatiku terlanjur tertaut. Biarkan saja.

Bagiku, cinta bagaikan meniupkan udara pada angin. Menyatu dan akan terus begitu. Biarkan hatiku kini menjadi berbekas hatimu. Padahal aku tak pernah bersua sama sekali. Kau cukup berdiri di sana. Tak perlu menampakkan diri.

Aku tahu, kita berbeda. Kamu tak akan pernah mengerti, kemauanku.

Meski begitu, aku ingin bersamamu.

Bersama menjalani rangkaian hari yang menyenangkan.

Hatiku bergetar lagi, saat mengingat namamu.
Situbondo, 16 Okt. 17

 

Monday, October 16, 2017

Hampa Tak Masalah

Saat hampa mulai menyelimuti. Berhenti berpikir. Keadaan titik jenuh akan membunuhmu, secara perlahan dalam jangka tak tertentu.


Sumber Gambar : google

Aktivitas, olahraga, silaturahmi dan kembali kepada-Nya. Bisa membuat jiwa yang semula hampa, sirna. 
Semakin menyibukkan diri, semakin kecil titik hampa menyemai, begitu pula dengan menjalin persahabatan, berdamai dengan diri sendiri.
Bersyukur dan mengingat keindahan ciptaan-Nya. Menyelami luasnya alam penuh pesona. Itu dibutuhkan untuk menyegarkan pikiran dan membuka wawasan.
Setiap detik ada saja yang menghilangkan titik fokusmu. Tetap berjalan lurus beraturan di atas kebajikan. Temukan keindahan di setiap kesulitan.
Hidupmu terlalu berharga untuk merasa sendiri--merasa hampa. Kamu tak sendiri,  berinteraksi dengan saudara yang dekat maupun yang jauh. Mengelilingi kota yang penuh hal baru. Membahagiakan mereka yang kurang bahagia.
Bersyukur, Allah selalu menjaga setiap pijakan langkah kakimu. Cause life is journey from Allah to Allah. ๐Ÿ˜Š☺
Ruang hampa~~ di ruang angkasa. ๐Ÿ˜ฎ
Lapangkan hatimu, bersyukur maka hampa akan musnah. ๐Ÿ˜Š
#happyweekend 

#Aiq

#hampa

Sunday, October 15, 2017

Masa Lalu Sejarah Paling Indah

Setiap orang memiliki masa lalu. Indah, pilu, suka, duka, bahagia, sedih, asam, manis, pahit. :)



Sumber gambar: Google

Masa lalu bukan membuatmu lelah dan berhenti. Terus menapaki kehidupan yang kadang berangin, berawan, hujan, cerah. ๐Ÿ˜ถ
Ketika waktu mengubahmu lebih mendewasa. Usia menua itu mutlak dan dewasa itu pilihan. :)
Bukan lagi zaman menyakiti diri, ini zaman endorself. Brandingself--katanya tapi kenyataannya masih tipis yang lolos. 
Nikmati setiap detik saat sehat, karena akan merasa menyesal saat sakit.
Bukan masalah kejayaan yang membuatmu abadi, namun sebuah nama yang terukir di hati setiap orang yang terus abadi. Kebaikan hati, ketulusan cakap pribadi. 
Hal buruk mudah saja diingat, tapi kebaikan akan selalu bersemi tanpa dibatasi oleh waktu.
Masa lalumu biarkan tenang di sana. Cukup hari ini lebih sempurnakan. Esok lebih baik dari sekarang. Hari ini akan menjadi kemarin. Lupakan hal yang tak menyenangkan. Renungi--perbaiki. 
Bukan seberapa sering terjatuh, seberapa kuat kaubangun.
Bangun dari masa lalu yang kelam. Akan ada kemilau yang indah di masa mendatang.
Syukuri kehadiran mereka yang membuat harimu lebih bermakna. 
Mereka datang bukan tanpa alasan. Jangan menyesali masa lalu. Kini senja mulai meredup. Hari ini pun menjadi masa lalu. 
Bernostalgia sewajarnya. ❤๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š☺
Masa lalumu itu indah. ๐Ÿ‘ช๐Ÿ‘ญ๐Ÿ‘ฌ

Masa lalumu, masa laluku. ๐Ÿ‘ฅ
#Aiq

#Masalalu

Friday, October 13, 2017

Seruni (bukan) Bunga Kertas-Baiq Cynthia

"Jangan pernah merasa kecil (terkucilkan)."

Mungkin sekarang kamu bingung tentang tujuan hidupmu.



Sumber : Google

Allah maha mendengar suara hati kecilmu. Tapi, ujian ini semata-mata untuk membuatmu lebih kuat suatu saat nanti.
Ini hanya masalah waktu. Yakinlah buah kesabaran itu manis rasanya. Sabar disertai upaya dan do'a. 
Kau-tak harus dengarkan celotehan negatif orang lain. Ini hidupmu, ini jalanmu. Dengarkan saran yang membuatmu bertambah kuat.
Boleh jadi kamu kehilangan anak tangga untuk mendaki langit. Tapi, kamu bisa membuat menara sendiri. 
Kehidupan itu fana. Kau-tahu itu. Kemudian apa yang perlu dibuktikan? 
Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan-- Itu tertera di dalam musyaf. 
Perlu waktu untuk memahaminya. Hei! Kamu sudah 1/5 abad. Ayolah. Lebih realistik. 
Jangan tergiur manisnya dunia yang membutakan akhiratmu.
Walau mata mereka terbuka, mereka tak melihat. Walau bibir mereka bisa bicara, tapi tak bisa menasihati. Walau tangan mereka utuh, tapi tak ingin berbagi. Mata batinnya telah lenyap. Kuharap itu bukan kamu, dia atau kalian.
You know ... it's dangerous of life.
#Renungan

#KeepCalm

#Aiq

#13Oktober2016

[Review Buku] ISTIGHFAR CINTA ~ Novel Pewaras Hati (Mulyanto)

Penulis memaparkan dalam Iftitah novel manis yang sarat pendidikan ini merupakan hasil tadaburnya pada Al Quran surat At-Taubah ayat 74: "Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi."



Buku berjudul Istighfar Cinta sebuah novel Pewaras Hati karya Mulyanto benar-benar memberikan inspirasi jiwa untuk senantiasa menggantungan diri kepada yang Maha Memiliki juga Maha Menerima Taubat.

Ria Melisa si teller bank swasta, sebagai wanita karier--hobi shopping sudah menjadi bagiannya. Menghabiskan waktu untuk hura-hura. Tak terkecuali mendekati lubang lumpur yang sangat dilarang—berpacaran berujung zina. 
Allah menitipkan janin di rahim Ria. Tetapi, saat itu hidayah juga datang. Kasih sayang Rabb yang mengucur pada hambahnya. Termasuk jodoh untuk Ria.
Bagai bunga seruni, tersenyum merekah bersenandung pada kumbang untuk mendekatinya. 

Tak ada bayangan untuk membunuh segumpal darah yang tak berdosa. Ria terus mendekatkan diri, memperbaiki hati. Hingga si cabang bayi akan memiliki seorang Ayah. Meski bukan ayah kandungnya. 
Ini bukan akhir segalanya, justeru menjadi tantangan awal untuk seseorang yang menyatakan cinta kepada Ilahi.

 




Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu [ร‚li ‘Imrรขn/3: 186]



Petik hikmah dalam buku yang penuh hikmah. Sedikit berkaca manik mata saya, seusai membaca kisah penuh inspirasi. Membaca novel ini laksana menonton sebuah film fenomenal. Saya sangat setuju jika buku ini kelak difilmkan. Meski nantinya akan ada perbaikan di beberapa bagian. 

Selama membaca novel yang sederhana, sangat memikat karena ukurannya yang tidak terlalu tebal. Sekali mendaras akan tandas. Bisa menjadi teman saat perjalanan. 

Novel ini benar-benar mengedepankan nilai-nilai agama. Maka tak salah judulnya Istigfar Cinta. Setiap halaman mengajak pembaca untuk merenungi arti hidup. Hidup yang tak hanya tentang hakikat duniawi tetapi juga ukhrawi. 

Berisi juga tentang parenting, bagaimana mendidik anak secara tak langsung saya mendapatkan ilmu. Setiap bayi terlahir seperti kertas kosong. Hanya orangtua yang menentukan akhlak dan agamanya.
Sangat menyayangkan, plot yang terkesan cepat. Alternatifnya, hati ikut membaca selain pikiran yang mengolah. Saya menyukainya! Sangat rekomended bagi yang ingin berhijrah namun masih belum percaya diri. Bahwa Allah menerima hambah-Nya yang bertaubat. 
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri (QS Al-Baqarah [2] : 222)

Salam ukhwuah. 

Situbondo, 

Jumat, 13 Oktober 2017

Pereview : Baiq Cynthia

Judul : Istigfar Cinta, Novel Pewaras Hati

Penulis : Mulyanto

Penerbit : Kota Tua

Cetakan  : Pertama, Maret 2017

ISBN : 978-602-61136-6-5

Thursday, October 12, 2017

Mawar yang Mengutuk Kupu-Kupu

Pada akhirnya bunga yang kau berikan layu. Dipanggang udara. Sudah hampir dua puluh lima purnama. Engkau datang sebagai Dewa. Mencoba menjadi sayap untuk bidadari pujaanmu. 


Sumber : Pinterest.co.uk

Kedatanganmu membius setiap jengkal langkaku. Bahkan pujangga tak menandingi. Mata elang yang terus menerawang. Mencari permata yang hilang. Dengan erat engkau mencengkeram batu rubi bermata biru.

Menancapkan pada ujung kehormatanmu. Sekarang engkau tampak seperti maharaja. Kristal-kristal anggun memesona setiap bidadari yang melihat. 
Tutur katamu bagai tiupan angin. Sejuk menenangkan setiap hati yang sendu. Penuh bijaksana dengan tongkat kebesaranmu. Memasangkan sepatu kaca kepada bidadari yang kautuju.
Seperti badai yang datang tanpa aling-aling meminta waktu. Kau menunjukkan dua tanduk merah yang tersembunyi lekat mahkota. 
Dengan rakus, menggerogoti serpihan daging yang sudah lama membiru. Menandaskan urat-urat kecoklatan. Hingga perutmu lebih berbobot dari otakmu. Belatung!
Selamanya ... belatung tak akan pernah menjadi kupu-kupu. Kau biarkan tubuh bidadari belumur dosa. Dirampas kesuciannya. Dilempar dari istana langit. Kau tertawa disertai seringai. Tawamu mampu menggoncang dunia yang meranggas.
Aku pindah pada wujud mawar. Merekah pada musim semi. Gugur dengan sekali hempasan angin. Balas dendam belum tertunaikan. Sengaja cairan nektar kucampur racun. Saat kau menjelma menjadi kupu-kupu. Aku pastikan sayapmu runtuh. 

Maka kau akan menjadi belatung lagi. Kau yang terkutuk oleh ribuan bidadari. Tak akan pernah bisa terbang lagi.
Aku? Aku tetap menjadi mawar yang beracun. 

Situbondo, 12 Oktober 2017

Tuesday, October 3, 2017

Saat Sakit tak Melihat

(Dokter part 2) 
Beliau langsung tergopoh dengan stetoskop. Lima garis keringat siap meluncur--tapi menggantung di kening.



Dia langsung menyuruh, berbaring tempatku pemeriksaan. Alat tensi darah, sudah mulai direkatkan pada lenganku.
Dia berujar, "Kurus kok normal." 
Aku bilang sebelumnya, 100/70 saat di Surabaya. Sekarang udah baik. 
"Jangan sampai kosong," katanya lagi setelah mendengar suara sendawa. Tepukan pada perut mirip suara gendang.

Padahal sebelum berangkat sudah terisi. Meski makan sekitar 3 sendok.
Dia pun mengisyaratkan untuk tengkurap. Seperti biasa cairan dalam jarum, yang khas untuk pasien. Tidak kudapatkan di salah satu layanan kesehatan di Surabaya. 

Lagi, kutunjukkan. Beberapa tablet yang selama ini dikonsumsi. Mulai dari vitamin, pereda mual, hingga penghilang nyeri. Satu lagi pil milik sepupu yang racikan khusus, dokter ternama di kota sebelah Situbondo. Tidak mempan.
Aku kembali pada timbangan. Aneh, padahal saat sakit turun drastis 5 kg. Kini, naik lagi. Kupastikan timbangan saat sakit pertama itu rusak. Karena titik nol saat menimbang melenceng ke minus.
Saat ini aku yakinkan timbangan akurat. Masih utuh dengan plastiknya. Juga penurunan tidak begitu drastis. Sekitar turun dua kilogram.aa
Meski nama obatnya sama, bentuk dan warnanya berbeda. Yang satu hijaunya terlihat pudar. Satunya masih terlihat segar dan berlabel. 
Obat yang sebelumnya, diminta untuk disingkirkan. Pesannya. Makan rutin tiap 4 jam sekali. Hindari pedas dan kecut. 
Dia pun berkata sudah 6 hari rawat inap karena masalah penyakit yang sama denganku. Dia pun menunjukkan bekas jarum infus di kedua pergelangan tangannya yang berjumlah 4. 

Hal sepele. Seperti salah makan. Bisa berujung rumah sakit atau maut. :') 
Jaga kesehatan, ya! Setahun lalu aku sakit begini. 2 tahun yang sama juga sakit ini. Sepertinya selalu begitu. Pola makan yang salah sangat berbahaya. 
Makan rutin meski sedikit dan aktivitas banyak. Daripada sakit. Sehat selalu dokter. *Eh, jadinya dokter sama pasien saling sharing penyakit yang sama. 
Makasih ya, Dokter. 
#curcolmalam

Thursday, September 28, 2017

Dia yang Mengembara - Baiq Cynthia

Dia pun punya keputusan untuk berjalan ke mana. Meski dia sudah lama berpisah dengan induknya. 



Malang sekali dia, yang meski memiliki ribuan kaki, tak bisa berlari seperti Cheeta. 
Lantas apa hakikat hidup? Jika kenyamanan tidak didapatkan. 
Aku tak tahu dia tinggal di mana bersama siapa. Menurutnya keluarga itu adalah yang bisa menerima apa adanya. Tak harus ada hubungan kekerabatan. 

Oh, sudah lupa? 
Sejak kapan dia lupa? Dia hanya ingin berjalan-jalan menapaki takdir hidup. 
Dia berhak bahagia juga meski sendiri. 
Jika dia diberikan kesempatan untuk terbang, mungkin dia akan memilih terbang. Melihat dengan seribu kakinya.

Mungkin, dia saat ini terasing. Terpasung pada dimensi waktu yang membelenggu. Dalam lubuk pikirannya. Dia pun ingin sekali seperti keluarga bebek atau rombongan semut. Yang hampir setiap pergi, selalu bersama-sama. 
Tapi dia hanyalah dia, yang terus bertahan saat kemarau datang. Yang mengembara saat hujan datang bulan September.
Surabaya, 28/9/2017

Saturday, September 23, 2017

Satu Kata untuk Senja

Sebelum cahaya padam, aku sematkan rasa rindu yang tak pernah terucapkan. Kepada arak laut yang tak henti bersorak. Diam-diam hatiku menyimpan namanya. 


Setiap aku menatapnya, tanpa kurasa akan balasan tatapan itu. Sorot matanya yang teduh menenangkan. Gelak tawa yang terus mengajak bibirku tersenyum. 
Aku tahu perbedaan ini menyakitkan. Dia yang menyangga permata, aku hanya mampu menantap pada kaca. 

Kulihat dia berdiri terbalik dalam bayangan air bening. Matanya biru, menyimpan ketenangan. Kesabaran, keteduhan, kasih sayang.
Sayapnya mungkin sudah memeluk dia. Dia yang begitu spesial baginya. Aku hanya bisa diam menekur. Menahan laju bening yang mulai mengembang di sudut mata. 
Aku cemburu pada sepasang camar yang saling mengejar di tabir biru. Langit memerah. Membiarkan aku merangkul rindu. Rindu itu tak pernah meminta balasan. Meski embun jatuh tak pernah membenci daun.
Aku tahu aku bukan seperti yang dia impikan. Pada kenyataannya, usapan angin menyadarkanku. Bahwa ikan tak akan bisa hidup di darat. 
Senja benar-benar menutup sempurna. Membiarkan rembulan terlelap dalam hening.
Surabaya, 22 September 2017

 Perempuan Senja

Monday, September 18, 2017

Kekuatan Doa untuk Rezeki

Setiap apa yang telah digariskan pada hamba-Nya tidak akan pernah bertukar. Apalagi hanya tentang sebuah rezeki dan cobaan. 



Source 

Kita tidak akan pernah tahu. Kapan rezeki itu datang, kapan cobaan menghadang. Tetapi, sebagai manusia hanya bisa mencoba bertahan. Menghadapi segala permasalahan yang ada. Bukan memilih jalan pintas dan pergi dari kesempatan. Sejatinya cobaan hanya sebuah kerikil-kerikil kecil yang apabila kita lewati dengan tenang tak akan tergelincir. Tetapi, saat kerikil berubah menjadi gumpalan besar. Bersiaplah untuk tersakiti. 





“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” -Ali Bin Abi Thalib-



Hal paling indah adalah saat meminta doa kepada Allah. Kepada sang Pemberi Rezeki. Terkadang doa-doa kita yang sering dilayangkan belum juga terkabul. Apa sebabnya? Barangkali, terlalu banyak butiran dosa yang melekat pada kita. Bisa jadi pula karena perasaan kita yang belum pandai bersyukur. 

Tapi, janganlah risau. Allah Maha Mendengar atas apa yang terjadi. Hanya Allah yang mampu mengabulkan doa-doa kita. Terkadang, doa-doa yang kita layangkan pada Langit. Dikabulkan pada waktu yang tidak terduga. 
Terlalu sering aku mendengar nasihat dari guruku. Allah maha Mengetahui. Allah akan berikan apa yang kita butuhkan, daripada apa yang kita inginkan. 

“….boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah : 216)






Cukuplah Allah yang mengetahui doa-doa kita, keluhan kita. Karena belum tentu keluhan yang kita utarakan kepada orang lain akan menemukan jalan. 
Butuh jalan berliku untuk lebih memantapkan diri menemukan jalan yang lurus. Karena setiap kesulitan hanya ada di awalnya saja. 
Cukup katakan Alhamdulillah setiap saat. Dalam keadaan suka maupun duka. Tak selamanya matahari akan terus bersinar. Juga tak selamanya langit akan mendung. Periode kebahagiaan akan mirip dengan cuaca. 

Jazakallah khair. 

Semoga bermanfaat. Setiap kata yang teruntai merupakan ilmu yang diberikan oleh-Nya. Kebenaran mutlak diberikan oleh Allah. Sedangkan lupa dan salah adalah milik manusia. 

Surabaya,

Baiq Cynthia

Friday, September 8, 2017

Cerpen Komedi - Baiq Cynthia Satu Detik Saja (Story Club)

#Pemenang_Cerpen_Komedi

#StoryClub2014
Judul : Satu Detik Saja

Penulis :Baiq Cynthia
Hari ini cuaca sedang galau, akhirnya awan nangis deh hingga air tangisannya membuat banjir sampai mata kaki. Beberapa saat kemudian hujan segera reda, moment penting ini tak terlewatkan bagi Sharma untuk pergi shopping.



"Ma, kamu mau kemana. Hujan ajah baru kelar?" terdengar sebuah suara dari dalam rumah ketika Sharma baru membuka pintu pagar. 
"Bentar cuma Mom, aku butuh refreshing. Sumpek dalam kurungan seperti ini," Sharma melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Suara gemerincing gelang kaki mendekati Sharma. Terlihat wanita paruh baya yang mengenakan sari kuning yang melilit tubuhnya. Dia adalah Mom Sharma, namanya Anuskah.
"Nak, ayo masuk saja urungkan niatmu yang hobinya keluyuran gak jelas. 

Sekarang jalanan becek, gak ada ojek. Rempong pake banget!" tangannya berkacak pinggang laksana peragawati yang memamerkan busananya.
"Haduh, Mom! Please cuma sebentar kok," Sharma mengendus kesal.
"Bilangnya bentar, tapi suka amnesia balik ke rumah. Udah! Nurut saja, dua minggu lagi kamu bakalan nikah. Nurut kenapa!"
"Iya ... iya," kembali masuk ke rumah sambil menurukan bahu, mirip nenek-nenek panti jompo yang bungkuk.
"Paling malas di rumah, seperti di sel penjara zaman penjajahan Inggris," Sharma tak henti-hentinya berceloteh seperti kakak tua kehilangan bulu.
Sepekan setelah kejadian itu, semua tetangga Anuskah datang berbondong-bondong ke rumah Anuskah sambil membawa pisau. Eits! Bukan untuk memotong badan paus yang terdampar. Tetapi membantu memasak untuk persiapan pernikahan putri Anuskah satu-satunya.
"Ma, dari sekarang kamu harus sering luluran biar lebih bersih kulitnya!" tampak Ibu Sharma membawa perlengkapan 'medy care' ke kamar Sharma.
"Emang kulitku kotor seperti babi tak mandi sehari?" 
"Bukan, biar lebih putih Nak."
"Iya, asalkan lulurannya enggak pake pemutih ya, Mom!"
"Hehe, kamu ini malah bercanda." Anuskah meletakkan sekotak bahan rempah untuk perawatan putrinya.
"Mom, mau masak atau lulurin aku?" 
"Diam ajah!" Anuskah kesal kepada anaknya yang terkadang 'Oon-nya' muncul.
Anuskah mulai meracik beberapa rempah ke dalam lesung kecil, beberapa menit kemudian jadilah adonan lulur.
Anuskah mulai memanggil para relawan untuk meluluri anaknya. Mereka berusia sebaya dengan putrinya yang kini berumur 21 tahun. Maklum, Sharma jarang bergaul dengan orang lain. Dia lebih suka jalan-jalan dan belanja.
(Keesokan harinya).
"Ma, ayo bangun! Hari ini adalah ritual membersihkan bulu!" Anuskah menggoyang-goyangkan tubuh putrinya yang masih terlelap.
"Apa?!"
"Iya, liat ajah nih!" tangan Anuskah yang usil mulai menarik sehelai bulu rambut.
"Au!" Sharma terhentak dan bangun.
"Haha, daripada guyur kamu pakai air gak berhasil ini lebih praktis," Anuskah terkekeh.
***
Setelah ritual selesai dijalankan kini tiba menggunduli bulu-bulu Sharma yang menggerogoti tubuhnya, terutama di kakinya. Rata-rata bangsa India memiliki bulu yang panjang seperti kucing Anggora. 
"Ma, tenang saja. Ini hanya sedetik saja. Rasanya itu enggak sakit kok. Cuma bulu," suara Anuskah melantun ke telinga Sharma.
Beberapa orang di sekitar Sharma telah siap dengan lakban hitam yang besar. Bukan untuk memplaster mulut Sharma.

Namun lebih tepatnya, "Krek!" 
"Auuuu!" suara auman Sharma lebih parah daripada Srigala yang kelaparan.
"Ma, gimana rasanya? Hanya sedetik saja," suara salah satu gadis yang tengah mengoprasi bulu Sharma.
"Iya, hanya sedetik tapi berkali-kali ... Auuu!" 
"Hehe, ini belum seberapa dibanding dengan ...."
"Krek ... Krek ... Krek!"
"Nona, tahan ya! Karena ini ritual gundul bulu, jadi hanya boleh dengan lakban atau perekat. Kalau pake alat cukur namanya pangkas bulu. Nikmati sensasi hilangnya bulumu tiap detik," salah seorang lagi di samping Sharma menimpali.
"Iya, cukup sedetik untuk berkali-kali itu iklan kartu perdana ... Auuuu sakit banget!!!" 
~End~
#Lets Like, guys...